10. Uang Bulanan

1071 Words
Sabrina terus mengabaikan peringatan Cendric dan tetap melangkah ke kamarnya. "Aku nggak pernah minta kamu buat menafkahi aku sepeserpun, jadi aku harap kamu juga nggak perlu atur-atur aku seakan kamu ini suami yang sempurna." Sabrina menegaskan sebelum dia menutup pintu di depan wajah Cendric yang kelihatan masih ingin pembicaraan ini dilanjutkan. Cendric hanya bisa mengumpat dan berbelok ke kamarnya sendiri. Dia tidak tahu lagi bagaimana caranya supaya bisa terbebas dari pernikahan yang tidak pernah diharapkannya. Masalahnya dari awal Cendric tidak menerapkan kontrak pernikahan kepada Sabrina, sehingga dia harus memutar otak jika ingin pernikahan mereka diakhiri begitu saja. Sedangkan Sabrina sendiri juga bukan tipe wanita yang menginginkan uang darinya. Dari situ Cendric jadi berpikir, apakah dia bisa menceraikan Sabrina dengan alasan yang logis? "Eh, yang kemarin kamu samperin itu ... siapa namanya?" tanya Triana ketika bertemu Vedra di kampus. "Namanya Oza, dia saudara ipar aku." Vedra menjelaskan. "Pulang kuliah nanti temani aku cari kerja sampingan yuk?" Triana langsung memalingkan wajahnya sambil melengos. "Baru awal perkuliahan lho Ve, udah kepikiran kerja ..." keluh Triana sambil meneruskan perjalanannya ke kelas. "Nggak apa-apa lagi, lumayan kan buat tambah-tambah?" susul Vedra sambil merangkul Triana. "Kakak aku udah mulai protes gara-gara aku ngekos ...." Ketika dua cewek itu belum berlalu terlalu jauh, Oza muncul dan terus memandangi mereka hingga keduanya lenyap dari pandangan matanya. Dia teringat dengan permintaan Cendric yang tak masuk akal soal rencana balas dendam kepada Vedra yang telah ditolaknya. Karena menurut Oza, tidak seharusnya masalah sekecil ini sampai menimbulkan dendam yang meracuni hati nurani. "Za, kali ini aku serius." Cendric terus mendesak Oza dengan sering mendatanginya ke rumah orangtua mereka yang masih sepi karena Garin dan Silvi belum pulang dari luar negeri. "Ada apa lagi sih, Kak?" tanya Oza yang sedang mengamati beberapa foto yang berhasil dia abadikan dengan susah payah bersama temannya saat berburu matahari terbenam di puncak bukit. "Aku mau cerai sama Sabrina," jawab Cendric datar tapi tegas. Fokus Oza yang sedang memeriksa hasil jepretannya seketika terpecah, dengan terkejut dia menoleh memandang kakaknya. "Secepat itu?" tanya Oza dengan mata mengernyit heran. "Aku bahkan belum dapat keponakan dari kalian ...." "Jangan ngaco," potong Cendric dingin. "Aku sama Sabrina nggak pernah menginginkan pernikahan ini, dia juga nggak tergoda sama uang aku." "Terus?" tanya Oza yang semakin tidak mengerti dengan ucapan kakaknya. "Ya itu artinya aku nggak bisa kasih alasan bagus buat menceraikan Sabrina," jawab Cendric yang lama-kelamaan kesal karena Oza tidak segera memahami apa maksud ucapannya. "Bukan, maksudku itu kenapa Kakak dulu nggak menolak permintaan ayah buat menikah sama Kak Sabrina?" tanya Oza lebih spesifik. "Kalau nggak cinta, kok mau-maunya disuruh menikah." Oza menggelengkan kepala dan mengalihkan pandangannya kembali kepada hasil jepretannya. "Karena itu bukan permintaan ayah, tapi perintah." Cendric menegaskan. "Aku juga nggak tahu persis apa motifnya menikahkan aku sama Sabrina, tapi dia bilang kalau ini murni pernikahan bisnis." Oza tidak berkomentar apa-apa, tapi dalam hati dia merasa kasihan dengan Cendric yang selalu menuruti setiap hal yang disuruh ayah mereka. "Za!" sentak Cendric yang sudah tidak sabar. "Kalau kamu nggak bisa nurut sama ayah, setidaknya bantu aku buat membereskan masalah ini." Oza menarik napas. "Apa sih, Kak?" tanyanya sambil menoleh. "Kakak mau aku ngapain Kak Sabrina, jangan macam-macam deh." Cendric berpikir lagi dan tidak segera menjawab. "Kamu urus Vedra," suruh Cendric akhirnya. "Apa kek, kamu pacarin dia terus ... kamu tinggalkan dia kalau dia sudah benar-benar suka sama kamu." Oza menyipitkan matanya setelah mendengar keinginan Cendric. "Kakak nggak boleh lupa kalau aku sama Vedra itu saudara ipar," katanya logis. "Nggak usah aneh-aneh deh, silakan Kakak selesaikan sendiri masalahnya sama Kak Sabrina. Tapi nggak perlu bawa-bawa Vedra, kasihan .... Dia itu juga cuma disuruh kayak aku." Cendric berdecak karena Oza tidak mau melakukan apa yang dia suruh. "Begitu akibatnya kalau anak terlalu nurut sama orangtua," gerutu Oza ketika dia meninggalkan kakaknya dan masuk kamar. "Giliran nggak sesuai keinginan, orang lain yang dia salahkan." Oza merebahkan tubuhnya di tempat tidur dan memejamkan mata. Bayangan Vedra yang tersenyum polos dan ceria kepadanya membuat Oza tidak tega jika harus meneruskan dendam Cendric yang menurutnya sangat tidak masuk akal. Lagipula tidak adil jika Vedra yang mendapatkan getah atas ketidakpuasan Cendric terhadap pernikahannya dengan Sabrina. "Sayang ... kapan kamu pindah kerjaan?" tanya Sabrina sambil membelai bahu Vando ketika mereka bertemu diam-diam di taman kota. "Belum, cari kerja kan sulit." Vando menyahut. "Aku sudah capek ikut orang, Brin. Kamu bisa nggak modalin aku buat buka usaha kuliner?" Sabrina menarik tangannya dari bahu Vando. "Aku ... duit dari mana?" komentar Sabrina bingung. "Aku kan udah ikut suami, jadi mana mungkin orangtua aku mau kasih uang tanpa ada alasan ...." "Ya maksud aku itu uang suami kamu," sahut Vando dengan mata berbinar licik. "Kamu pasti dapat uang kan sama dia yang bulanan itu?" Sabrina diam saja dan hanya bisa tertawa hambar. Dia mana pernah menerima uang bulanan dari Cendric, membicarakannya saja tidak pernah. "Memangnya harus ya kalau Cendric kasih uang bulanan sama aku?" tanya Sabrina ragu-ragu sambil memandang Vando. "Masalahnya kan aku sama dia nggak menginginkan pernikahan ini, Van. Jadi ya ... kita sepakat buat nggak ganggu satu sama lain." Vando mengembuskan napas panjang. "Kamu ini gimana sih, Brin? Yang namanya uang bulanan itu adalah hak kamu sebagai istrinya, kalian kan menikah resmi?" tukas Vando sambil memandang Sabrina. "Minta deh gimanapun caranya, itu kan hak kamu." Sabrina terdiam. "Bukannya kamu bilang kalau Cendric Danadyaksa itu adalah pebisnis kaya? Mertua kamu juga orang kaya kan?" desak Vando lagi. "Iya sih, tapi ... nggak apa-apa deh kamu kerja seadanya dulu!" sahut Sabrina cepat-cepat. "Daripada aku harus minta-minta sama Cendric, nanti dia curiga." "Dia bego namanya kalau sampai curiga sama kamu cuma karena minta uang bulanan," timpal Vando. "Uang bukanan itu hak kamu, lumayan kalau kamu tabung. Jadi aku bisa buka usaha kuliner sendiri, Brin." Sabrina mengatupkan bibirnya rapat-rapat. Dalam hati dia mengakui bahwa apa yang diucapkan Vando adalah benar, normalnya Cendric bisa memberikan uang bulanan itu kepadanya terlepas mereka berdua hanyalah terpaksa menikah karena keinginan orangtua. Namun, bagaimana cara Sabrina agar bisa mendapatkan uang itu tanpa harus mengemis? "Cendric, aku mau bicara." Malam itu Sabrina turun saat jam makan malam dan sengaja menemani Cendric yang sudah berada di dapur sejak tadi. "Soal apa?" tanya Cendric ingin tahu tanpa memandang Sabrina. "Soal ..." Sabrina berpikir sebentar, kemudian dengan tenang dia melanjutkan ucapannya. "Aku tahu kita sama-sama terpaksa menikah, tapi ... bukankah seharusnya kamu kasih aku bulanan?" Cendric yang ketika itu sedang mengiris daging di piringnya, seketika menghentikan gerakan tangannya dan menoleh memandang Sabrina. Bersambung –
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD