***
Kamu adalah yang terbaik, apapun yang terjadi, aku tidak akan pernah meninggalkan kamu
***
Karlita merenggangkan otot-ototnya yang terasa sangat kaku. Hari ini Karlita lembur untuk pertama kalinya setelah dia bekerja satu bulan di Bank. Wajah lelah terlihat dengan sangat nyata di raut wajah gadis itu. Setelah saling berpamitan pada teman-teman kantornya, Karlita langsung meninggalkan meja kerjanya dan melangkah keluar dari ruangan itu. Satu-satunya hal yang terpikirkan oleh Karlita saat ini hanyalah kasurnya. Karlita benar-benar ingin merebahkan tubuhnya kemudian terlelap sampai siang hari mengingat besok juga merupakan hari libur.
Karlita melangkah ke arah Halte. Dia ingin memesan ojek online di sana nanti sambil duduk, langkah gadis itu terlihat sangat gontai, tangannya menggenggam tas kerja dan juga ponsel.
Sekarang hampir pukul sepuluh malam, jalanan di sekitar Bank tempat Karlita bekerja sudah mulai sepi membuat Karlita sedikit mengerdik ngeri karena memang sebelumnya Karlita tidak pernah pulang semalam ini.
Saat gadis itu ingin duduk di bangku Halte, lampu dari sebuah mobil menyorot matanya membuat Karlita langsung menyipitkan matanya, menatap mobil itu dengan sengit namun mata gadis itu kemudian mengerjab perlahan ketika mobil itu berhenti tepat di sampingnya.
"Lita, masuk!" Seruan seorang dari dalam mobil membuat Karlita terdiam untuk beberapa saat kemudian barulah dia langsung masuk ke dalam mobil Jeep itu. Senyumnya langsung terukir begitu saja ketika Prasetyo mengecup keningnya.
"Kok Mas bisa di sini, bukannya kemarin bilang baru bisa pulang ke Jogja hari Sabtu sore?" Tanya Karlita dengan bingung, dia menatap Prasetyo yang malam ini sudah memakai pakaian yang sangat santai, celana pendek selutut dan juga kaus hitam polos. Kelihatannya sih santai tapi Karlita sangat tahu betul harga pakaian Prasetyo tidak sesantai itu.
"Pekerjaannya selesai lebih cepat," jawab Prasetyo dengan cepat. Dia menatap wajah Karlita dengan sangat lekat kemudian setelah itu dia melajukan mobilnya meninggalkan area tempat Karlita bekerja.
"Aku pulang ke indekos ya, Mas," ucap Karlita sembari menyandarkan tubuhnya dengan nyaman di kursi penumpang. Prasetyo melirik kembali ke arah Karlita kemudian menggeleng dengan cepat.
"Kamu nginep di tempat aku," jawab Prasetyo, pada akhirnya Karlita menyerah, tidak ada gunanya merengek pada Prasetyo tentang ini, pria itu tidak akan mendengarkannya, lagi pula mereka sudah tidak bertemu selama dua minggu karena minggu kemarin Prasetyo ada perjalanan bisnis ke luar kota.
"Kenapa kamu bisa tahu aku masih di kantor jam segini?" Tanya Karlita ketika menyadari sesuatu karena memang kemarin terakhir kali mereka saling bertukar pesan satu sama lain dan Karlita juga tidak memberitahu Prasetyo bahwa dia lembur hari ini.
"Teman indekos kamu," jawab Prasetyo dengan sangat santai, Karlita pada akhirnya mengerti.
"Aku sudah pesan makan malam tadi dan sudah ada di Apartemen, kamu mau sesuatu yang mau di beli lagi?" Tanya Prasetyo. Karlita langsung menggeleng dengan sangat cepat. Tidak, sungguh Karlita tidak membutuhkan apapun lagi selain kasur yang empuk dan bantal yang membuatnya nyaman.
Prasetyo kembali menoleh pada Karlita kemudian dia mengangguk pelan dan mempercepat laju mobilnya menuju Apartemen, jalan yang tidak ramai membuat Prasetyo lebih leluasa untuk melakukannya sampai pada akhirnya mobilnya terparkir sempurna di basement Apartemen miliknya. Dia menggandeng tangan Karlita ketika mereka masuk ke dalam lift.
***
Karlita tersentak ketika Prasetyo tiba-tiba memeluknya begitu saja saat mereka masuk ke dalam apartemen pria itu.
"Kenapa, Mas?" Tanya Karlita sambil sedikit mendongak ke atas untuk melihat wajah Prasetyo, pria itu membalas tatapan Karlita dengan lekat, tatapannya sama seperti tatapan Prasetyo selama di mobil tadi.
"Kamu bersih-bersih sana, capek banget ya?" Tanya Prasetyo, dia mengurai pelukan itu dan kembali menatap wajah Karlita, sungguh Prasetyo tidak suka sedikitpun ketika sudah melihat raut wajah lelah Karlita, entah dulu karena tekanan orangtua dan sekarang karena tekanan pekerjaan.
"Tadi sih capek banget tapi setelah melihat wajah Prasetyo yang tampannya luar biasa apalagi udah nempel sama roti sobek favorit aku yang menghantarkan kehangatan banget, capekku langsung hilang gitu sih Mas, rasanya," ucap Karlita dengan senyum menggodanya. Prasetyo menggelengkan kepalanya melihat tingkah Karlita.
"Pergi mandi di kamar kamu terus kita makan malam bareng walau ini udah kemalaman untuk malam malam sih," ucap Prasetyo.
"Kenapa aku nggak mandi di kamar kamu aja, Mas, seru tuh kayaknya," ucap Karlita lagi, masih menggoda Prasetyo tentu saja. Pria itu menatap Karlita dengan lekat kemudian menyentil kening Karlita dengan cukup keras sampai membuat Karlita terpekik.
"Lita, mandi!" Seru Prasetyo.
"Kasih aku asupan liatin roti sobek dulu kali, Mas, nanti aku mandi," ucap Karlita semakin jadi. Prasetyo menatap gadis di hadapannya dengan senyum miring.
"Mandi, Lita atau kamu akan menyesal nanti dan kesulitan mengembalikan warna wajah kamu kembali normal!" Seru Prasetyo, dia melangkah perlahan ke arah Karlita, mempersempit jarak membuat Karlita mundur teratur dan lari dengan kencang masuk ke dalam kamarnya.
"Aku mandi Mas, kamu tunggu di situ nggak usah ngintip, nanti pengen!" Seru Karlita dengan heboh sebelum akhirnya pintu kamar yang biasanya di tempati oleh gadis itu ketika menginap tertutup dengan rapat. Prasetyo berdehem perlahan, sungguh Karlita Samatha itu sangat senang sekali menggoda dan mengusik pertahanan dirinya. Prasetyo kemudian melangkah ke arah meja makan. Pria itu mulai mengeluarkan beberapa menu makan malam yang sudah dia pesan sebelumnya dan juga membuatkan susuu hangat untuk Karlita supaya gadis itu merasa lebih baik nanti setelah meminumnya.
"Banyak banget Mas, makan malamnya,", ucap Karlita ketika dia bergabung dengan Prasetyo di meja makan, gadis itu sudah terlihat jauh lebih segar, wajahnya sudah bebas dari make up namun tidak membuat Karlita terlihat jelek, gadis itu tetap cantik bahkan dengan kantong mata yang sedikit menghitam, mungkin akibat kurang tidur dan juga kelelahan.
"Makan yang kamu suka aja," jawab Prasetyo dengan sangat santai. Karlita langsung duduk di kursi meja makan lalu langsung menyantap makanannya dengan sesuka hatinya. Sejak keluar dari rumah orangtuanya, Karlita memang tidak harus repot-repot mengatur pola makannya namun dia tetap melakukan olahraga secara teratur agar semuanya tetap seimbang.
"Ini sambel-nya kamu order di mana, Mas? Kok enak banget ya?" Tanya Karlita sembari menatap Prasetyo yang juga sedang menikmati makan malam-nya.
"Di tempat biasa, katanya sih menu sambal yang baru," jawab Prasetyo, Karlita mengangguk mengerti kemudian kembali melanjutkan kegiatan makannya.
"Hari minggu kita ke acara keluarga ya, kamu masih ingat, kan?" Tanya Prasetyo, Karlita terbatuk-batuk kemudian meneguk minum yang ada di sampingnya dengan sangat rakus.
"Kamu seriusan mau ngajak aku ke acara keluarga kamu? Nggak papa memangnya, Mas?" Tanya Karlita, kali ini gadis itu menatap Prasetyo dengan sangat serius. Entah kenapa sekarang Karlita merasa sedikit takut akan semuanya, dia takut apa yang di pikirkan selama ini akan terjadi lagi.
"Seriusan, aku udah bilang Papa kalau aku mau ajak kamu datang ke acara keluarga," jawab Prasetyo dengan sangat santai. Karlita pada akhirnya mengangguk pasrah, ini sebenarnya juga sebagian dari keinginannya, dia ingin mengenal keluarga tunangannya ini. Mereka tidak mungkin terus menerus terlibat dalam hubungan yang hanya ada mereka saja. Suatu hari nanti pasti mereka juga akan membawa keluarga. Prasetyo adalah orang yang akan sangat mudah di terima bahkan oleh orangtuanya sekalipun, Karlita sangat yakin dengan itu namun yang bermasalah adalah dirinya, orangtuanya sendiri saja tidak bisa menerimanya dengan baik apalagi orang lain?
"Kenapa?" Tanya Prasetyo ketika melihat tatapan penuh keraguan Karlita, rasa minder dan rendah diri gadis itu kembali terlihat malam ini apalagi ketika Karlita tiba-tiba menghentikan makan malamnya begitu saja dan beranjak berdiri dari kursi.
"Mas, sekarang jujur sama aku, aku kelihatan gendut nggak, Mas? Pipi aku nggak chubby banget kan, Mas? Kulit aku, kulit aku kusam nggak? Wajah aku kelihatan kusam nggak?" Tanya Karlita dengan sangat beruntun. Dia terlihat mendadak panik. Bayangan tatapan merendahkan Mama-nya dan juga para teman-teman Mama-nya di tambah tambah tatapan merendahkan teman-teman masa kecilnya membuat Karlita semakin panik, dia benar-benar takut sekarang.
Prasetyo memilih ikut menyelesaikan makan malamnya kemudian beranjak dari kursi dan berdiri di hadapan Karlita. Memegangi kedua bahu gadis itu dan membawa Karlita untuk menatapnya dengan begitu lekat.
"Lita, sudah berapa kali aku bilang sama kamu, kamu cantik, nggak ada yang kurang dari kamu, jadi berhenti merasa rendah diri. Kamu memiliki semua hal yang bahkan tidak di miliki orang lain, kamu yang terbaik, jadi, please jangan pernah seperti ini lagi," ucap Prasetyo, tatapan pria itu selembut ucapan nya.
"Aku benar-benar mendadak takut, Mas, maaf kalau sikap aku yang satu ini membuat kamu merasa tidak nyaman. Tapi itu adalah hal yang selalu menganggu aku, aku nggak bisa benar-benar merasa percaya diri kecuali ketika ada di hadapan kamu karena kamu satu-satunya orang yang bisa membuat aku merasa yakin bahwa tidak ada yang kurang dari aku, tapi orang lain, orang baru yang akan aku temui belum tentu bisa meyakinkan aku seperti kamu. Aku takut," ucap Karlita. Prasetyo menarik gadis itu ke dalam pelukannya. Mengusap belakang kepala Karlita dengan sangat lembut. Berharap gadisnya merasa jauh lebih baik.
"Kamu memiliki aku, tatap aku atau genggam tanganku jika kamu merasa ketakutan, aku akan bersama dengan kamu, Lita," ucap Prasetyo. Prasetyo selalu merasa khawatir dan gagal ketika Karlita sudah bersikap seperti ini. Dia benar-benar khawatir pada Karlita. Dia takut gadis yang sedang ada dalam pelukannya ini melakukan sesuatu hal yang buruk dan berakibat fatal dan kemudian membuatnya merasa menyesal.
"Aku benar-benar takut, Mas," ucap Karlita, dua mengeratkan pelukannya pada Prasetyo. Tangannya yang terasa dingin kini saking mengepal.
"Semua akan baik-baik saja, Lita," ucap Prasetyo, pria itu mengecup puncak kepala Karlita dengan lembut kemudian menggendong Karlita seperti koala dan melangkah ke arah kamar yang biasa di tempati oleh Karlita.
"Jika keluarga kamu tidak bisa menerima aku nanti, aku akan menerima apapun keputusan kamu," ucap Karlita ketika Prasetyo sudah menidurkannya di kasur dan juga merapikan selimut Karlita. Pria itu menatap Karlita dengan lembut dan mengecup kening Karlita.
"Istirahat dan aku tidak akan meninggalkan kamu. Jangan pernah khawatir tentang itu," ucap Prasetyo, pria itu mematikan lampu kamar kemudian menyalakan lampu tidur, tersenyum pada Karlita kemudian dia keluar dari kamar itu.
Hal ini selalu terjadi dan Prasetyo selalu merasa gagal ketika Karlita sudah seperti itu. Dia selalu berjanji pada dirinya sendiri bahwa dia akan berubah membuat gadis itu merasa baik-baik saja. Karlita yang terbaik, tidak ada satupun yang kurang dari gadis itu.