Bab 4: Bersama dengan Prasetyo

2099 Words
    ***     Kita sangat kesulitan mencari waktu, jadi saat-saat seperti adalah suatu hal paling berharga yang bisa aku miliki     ***     Butuh waktu lama untuk Karlita sampai akhirnya dia bisa melupakan kecupan singkat Prasetyo di bibirnya, sungguh Karlita bahkan masih mengingat semuanya dengan sangat baik, sangat sulit bagi Karlita untuk melupakan bagaimana rasa bibir Prasetyo ketika bertemu dengan bibirnya. Kini pasangan itu sedang menikmati kopi di balkon apartemen Prasetyo ketika sore menjelang.     “Mas, kenapa pilih aku?” tanya Karlita, mereka sangat jarang membahas tentang hal-hal personal ketika sedang bersama apalagi menyeret keluarga itu bahkan tidak pernah terjadi sekalipun. Mereka benar-benar selalu membahas hal-hal yang terjadi di antara mereka berdua.     “Kenapa kamu tiba-tiba nanya ini?” tanya Prasetyo, dia menatap Karlita dengan sangat lekat.     “Nggak papa, aku hanya mau tahu aja, aku baru sadar, walau hubungan kita sudah sejauh ini, banyak hal yang nggak aku tahu tentang kamu dan kamu juga mungkin sebaliknya, jadi boleh aku mengenal kamu lebih baik?”  tanya Karlita.     Prasetyo langsung mengangguk dengan cepat, “tiga pertanyaan untuk hari ini,” ucap Prasetyo, dia dan Karlita  kini duduk saling berhadapan, angin sore hari menyapa kulit mereka dengan begitu lembut membawa rasa yang lebih nyaman.     “Di mulai dari aku?” tanya Karlita. Prasetyo langsung mengangguk.     “Pertama, kenapa Mas lebih memilih aku di bandingkan gadis-gadis di luar sana, anak oraganisasi banyak yang cantik loh, Mas, bahkan banyak yang lebih segalanya di bandingkan aku apalagi cewek-cewek di kantor kamu belum lagi teman-teman bule kamu,” ucap Karlita, matanya menatap Prasetyo yang kini terlihat menatapnya dengan begitu lekat.     “Karena kamu yang berani mendekati aku dengan cara yang apa adanya, beda dari gadis-gadis yang aku kenal sebelumnya, hanya kamu satu-satunya yang datang ingin belajar bukan untuk di ajak jalan atau belanja bahkan liburan,” jawab Prasetyo dengan cepat. Karlita langsung mengangguk mengerti, cukup mengerti dengan jawaban Prasetyo. Gadis-gadis yang mendekati pria itu memang sangat cantik-cantik di bandingkan dirinya bahkan lebih dari segalanya namun yang mereka cari bukan Prasetyo melainkan apa yang Prasetyo miliki.     “Kenapa kamu suka aku?” tanya Prasetyo ketika mendapatkan gilirannya. Karlita langsung terseyum cerah.     “Sedikit banyak kamu pasti sudah tahu bagaimana aku hidup selama ini, aku hidup dalam kendali kedua oangtuaku, Mas, bahkan saat berekspresi aja mereka masih mengendalikan aku. Mereka membatasi banyak hal tentang aku. Namun, ketika aku bertemu dengan kamu, saat aku memilih bergabung dengan oraganisasi sosial saat itu, aku seolah baru saja menemukan dunia yang baru, di mana, dalam dunia itu aku bisa menjadi diri aku seutuhnya tanpa takut di remehkan, di rendahkan dan di larang kemudian aku memberanikan diri untuk mengenal kamu dan setelah itu ternyata apa yang aku pikirkan memang benar, aku bebas jika aku sedang bersama dengan kamu, rasanya benar-benar bahagia sekali, Mas,” jawab Karlita dengan mata berbinar-binar seolah pertemuannya dengan Prasetyo memanglah sebuah anugrah yang sangat Karlita syukuri dan Prasetyo menatap gadis di hadapannya dengan senyum tipis dan tatapan yang begitu tulus.     “Kedua, apa pekerjaan kamu sebenarnya? Nggak mungkin kamu sebagai karyawan kantor biasa bisa memiliki mobil sebagus itu, apartemen bahkan juga barang-barang yang kamu pakai, aku tahu itu harganya nggak ada yang biasa, Mas,” ucap Karlita dengan tatapan penasaran.     “Manajer, investor dan public speeking,” jawab Prasetyo dengan cepat. Karlita mengerjabkan matanya beberapa kali, sekarang dia sudah sangat tahu dari mana sumber uang Prasetyo, selain itu semua Karlita sangat yakin Prasetyo bukan orang yang terlahir dari keluarga yang biasa tapi latar belakang keluarga pria itu pasti sangat luar biasa.     “Apa hal yang akan menyakiti kamu dan sangat sulit untuk kamu maafkan?” tanya Prasetyo. Karlita terdiam untuk beberapa saat mencoba memikirkan kemungkinan apa yang mungkin membuatnya sangat sulit memaafkan orang lain.     “Penghianatan dan kebohongan,itu adalah hal yang akan sangat sulit aku toleransi sih, Mas, kayaknya bukan aku aja sih tapi juga orang-orang di luar sana. Gimana ya, Mas, ketika seseorang yang sangat aku percaya tiba-tiba menghianati aku itu otomatis aku sudah kehilangan dia dan untuk apa aku bertahan bersama dia. Dia menghianati aku pasti karena suatu alasan dan mungkin ada yang salah dari aku jadi buat apa lagi di pertahankan, aku akan memilih melepaskan saat itu juga. Kalau kebohongan, itu adalah hal yang akan terus terjadi berulang kali walau aku sudah memaafkan tapi orangnya tidak mau berubah, ujung-ujungnya akan tetap sama. Jadi untuk apa aku memaafkan tukang bohong,” jawab Karlita penuh dengan keyakinan. Prasetyo mengangguk mengerti.     “Jika aku bertemu dengan keluarga, Mas, kira-kira mereka bisa menerima aku dengan baik nggak ya, Mas?” tanya Karlita, dia menatap Prasetyo dengan sangat lekat, pria itu terlihat terdiam kemudian mengangguk dengan samar, terlihat sekali penuh dengan keraguan membuat Karlita menjadi meringis pelan, seharusnya Karlita sudah menanyakan ini sejak lama.     “Aku nggak tahu tapi mereka juga bukan orang yang harus kamu takuti. Dua minggu lagi ada acara keluarga di Solo, kamu datang ya sama aku,” ucap Prasetyo dengan tatapan yang berubah menjadi lembut. Karlita mengerjabkan matanya, rasanya mendadak campur aduk, Karlita sedikit menyesal menanyakan itu pada Prasetyo namun sedikit rasa senang juga meletup-letup dalam dadanya, ini seolah langkah yang baru untuk mereka.     “Acara apa?” tanya Karlita.     “Adikku baru saja wisuda S2,” jawab Prasetyo.  Karlita mengangguk mengerti, sepertinya acara wisuda adalah salah satu moment penting bagi keluarga Prasetyo, sudah dapat di simpulkan bahwa keluarga pria itu sangat mementingkan pendidikan.     “Umurnya berapa, Mas?” tanya Karlita, sedikit perasaan was-was menyelimuti hatinya.     “Seumuran kamu,” jawab Prasetyo dengan santai. Karlita menarik napasnya, semoga pikiran buruk yang tiba-tiba menyelimuti pikirannya tidak akan terjadi, semua orang di lahirkan berbeda, Karlita berharap kali ini perbedaan itu benar-benar nyata.     “Apa yang akan kamu lakukan jika aku  ternyata tidak seperti yang kamu kenal?” tanya Prasetyo. Dahi Karlita mengeryit, menatap Prasetyo dengan bingung. Sekarang Karlita tidak mengerti dengan maksud  Prasetyo.     “Tidak seperti yang aku kenal?” tanya Karlita, Prasetyo mengangguk.     “Bagaimana kamu akan bersikap ternyata aku tidak seperti yang kamu kenal?”     “Aku akan bertanya alasannya, kalau penjelasan kamu bisa meyakinkan aku, aku akan bertahan di samping kamu apapun yang terjadi, Mas,” ucap Karlita penuh keyakinan, “tapi jika aku merasa kamu tidak dapat meyakinkan aku dan benar-benar terkesan mempermainkan, saat itu akan melepaskan kamu,” lanjut Karlita. Prasetyo langsung mengangguk. Mereka sama-sama terdiam setelahnya, mencoba mencerna segala hal yang mereka ucapkan sebelumnya dengan harapan bisa mengerti satu sama lain dengan baik sembari menatap senja yang sudah datang, keduanya sama-sama fokus pada  matahari yang mulai kembali ke tempat peristirahatannya.     ***     Menikmati sisa weekend bersama adalah ritual wajib yang harus di lakukan oleh Karlita dan Prasetyo karena mereka hanya memiliki weekend untuk bisa bertemu seperti ini jadi segala moment saat weekend itu adalah moment yang paling berharga. Kali ini mereka memilih tetap di Apartemen dengan berbagai macam hidangan yang sudah mereka order sebelumnya.     “Kamu kalau sama bawahan kamu pasti galak banget ya, Mas?” tanya Karlita sambil menikmati jamur crispy. Rambut gadis itu di cepol asal-asalan dengan kaus dan juga hotpans. Pakaian rumahan yang selalu berhasil membuat Karlita merasa nyaman dan bebas.     “Tergantung keadaanya, nggak mungkin juga aku marah tiba-tiba kalau mereka nggak salah, mereka berhenti semua aku yang repot,” jawab Prasetyo.     “Pasti fans-nya banyak banget tuh di kantor,” celetuk Karlita. Prasetyo mengangkat sebelah alisnya.     “Perlu aku jawab?” tanya Prasetyo, Karlita mendengus mendengar ucapan pria itudan menggeleng  dengan cepat.     “Nggak usah lah, Mas, ngapain aku repot-repot cari penyakit hati,” jawab Karlita sembari mengerdik ngeri. Jelas saja Prasetyo itu pasti icaran para bawahannya di kantor, lagian siapa sih yang berani menolak pesona seorang Prasetyo Adipura, jelas tidak ada.     “Mas, yang bule itu siapa?” tanya Karlita, sungguh Prasetyo itu memiliki garis wajah yang sempurna dan jelas saja itu ada campurannya.     “Papa blasteran Spain dan Yogyakarta ketemu Mama yang asli Solo kemudian jadilah aku Spain-Yogyakarta-Solo,” jawab Prasetyo. Karlita berdecak dan menatap Prasetyo dengan mulut yang sedikit terbuka. Pantas saja Prasetyo memiliki wajah yang sangat menakjubkan seperti ini. Gen keluarga Prasetyo ternyata nggak main-main.     “Pantas aja ya, Mas, kamu punya wajah kayak ini, gen keluarga kamu nggak main-main,” ucap Karlita masih tidak bisa menyembunyikan kekagumannya.     “Dan aku yakin keluarga kamu juga gen-nya nggak main-main, kamu cantik, Lita,” ucap Prasetyo.     “Tapi Mama sama Papa asli Indonesia kok, Mas, cuma Mama asli Yogyakarta sedangkan Papa asli orang Solo,” ucap Karlita. Prasetyo mengangguk mengerti. Ini sesungguhnya moment yang baru untuk mereka bisa membicarakan hal seperti ini, biasanya keduanya hanya akan terjebak dalam satu ruangan kemudian melakukan sesuatu tanpa berbiacara banyak hal, paling mereka berkomentar tentang film yang mereka tonton atau game yang sedang mereka mainkan.     “Kita jarang banget punya moment dengan obrolan seperti ini loh, Mas, ternyata ketemu sama kamu dengan obrolan sederhana seperti ini sangat menyenangkan, aku kayak bisa melihat mas Pra jauh lebih dekat,” ucap Karlita.     “Aku senang ketika kamu lebih banyak bertanya seperti ini, kamu tahu aku, aku sangat kesulitan jika membuka obrolan dengan seseorang, aku termasuk orang yang sangat pasif sekali, jadi aku sangat butuh teman ngobrol seperti kamu, thank you, ya,” ucap Prasetyo, dia menatap Karlita dengan begitu tulus. Karlita langsung mengangguk, sepertinya dia memang harus berusaha lebih ekstra lagi agar Prasetyo membuka mulut untuk berbicara dan bercerita padanya.     “Aku tahu banget sih, Mas, kamu bukan orang yang banyak omong tapi aku nggak percaya aja kalau kamu memang sepasif itu,” ucap Karlita sambil terkekeh pelan.     “Bagi aku susah banget buat membuka obrolan sama orang lain apalagi mengenai hal personal kayak gini, kayak gimana ya, ini itu hidup aku, aku yang menjalani jadi orang lain  nggak perlu tahu gitu loh tentang apa yang aku rasakan dan apa yang aku lakukan sehari-hari,” ucap Prasetyo, “tapi semua akan berbeda ketika aku sudah berada di kantor, memimpin sebuah rapat bertemu klien atau nggak ketika aku menjadi pembicara di suatu tempat. Di sana aku bisa berbicara dengan baik karena memang sudah ada konsepnya dan aku tinggal mengembangkan aja supaya semua sampai dengan baik,” lanjut Prasetyo. Karlita mengangguk mengerti. Dia juga mengenal beberapa orang seperti Prasetyo, itu entah baik atau buruk, Karlita juga tidak terlalu mengerti karena segala hal itu memiliki dua sisi.     “Jadi cara kamu menunjukkan rasa sayang kamu sama orang dengan cara?” tanya Karlita dengan tatapan penasaran.     “Seperti yang sering aku lakukan ke  kamu entah physical touch atau memberikan hadiah, menurut aku itu sudah jauh lebih dari cukup di bandingkan kata-kata walaupun aku sangat tahu kata-kata itu juga penting ketika membangun sebuah hubungan tapi aku masih kesulitan untuk itu, maaf ya, Lita”  ucap Prasetyo     “Aku bisa terbiasa dengan keduanya kok Mas entah physical touch atau words of affirmation semuanya bisa sampai dengan baik ke aku,” ucap Karlita dengan tersenyum.     “Tapi untuk hadiah terkadang aku merasa nggak enak sama kamunya, kamu hampir setiap bulan kirim gift buat aku, menurut aku terkadang sangat berlebihan, Mas,” ucap Karlita sambil meringis pelan, menatap tidak enak pada Prasetyo, “ini bukan aku nggak menghargai apa yang kamu berikan loh, Mas, hanya saja aku merasa itu terkadang sangat berlebihan untuk aku,” lanjut Karlita. Prasetyo terlihat menatap Karlita dengan lekat dan tersenyum tipis. Dia sangat mengerti dengan tipe orang seperti Karlita, gadis itu memang selalu terang-terangan dan bahkan terkesan matrealistis namun Karlita bukan orang yang bisa menerima barang dari orang dengan cuma-cuma apalagi barang itu sudah sangat melewati batas, bukan berarti Karlita sebelum bersama dengannya tidak memiliki barang-barang branded justru sebelum bersama dengan Prasetyo segala hal yang menempel pada tubuh Karlita adalah barang bermerek, namun sekarang lebih ke Karlita yang sedang menempatkan dirinya dengan posisi yang sekarang, di mana dia tidak akan mudah lagi mendapatkan barang-barang branded itu dengan rate gaji yang Karlita miliki.     “Tidak ada yang berlebihan untuk gadis yang sedang bersama dengan aku, Lita. Kamu milik aku jadi sudah sewajarnya aku memberikan yang terbaik pada seorang yang bisa memberikan banyak hal untuk aku. Jadi untuk yang satu ini, aku mohon kamu tidak pernah menolaknya, ini salah satu cara aku untuk mengungkapkan apa yang sedang aku rasakan untuk kamu, please, ya," ucap Prasetyo.     "Tapi kamu harus janji, beri aku gift yang sewajarnya aja, Mas, jangan berlebihan, nanti aku jadi ngelunjak sama kamu," ucap Karlita. Prasetyo mengangguk dengan cepat.     "Kamu nginep, kan?" tanya Prasetyo setelah mereka menghabiskan semua makanan yang tadi memenuhi meja.     "Kalaupun aku mmerengek ingin pulang ke indekos, kamu tetap nggak akan kasih izin, Mas!" seru Karlita, Prasetyo beranjak dari tempat duduknya kemudian melangkah ke arah Karlita dan mengecup puncak kepala gadis itu.     "Good girl, let's sleep tonight, Karlita," ucap Prasetyo, Karlita langsung menyambut tangan itu dan kemudian mereka beranjak untuk beristirahat.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD