Mendadak terdengar suara Sabrina yang sedang berada di balkon, membuat Cendric menatap tajam ke arah Vedra yang tak berdaya.
Cendric menarik tangannya dan membuat isyarat potong leher dengan jari telunjuknya, kemudian dia turun dari tempat tidur Vedra dan buru-buru pergi meninggalkan kamar Sabrina tanpa bersuara sama sekali.
"... aku juga sayang sama kamu, sabar yaa ... pasti akan ketemu jalan ... Oke, daahh!"
Sabrina tersenyum sendiri seraya memutus hubungan dengan seseorang melalui sambungan telepon. Setelah itu dia menoleh dan melihat Vedra yang meringkuk di balik selimut yang ada di tempat tidurnya.
"Kamu kenapa, Ve?" tanya Sabrina heran. "Kok wajah kamu pucat kayak habis melihat hantu ...?"
Vedra nyaris tidak berani bernapas keras-keras karena saking shock-nya.
"A - aku ... aku mimpi buruk tadi, Kak ..." jawab Vedra terbata-bata.
Sabrina duduk sambil mengernyitkan keningnya ke arah Vedra.
"Kok aneh, siang-siang begini bisa mimpi?" komentar Sabrina sembari menyangga kepalanya dengan tangan.
Vedra hanya meringis saja sebagai jawaban. Suara televisi yang kencang dan suhu kamar yang adem membuat Vedra perlahan terlelap lagi untuk yang kedua kalinya.
Di ruangan lain, Cendric baru saja selesai mengancingkan kembali kemejanya dengan rapat, dia sendiri masih shock dengan apa yang baru saja dia saksikan di kamar Sabrina.
Tadinya, Cendric berniat membuat Sabrina percaya bahwa mereka telah bercampur dan dengan begitu kedua orangtuanya akan percaya jika Cendric sudah melakukan kewajibannya sebagai seorang suami.
"... tapi kenapa malah dia yang ada di sana?" sesal Cendric setelah dia menyaksikan sendiri bagaimana dia salah menargetkan orang.
Saat itu ponsel Cendric mendadak berdering nyaring dan dia segera mengangkatnya.
"Halo?"
"Kamu sudah ajak istri kamu untuk tinggal serumah kan?" tanya Garin, ayah Cendric yang merupakan aktor utama di balik pernikahan dadakan yang harus dia jalani.
"Sudah Yah, tapi aku belum bawa dia ke rumah aku." Cendric mengaku. "Aku pikir mungkin ayah sama ibu mau mampir dulu melihat menantu kesayangan ...."
"Ayah tidak bisa, Cen. Ibu sama ayah sudah di bandara sekarang, kamu baik-baik sama istri kamu. Ingat, jangan bikin malu orangtua kamu lagi." Garin menekankan ucapan terakhirnya dengan nada mengancam. "Oh ya, jangan lupa urus juga adik kamu Oza."
Cendric berdecak dalam hati.
"Oza sudah dewasa yah, dia bukan tanggung jawab aku lagi ..." katanya setengah membantah.
"Pikiran ini yang bikin adik kamu tidak mau menurut," sela Garin dengan nada tidak suka. "Kalau kamu pintar menjaga adik kamu, dia pasti akan masuk jurusan yang sudah ayah pilihkan untuknya sebagai penerus perusahaan kita ...."
"Tapi, Yah ...."
"Kenyataannya Oza memilih masuk fotografi, itu sudah bikin ayah kecewa." Garin menukas, setelah itu dia menutup teleponnya dengan keras.
Cendric menurunkan ponselnya diiringi helaan napas berat, dia tidak lagi sempat memikirkan kehidupannya sendiri karena sang ayah sudah mengaturnya dengan sedemikian rupa.
Sebaliknya, Cendric justru ditekan untuk mampu mengendalikan kehidupan adiknya agar mengikuti jejaknya menjadi seorang eksekutif muda.
Sedangkan Oza tidak pernah suka untuk terjun di dunia bisnis seperti yang dilakukan kakaknya.
"Kak, pulang yuk?" rengek Vedra setelah dia sadar dari tidurnya yang sempat diinterupsi diam-diam oleh kakak iparnya tadi. "Aku nggak enak sama Kak Cendric ...."
"Santai ajalah, dia kan masih cuti karena menikah. Makanya nggak pergi kerja," sahut Sabrina yang sedari tadi terus menonton televisi.
"Cuti nikah kan seharusnya kalian bulan madu ke mana ... saling mendekatkan diri," kata Vedra sok tahu.
"Kayak kamu udah ngerti aja," tukas Sabrina sambil menoleh ke arah adiknya yang sedang merapikan diri. "Aku pesankan taksi online ya Ve, kamu pulang sendiri nggak apa-apa kan?"
Vedra mengangguk sambil menyampirkan tasnya ke bahu.
"Salam buat ibu," kata Sabrina lagi sambil menyelipkan lembaran uang kertas ke tangan Vedra.
"Asyik ya punya suami tajir, Kak?" komentar Vedra dengan nada menggoda. "Duitnya bertumpuk-tumpuk begini."
"Enggaklah, aku bukan wanita matre." Sabrina berkilah sambil mematikan televisi, setelah itu dia mengantar Vedra hingga di ujung tangga.
"Kamu tahu pintu keluarnya kan?" tanya Sabrina sambil memandang Vedra yang menganggukkan kepalanya.
"Memangnya Kakak nggak mau menemaniku nunggu taksi di depan?" tanya Vedra balik.
Sabrina menggeleng sambil celingukan ke sana kemari.
"Aku mau ngobrol ...." bisik Sabrina dengan suara lirih.
"Ohhh ..." Vedra mengangguk maklum.
"... sama Vando," sambung Sabrina dengan wajah tanpa dosa, detik itu juga ekspresi wajah Vedra langsung berubah drastis.
"Kak, ingat ... Kakak kan udah jadi istrinya Kak Cendric," bisik Vedra dengan mata membelalak. "Itu namanya Kakak udah selingkuh ...."
"Ssshhh, kamu anak kecil nggak tahu apa-apa, Ve." Sabrina menukas. "Udah ya,aku janjian sama dia tadi, dahh!"
Tanpa menunggu jawaban apa-apa dari Vedra, Sabrina langsung berbalik pergi meninggalkannya sendirian.
Kasihan Kak Cendric, pikir Vedra ketika dia menyeberangi halaman rumah mertua kakaknya yang sangat luas. Betapapun polosnya Vedra, dia tentu tahu bahwa apa yang dilakukan Sabrina tidaklah mencerminkan seorang istri yang setia kepada pasangannya.
Vedra terus melamun menunggu taksi hingga dia tetap bergeming ketika pintu gerbang terbuka lebar dan memberi jalan bagi sebuah mobil hitam mengilap keluar dari halaman rumah.
"Ngapain kamu?" Sebuah suara superdatar menyapa Vedra dan membuatnya tersadar.
"Ah, itu Kak ..." Vedra tergeragap kaget ketika melihat wajah dingin Cendric yang melongok dari jendela mobilnya. "Lagi nunggu taksi ...."
Cendric memalingkan wajah dinginnya sebentar, kemudian menyuruh Vedra untuk naik ke mobilnya karena dia juga mau pergi.
"Tapi ... Kak Brina sudah pesan taksi, nggak enak ..." ucap Vedra dengan wajah sungkan.
Cendric lantas mengeluarkan dompetnya dan memberikan beberapa lembar uang merah kepada Vedra.
"Kasih ini ke penjaga rumah, buat ganti rugi." Cendric menyuruh Vedra dengan nada seperti bos dan cewek itu langsung melakukannya karena tidak memiliki alasan untuk menolak.
Dan kini Vedra sudah berada di dalam mobil Cendric yang bersuhu dingin, sedingin kharisma yang dipancarkan kakak ipar yang duduk di sampingnya.
"Memangnya Kakak mau pergi ke mana?" tanya Vedra memberanikan diri, dalam rangka membuat suasana di antara mereka mencair sedikit.
Namun, Cendric tidak segera menjawab dan tetap mengemudikan mobilnya dalam diam sehingga membuat Vedra mengatupkan bibirnya dengan salah tingkah.
"Aku ada urusan di sekitar rumah orangtua kamu," ucap Cendric tiba-tiba setelah dia terdiam cukup lama.
"Oh, urusan bisnis ya Kak?" tanya Vedra yang tidak menyangka jika Cendric akhirnya merespons pertanyaannya meskipun sudah berlalu beberapa saat yang lalu.
"Iya," sahut Cendric tanpa menoleh dan terus menyetir hingga mobilnya melaju cukup jauh meninggalkan kawasan rumah orangtuanya.
Setelah itu suasana di antara Vedra dan Cendric terasa sunyi senyap, bahkan lebih senyap daripada sebelumnya.
Vedra yang tidak berani memancing obrolan sedikitpun akhirnya lebih memilih untuk menutup mulutnya rapat-rapat, apalagi Cendric juga terlihat lebih nyaman dengan kesunyian yang tercipta di antara mereka.
Bersambung –