20

1940 Words
Kevin berdiri dari duduknya ketika Zia mengejutkannya dengan berteriak disamping telinganya membuat Zia terkejut dan oleng.   “KYAAA” teriak Zia ketika tubuhnya akan jatuh. Gadis itu memejamkan matanya dan menunggu jatuhnya pantatnya kelantai. Tapi, detik kelima Zia tidak merasakan pantatnya menyentuh lantai. Ia membuka matanya dan melihat wajah Kevin yang begitu dekat dan ia dapat merasakan pelukan erat dipinggangnya. Mereka saling menatap satu sama lain dengan cukup lama sampai ponsel Kevin yang ada diatas meja makan berdering. Kevin melepaskan pelukannya dan menerima telfon dari seseorang sambil menjauh dari hadapan Zia.   “kenapa jantungku berdetak kencang” gumam gadis mungil itu sambil memegang jantungnya yang berdetak kencang hanya karena hal seperti itu. Zia menggelengkan kepalanya ketika sebuah pemikiran tentang ia menyukia Kevin melintas dikepalanya.   “aku tidak mungkin menyukainya” katanya lagi sambil berjalan menuju sofa ruang televisi untuk menonton sesuatu.   ◽ ◾ ◽   08.37 KST. Hari ini, Kevin berada di rumah Angga setelah melakukan pekerjaannya tadi malam. Ia sedang duduk diteras belakang rumah tersebut bersama Jeni. Mereka berdua duduk dengan tenang sambil menikmati camilan dan minuman kaleng yang tadi Kevin ambil dari lemari pendingin. Jeni sesekali mengelus bulu kookie yang ada dipangkuannya dengan lembut. Sebenarnya Jeni ingin berbicara sesuatu kepada Kevin, tapi ia bingung untuk memulainya jadi ia tetap diam dan bermain dengan kookie sampai suara Kevin menghentikan elusannya pada tubuh kookie.   "ada apa?" tanya Kevin yang langsung membuat Jeni menoleh padanya.   "tidak" jawab Jeni sambil menggelengkan kepalanya.   "katakan saja"   "eemzz baiklah...” Jeni merasa gugup ketika Kevin menyuruhnya mengatakan sesuatu” “...emzzz...aku lihat ada orang asing masuk rumah ini dan dia sangat mencurigakan" kata Jeni agak sedikit pelan, tapi masih bisa didengar oleh Kevin.   "aku tahu...dia adalah suruhan ayahmu" Jeni menoleh kepada Kevin dengan tatapan terkejut.   "untuk apa?" tanyanya.   "membebaskanmu"   "aaa....tidak tidak...lebih baik aku disini dari pada kau membunuhku nantinya" Jeni menolak sambil menggerakkan tangannya kekanan dan kiri.   "hahahaha" tawa Kevin lepas begitu saja ketika mendengar perkataan Jeni barusan.   "kenapa kau tertawa?"   "kau lucu seperti adikmu" Kevin berkata sambil tertawa.   "ada apa dengan adikku?" Kevin terdiam dan melihat kesekitar untuk memastikan tidak ada orang yang menguping atau apa karena ia takut jika salah satu anak buah Angga mendengarnya dan mengatakan hal itu pada Angga. Setelah dirasa aman, Kevin mulai menoleh kepada Jeni yang sudah menatapnya.   "adikmu hilang" katanya dengan suara pelan.   "AP-eemmzz" Kevin membekap mulut Jeni yang akan berteriak.   "dia baik-baik saja" kata Kevin dan setelah itu ia melepaskan bekapannya dari mulut Jeni. Gadis manis itu bernafas lega mendengar perkataan Kevin tentang adiknya yang baik-baik saja.   "kau tahu dari mana?" tanya Jeni yang merasa penasaran dengan ketertahuan Kevin.   "dia ada di apartemenku...” jeda Kevin sambil kembali keposisi duduknya semula “…jangan bilang pada siapapun..terutaman Angga hyung!" peringat Kevin.   "aku mengerti" Jeni menuruti permintaan Kevin karena jika Kevin sudah bilang seperti itu kemungkinan besar Zia dalam bahaya dan Jeni tidak akan memberitahu pada siapa pun tentang apa yang Kevin katakan padanya barusan terutama pada Angga karena ia tidak mau lelaki itu melukai adiknya.   "apa aku boleh bertemu dengan Zia?" tanya Jeni setelah beberapa saat mereka terdiam.   "belum saatnya" jawab Kevin cuek tanpa menatap Jeni.   "hah pelit" Kevin hanya menoleh sekilas kearah Jeni. Ia jadi teringat permintaan Zia waktu itu. Ternyata kakak beradik ini sama saja. Sama-sama memiliki sifat mengatai orang dengan baik.   "hei, Vin...maaf aku terlambat" kata Jungshin yang baru saja datang.   "tidak apa, hyung...kalau begitu aku pergi dulu” Kevin beranjak dari duduknya dan berjalan masuk kedala rumah “…jaga dia dengan baik, hyung" lanjutnya ketika sudah berada disisi Jungshin.   "kau tenang saja, Vin..serahkan dia padaku" setelah kepergian Kevin, Jungshin duduk ditempat Kevin tadi dan menatap Jeni yang juga menatapnya. Jungshin mengangkat satu alisnya, heran dengan tatapan Jeni padanya. Sebenarnya Jungshin itu lebih cuek daripada Kevin karena itu dia tidak menanggapi tatapan Jeni dengan pertanyaan. Dia hanya diam sambil menatap layar ponselnya dan melihat cctv yang ada dipenjuru rumah Angga yang sudah terhubung dengan ponsel pintarnya. Jeni yang tidak mendapat reaksi itupun mulai bermain lagi dengan kookie dan mengabaikan Jungshin yang ada disebelahnya.   ◽ ◾ ◽   Kevin sudah hampir sampai di apartemennya sebelum ia ingat sesuatu. Ia ingat jika bahan makanan di apartemennya sudah habis dan waktunya untuk membeli bahan makanan baru. Jadi Kevin memutuskan untuk berhenti di supermarket terdekat untuk membeli bahan makanan. Ia masuk kedalam supermarket setelah memarkirkan motornya didepan supermarket tersebut dan masuk kedalam minimarket. Kevin mengambil kereta dorong dan mulai memilih bahan makanan yang harus ia beli.   ◽ ◾ ◽   Seunghye menghentikan mobilnya didepan supermarket didaerah Gangnam yang dekat dengan rumah Zia. Hari ini gadis cantik itu akan pergi ke rumah Zia untuk mengajak Taekwang ke rumah sakit, menjenguk Hana. Seunghye berjalan masuk kedalam supermarket dan mengambil kereta dorong untuk meletakkan barang yang akan ia beli. Gaadis cantik itu menyusuri setiap rak-rak makanan dan tak lupa ia mengambil buah untuk Hana. Saat Seunghye ingin mengambil keju yang ada dirak paling atas ada sebuah tangan yang juga meraih keju yang akan ia ambil juga. Seunghye menoleh dan terkejut ketika melihat siapa yang ada disebelahnya.   "Kevin" kejut Seunghye.   "oh Seunghye" balas Kevin yang sama terkejutnya dengan Seunghye.   "ne…”   “apa kau mau mengambil keju?" tanya Kevin.   “ah iya…aku mau mengambilnya, tapi tidak sampai”   “oh baiklah” Kevin mengambil dua keju dan memberikan salah satunya kepada Seunghye.   “terimakasih”   "tentu" Mereka berdua berjalan kearah kasir sambil berbincang-bincang. Setelah selesai membayar, keduanya keluar dari supermarket dan berjalan kearah mobil Seunghye yang ternyata ada disebelah motor Kevin.   “Kevin” panggil Seunghye ketika melihat Kevin akan meaniki motornya.   “iya” jawab Kevin dan melihat Seunghye.   "emz itu...apa aku...aku boleh..boleh meminta nomermu?" tanya Seunghye gagap dan ragu-ragu.   "oh itu...berikan ponselmu" Seunghye langsung memberikan ponselnya pada Kevin dan lelaki tampan itu mengetikkan beberapa digit nomer diponsel Seunghye. Setelah selesai, ia mengembalikan ponsel itu pada pemiliknya.   "sudah kusimpan...aku harus pergi sekarang" pamit Kevin dan benar-benar pergi dari hadapan Seunghye meninggalkan gadis cantik itu menatap kepergian Kevin dengan senyum yang menghiasi wajahnya. Ia sangat senang karena mendapatkan nomer ponsel Kevin setelah sekian lama tidak bertemu setelah kejadian di café waktu itu. Kemudian Seunghye masuk kedalam mobil dan melajukan mobilnya kearah rumah keluarga Kim sambil tersenyum disepanjang perjlanan. Untungnya Seunghye memakai mobil, bayangkan saja jika gadis cantik itu menaiki motor sambil senyum-senyum seperti itu sepanjang jalan. Pasti orang akan mengira kalau Seunghye itu gila karena senyum-senyum sendiri ditengah jalan.   ◽ ◾ ◽   Kevin sampai digedung apartemennya. Setelah memarkirkan motornya di baseman, ia masuk kedalam lift untuk menuju lantai tujuh dimana apartemennya berada. Tak lama lift terbuka dan Kevin keluar dari lift tersebut dan berjalan kearah apartemennya.   [nan neoege ppajyeoiseo neol saranghago.]   Baru saja ia mau menyentuh digit kunci apartemennya, ponselnya berdering. Dengan cepat Kevin meraih ponsel yang ada disaku celana dan melihat nama sipenelfon yang ternyara adalah "Dinda". Kevin buru-buru mengangkat telfonnya dan bersandar didinding tembok apartemennya. Lama ia menerima telfon tersebut sampai akhirnya Dinda memutuskan panggilannya. Kevin kembali menekan digit kunci apartemennya.   Klik   Pintu terbuka dan Kevin segera masuk kedalam dan dapat ia lihat Zia sedang menonton drama sambil menikmati camilan yang ada dipangkuannya. Ia hanya menggelengkan kepalanya dan berlalu begitu saja menuju dapur. Kevin mulai menata belanjaannya kedalam kulkas. Setelah selesai ia langsung pergi menuju kamar untuk mandi berhubung Zia masih sibuk dengan dramanya.     Setelah dramanya selesai, Zia mematikan televisi dan menutup toples camilan yang ada dipangkuannya dan meletakkannya diatas meja. Lalu ia beranjak dari sofa menuju dapur untuk mengambil air minum karena ia sangat haus saat ini.   "wah" kejutnya saat mendapati lemari es itu terisi dengan banyak bahan makanan dan camilan padahal ia tidak tahu kapan Kevin kembali ke apartemen dan ia tidak melihat keberadaan lelaki itu dimanapun. Ia mengedikkan bahu dan mengambil dua bungkus ramen, sosis dan telur dari dalam kulkas. Zia bermaaksud untuk memasak ramen untuk makan siangnya bersama Kevin. Zia langsung berkutat dengan bahan yang ia ambil dan mulai memasak. Meskipun ia jarang bicara dengan Kevin, tapi tetap saja ia harus memperhatikan lelaki itu karena Zia sudah diselamatkan dan dibolehkan tinggal di apartemen lelaki itu ditambah lagi ia dibelikan baju ganti juga oleh Kevin. Dalam hati Zia bersyukur Kevin tidak membunuhnya dikesempatan seperti ini.   “setidaknya aku harus berterimakasih dengannya” gumam Zia sambil memasak.   ◾◾   Kevin selesai mandi, ia membuka lemari untuk mengambil t-shirt yang akan ia kenakan. Setelah selesai, ia keluar dari kamar dan mendapati bau ramen yang menyebar keseluruh penjuru ruangan apartemennya. Kevin melihat Zia yang sedang berkutat dengan peralatan dapurnya. Ia berjalan menuju sofa dan duduk disana sambil memperhatikan ponselnya. Ia selalu mendapat pesan dari Angga untuk segera mencari Zia dan membawanya ke markas.   "hah" Kevin menghela nafas kasar. Ia sedang memikirkan apa yang harus ia lakukan sekarang karena ia terus mendapat perintah dari Angga dan ia juga merasa tidak tega membawa Zia kepada Angga karena suatu alasan yang tidak bisa Kevin jelaskan.   "AARRRGGHHH"     Prang   Teriak Kevin dibarengi dengan tutup panci yang jatuh kelantai.   "hei...jika ingin berteriak jangan di rumah, pabo" omel Zia sambil mengambil tutup panci yang jatuh tadi.   "ini apartemenku jadi terserah aku mau apa" sarkas Kevin. Zia tidak berani protes lagi. Ia melanjutkan membuat ramen yang sebentar lagi akan selesai. Tak lama setelah itu ramen buatan Zia akhirnya selesai dan gadis mungil itu menyajikan ramennya diatas meja makan dengan dua mangkuk disisi ramen dengan dua pasang sumlit disamping mangkuk tersebut.   "kau tidak makan?" tanya Zia cuek. Sebenarnya ia malas mengajak Kevin setelah kejadian barusan itu, tapi ia juga memiliki hati jadi ia memanggil Kevin.   "hmmzz" gumam Kevin sambil beranjak dari sofa dan menuju meja makan. Ia kembali duduk didepan Zia. Mereka berdua mulai menyantap ramen buatan gadis mungil itu yang sangat sederhana. Meskipun begitu Kevin tetap memakannya karena ia lapar saat ini.   "Zia..." panggil Kevin yang membuat Zia mengalihkan atensinya dari mangkuk ramen kewajah Kevin "....jika aku bilang eomma-mu sakit bagaimana?" lanjut Kevin.   "uhuk uhuk" Zia tersedak karena ucapan Kevin barusan. Ia meraih gelas minum dan meminum airnya sampai tandas setengah gelas.   "jangan bercanda kau!" marah Zia, tapi tidak menutupi rasa khawatirnya pada sang ibu karena ia tahu jika ibunya sakit seperti apa.   "aku serius..Dinda yang memberitahuku tadi"   "APA? jadi Dinda itu...."   "kau salah…dia suruhan Angga hyung bukan aku"   "oh”   "hanya itu?"   "lalu aku harus bagaimana…meskipun aku tahu eomma sakit, aku tidak bisa keluar sekarang, kan!?"   “kau benar”   “lagipula aku sudah mengerti eomma sakit apa” gumam Zia yang mendapat tatapan heran dari Kevin.   “memang dia sakit apa?” tanya Kevin yang peansaran.   “bukan urusanmu” jawab Zia sambil beranjak dari duduknya dan membawa mangkuk yang sudah kosong kewastafel untuk ia cuci, mengabaikan Kevin yang menatapnya dengan tatapan yang sulit diartikan. Kevin merasa bersalah karena memberitahu Zia tentang keadaan ibunya. Ia tahu gadis itu khawatir dengan ibunya, tapi saat ini ia tidak bisa berbuat apa-apa karena banyak pihak yang mencari gadis itu.   “hah” ia menghela nafas dan membawa mangkuk dan panci yang sudah kosong kewastafel yang masih ada Zia disana.   "menghawatirkan ibumu?" tanya Kevin ketika ia sudah berada disamping gadis mungil itu.   "hmmz” gumam Zia.   "makanya jangan kabur dari rumah, pabo" omel Kevin karena ia tidak tahu harus melakukan apa pada kekhawatiran Zia itu.   "aku tidak kabur, asal kau tahu itu" bela Zia.   "lalu apa?"   "aku hanya ingin pergi sebentar...lalu salah jalan dan bom" Zia berkata sambil memperagakan tangannya membentuk bom yang meledak.   "dasar gadis gila" Zia melotot kearah Kevin yang sudah berani mengatainya gila. Lagipula ini tidak akan terjadi jika Kevin tidak meninggalkan tasnya ditempat kejadian waktu itu.   "dasar namja pabo" gumam Zia pelan sambil melanjutkan mencuci peralatan makan mereka. Kevin sebenarnya mendengar gumaman Zia barusan, tapi ia diam saja dan tak menanggapinya. Lelaki tampan itu hanya tersenyum saja karena ia sudah membuat gadis itu kembali kemode galaknya.   ◽ ◾ ◽   19.07 KST. Angga dan Jeni saat ini sedang duduk ditaman belakang. Jeni melihat langit yang bertabur bintang sedangkan Angga menatap Jeni dari arah samping. Lama Jeni mendongak akhirnya ia lelah dan memutuskan untuk bersifat normal. Ia meraih gelas minumnya dan meminum jus strawbery yang tadi dibuatkan oleh Soohae. Angga yang melihat Jeni minum itupun hanya bisa diam sambil menatap bibir Jeni yang masih ada sisa jus disudut bibirnya. Ia mengulurkan tangannya untuk membersihkan sudut bibir Jeni. Gadis yang merasa ada tangan disudut bibirnya itupun menoleh dan mendapati tangan Angga berada disudut bibirnya. Mereka saling bertatapan sampai akhirnya kookie mengganggu mereka. Jeni merasa ada yang aneh pada dirinya saat bertatapan dengan Angga tadi. Ia merasa seperti ada sengatan listrik yang menjalar keseluruh tubuhnya saat tangan Angga menyentuh sudut bibirnya. Jeni tidak tahu apa yang terjadi pada dirinya yang jelas Jeni tidak mau jatuh kedalam pesona Angga sama sekali.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD