19

1888 Words
Kondisi Zia sudah mulai membaik dari pada dua hari yang lalu, perutnya sudah agak mendingan setelah diberikan salep, resep dari dokter Lee. Jangan berfikir jika yang mengoleskan salep tersebut adalah Kevin karena jika itu terjadi Kevin sudah dipastikan akan ditendang oleh Zia keantah brantah karena sudah kurang ajar memegang perutnya. Zia kini sudah bisa berjalan dan melakukan aktifitasnya di apartemen Kevin. Gadis mungil itu sudah terbiasa dengan apartemen Kevin yang terlihat sepi karena sang pemilik apartemen selalu meninggalkannya sendirian. Meskipun begitu Zia selalu menyibukkan diri dengan menonton televisi atau bermain game yang dimiliki oleh Kevin di apartemennya. Sebenarnya Zia ingin sekali pergi keluar dari apartemen Kevin, tapi ia tidak bisa melakukan hal itu karena Zia masih dicari oleh beberapa kelompok mafia yang memiliki dendam dengan ayahnya. Jangan tanya Zia tahu dari mana karena Kevin-lah yang memberitahunya dan berkat menonton televisi yang masih memberitakan tentang hilangnya dirinya. Lelaki tampan itu selalu memberitahu Zia tentang kondisi diluar sana hingga Zia memutuskan untuk tinggal di apartemen Kevin untuk sementara waktu.   ◾◾   Saat ini Zia sedang duduk disofa depan televisi. Ia sedang melihat berita tentang dirinya yang masih dicari oleh ayahnya.   "hah" ia menghela nafas kasar karena jengah dengan perilaku sang ayah yang terus mencarinya lewat media sosial seperti itu. Kemudian Zia mematikan televisi dan merebahkan tubuhnya diatas sofa ruang televisi.   "aku bosan" gumamnya sambil meregangkan otot tubuhnya dan terlelap menuju alam mimpi disiang hari.   ◽ ◾ ◽   Setelah kejadian dimana Angga melihat tubuh Jeni, gadis manis itu selalu mengunci pintu kamarnya saat sedang mandi agar tidak ada yang masuk ke kamarnya dengan tiba-tiba. Jeni terauma dengan kehadiran Angga dua hari lalu. Tapi, ia juga merasa lega karena yang masuk adalah Angga bukan Kevin. Mungkin jika itu Kevin, Jeni pasti sudah terkapar tidak berdaya dilantai dengan banyak darah mengucur disetiap bagian tubuhnya.   "itu mengerikan" gumam Jeni sambil bergidik membayangkan jika Kevin yang melihat tubuh polosnya. Ia melanjutkan merias wajahnya sedikit agar terlihat segar dan tak berantakan. Jeni memakai over size t-shirt warna maroon yang dipadukan dengan skinny mini jeans skirt.   Tok tok tok "JENI, KAU KELUAR ATAU-"   "IYA AKU KELUAR" teriakan seorang lelaki didepan pintu kamar Jeni langsung dipotong oleh sang peilik kamar sambil membuka pintu kamarnya.   "kenapa kau mengunci kamarmu?" tanya Kevin dengan nada sedikit tidak suka.   "karena aku tidak mau si mafia m***m itu masuk ke kamarku saat-mmhh" Jeni menutup mulutnya cepat saat akan berkata jujur pada Kevin.   "saat?" tanya Kevin dengan mengangkat salah satu alisnya, penasaran.   "bukan urusanmu" Jeni berjalan melewati Kevin untuk turun kebawah dan makan siang. Sebenarnya Jeni malas melihat wajah Angga, tapi jika dia tidak makan bersama lelaki itu dipastikan akan marah padanya dan menguncinya di kamar lagi. Kevin yang sejak tadi menatap punggung Jeni dengan heran kini mulai berjalan dibelakang gadis manis itu. Namun baru saja ia akan menuruni tangga ada sebuah suara yang membuatnya menghentikan langkahnya.   "cari dia dengan cepat!" perintah Angga pada seseorang disebrang telefon. Lalu Angga langsung menutup telfon dan melihat Kevin yang juga menatapnya.   “aku harap kau juga mencarinya, Vin” kata Angga sambil berjalan menuruni tangga. Kevin tidak menanggapi perkataan Angga, ia hanya ikut berjalan dibelakang lelaki itu sambil memikirkan rencana apa yang harus ia lakukan setelah ini. Kevin tidak ingin Angga mencurigainya dan ia juga tidak mau membawa Zia kepada Angga karena secuil dari dalam hatinya tidak rela jika Zia dibunuh oleh Angga. Tak lama keduanya sampai dimeja makan dan Kevin duduk didepan Jeni. Mereka bertiga mulai menikmati makan siang yang dibuat oleh Soohae dengan sangat kitmat dan sesekali Jeni mencuri-curi pandang kearah Angga. Lelaki yang merasa diperhatikan itupun menatap balik Jeni yang langsung membuat gadis manis itu salah tingkah dan melanjutkan makannya. Kevin selesai makan terlebih dahulu dan ia langsung beranjak dari duduknya.   "hyung, aku pergi dulu" kata Kevin.   "hmzz" gumam Angga mengiyakan kepergian Kevin. Jeni menatap kepergian Kevin dengan lesu padahal hari ini ia mau berbicara dengan lelaki dingin itu, tapi lelaki itu malah pergi begitu saja. Jeni merasa heran dengan Kevinakhir-akhir ini. Kevin jarang berada di rumah Angga belakangan ini dan lelaki itu sepertinya menyembunyikan sesuatu. Mungkin itu hanya perasaan Jeni atau memang Kevin sedang menyembunyikan sesuatu dari Angga. Entahlah Jeni rasanya ingin menyeret Kevin dan mengintrogasi lelaki tampan itu. Tapi, sebelum itu terjadi mungkin Kevin akan menusuk-nusukkan pisaunya ketubuh Jeni dan mengoral isi perutnya. Membayangkan hal itu membuat Jeni merinding apa lagi melakukan hal yang ia pikirkan barusan. Jeni tidak sanggup.   ◽ ◾ ◽   Kevin sampai di apartemen miliknya sambil membawa beberapa kantung makanan yang ia beli untuk Zia makan. Tadi pagi Kevin tidak sempat pergi ke supermarket untuk mengisi lemari es yang sudah kosong karena sedang terburu-buru jadi ia memilih membelikan Zia makan siang diluar.   klik   Pintu apartemennya terbuka dan Kevin segera masuk kedalam. Ia dapat melihat Zia yang tidur disofa ruang televisi. Kevin mendekat kearah sofa dan melihat wajah damai Zia yang tidur dengan nyenyaknya. Ia meneliti wajah gadis mungil yang terlihat damai dan tenang saat tidur, berbeda sekali saat dirinya bangun, menjengkelkan menurut Kevin.   "gadis aneh" kata Kevin sambil berlalu dari ruang televisi menuju dapur untuk meletakkan makanan yang ia beli tadi.   ◾◾   Zia mengucek matanya dan meregangkan tubuhnya karena lelah tidur disofa. Kemudian ia bangun dari tidurnya dan pergi kearah dapur untuk mengambil minum karena haus melanda tenggorokannya. Belum sampai didapur, Zia melihat Kevin yang sedang menata makanan diatas piring. Ia mendekat kearah Kevin dan mencomot ayam goreng yang ditata lelaki itu. Kevin yang melihat Zia mencomot ayam goreng itupun menatap gadis mungil itu sambil memutar bola matanya malas.   "kenapa kau menatapku begitu?" tanya Zia sambil makan ayam gorengnya.   "belum tentu ayam ini untukmu jadi jangan mencomotnya begitu saja!" jawab Kevin dingin.   "jelas untukku karena aku yang ada disini" putus Zia seenaknya.   "terserah kau...letakkan dimeja makan sana!"   "ish penyuruh" meski bilang begitu, Zia tetap meletakkan makanan tersebut keatas meja makan. Kevin mengambil piring dan mengikuti Zia kearah meja makan. Ia lalu meletakkan piring tersebut didepan gadis mungil itu dan duduk dikursi yang ada didepan Zia.   "untuk apa?" tanya Zia.   "makanlah" jawab Kevin.   "Yey makan siang..." girang Zia.   "pabo" gumam Kevin.   "kau bilang apa?"   "ani...makan saja aku mau mandi dulu" Kevin meninggalkan Zia yang menikmati makanannya. Zia yang ditinggal Kevin itu makin girang dan dengan lahap menghabiskan makanan yang ada diatas meja.   ◽ ◾ ◽   Kini mereka sedang duduk didepan televisi sambil melihat acara musik yang baru saja tayang. Tepatnya Zia yang menonton karena Kevin tidak terlalu suka dengan acara musik.   "uh...kenapa JB oppa tampan sekali…" Zia selalu memuji JB yang terlihat tampan dialbum baru grubnya.   "Sejak kapan kau jadi gila seperti itu?" tanya Kevin heran.   "ish diam kau!" sungut Zia tanpa mengalihkan perhatiannya kepada Kevin.   "aku heran denganmu....tiba-tiba bersifat dingin, bawel, dan kadang juga seperti barus-"   "entahlah...itu terjadi dengan sendirinya...apa lagi saat tahu jika Jeni eonni baik-baik saja" potong Zia yang entah kenapa malah menjawab pertanyaan Kevin meskipun masih menatap layar televisi.   "lalu?"   "aku ingin bertemu dengannya"   "hah merepotkan"   "kau bisa membantuku, kan?"   "tidak bisa...aku bisa dibunuh oleh Angga hyung jika mempertemukan kalian berdua"   "hmzz pelit" Zia menulikan telinganya dari perkataan-perkataan Kevin selanjutnya. Ia kembali fokus dengan layar persegi didepannya yang masih menanpilkan GOT7.   ◽ ◾ ◽   Seminggu ini Seunghye selalu mencari keberadaan Zia bersama dengan Taekwang. Mereka sudah mencari gadis mungil itu disetiap tempat yang pernah Zia kunjungi, tapi tidak ada satupun tanda-tanda keberadaan gadis mungil itu dimanapun. Taekwang terus menjalankan mobil Seunghye kearah yang gadis cantik itu inginkan karena ia lebih tahu tempat-tempat yang sering Zia kunjungi daripada Taekwang.   "Seung-ie apa kau tidak lapar? Lebih baik kita makan dulu" ajak Taekwang yang sejak tadi hanya diam sambil melajukan mobil Seunghye.   "tidak" jawab Seunghye singkat.   "tapi, kau harus makan no-“   "aku tidak mau"   "ayolah nona...jika kau tidak makan nanti kau akan sakit"   "aish kau cerewet sekali!" bentak Seunghye yang sudah jengah dengan perkataan Taekwang. Taekwang yang mendapat bentakan dari gadis cantik itu hanya mampu menghela nafas dan terus melajukan mobil Seunghye tanpa mengeluarkan suara lagi. Untung saja ia terlalu biasa dengan bentakan karena Zia dulu sering membentaknya seperti itu jadi Taekwang tahan banting dengan itu semua. Ngomong-ngomong kenapa Taekwang bisa dengan Seunghye itu karena sejak kejadian dimana Seunghye digoda oleh dua lelaki minggu lalu membuat keduanya dekat dan sering mengirim pesan satu sama lain dan mereka jadi lebih dekat lagi sejak hilangnya Zia dari rumah dan Seunghye mengajak Taekwang untuk mencari Zia. Tentu saja hal itu diterima oleh Taekwang dengan senang hati.   ◽ ◾ ◽   Disisi lain. Hyunjung bingung harus melakukan apa. Pasalnya sudah seminggu ini ia mencari keberadaan anak mungilnya, tapi tidak ada tanda-tanda keberadaan anaknya itu. Ditambah lagi kondisi Hana selama dua hari ini semakin memburuk karena ia terus menanyakan keberadaan Zia. Hyunjung bingung harus menjawab apa dan ia terpaksa menjawab jika ia belum menemukan Zia. Wanita paruh baya itu juga selalu mendapat mimpi buruk tentang anak mungilnya itu ketika tidur dan alhasil Hana jarang tidur. Hyunjung menjadi mengkhawatirkan Hana dan Zia disaat bersamaan. Saat ini Hyunjung sudah berada di rumah sakit milik Minho karena kondisi Hana yang memburuk dan ia harus dirawat di rumah sakit. Karena alat rumah sakit yang memadai dan Minho bisa memeriksa kondisi Hana kapan saja.   "bagaimana keadaan Hana, Minho?" tanya Hyunjung ketika lelaki itu keluar dari kamar rawat Hana.   "ahjuma mengalami hal yang sama ketika kehilangan Jeni dulu, ahjushi" jawab Minho.   "apa parah?"   "tidak...aku beri ini untuk meredam gangguan mentalnya"   "aku serahkan dia padamu, Minho"   "baik ahjushi, aku akan melakukan yang terbaik untik ahjuma"   “terimakasih Minho”   “tentu ahjushi…kalau begitu aku keruanganku dulu” Minho pergi dari hadapan Hyunjung. Ia benar-benar merasa khawatir dengan keadaan ibu Zia saat ini. Apa ia harus ikut mencari Zia juga? Tapi, ia tidak tahu harus mencari Zia dimana karena ia tidak begitu dekat dengan gadis mungil itu. Mungkin nanti ia akan minta bantuan pada temannya yang bekerja sebagai hacker.   ◽ ◾ ◽   Dokter Lee hari ini kembali mengontrol kondisi Zia setelah seminggu yang lalu tidak ia periksa. Meskipun ia mendapat kabar dari Kevin tentang kondisi gadis mungil itu, tapi tetap saja ia harus mengontrolnya sendiri agar tahu perkembangan luka yang ada ditubuh Zia.   "bagaimana keadaannya, ahjushi?" tanya Kevin.   "memar diperutnya sudah mulai kempes dan luka yang lain juga sudah baik” jawab dokter Lee.   “luka dilengannya bagaimana?” Kevin bertanya tentang luka yang ada dilengan Zia.   “luka dilengannya sudah baik-baik saja dan tidak perlu dijahit karena sudah menutup" jelas dokter Lee.   "aku fikir juga begitu, ahjushi karena lukanya tidak terlalu dalam"   "iya begitulah jadi kau harus merawatnya dengan baik"   "ne ahjushi" Zia hanya menatap Kevin dan dokter Lee sambil mendengarkan pembicaraan mereka.   "oh ya, aku dengar bahwa Angga mencarnya?" tanya dokter Lee.   “kita keluar saja, ahjushi” Kevin mengajak dokter Lee keluar dari kamar. Mereka berdua duduk dimeja makan dengan minuman yang Kevin buat untuk dokter Lee.   “jadi benar?” tanya dokter Lee.   “iya ahjushi, Angga hyung juga menyuruh orang lain untuk mencarinya” jelas Kevin.   “lalu kau?”   “aku tidak tahu, ahjushi….”   “apa kau menyukainya?” Kevin sedikit terkejut dengan pertanyaan dokter Lee barusan.   “entahlah” Dokter Lee tersenyum mendengar jawaban dari Kevin.   “aku berfikir jika kau menyukainya karena kau tidak mungkin merawatnya sampai sekarang di apartemenmu jika kau tidak, kenapa kau membawanya kesini dan tidak menyerahkannya pada Angga” Kevin tidak merespon perkataan dokter Lee. Ia tidak tahu harus menjawab apa dan apa yang dikatakan dokter Lee memang benar, tidak mungkin ia merawat dan membiarkan Zia disini tanpa sebuah alasan. Mungkin ia memang benar-benar mulai menyukai Zia.   “aku tahu sulit menjadi dirimu…tapi, melihat Angga…itu akan sulit”   “aku mengerti, ahjushi”   “aku percaya padamu, Vin….dan menyerahkan ini padamu karena itu hanya kesalahpahaman saja”   “maksud ahjushi?”   “kau akan tahu nanti…” jawab dokter Lee sambil beranjak dari duduknya “aku harus kembali sekarang…” ia meninggalkan Kevin yang masih duduk dimeja makan sambil memikirkan apa yang dikatakan dokter tua itu.   ◾◾   Zia yang bosan didalam kamar itupun keluar dari kamar dan ia melihat Kevin duduk dimeja makan dengan sekaleng soda ditangannya. Ia yang penasaran itupun menghampiri lelaki tampan itu. Zia duduk didepan Kevin dan melihat lelaki itu melamun.   “kau kenapa?” tanya Zia yang tidak membuat Kevin sadar dari lamunannya. Zia tersenyum kecil ketika mendapatkan sebuah ide jahil diotaknya.   “YAK! KAU KENAPA?” teriak Zia disamping telinga Kevin dan membuat lelaki itu terkejut. Kevin menatap Zia.   “KYAAAAA”
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD