Setelah beberapa meter memasuki kawasan rumah orangtuanya, Vedra baru teringat bahwa dia tidak seharusnya pulang lebih awal dari hari-hari biasanya.
"Kak Cendric, maaf! Bisa nggak kita putar balik?" tanya Vedra yang melupakan sikap sungkan dan canggung yang tadi menguasainya.
"Kenapa, kamu nggak jadi pulang?" tanya Cendric tanpa menoleh memandang Vedra.
"Bukan nggak jadi, tapi ..." Vedra awalnya ragu untuk menceritakan kalau dia membolos gara-gara dijemput Sabrina di sekolah, tapi dia enggan kalau kakak iparnya itu tahu dan menganggapnya sebagai murid yang nakal.
"Makanya kalau bolos sekolah itu pakai perhitungan," komentar Cendric setelah Vedra akhirnya memilih membisu selama beberapa saat.
Vedra merasakan wajahnya memanas ketika Cendric menolehkan wajahnya yang dingin itu ke arahnya.
"Aku ... aku sebenarnya nggak berniat bolos!" bantah Vedra cepat-cepat. "Kak Brina yang tiba-tiba jemput aku di sekolah ...."
Cendric yang sudah tahu kelanjutan cerita Vedra tidak berkomentar apa-apa dan perlahan mengubah laju mobilnya ke arah lain.
Vedra diam saja ketika mobil Cendric yang ditumpanginya melaju melewati spot-spot di jalan yang terasa akrab di matanya. Namun, jelas bahwa Cendric mengabulkan permintaan Vedra untuk tidak mengantarnya ke rumah sebelum jam sekolah tiba.
"Seperti yang aku bilang tadi, aku ada urusan di dekat kawasan rumah mertua." Cendric berkata ketika kecepatan mobil yang dikemudikannya mulai melambat. "Kamu tunggu di mobil saja, cuma sebentar."
"Baik, Kak." Vedra mengangguk manis.
Cendric mengarahkan mobilnya untuk berbelok ke arah sebuah halaman luas sebuah bangunan seperti studio.
Vedra tidak berani bertanya apa-apa ketika mobil Cendric berhenti dan kakak iparnya itu turun kemudian berjalan menuju studio itu.
Oza yang sedang sibuk merakit kamera di tangannya, dikejutkan oleh kedatangan Cendric ke studio dengan tiba-tiba.
"Cuma begini yang kamu pelajari di bangku kuliah?" komentar Cendric dengan suara sedingin ekspresi wajahnya.
Beberapa teman Oza yang kebetulan berada di sana sempat menoleh ke arah Cendric untuk sesaat, tapi setelah itu mereka menyibukkan diri dengan kamera masing-masing.
"Cuma?" ulang Oza sambil memandang kakaknya. "Aku baru semester awal, memangnya aku sudah harus menguasai ilmu sehebat apa?"
Cendric menatap Oza tanpa berkedip, dia paling tidak suka jika pertanyaannya yang hanya satu kalimat itu dibalas dengan beberapa kalimat dari lawan bicaranya.
"Ayah menelepon aku dan mengeluhkan tentang kamu," kata Cendric datar.
Oza menarik napas, dia tidak ingin meladeni Cendric di hadapan teman-temannya.
"Aku sudah biasa," sahut Oza cuek. "Aku justru heran kalau ayah memuji aku dengan potensi yang aku punya ... Buat Ayah, cuma Kakak yang paling beprotensi dan membanggakan keluarga."
Oza berdiri dan menimang-nimang kamera miliknya.
"Aku nggak mau Kakak atur-atur meskipun itu disuruh ayah," tegas Oza sambil menatap Cendric. "Aku mau jadi diri aku sendiri, karena hidup ini terlalu singkat untuk dikendalikan orang lain meskipun itu adalah keluarga sendiri."
Tanpa menunggu jawaban apa-apa dari Cendric, Oza berbalik dan berjalan pergi meninggalkan kakaknya yang masih berdiri mematung.
Brak!
Vedra terlonjak kaget dan nyaris menjerit ketika Cendric masuk mobil dan menutupnya dengan begitu kencang. Dia yang awalnya ingin melontarkan pertanyaan basa-basi kepada sang kakak ipar, seketika itu juga langsung menelan pertanyaannya itu ke tenggorokan.
***
Beberapa bulan kemudian, Vedra berhasil menyelesaikan pendidikannya di SMA dengan nilai yang cukup memuaskan dan dia mulai gencar mencari universitas incarannya bersama para sahabat.
"Kakak mau bayar semua biaya kuliah aku kan?" todong Vedra menagih janji Sabrina saat kakaknya datang berkunjung ke rumah tanpa Cendric.
"Seharusnya sih nggak jadi," elak Sabrina sambil memutar matanya. "Kamu nggak ingat kalau rencana aku gagal total malam itu?"
Vedra tentu saja tidak terima dengan cara main Sabrina yang terkesan ingkar janji kepadanya.
"Salah siapa? Kan yang penting Kakak sama Kak Cendric nggak langsung malam pertama," kilah Vedra seakan tahu apa itu malam pertama.
"Suami kamu mana, Brin?" tanya Rosita ketika mendapati putri pertamanya sudah duduk bersama Vedra di ruang tamu. "Kok sendirian saja?"
Vedra ikut memandang Sabrina seolah menanyakan hal yang sama kepadanya.
"Cendric ... Cendric belum pulang kayaknya, Bu." Sabrina beralasan lalu meringis, dalam hati dia sendiri tidak tahu Cendric ada di rumah atau tidak.
Ketika Sabrina pergi meninggalkan rumah mertuanya, Cendric sama sekali tidak kelihatan.
"Mertua kamu orang yang sibuk semua ya, Brin?" tanya Rosita mengalihkan topik seraya duduk di depan kedua putrinya.
"Begitulah Bu, sampai sekarang aku belum pernah bertemu lagi sama kedua mertua aku." Sabrina mengangkat bahu. "Makanya Cendric ada di sana buat jaga rumah ...."
"Jadi kamu belum diboyong sama Cendric ke rumah pribadinya?" Rosita memastikan.
"Belum," geleng Sabrina dengan wajah biasa. "Biar aja deh, kan yang penting aku sama dia tinggal dalam satu atap. Itu kan yang Ibu inginkan?"
Rosita tersenyum tipis mendengar pertanyaan yang dilontarkan putri pertamanya.
"Kak?" panggil Vedra lagi ketika Rosita sudah pergi meninggalkan mereka.
"Apa lagi sih?" sergah Sabrina dengan wajah kesal.
"Uang kuliah, bulan depan aku sudah mulai masuk lho!" kata Vedra mengingatkan. "Kakak kan sudah janji ... Yaa kalau nggak mau, aku kerja aja di kantornya Kak Cendric."
Sabrina berdiri dan mencibir Vedra terang-terangan.
"Kamu belum punya keahlian apa-apa, lagian belum tentu juga Cendric mau terima kamu." Dia membuka tas dan menyerahkan kartu ATM-nya kepada sang adik. "Ambil seperlunya, nomor pin masih sama."
"Okeee!" Vedra menerima kartu ATM kakaknya dengan wajah berbinar-binar. "Kak, mau ke mana ...?"
Sabrina hanya melambai dan bilang kalau dia ada urusan dengan temannya.
"Aneh, kok bisa sih Kak Brina pergi ke mana-mana sendirian begitu?" gumam Vedra dengan wajah heran.
Sabrina menyelinap keluar meninggalkan rumah orangtuanya seperti seorang maling yang hampir saja tertangkap basah. Ketika sudah berada cukup jauh dari kawasan rumahnya, langkah Sabrina terhenti mendadak oleh sebuah motor gede yang dikemudikan oleh seorang pria muda dengan helm balap yang menutupi kepalanya. Dia mengisyaratkan kepada Sabrina untuk segera naik ke boncengan dengan jempolnya.
"Aku udah nunggu kamu ..." kata Sabrina dengan suara lirih yang manja, lalu dia segera memanjat naik ke bagian belakang motor pria itu.
Sesaat setelah Sabrina duduk di belakangnya, motor itupun digas dengan kencang dan segera melaju meninggalkan tempat itu.
"Sabrina mana, Bi?" tanya Cendric ketika dia berpapasan dengan Erni di pertengahan tangga.
"Nyonya keluar, Tuan ... katanya sudah izin sama Tuan." Erni memberi tahu, kemudian meneruskan langkahnya ke atas untuk membersihkan kamar.
Cendric merenung sebentar setelah mendengar jawaban dari Erni,setelah itu dia melanjutkan langkahnya tanpa tahu apa yang dilakukan istri sahnya di belakang punggungnya.
"Kamu belum pernah disentuh sama suami kamu, kan?"
Sabrina memandang pria muda yang berstatus pacarnya itu dengan tatapan menahan rindu.
"Tentu aja belum," jawabnya berbisik. "karena yang aku mau cuma kamu."
Bersambung –