SELAMAT MEMBACA
***
"Assalamualaikum," salam Rama saat masuk kedalam rumahnya.
"Wa'alaikum salam..." jawab Rani dan Lastri secara bersamaan.
Rama langsung mencium tangan ibunya, begitupun Rani yang mencium tangan Rama.
“Mas dari mana, motornya sudah sampai rumah kok orangnya tidak ada?” tanya Rani pada Rama yang duduk di sampingnya. Tangan Rama asik menoel pipi keponakan gembulnya yang masih balita itu yang kini sedang di pangku oleh Rani.
“Ada urusan sedikit tadi, jadi keluar dulu. Kenapa memangnya?” tanya Rama dengan santainya.
“Harusnya Mas pulang dari tadi,” ucap Rani dengan tatapan menggodanya pada kakak lelakinya itu. Sedangkan Lastri hanya tersenyum melihat interaksi antara kedua anaknya.
"Wes ngerti," (Sudah tau) ucap Rama langsung.
"Ngerti opo?" (Tau apa) tanya Rani balik.
“Orang Mas yang ngantar dia pulang kok tadi,” ucap Rama dengan santainya.
"Gerak cepat nggih Pak Lurah," (Gerak cepat ya Pak Lurah) Rani semakin gencar menggoda kakaknya itu. Suatu kejadian langka menurutnya bisa menggoda dan melihat wajah malu dari Rama.
“Lha, iya jelas. Harus gerak cepat dan tepat sasaran.” Rama justru membalas ucapan adiknya. Membuat Rani kembali tertawa.
“Oiya Mas harus cepat lho ini, soalnya Ibra juga ternyata sudah melamar Jani. Tidak cepat, nanti keburu keduluan sama Ibra.”
Rama mengerutkan keningnya saat mendengar ucapan adiknya.
“Ibra anak mana?” tanya Rama langsung.
“Ibra adiknya Mas Abra. Adik iparku, ternyata temannya Jani. Satu tempat kerja juga, sudah di lamar dari lama tapi belum di jawab. Adik kelasnya Mas Abra juga waktu kuliah ternyata. Keburu kalah kamu Mas sainganmu para dokter ganteng.” Ucapan Rani benar-benar membuat Rama panas. Yang benar saja, dia bersaing dengan adik ipar dari adiknya sendiri. Dari sekian banyak gadis di atas muka bumi dan banyaknya dokter yang bekerja di rumah sakit yang sama dengan mereka kenapa harus gadis pujaannya yang di lamar. Jadi apa yang di katakan Arjuna jika sudah banyak yang melamar Rinjani itu bukan kebohongan belaka.
“Jangan bikin panik lah kamu ini,” ucap Rama dengan gusarnya.
“Ini informasi Mas. Bukannya biar panik, tapi biar gerak cepat.”
“Lha Jani sekarang dimana Le?” kini giliran Lastri yang bertanya. Sejak tadi dia diam mendengarkan obrolan kedua anaknya itu.
“Sudah pulang Bu, di jemput ayah bundanya tadi.” Jawab Rama.
"Balik ke Jakarta Mas?" sahut Rani lagi.
"Iyo," jawab Rama dengan lesunya.
"Susul lah Mas, katanya suka masa tidak di perjuangkan. Jangan-jangan sampai Jakarta nanti menikah. Lha kamu yang katanya suka masa cuma pangku nasib disini lihat gadis pujaan hati menerima lamaran orang lain.” Rani semakin gencar memanaskan suasana hati kakak lelakinya itu. Melihat wajah Rama yang terlihat gusar menjadi hiburan tersendiri untuknya.
“Diam kamu anak kecil tau apa?” Rama jadi kesal dengan adiknya. Gara-gara informasi dari Rani sekarang pikirannya menjadi tidak tenang sama sekali. Berbagai prasangka buruk menghampirinya.
“Halah, aku anak kecil tapi sudah bisa bikin anak kecil. Lha sampeyan, sudah tua…” belum sempat Rani menyelesaikan ucapannya Rama langsung pergi begitu saja.
“Kamu Nduk, senangnya kok ganggu mas nya.” Ucap Lastri pada putrinya.
“Biarin Bu, jarang-jarang bisa ganggu Mas Rama.”
***
Di tempat lain lebih tepatnya di dalam mobil yang membawa Abi dan keluarganya, kecuali Arjuna yang memang belum bisa pulang. Rinjani yang duduk di kursi belakang bersama Utari hanya diam saja. Matanya terus menatap kearah jendela. Pikirannya kembali berputar pada percakapannya tadi bersama Pak Lurah. Dia belum sempat bertanya tentang apa maksud ucapan Pak Lurah tadi, tapi dia sekarang sudah harus pergi. Entah mereka akan bertemu lagi atau tidak. Sebenarnya Rinjani bisa saja melupakan semuanya langsung, menganggap tidak mendengar apapun. Namun, pikirannya sepertinya berkhianat kali ini. Meski udah berusaha tidak memikirkannya, namun pikirannya terus saja berfikir mengenai ucapan Pak Lurah tadi yang bertanya apa dia mau menjadi bu Lurah.
Abi yang duduk di kursi depan di samping Mang Asep sejak tadi memperhatikan putrinya yang terlihat banyak diam dan murung. Dia tau putrinya tidak senang di bawa pulang, tapi karena Utari sudah memaksa maka tidak ada yang bisa mereka lakukan selain menurutinya.
Abi tiba-tiba teringat dengan laki-laki yang tadi pulang bersama putrinya. Laki-laki yang mengaku sebagai kepala di desa di tempat kedua anaknya tinggal itu. Entah kenapa perasaan Abi mengatakan ada yang berbeda dari laki-laki itu. Tadi saat mereka berbincang sebentar, Abi perhatikan mata laki-laki itu selalu mencuri pandang pada putrinya. Sebagai sesama lelaki Abi bisa merasakan ada sesuatu yang berbeda di sana. Seperti sesuatu ketertarikan yang mungkin saja mengarah pada rasa suka.
"Jani suka tinggal di desa tadi?" tanya Abi tiba-tiba berusaha memecah keheningan di dalam mobil.
"Suka Ayah," jawab Jani apa adanya.
"Suka karena apa?" tanya Abi lagi.
"Udaranya sejuk, suasanya nyaman. Penduduknya juga baik-baik, nyaman saja rasanya."
"Hanya itu?" tanya Abi kembali memastikan ucapan Putrinya.
"Iya," Rinjani mengangguk faham.
Utari yang mendengar pembicaraan anak dan suaminya memilih diam tidak ikut menyahut. Dia hanya akan menjadi pendengar kali ini.
"Ayah kira karena hal lain." ucap Abi lagi dengan ambigunya.
"Maksud Ayah?"
"Mana tau ada yang lebih menarik di desa itu selain udara, suasana dan penduduknya."
"Tidak ada," jawab Rinjani pelan.
"Ehh, siapa tadi yang antar Jani pulang? Pak lurah tadi, siapa namanya?" Abi mengalihkan pembicaraan.
"Pak Rama," jawab Rinjani langsung.
"Sudah menikah dia?"
"Kenapa Ayah tanyanya begitu?" Utari yang sejak tadi diam, akhirnya tidak tahan juga untuk tidak bertanya. Merasa aneh saja dengan pertanyaan suaminya.
"Ya kan cuma tanya Sayang, apa salahnya. Masih muda kelihatannya tapi sudah jadi lurah." Sahut Abi.
"Belum," ucap Rinjani pelan.
Abi mengangguk faham, entah benar atau tidak yang di katakan oleh firasatnya kali ini dia hanya bisa menunggu untuk memastikannya.
***
Malam harinya, Arjuna yang baru selesai menunaikan sholat isya di mushola tengah duduk dengan santai di undak-undakan mushola sambil mengamati beberapa orang yang tengah berlalu-lalang.
“Mas Juna tidak pulang?”
Arjuna yang merasa mendengar seseorang memanggilnya langsung menoleh. Saat di lihat, ternyata Rama yang bertanya.
“Ehh Pak Lurah, belum Pak. Masih mau duduk-duduk sini.” Jawab Arjuna pelan.
Rama pun mengangguk, dia juga tidak segera bergegas pulang melainkan ikut duduk di sebelah Arjuna.
“Pak Lurah tidak pulang juga?” Tanya Arjuna saat melihat lurahnya itu bukannya pulang justru ikut duduk di sebelahnya.
“Belum Mas Juna. Tidak ada kegiatan juga di rumah.”
Arjuna mengangguk pelan, sejenak keheningan tercipta di antara mereka. Tidak ada yang memulai pembicaraan. Hanya ada beberapa orang yang menyapa mereka.
“Ehemmm, Mas Juna.” Panggil Rama dengan lirih.
Arjuna menoleh pada Rama, dia merasa ada yang ingin di sampaikan oleh laki-laki di sebelahnya itu.
“Kalau boleh saya mau minta alamat rumah Mas Juna di Jakarta. Saya mau bertamu kesana.” Ucap Rama dengan lirih.
Arjuna tersenyum mendengar ucapan Rama.
“Jadi Bapak serius ini ceritanya,” ucap Arjuna.
“Ya serius Mas, masa main-main.” Kekeh Rama pelan.
“Kalau Bapak mau bertamu kerumah saya, lebih baik hari libur. Karena kalau hari kerja Ayah dan Bunda di rumah sakit terus. Mungkin hanya ada Oma dan Opa kami di rumah. Atau kalau mau, Bapak bisa bertemu Ayah saya di rumah sakit nanti saya kasih semua alamatnya.”
Rama tersenyum mendengar ucapan Arjuna. Dia merasa puas dengan informasi yang dia dapatkan.
“Terimakasih Mas Juna, maaf kalau saya merepotkan.”
“Tidak repot sama sekali Pak. Jadi kapan rencananya mau berkunjung ke Jakarta?”
“Insyaallah besok lusa Mas.”
Arjuna semakin tersenyum, gerak cepat sekali pak lurahnya itu. Sepertinya sebentar lagi dia akan memiliki saudara ipar. Entah kenapa hatinya berfirasat baik dengan niatan pak lurah kali ini.
****