Oza menghentikan langkahnya setelah mendengar tugas yang diajukan Cendric kepadanya.
"Balas dendam ...? Oh, cuma gara-gara dia disuruh Kak Sabrina menggantikannya tidur di dalam kamar yang seharusnya kalian pakai?" tebak Oza sambil mengernyit ke arah kakaknya. "Tapi menurutku sebaiknya nggak usah dibesar-besarkan deh Kak, bukannya Kakak sendiri juga sama?"
Cendric tidak segera menjawab dan mendekati Oza yang masih berdiri di hadapannya.
"Ini masalah harga diri," kata Cendric datar tapi dengan ekspresi wajah yang begitu dingin. "Anak ingusan macam dia berani ikut mempermainkan aku ...."
"Vedra cuma disuruh kakaknya," sahut Oza. "Sama seperti Kakak yang menyuruhku buat mengerjai Kak Sabrina juga, sudah deh. Anggap saja kalian impas."
Cendric menatap adiknya dengan mata menyipit.
"Aku nggak suka saat ada siapapun yang menghina harga diriku," ucap Cendric tajam.
Oza menarik napas dan tidak ingin berdebat dengan kakaknya.
"Sudah deh Kak, lagian Vedra kan adik iparnya Kakak ..." ujar Oza menutup pembicaraan. "Jangan menganggapnya seakan dia melakukan dosa besar yang nggak bisa Kakak maafkan sampai menyimpan dendam seperti itu."
Cendric berdecih.
"Kamu nggak usah mengajari aku tentang dosa atau yang bukan dosa," tepisnya dingin. "Kamu diarahkan ayah untuk kuliah yang benar saja kamu nggak mau ...."
"Cuma karena aku lebih memilih fotografi daripada ekonomi bisnis seperti Kakak?" potong Oza yang makin lama makin risi karena pembicaraannya dengan Cendric jadi melebar ke mana-mana. "Itu hak aku sebagai orang yang menjalaninya, walaupun suatu saat nanti aku harus berakhir di perusahaan ayah."
Tanpa menunggu jawaban apa-apa dari Cendric, Oza langsung meneruskan langkahnya menuju kamar dan meninggalkan kakaknya sendiri.
Cendric yang tak kalah marah karena Oza menolak permintaannya untuk balik mengerjai Vedra, akhirnya pergi meninggalkan rumah orangtuanya dan kembali ke rumah pribadinya sendiri.
Setibanya di sana, amarah Cendric kembali tersulut karena dia mendapati Sabrina yang belum pulang juga.
"Istri macam apa jam segini masih keluyuran di luar?" geram Cendric saat dia melihat masakan di dapur masih utuh dan kamar Sabrina terlihat kosong melompong.
"Apa setiap hari dia begini?" tanya Cendric tajam kepada asisten rumah tangganya yang bernama Lani.
"Iya, Tuan ..." jawab perempuan paruh baya itu takut-takut. "Tapi Nyonya tidak bilang mau ke mana ...."
Cendric memegang keningnya dan mulai dibuat pusing dengan kelakuan Sabrina yang menurut dia tidak menganggapnya sebagai kepala rumah tangga.
"Ke mana saja kamu kalau keluar rumah?" tanya Cendric dengan tatapan menyelidik ketika Sabrina baru saja melangkah memasuki ruangan.
Sabrina hampir saja terlonjak kaget saat dia mendapati suaminya yang sah sudah berdiri di ruang depan.
Sesuatu yang biasanya tidak pernah dilakukan Cendric sama sekali.
"Eh ... kamu nunggu aku pulang?" tanya Sabrina basa-basi, dalam hati dia sangat bersyukur karena Vando selalu menurunkannya di depan gapura komplek sehingga tidak ketahuan Cendric.
"Bukannya terbalik, di mana kamu yang seharusnya nunggu aku pulang?" tanya Cendric balik dengan nada suara dan ekspresi yang sama-sama dingin.
"Sudah deh, aku capek. Aku nggak mau ribut ya malam ini?" ketus Sabrina, dengan berani dia melangkah melewati Cendric meskipun suaminya itu belum selesai bicara.
"Sabrina!" panggil Cendric yang kali ini tidak bisa diam saja. Dengan langkah-langkah lebar dia membuntuti Sabrina yang sudah meniti tangga menuju ke kamarnya. "Aku belum selesai sama kamu."
"Aduh!" pekik Sabrina ketika Cendric menarik lengannya dengan keras. "Apaan sih, lepas!"
Sabrina balas memukul tangan Cendric yang mencekalnya.
"Jangan mulai bertingkah seenaknya di rumah ini," kata Cendric tajam sambil melepas lengan Sabrina. "Memangnya kamu nggak bisa apa sedikit saja menghargai aku sebagai suami kamu?"
Sabrina berdecih, kemudian tertawa sinis.
"Kamu dengar ya, Tuan Cendric Danadyaksa. Aku nggak pernah suruh kamu buat menikahi aku, salah siapa?" tanya Sabrina mencibir. "Lagian kesepakatan kita adalah meskipun kita menikah resmi, tapi kita nggak berhak mengatur privasi masing-masing. Kamu masih ingat itu kan?"
Cendric terdiam sebentar.
"Jadi ini bukan aku yang bersikap seenaknya, tapi kamu yang nggak berusaha untuk menikmati hidup kamu setelah terjebak pernikahan bisnis ini."
Cendric menyipitkan matanya dengan tajam ke arah Sabrina yang berkacak pinggang di depannya.
"Tapi tetap saja rumah aku ini ada aturannya," bantah Cendric dingin. "Aku nggak peduli kamu mau pergi ke mana dan sama siapa, yang aku tegaskan adalah bahwa seharusnya kamu tahu diri dengan nggak pulang pergi seenaknya sampai larut malam seperti ini."
Sabrina menarik napas panjang.
"Jadi maksud kamu, aku harus laporan dulu setiap kali mau pergi?" tanya Sabrina menyimpulkan. "Dan aku harus mengikuti jam malam yang kamu terapkan? Terus kamu mau suruh aku pulang jam berapa? Sembilan? Sepuluh? Kayak bocah saja."
Seraya mengangkat wajahnya tinggi-tinggi, Sabrina melangkah masuk ke dalam kamar dan menutup pintunya dengan suara keras tepat di depan wajah Cendric yang geram sekali melihat tingkahnya.
Meskipun sudah ditegur sedemikian rupa oleh suaminya, tapi kenyataannya teguran itu hanya mampir sebentar dengan masuk ke telinga kanan dan keluar dari telinga kiri Sabrina.
Walaupun sadar akan statusnya sebagai istri yang sah dari Cendric, dia tetap menjalin hubungan diam-diam dengan Vando di belakangnya.
Vedra sendiri heran karena sebagai seseorang yang sudah memiliki suami, Sabrina sering main ke kosannya hampir setiap hari.
"Memangnya Kakak nggak dicariin sama Kak Cendric?" tanya Vedra ingin tahu sambil memeluk gulingnya.
"Buat apa juga dia cari aku?" sahut Sabrina sambil lalu. "Lagian kamu tinggal di kos kok nggak bilang dulu sama aku? Nambah-nambahin pengeluaran orangtua kita aja."
Vedra meringis setelah mendengar komentar kakaknya.
"Kakak bisa nggak sih jangan meremehkan aku?" kata Vedra setengah merajuk. "Nanti aku akan cari kerja sampingan kalau udah nemu jam kosong di antara jadwal kuliah aku."
"Kamu kan belum punya pengalaman apa-apa di dunia kerja," sahut Sabrina seraya memainkan ponsel yang ada di tangannya.
"Justru bagus kan sambil cari pengalaman?" kilah Vedra sambil melirik jam di layar ponselnya sendiri. "Kak, udah sore lho. Nggak enak sama Kak Cendric kalau Kakak nggak ada di rumah pas dia pulang kerja nanti."
Sabrina berdecak tak suka karena merasa bahwa Vedra telah mengusirnya dari kosan.
"Masih ingat pulang?" sambut Cendric dingin ketika dia pulang kerja dan mendapati Sabrina sudah berdiri di depan tangga yang menurun.
"Kamu tuh maunya apa sih?" tanya Sabrina gerah. "Aku pergi-pergi dibilang keluyuran, aku sudah di rumah malah disindir ... Heran."
"Dari mana saja kamu?" tanya Cendric tanpa mempedulikan jawaban tidak sopan Sabrina.
"Ke kosan adik aku," jawab Sabrina sebagai alibi, tapi kenyataannya tentu saja dia tidak hanya ke kos Vedra.
Melainkan juga menemui Vando diam-diam di suatu tempat.
"Setiap hari kamu ke sana?" tanya Cendric lagi, kali ini sarat dengan nada curiga dalam suaranya.
"Memangnya kenapa, nggak boleh?" tanya Sabrina sinis.
Cendric tidak menjawab dan meneruskan langkah kamarnya sendiri.
"Aku peringatkan kamu," kata Cendric sebelum menutup pintu kamarnya. "atau kamu akan menyesal."
Bersambung –