***
Setinggi apapun kita dan sesempurna apapun kita tempat kembali akan tetap sama namun jalur yang akan kita lewati kita yang menentukan
***
Yogyakarta di pagi hari adalah gambaran yang sangat sempurna apalagi dengan Prasetyo di sampingnya, senyum Karlita tentu saja otomatis akan terukir dengan sangat lebar.
“Ganteng banget,” ucap Karlita ketika dia membuka pintu mobil Prasetyo. Pagi ini Prasetyo menggunakan pakaian olaharaga lengkap bahkan juga menggunakan topi membuat pesona seorang Prasetyo Adipura semakin terpancar dengan begitu nyata. Prasetyo mengecup puncak kepala Karlita singkat tanpa mengatakan apapun kemudian melajukan mobilnya meninggalkan indekos Karlita.
“Kita mau mulai olahraga dari mana, Mas? Kasih makan kucing jalanannya jadi?” tanya Karlita sambil menatap Prasetyo dengan antusias, gadis itu memang selalu ceria dan banyak bicara. Karlita pagi ini menggunakan crop top dan juga legging beserta jam tangan yang warnanya sama dengan jam tangan Prasetyo. Pria itu membelikannya untuk Karlita sekitar satu bulan yang lalu.
“Stadion Maguwoharjo abis dari sana baru kita kasih makan kucing, aku juga sudah beli makanannya,” jawab Prasetyo dengan santai, Karlita langsung mengangguk antusias. Semalam memang mereka merubah rencana. Awalnya akan ke tempat Gym namun berakhir memilih lari pagi saja karena ingin menghirup udara pagi hari yang lebih baik.
“Aku seneng banget bisa lihat wajah kamu dari pagi hari seperti ini, jarang-jarang banget punya moment kayak gini sama kamu, nasib punya tunangan sibuk banget aku,” ucap Karlita namun senyum gadis itu tidak pernah luntur sedikitpun ketika mengatakan itu. Seperti yang pernah Prasetyo katakan membuat Karlita merasa bahagia itu gampang sekali, cukup dengan tetap ada di samping gadis itu dalam keadaan seperti apapun. Bisa bertemu seperti ini adalah salah satu moment yang selalu berhasil membuat Karlita senang oleh karena itu Prasetyo selalu memilih kembali ke Yogyakarta di saat weekend.
“Hari ini dan besok aku stay di Jogja untuk bersama kamu,” ucap Prasetyo, mata Karlita semakin berbinar dan seyumnya semakin lebar.
“Terimakasih banyak mas Pra!” seru Karlita dia memeluk lengan Prasetyo dengan erat, Prasetyo tersenyum tipis kemudian mengecup puncak kepala Karlita bertepatan mereka sudah sampai di stadion Maguwoharjo.
“Kamu nanti lari sekuatnya aja, nggak usah memaksakan diri karena kamu tetap akan menjadi Karlita seperti apapun kamu,” ucap Prasetro mengingatkan sebelum Karlita memaksakan diri seperti sebelum-sebelumnya. Dia tidak ingin melihat gadis itu menyiksa diri sendiri kemudian berakhir dengan kelelahan.
“Baik, Mas,” jawab Karlita kemudian pasangan itu langsung turun dari mobil dan memulai aktivitas mereka, pada awalnya Karlita sangat-sangat berhasil mengimbangi langkah Prasetyo namun lama- kelamaan gadis itu mulai tertinggal jauh oleh Prasetyo.
Sebenarnya Karlita termasuk orang yang sangat malas berolahraga, dia lebih senang keliling mall namun Maryani, Mama-nya selalu memaksanya untuk melakukan itu dengan alasan tubuh Karlita gendut dan Karlita tidak cantik jadilah Karlita harus melakukannya, terkadang sampai dia benar-benar hampir kehilangan semua tenaganya karena ketika Karlita di rumah, Maryani pasti akan mengawasinya dan tidak pernah memberikan jeda Karlita untuk beristirahat sampai-sampai Karlita memenuhi target yang sudah di tentukan.
Gadis itu berakhir terduduk dengan napas tersenggal, Karlita sudah kuat lagi untuk melakukannya padahal Prasetyo masih terlihat berlari dengan teratur, Prasetyo itu memang si pecinta olahraga sekali, pria itu bahkan betah berlama-lama ada di tempat Gym, jadi tidak heran, jika seorang pekerja kantoran seperti Prasetyo memiliki tubuh yang proposional bahkan menurut Karlita benar-benar pelukable sekali.
Setiap kali Prasetyo melewatinya, saat itu Karlita akan melambai dan tersenyum lebar walau Prasetyo jarang menanggapinya namun Karlita sangat tahu sekali, pria itu selalu suka ketika Karlita melakukan itu.
“Capek?” tanya Prasetyo ketika mereka udah berada di mobil, kaus putih yang di gunakan oleh pria itu sudah basah oleh keringat, roti sobeknya terlihat samar-samar dari balik kaus itu membuat Karlita menggigit bibir bawahnya gemas, sungguh melihat Prasetyo shirtless adalah anugrah tersendiri untuk Karlita, sungguh enam roti sobek itu selalu menggemaskan.
“Sedikit capek tapi sekarang udah nggak papa aku udah seger pake banget malah!” seru Karlita cengengesan namun dia tidak melepaskan tatapannya dari perut Prasetyo.
Prasetyo yang sangat mengerti ke mana arah tatapan Karlita hanya menggelengkan kepalanya, sungguh Karlita itu adalah orang yang tidak bisa menyembunyikan ekspresinya apalagi ketika tertarik terhadap sesuatu atau tidak menyukai sesuatu.
“Suka?” tanya Prasetyo, dia mulai menyalakan mobilnya, mereka akan mendatangi tempat penampungan kucing terlantar yang ada di Yogyakarta, tempat yang sebelum-sebelumnya sudah pernah mereka kunjungi secara acak.
“Banget, tambah gemes aja nggak sih, Mas?” tanya Karlita dengan santainya seolah hal tersebut memang sudah menjadi obrolan yang biasa di antara mereka, Prasetyo mengacak rambut gadis itu dengan gemas.
“Kamu nggak boleh sejujur ini ketika tidak bersama dengan aku,” ucap Prasetyo.
“Kenapa?” tanya Karlita dengan tatapan jahil.
“Nggak boleh aja,” jawab Prasetyo dengan santai. Karlita mengulum senyumnya kemudian memilih fokus pada jalan di hadapannya.
“Ini kamu udah janjian, Mas, sama yang punya komunitas pecinta kucingnya?” tanya Karlita ketika menyadari ke mana arah mobil Prasetyo, ini memang bukan pertama kalinya mereka mengungjungi komunitas-komunitas pecinta kucing terutama kucing jalanan yang ada di Yogyakarta jadi Karlita sudah tahu sekali di mana tempatnya.
“Sudah dari dua hari yang lalu, mereka memang sedang kekurangan stok makanan katanya karena banyak kucing-kucing baru dari jalanan yang baru saja mereka ambil,” jawab Prasetyo dengan cepat, Karlita menganggukkan kepalanya mengerti, sungguh kalau di pikir-pikir banyak sekali hewan-hewan di luaran sana yang butuh pertolongan, butuh perawatan, dan dengan cara seperti ini salah satu cara menyelamatkan mereka. Setiap kali Karlita bertanya pada Prasetyo kenapa pria itu sangat peduli dengan hewan-hewan jalanan, Prasetyo akan menjawab seperti ini, setinggi apapun kita dan sesempurna apapun kita tempat kembali akan tetap sama namun jalur yang akan kita lewati kita yang menentukan.
Orang-orang di komunitas itu membantu Karlita dan Prasetyo untuk menurunkan makanan kucing dari mobil Prasetyo yang jumlahnya ternyata cukup banyak bahkan Karlita cukup kaget ketika melihatnya.
“Kamu beli sebanyak itu?” tanya Karlita, Prasetyo langsung mengangguk. Orang-orang komunitas itu memberikan Prasetyo dan Karlita kesempatan untuk memberikan makan pada ratusan kucing yang ada di sana.
“Mumpung aku lagi ada waktunya ke sini, jadi yaudah banyakin sekalian,” jawab Pasetyo dengan santai, dia menggandeng tangan Karlita untuk masuk, ratusan kucing itu menyambut mereka, berbondong-bondong untuk mendapatkan makanan.
“Mas lucu banget mereka tuh!” seru Karlita menatap kucing-kucing itu, gadis itu berjongkok dan mulai mengelus satu persatu bulu kucing yang mengitari kakinya.
“Jangan tatap aku kayak gitu, please, nggak kuat banget mau nangis, Mas, kasih dia makan yang banyak wajahnya melas banget!”
“Mas itu tuh yang di sebelah sana matanya berkaca-kaca kayaknya dia memang laper banget sampai perutnya kempes, kasih dia bagian lebih banyak, Mas!”
“Mas itu dia kenapa gendut sendiri, parah sih kayaknya dia paling serakah tapi kasih makan yang banyak, Mas, nggak tega aku, gemes!”
Celotehan Karlita di pagi menjelang siang itu meramaikan suasana komunitas itu, orang-orang yang menyaksikan pasangan itu hanya terkekeh geli apalagi melihat senyum gemas terukir begitu saja di wajah Prasetyo membuat orang-orang di sana semakin menjerit heboh.
Prasetyo menatap Karlita dengan begitu lekat, sungguh seperti ini jauh lebih baik, dia sangat suka Karlita yang seperti ini, Karlita yang selalu berbahagia dengan hal-hal sederhana, Karlita yang tidak lagi murung seperti sebelum-sebelumnya, Karlita yang bebas dan tidak lagi tertekan.
***
“Happy?” tanya Prasetyo, dia bergabung duduk di samping Karlita yang sedang menikmati satu cup es krim yang tadi sempat mereka order, rambut gadis itu masih basah dan acak-acakkan karena baru saja selesai membersihkan diri setelah aktivitas menyenangkannya di pagi hari, lari pagi dan memberi makan ratusan kucing bersama dengan Prasetyo.
“Happy banget, thank you, ya, mas Pra-nya aku,” ucap Karlita sembari mendongak dan tersenyum. Prasetyo langsung mengangguk kemudian mulai mengeringkan rambut Karlita.
“Kebiasaan buruk banget ini, sehabis kemaras itu rambutnya di keringin,” ucap Prasetyo, entah sudah berapa kali Prasetyo menjadi orang yang mengeringkan rambut Kalrlita yang basah setelah keramas. Gadis ini benar-benar sangat malas mengeringkan rambutnya.
“Nanti kering sendiri, Mas, lagian es krim ini dari tadi manggil-manggil aku terus, katanya Lita please sentuh aku gitu katanya,” ucap Karlita ngawur, Prasetyo lagi-lagi menggelengkan kepalanya mendengar ucapan super random Karlita.
Setelah selesai mengeringkan rambut Karlita, Prasetyo mulai menyisir rambut gadis itu, rambut yang sangat terawat dan membuat Karlita selalu terlihat sangat memukau, “selesai,” ucap Prasetyo, dia kemudian duduk di samping Karlita, pria itu juga baru saja selesai membersihkan diri, siang ini Prasetyo menggunakan celana pendek dan juga kaus berwarna hitam membuat Karlita yang menyadari itu mendesah kecewa.
“Rapat banget ya, Mas,” celetuk Karlita sembari menatap Prasetyo dari atas sampai bawah.
“Apanya?” tanya Prsetyo dengan bingung, dia mengambil burger miliknya kemudian mulai menyantapnya.
“Bajunya, nggak bisa ngintip enam roti sobek kesayangan aku padahal tadi pagi bisa lihat dengan nyata,” celetuk Karlita dengan sangat berani bahkan gadis itu dengan terang-terangan menatap Prasetyo dengan tetap menikmati es krimnya.
“Karlita, please,” ucap Prasetyo dengan suara beratnya nan serak, Karlita langsung terkekeh dengan geli ketika mendengar itu.
“Kenapa? Aku ngomongnya jujur kok, roti sobek kamu memang gemesin banget,” ucap Karlita semakin menjadi, menggoda Prasetyo adalah salah satu hal yang sangat menyenangkan apalagi ketika melihat pria itu kebingungan untuk menunjukkan ekspresinya.
“Jangan seperti sekarang,” ucap Prasetyo dengan menatap Karlita dengan lekat, sungguh gadis ini sangat berbahaya untuknya.
“Terus maunya aku seperti apa? Bantuin kamu lepas baju?” tanya Karlita dengan satu alis terangkat. Pasetyo mengeram pelan mendengar ucapan gadis itu sebelum akhirnya membawa Karlita ke dalam pelukannya dan Karlita langsung tertawa dengan lepas saat itu apalagi merasakan pelukan Prasetyo sangat erat.
“Berhenti menggoda aku, Karlita, atau kamu sendiri yang akan menyesal nanti,” ucap Prasetyo, Karlita hanya tertawa kemudian mendongak untuk menatap wajah Prasetyo dari bawah, sungguh Prasetyo adalah gambaran yang sempurna, rahang pria ini benar-benar sangat tegas. Karlita kemudian menyuapkan satu sendok es krim pada Prasetyo.
“Kamu harus banyak makan yang manis-manis biar hidupnya semakin berwarna, kamu nggak bosan apa Mas selalu hidup dengan ekspresi wajah datar seperti itu?” tanya Karlita masih dengan mendongak sedangkan tangan Prasetyo memeluk pinggang ramping Karlita.
“Sudah dari lahir,” jawab Prasetyo dengan kalem, matanya kini terfokus pada layar plasma yang menyala di hadapannya.
“Tapi ganteng banget,” ucap Karlita, gadis itu kemudian mengigit burger yang ada di tangan Prasetyo, weekend sama dengan makan sesuka mereka tanpa harus memikirkan timbangan.
“Kamu juga cantik,” ucap Prasetyo dengan kalem membuat Karlita semakin tersenyum dengan sumringah.
“Ulangin coba, Mas, tadi bilang apa? Kayaknya aku akan sangat suka ketika kamu mengatakan itu,” ucap Karlita.
Prasetyo menunduk dan menatap Karlita dengan lekat sebelum mengecup bibir Karlita dengan singkat, “kamu cerewet,” ucap Prasetyo. Karlita mengerjabkan matanya berkali-kali kemudian memegang bibirnya sendiri, sungguh ini adalah pertama kalinya Prasetyo mengecup bibirnya, sungguh di luar dugaan Karlita bahwa Prasetyo akan melakukan ini. Rasanya ah sudahlah Karlita tidak mampu menjelaskannya takut nanti pada iri kemudian mau berlomba-lomba jadi pelakor, tidak boleh!
“Kenapa cium bibir aku?” tanya Karlita dengan suara yang nyaris hilang, pipi gadis semerah tomat dan genggamannya pada cup es krimnya mengerat. Prasetyo mengigit bibirnya gemas menatap Karlita.
“Karena manis,” jawab Prasetyo dengan sangat santai membuat Karlita langsung melepaskan diri dari pelukan Prasetyo, mengambil jarak yang cukup aman dari Prasetyo.
“Mas wajah aku panas banget, nggak kuat, malu banget” ucap Karlita sembari mengibas-ngibaskan tangannya di depan wajahnya dengan heboh, Prasetyo menggelengkan kepalanya gemas kemudian kembali melanjutkan makan siangnya.
“Makanya berhenti menggoda jika tidak ingin di cium, Lita,” ucap Prasetyo dengan santai. Karlita tiba-tiba menjerit heboh dan memeluk lengan Prasetyo, menyembunyikan wajahnya di sana.
“Malu banget, Mas,” ucap Karlita dengan pelan.
Prasetyo menggeleng pelan, “kenapa harus malu, your lips are sweet, Karlita.”