"Ya ampuuun, lucu banget. Namanya imut, ya, Alby. Ih, gemes deeeeh. Nemu di mana sih lu, gila?" Begitu reaksi Maudy ketika Meta menunjukkan foto Aby. Sejak awal taruhan itu dimulai, memang Maudy yang paling rajin menanyai Meta soal berondong yang akan dijadikannya pacar. Dan, tidak lupa pula Maudy memberi wejangan, supaya Meta mencari berondong tajir. Huh, dasar matre!
"Ada deh, hihihi."
"Gue jadi ingat sama mantan gue pas di SMA dulu. Duh, jadi kangen sekolah lagi, nih. Kangen mojok dekat tangga, pergi bareng ke sekolah, makan di kantin ada yang bayarin. Hihihi."
"Lebay banget sih lo."
Maudy tidak peduli dengan komentar Meta yang memang selalu masa bodo. Meta kan orangnya tidak romantis.
"Ketahuan deh yang nggak pernah pacaran waktu sekolah, hahahaha!"
Meta tertawa mendengus, "Pernah, tapi nggak lebay kayak lo. Kayak nggak ada tempat lain aja mojok dekat tangga, dilihatin banyak orang. Nggak tau malu."
"Hahahaha."
Selagi Maudy asik melihat-lihat koleksi foto Aby, tahu-tahu, Lani dan Fei datang menghampiri mereka. Keduanya berhenti mengobrol sewaktu Maudy meneriaki Lani, bilang kalau Meta sudah punya target yang kece badai.
"Bocah mana, nih? Bukan sodara lo kan, Met?" kata Lani, agak tidak terima kalau Meta sudah menemukan mangsa. Padahal taruhan mereka baru berlangsung tiga hari.
"Pliiis, gue nggak mau ada dusta di antara kita. Itu temen sekolah Jingga."
Fei melirik sekilas foto Aby, dan dalam hati ia mengakui kalau bocah satu itu lumayan cakep. Tampangnya juga tidak terlihat seperti anak-anak sekolahan banget. Meski ingin berkomentar, namun Fei memilih untuk diam. Dia tidak mau ikut campur karena itu bukan urusannya, seperti yang Lani bilang.
"Penasaran nih gue, pasti dia populer ya di sekolah?"
Menjawab pertanyaan Maudy, Meta mengangguk penuh percaya diri. "Dia itu murid paling pintar di kelasnya."
Pada waktu yang sama, di ruang kelas XII IPA 3, di mana kegiatan belajar mengajar sedang berlangsung...
"Aby, coba kamu kerjakan nomor empat ke depan!" Suara lantang bak petir di siang bolong tersebut membuat seisi kelas menoleh pada seorang cowok berambut cokelat madu di pojok bagian belakang.
Aby, yang sadar namanya disebut, refleks mengangkat pandangannya ke depan dan memasukkan ponselnya ke dalam laci secepat yang ia bisa. Tidak ada raut kaget di sana, justru ekspresi bingung yang menyebalkan bagi si guru.
"Hmmm, iya, Bu. Sebentar!" Aby bangkit, berjalan ke depan dengan gayanya yang santai. Semua mata mengikuti ke mana kaki cowok jangkung itu melangkah.
"Heh, mau ke mana kamu, Aby?" tegur guru berkerudung biru itu sewaktu dilihatnya Aby berjalan ke pintu kelas, bukan ke arahnya.
"Mau ke toilet sebentar, Bu. Balik nanti pasti saya kerjain, kok," sahutnya, enteng.
"Ooohhh, kamu mau kerjain saya seperti guru-guru lain, iya? Pura-pura mau buang air, tapi ujungnya nggak balik-balik!"
"Itu gosip kali, Bu. Ibu kayak nggak tahu saya aja."
"Udah nggak usah banyak alasan. Cepat kerjakan nomor empat!"
Bukannya takut atau merasa gentar, Aby justru mendengus yang terkesan jengkel. "Ibu kenapa sih, benci banget sama saya? Saya mau buang air aja masa nggak boleh."
"Nggak usah drama deh kamu. Nggak ngaruh."
Aby mendengar suara cekikikan yang berasal dari barisan belakang, tempat kedua temannya duduk, Adera dan Biru. Kurang ajar! Temannya lagi susah malah diketawain. Ya, walaupun pada kenyataannya yang tertawa seisi kelas, Aby lebih mengutuk dua cowok manis itu.
"Percuma kali, Bu, nyuruh si Aby, dia kan b**o. Buang-buang waktu aja." Seorang remaja putri berparas jelita yang berada di barisan paling depan berseru, membuat Aby mengangguk tanda setuju.
"Justru karena dia begitu, Cantika, dia harus belajar. Ayo, Aby, kerjakan! Kamu itu ya, udah sering datang terlambat, nggak pernah bikin PR, nilai ulangan astagfirullah terus, masih juga nggak mau belajar. Sebentar lagi mau Ujian Nasional, kalau kamu kayak gini terus, bisa nggak lulus kamu!"
Khotbah yang dilontarkan guru Fisika-nya tersebut, tidak juga membuat Aby sadar untuk kembali ke jalan yang benar. Cowok itu masih bersikap acuh tak acuh.
"Saya ke toilet bentar, Bu. Saya pasti balik kok, serius!" Setelah berkata begitu, Aby kemudian berlari keluar kelas sambil bersenandung kecil.
Dan ... seperti apa yang pernah terjadi sebelumnya, Aby tidak kembali ke kelas sampai bel pulang sekolah berbunyi. Itu terjadi setiap kali ada guru yang memintanya untuk mengerjakan salah satu soal ke depan. Hanya semesta yang tahu ke mana dia pergi.
*****
Hari ini, Meta pulang lebih awal dari biasanya. Dan, sesampainya di rumah, ia langsung masuk ke kamar Jingga, untuk ber-kepo ria tentang Aby. Maksudnya, Meta ingin tahu ada cerita menarik apa soal Aby di sekolah tadi. Misalnya, apa Aby ada dekat-dekat dengan cewek lain, gitu?
Emmm, baiklah, Meta hanya ingin memastikan kalau Aby sedang jomblo. Itu tidak salah, bukan?
Selain itu, ngomongin soal Aby, entah mengapa membuat Meta senang. Apa itu efek dari kelamaan single? Ah, ya, mungkin saja begitu.
"Jingga? Halooo?" Meta memanggil nama adiknya itu untuk yang kelima kalinya, namun tidak ada jawaban. Kamar itu sepi dan masih rapi. Tas sekolah Jingga juga tidak ada. Biasanya, kalau remaja satu itu sudah di kamar, maka ruangan bernuansa biru itu akan hancur berantakan sedemikian rupa.
"Apa belum pulang sekolah, ya? Kok, lama banget? Udah jam tiga, juga." Meta bertanya-tanya sambil membuka kamar kecil di pojok ruangan. "Hmmm, tungguin aja deh."
Mungkin, sebentar lagi Jingga pulang, jadi Meta memutuskan untuk menunggunya sambil tiduran di kasur dan memainkan tablet milik Jingga yang kebetulan ada di atas kasur.
Eh!
Meta agak kaget ketika tombol power pada tab itu ditekan, muncul wallpaper seorang cowok manis. Dan, Meta tidak butuh waktu lama untuk mengingat siapa nama cowok itu. Harap dicatat kalau Meta punya ingatan kuat soal cowok ganteng.
"Hah? Biru?"
Meta tidak bisa menahan diri untuk tidak kepo, oleh sebab itu ia langsung membuka semua sosial media milik Jingga yang terpampang di layar tablet tersebut.
"Ya ampun, nih anak stalker parah," seru Meta tidak habis pikir kalau ternyata Jingga punya bakat menjadi stalker.
Bagaimana tidak, lihat saja semua media sosial miliknya yang menampilkan akun Biru. Mulai dari f*******:, i********:, ask-fm, twitter, path, line, semuanya!
Lalu, tanpa merasa bersalah karena sudah berani mengganggu privasi orang, Meta membuka obrolan Jingga dengan sebuah akun bernama Titiara di LINE. Riwayat obrolan mereka membuat Meta takjub, bukan hanya karena panjang, namun juga penuh dengan cerita Biru.
Titiara : tadi gw liat Biru sama Lalita ngobrol gitu. jgn jgn bener mereka dah jadian
Orange girl : gak mungkiiiiin
Titiara : mati, kan gw udah bilang jujur aja biarpun menyakitkan
Orange girl : aku takut tiaraaaa
Titiara : terus kapan bilangnya kalo gitu? bentar lagi kan ujian, terus kita semua pisah, terus nih lo belum tentu bisa ketemu lagi sama diaaaaa. dasar bloon
Orange girl : aku takut. aku masih belum siaaap
Titiara : terserah lo deh capedew ngomong ama lo
Meta tertawa terbahak membacanya, tidak mengira kalau ternyata Jingga masih alay seperti dulu. Belum lagi sewaktu Meta membaca semua status f*******: Jingga yang galau-galau najis, perutnya sampai sakit menahan tawa.
"Allahu Akbar, Jinggaaaa... Jinggaaaa... dasar bocah lebay! Ih, geli deeeeh bacanya. Ahahaha!"
Tahu-tahu, pintu kamar terbuka dan sosok Jingga yang masih mengenakan seragam sekolah muncul. Awalnya, cewek itu menatap Meta dengan pandangan malas, tanpa merasa ingin tahu apa yang membuat perempuan itu tertawa sampai guling-guling. Namun, begitu sadar kalau tablet miliknya ada di tangan Meta, ia tersadar oleh sesuatu dan serta-merta ia merebut benda petak itu dari tangan Meta dengan kasar.
"Mbak Meta habis ngapain?" tanyanya, mulai curiga. "Iiih, Mbak Meta ngapain sih buka-buka chat aku sama Tiara?" serunya antara kesal dan malu setelah memeriksa tablet-nya yang menampilkan obrolannya dengan Tiara.
"Hehehe, jadi... kamu naksir Biru, yaaaaa? Ahaha, cieeeeeehhh... Biru nih yeeeeee!"
Jingga tidak langsung menjawab, dibiarkannya Meta heboh sendiri, sementara ia bergegas mengganti seragamnya dengan kaos hitam polos dan celana jins pendek.
"Cieeeeeehhh, jadi Biru itu cowok yang selama ini kamu sukaaaa."
Semburat merah jambu muncul di wajah oval Jingga, tapi cewek berambut sebahu itu berusaha untuk terlihat biasa saja.
"Aku tuh nggak suka, ya, Mbak Meta pake barang aku sembarangan kayak gini. Ganggu privasi orang aja tahu nggak?!"
"Hahaha, gitu aja ngambek. Biasa aja dong. Lagian, mana Mbak tahu kalo sosmed kamu udah terbuka semua." Meta mencoba membela diri meski ia tahu kalau dirinya memang salah.
Jingga melirik kakaknya itu dengan pandangan jengkel. Hellooo, dia tahu banget kakaknya itu gimana, kepo dan suka ikut campur urusan orang. Jadi, apa pun alasannya, bagi Jingga, Meta tetaplah salah!
"Mbak mau ngapain sih di kamarku?"
Menjawab pertanyaan adiknya yang jutek itu, Meta bergegas turun dari kasur, mengikat rambutnya sembarangan lalu duduk di sebelah Jingga sembari menunjukkan senyum terbaiknya.
"Mau cerita-cerita soal Aby, ehehe."
Jingga kontan memutar bola matanya, jengkel. Aby lagi, Aby lagi...
"Aku nggak dekat sama dia. Dia juga nggak kenal sama aku. Tahu aku aja mungkin enggak," kata Jingga apa adanya.
"Tapi kan, kamu pasti dengar cerita apaan gitu di sekolah soal dia. Iya dong? Kan kamu sendiri yang bilang, dia itu populer," komentar Meta, tidak peduli dengan mimik Jingga yang seolah ingin memakannya.
"Udah deh Mbak, nggak usah sama dia! Susah banget sih dibilangin."
"Oooh, jadi ceritanya, kamu nggak mau tolongin Mbak nih?"
"Iya, kan kemarin aku udah bilang!"
"Oooh, oke. Kalau gituuuu, besok Mbak ke sekolah kamu, terus Mbak mau bilang sama semua orang kalau kamu suka sama cowok yang namanya Biru!"
Jingga mendengar ada suara petir menyambar-nyambar begitu Meta menyelesaikan ucapannya yang lugas, jelas dan dramatis.
Ini buruk!
Selain Tiara, nggak ada satu orang pun di sekolah yang boleh tahu kalau dia naksir Biru. Apalagi Biru, dia nggak boleh tahu kalau selama ini Jingga menyukainya! Nggak-boleh!
"Loh? Mbak Meta ngancam aku?"
"Kamu kayak nggak tahu Mbak aja." Hanya kalimat itu, dan Jingga tahu betul, kalau Meta serius dengan ucapannya.
Untuk kesekian kalinya, Jingga merasa sial lahir menjadi adik seorang perempuan licik seperti Meta. Kakak macam apa dia itu?
*****