Bab 2

1866 Words
Azzam sudah menyelesaikan meeting nya beberapa menit yang lalu dengan beberapa klien penting yang berasal dari negara tetangga yaitu Singapura dan Malaysia. Sekarang, ia memasuki sebuah restoran yang merupakan naungan perusahaannya. Restoran tersebut berada tepat di samping perusahaan miliknya. Ia bisa saja meminta bawahannya untuk menyiapkan makanan sesuai dengan keinginan pria berdarah Turki-Indonesia itu. Tetapi kali ini, entah mengapa hati Azzam menginginkan untuk makan siang di restoran miliknya. Dan sialnya, saat memasuki restaurant itu. Ia ditabrak oleh seseorang dan sekarang bajunya penuh dengan su-su coklat. “Ehh maaf. Maafkan saya.” Azzam menghiraukan suara lembut itu. Dia hanya memerhatikan kemejanya yang sudah penuh dengan su-su coklat. Dingin. Itu yang dirasakan Azzam ketika su-su coklat tersebut mengenai kemejanya. “Saya tidak sengaja. Maafkan saya.” Mendengar kata maaf itu lagi, Azzam memasukkan ponselnya ke dalam saku celananya. Ia sadar, yang salah adalah dirinya karena tidak memerhatikan jalan. Tatapannya beralih kepada pemilik suara lembut itu dan tiba-tiba jantungnya berdetak begitu cepat sama seperti beberapa tahun yang lalu. Dia. Batin Azzam, ia masih menatap wanita di depannya tanpa berkedip sedikitpun. Menyadari Sesuatu, Key kembali berbicara dalam Bahasa Inggris. Ia mengira pria di depannya tidak mengerti ucapannya. Melihat dari tampangnya, Key tahu orang yang melongo di depannya adalah seorang bule. Key terdiam sesaat sebelum berbicara. Ia merasa pernah melihat pria di depannya. Tetapi di mana? Key menatap pria itu lekat kemudian membuka bibir mungilnya untuk berbicara kembali. “I’m sorry. I didn’t mean to spill that chocolate milk in your shirt. Please forgive me. It was an accident.” Key berkata dengan sangat tulus, ia sangat takut pria itu akan marah. Melihat dari pakaiannya, Key bisa tahu bahwa pakaian itu pasti sangatlah mahal. Ia harus meminta maaf dengan sangat baik agar pria di depannya tidak akan mempermasalahkannya. Key kembali berbicara ketika pria yang tak lain bernama Azzam Aulian Evren masih menatapnya dengan tatapan terkejut. “Are you okay, Sir?” Azzam mengerjap saat Keynara kembali berbicara. “Ahh, ya tidak apa-apa. Aku yang salah. Aku bermain handphone saat masuk ke restaurant ini. This is my fault.” Key mengangguk kemudian tersenyum mengetahui pria itu tidak marah kepadanya. Ia kira pria di depannya adalah seorang bule, ternyata dia sangat lancar berbahasa Indonesia. “Ya, itu juga salah saya. Maafkan saya dan…tadi saya kira Anda tidak tahu berbahasa Indonesia.” Azzam tersenyum simpul. Senyuman yang sangat semringah. “Aku orang Indonesia kok.” “Permisi Pak. Saya mau membersihkan lantainya.” Mereka menoleh bersamaan saat melihat pegawai restaurant menghampirinya dengan membawa kain pel. Dengan tangan yang cekatan, pegawai wanita itu membersihkan lantai yang ditumpahi su-su coklat tadi. Sungguh sayang. Itulah yang ada dipikiran Key sekarang. Ia sangat menyayangkan su-su coklat yang tumpah itu. Tatapan Azzam beralih ke Key yang masih menatap pegawai restaurant yang sedang mengepel lantai. Sekitar semenit kemudian, pegawai restaurant itu sudah membersihkan lantainya dan meninggalkan mereka. “Kita duduk di sana saja. Aku akan mengganti minumanmu yang tumpah tadi.” Key menoleh menatap Azzam yang berbicara kepadanya. “Ahh. Tidak usah. Ini sudah hampir masuk dzuhur. Saya mau sholat dan lanjut cari kerja saja. Takut kesorean,” tolak Key dengan sopan. “Kamu cari kerja?” Key menganguk membuat Azzam mengamati penampilan wanita itu dari atas hingga bawah. Key merasa tidak nyaman dengan tatapan lelaki di depannya. Ia berbicara untuk mengalihkan pandangan pria itu darinya. “Ngomong-ngomong, baju Anda sangat kotor. Saya merasa tidak enak. Apa yang harus saya lakukan untuk baju Anda? Sepertinya itu baju yang sangat mahal. Maafkan saya,” ucap Key dengan wajah yang begitu bersalah. “Ck. Bicaramu sangat sopan sekali. Pakai aku, kamu saja supaya lebih akrab.” Key mengangguk setuju membuat Azzam tersenyum dan melanjutkan ucapannya. “Kamu bisa datang ke apartamenku. Kalau kamu mau bertanggung jawab tentang pakaianku ini. Kamu bisa datang jam 5 sore hari ini untuk mencucinya. Aku juga akan memberimu pekerjaan. Jadi kamu bawa saja berkasmu.” Azzam tersenyum penuh arti. Ia bisa saja membawa pakaiannya ke tempat laundry bahkan ia memiliki pembantu di rumah dan apartemennya untuk mencuci bajunya. Atau… ia membuang baju itu saja dan menggantinya dengan yang baru. Tapi dengan cara itulah, ia bisa dekat dengan wanita itu. “Benarkah? Aku hanya perlu mencucinya saja? Aku kira kamu akan menyuruhku untuk menggantinya dengan yang baru.” Azzam mengangguk membuat Key terkekeh pelan. Wanita itu kemudian melanjutkan ucapannya,”dan tentang pekerjaan itu, apakah kamu serius? Apakah aku bisa benar-benar mendapatkan pekerjaan?" Key menatap Azzam mencari sesuatu apakah pria tampan di depannya tidak bercanda kepadanya atau hanya membohonginya. Key harus hati-hati dengan pria yang baru ia kenal. Apalagi pria di depannya memintanya untuk datang ke apartemen pria itu. “Tentu saja. Aku pasti akan memberimu pekerjaan." Azzam berbicara dengan nada penuh keyakinan membuat Key merasa tenang dan mulai percaya dengan perkataan lelaki di depannya. “Oh yah, kenalkan saya Azzam." Senang bertemu denganmu lagi Keynara Anindita Wijaksana. Lanjut Azzam di dalam hatinya Ia mengulurkan tangannya untuk berkenalan dengan Key. Melihat hal tersebut, Key tersenyum kemudian menyatukan kedua tangan di depan dadanya, ia melakukan salam tanpa menyentuh tangan Azzam. “Saya Keynara. Panggil saja Key.” Azzam menarik tangannya kembali saat Key tidak membalas uluran tangannya. Melihat hal tersebut, Key menjelaskan sesuatu agar tidak menyinggung hati pria itu. “Dalam ajaran islam. Perempuan dan laki-laki tidak boleh saling berjabat tangan, apa lagi menyentuh bagian tubuh yang lain,” jelas Key membuat Azzam menatapnya dengan penuh arti. “Ahh begitu kah? Aku baru tahu tentang hal itu,” ucap Azzam canggung dan menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Tinggal beberapa tahun di luar negeri membuatnya bebas berinteraksi dengan lawan jenis bahkan bersentuhan seperti berjabat tangan bahkan lebih dari itu. Key tersenyum kemudian menjelaskan sesuatu yang ia pahami tetang ajaran islam. “Ya, mayoritas ulama berpendapat tidak diperbolehkan untuk berjabat tangan dengan lawan jenis selain mahramnya. Tapi ada beberapa yang memperbolehkan asalkan tidak menimbulkan sya-hwat. Tapi kalau menurut saya, lebih baik tidak usah melakukannya.” Dalam islam, ada sebuah hadist yang menjelaskan tentang larangan saling bersentuhan dengan lawan jenis. Hadis tersebut diriwayatkan oleh Imam At-Thabrani dari sahabat Ma’qal bin Yasar. Nabi SAW bersabda: “Menusuk kepala dengan jarum dari besi, itu jauh lebih baik buat seorang Muslim di antara kalian dibandingkan jika ia bersentuhan dengan wanita yang bukan halal baginya.” Setelah mendengar penjelasan Key. Azzam semakin terpesona dengan wanita itu. Entah mengapa, detak jantungnya berpacu lebih cepat. Pria itu melamun, menatap wanita di depannya. Orang-orang yang berlalu lalang di restaurant itu hanya menatap mereka sekilas kemudian melanjutkan aktifitas mereka masing-masing. “Anda, ehh maksudku kamu orang muslim?” tanya Key dengan sangat sopan, takut menyinggung perasaan pria itu. apalagi bertanya soal agama. Azzam melamun hingga tidak menjawab pertanyaan Key. Karena tidak ada jawabam, Key akhirnya mengulang kembali pertanyaannya. “Hmm.. kamu orang muslim?” “Eeh.. Ya…ya Saya muslim.” Azzam menangguk dan tersenyum. “Tapi, aku tidak terlalu tahu banyak tentang agama,” lanjutnya dan menggaruk tengkuknya yang tidak gatal seperti tadi. “Ahh. Tidak apa-apa. Semua perlu dipelajari secara pelan-pelan. Perlahan tapi pasti.” Key tersenyum simpul membuat lesung pipit di wajahnya terlihat lebih jelas. Key memiliki lesung pipit di pipi kirinya dan itulah salah satu daya tarik gadis berdarah Bandung-Makassar itu. Melihat Azzam hanya terdiam menatapnya, Key langsung melanjutkan ucapannya. “Tadi aku sempat mengira kamu adalah orang bule makanya aku pakai bahasa Inggris. Wajahmu mirip orang luar sih.” Key kembali tersenyum menampilkan rentetan giginya yang indah. Azzam yang sedari terdiam mengerjapkan matanya beberapa kali melihat hal itu. “Aku memang keturunan orang turki. Ayahku orang turki asli. Aku juga punya darah orang jepang dari nenekku.” “Ahh pantas saja.” Azzam mengerutkan keningnya mendengar ucapan itu. “Pantas saja kenapa?” tanya Azzam membuat Key tertawa pelan. “Ya, pantas saja kamu sangat tampan.” Blush. Pipi Azzam memerah. Setiap wanita yang melihatnya pasti akan mengatakan bahwa dia sangat tampan. Azzam merasa biasa saja mendengar pengakuan para wanita itu terhadapnya. Tapi mendengarnya dari mulut Key, hati Azzam merasa melambung tinggi sampai langit yang ke tujuh. “Oh yah, aku bisa minta alamatmu? Kamu tidak tinggal sendiri ’kan? Aku tidak enak datang ke rumah laki-laki yang tinggal sendiri. Takut ada fitnah,” ucap Key saat melihat Azzam hanya terdiam menatapnya dengan wajah yang memerah. Key tahu, lelaki itu terlihat canggung saat ia mengatakan bahwa pria itu sangat tampan. Entah ada apa juga dengan mulut Key, ia tidak pernah mengatakan hal semacam itu kepada lawan jenisnya sebelumnya. “Ini.” Azzam memberikan kartu namanya kepada Key. Wanita itu mengambilnya dan mengucapkan terima kasih kemudian memasukkan kartu nama Azzam ke dalam tasnya tanpa membacanya terlebih dahulu. “Aku memiliki pembantu di apartemen. Sebenarnya, ia akan kembali ke rumahnya jam 5 sore. Tapi tenang saja saya akan telfon Bi Rati untuk tinggal sampai kau datang dan kembali lagi ke rumahmu.” Melihat Key hanya terdiam, Azzam menyadari sesuatu dari ucapannya. “Yah, aku memang memiliki pembantu di apartemenku dan dia bisa saja mencuci pakaianku ini, tapi bukankah kamu sendiri yang mau bertanggung jawab karena sudah mengotori pakaianku? Apakah kau berubah pikiran atau keberatan tentang hal itu?” tanya Azzam membuat Key menggeleng cepat. “Ahh tidak-tidak. Aku sama sekali tidak keberatan kok. Aku pasti akan datang ke apartemenmu. Tapi…” Key menatap kemeja Azzam dan beralih menatap wajah pria itu.” Apakah kamu membawa baju lain? Sepertinya kamu perlu mengganti bajumu sekarang. Bisa masuk angin kalau lama dengan baju basah seperti itu.” Azzam menatap kemejanya yang tadinya berwarna biru langit menjadi coklat. “Aku akan menggantinya. Tenang saja, aku punya baju cadanngan kok.” Key tersenyum dan mengangguk mendengar jawaban Azzam. Menurutnya, pria di depannya sangat baik. Ia kira, pria itu akan marah kepadanya ternyata tidak sama sekali dan Key bisa menilai bahwa Azzam adalah orang yang sangat baik dan sabar. Karena tidak ada lagi yang perlu dibicarakan dan waktu juga sudah memasuki sholat dzuhur, Keypun hendak pergi dari restoran itu. “Kalau begitu aku pergi dulu. Sampai jumpa kembali. Dan maaf sudah mengotori bajumu/” Key berlalu meninggalkan Azzam yang masih bergeming di tempatnya. Pria tampan itu menatap Key hingga wanita itu menghilang dari penglihatannya. ”Kenapa dia tidak mengenalku?Ia seperti berbicara dengan orang yang baru ia kenal. Apakah wajahku berubah sehingga Key tidak mengenaliku? Atau dia hanya pura-pura tidak mengenalku? Ataukah dia lupa kepadaku? Ahh kenapa hatiku sakit sekali.” Azzam masih bergeming di tempatnya, menatap wanita yang sudah tidak terlihat lagi dari pandangannya. Setelah tersadar dari lamunanya. Ia merogoh saku celananya dan mengambil ponselnya. Ia mencari nama dikontak hpnya. Anna. Sekeretarisnya. Ia menelpon wanita itu. dalam sekali panggilan wanita itu mengangkat telfon bosnya Halo. Suara lembut Anna dibalik telfon terdengar. Tanpa basa-basi, Azzam mengatakan tujuannya menelfon sekretarisnya itu. “Belikan aku kemeja baru dan siapkan berkas untukku. Saya akan mengirimkan berkas apa yang harus kamu siapkan. Dan berkas itu harus selesai jam 3 hari ini juga.” Baik, pak. Setelah mendengar jawaban wanita itu, ia menutup telfonnya dan membuka galeri hpnya. Di sana, gambar wajah seorang gadis cantik berhijab tersenyum indah sambil merangkulkan lengannya ke gadis tak berhijab yang juga tersenyum bahagia. “Takdir kita akan dimulai Keynara.” Setelah mengatakan itu, Azzam tersenyum penuh arti dan menyimpan hpnya kemudian berjalan meninggalkan restoran itu. Ia mengurungkan niatnya untuk makan siang di sana. ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD