7

1154 Words
"Mbak Meta curang! Kan, aku udah bilang kalau aku cuma cariin orangnya aja, kenapa jadi bawa-bawa aku, sih?" "Ya udah kalo kamu nggak mau, nggak apa-apa. Nggak masalah. Besok Mbak langsung bilang aja ke Biru kalo kamu naksir dia." "Iiiiih! Apaan sih, Mbak?! Jangan bawa-bawa dia kenapa?" Reaksi panik Jingga membuat Meta semakin yakin kalau sebentar lagi, adiknya itu pasti akan menyerah dan okelah walaupun dalam keadaan terpaksa, dia pasti mau menolongnya. Haha! Dasar, bocah! "Jadi, gimana? Mau bantuin Mbak apa enggak? Kalau kamu nggak mau juga, terpaksa deh si Biru Mbak yang deketin, hehehe." Mendengar itu, Jingga langsung memelotot, tidak setuju. "Nggak! Enak aja! Ya udah deh aku bantu! Tapi, awas aja kalo sampe ember soal Biru ke teman-temanku!" Meta menunjukkan senyum penuh kemenangan. "Oke, awas ya kalo PHP. Mbak bakal bikin kamu menderita seumur hidup! Buahahaha!" katanya dramatis, kemudian pergi sambil bernyanyi kecil. Jingga membuang napas panjang. Entah ini keputusan benar atau salah, ia akan tahu nanti, setelah ia melakukannya. Lagian, Jingga tidak punya pilihan lain. Karena dia tahu banget kakaknya itu gimana : nekat, licik, kurang waras, dan tidak pernah main-main dengan ucapannya. "Iiih, nyebelin banget, sih?!" Tiba-tiba, pintu kamarnya terbuka dan kakaknya itu muncul lagi sambil berseru, "Ngga?" "Ha? Apa lagi?" "Disuruh Mama angkat kain jamuran! Bye!" "Apa nih?" tanya Jingga ketika Meta mengangsurkan sebuah kotak hitam berukuran telapak tangan ke hadapannya. "Cokelat buat Aby." "Hah?!" Meta menunjukkan senyum manis, yang di mata Jingga terlihat menyebalkan. "Iya, ini cokelat buat Aby. Kenapa? Kamu nggak lupa, kan?" Jingga mendengus, lalu meneliti kotak yang diberi tali berbentuk pita berwarna putih itu dengan bingung. "Ada nama Mbak, kan, di dalam?" "Enggak." "Kok, nggak ada? Nanti kalo dia nanya ini dari siapa, gimana?" "Bilang aja kamu nggak tahu." "Loh, kok gitu? Bukannya Mbak mau deketin dia, kenapa jadi sok misterius gini?" Asli, Jingga nggak ngerti. Maksud kakaknya ini apa, sih? Katanya mau PDKT, tapi kok main rahasiaan gini? "Udah deh nggak usah bawel. Mbak pengen tahu aja, dia penasaran apa nggak sama cokelat ini nantinya, hihihi." "Asal Mbak tahu aja ya, setiap hari, Aby itu dapat cokelat dari cewek-cewek di sekolahku. Dan nggak usah berharap deh, soalnya Aby nggak pernah penasaran sedikit pun sama cokelat-cokelat itu!" Meta mengibaskan rambutnya dengan semangat. "Kita lihat aja nanti." "Terserah Mbak, deh," kata Jingga, jengkel. Dengan malas, ia memasukkan kotak itu ke dalam tas sekolahnya. Semalaman, Jingga sudah memikirkan masalah ini dengan serius. Membantu Meta mendekati Aby, bukanlah suatu hal yang mudah. Justru sebaliknya, ini rumit banget. Bagaimana bisa ia membuat cowok sombong seperti Aby dekat dengan saudaranya yang kurang waras itu? Memang sih, sementara ini Meta hanya meminta ia memberikan cokelat, dan baginya itu tidak terlalu sulit. Tapi, bagaimana dengan rencana berikutnya? Jingga tidak mau ya kalau harus disuruh bicara face to face sama cowok itu, apalagi kalau Aby sedang bareng teman-temannya... ih bisa-bisa mati gaya si Jingga. Soalnya, pasti ada Biru. Jingga mana bisa ngomong lurus kalau pujaan hatinya terpampang nyata di depannya. Errr, oke baiklah, mungkin terdengar berlebihan, tapi kalau hal itu terjadi, Jingga pasti akan salah tingkah. Setibanya di sekolah, Jingga segera berjalan cepat menuju kelas Aby. Keadaan sekolah masih sepi, karena Jingga memang sengaja datang lebih awal untuk menaruh cokelat yang diberikan Meta untuk Aby ke dalam laci mejanya secara diam-diam. Jingga tidak mau kalau harus memberikannya langsung pada Aby. Soalnya, di dalam kotak itu tidak ada namanya, bukan? Jingga takut kalau Aby sampai berpikir cokelat itu darinya. Untuk sekarang, Jingga belum siap berhadapan sama cowok itu, pasti urusannya ribet. Jingga bersyukur, saat ia tiba kelas Aby masih kosong, jadi dia bisa melakukan aksinya dengan cepat tanpa harus takut ada yang lihat. Kalau ketahuan kan bisa jadi bahan gosip. "Ehem." Suara itu terdengar sebelum Jingga sempat menaruh kotak itu ke dalam laci meja milik Aby. Jantungnya pun langsung berdebar tak karuan. Barusan itu, suara anak laki-laki! Aduh! Siapa ya itu? Semoga saja bukan Aby... Jingga berbalik dan seketika terpana. Astaga!!! Biru?! Cowok bermata agak sipit itu sekarang menatap Jingga penuh tanya. Dan sialan, Jingga benar-benar mati gaya dibuatnya! "Cari siapa?" Biru bertanya. Matanya sempat melirik kotak hitam di tangan Jingga. "Ha?" Ya Tuhan, kenapa dia harus ketemu Biru di saat kayak gini? "Cari siapa?" ulang Biru sekali lagi. Suaranya agak berat dan bagus, apalagi kalau sedang menyanyi. Jingga suka. "Aku... aku cuma mau ngasih ini... buat Aby." Jingga berkata jujur, kemudian ditaruhnya kotak berisi cokelat itu ke atas meja Aby. Biru melihat kotak itu sebentar, lalu meski sedikit, ada sebuah senyuman di wajahnya, yang membuat Jingga menebak-nebak apa maksudnya itu. "Jadi, lo termasuk salah satu fans berat Aby, ya?" tanyanya. Jingga menggeleng cepat. Entah mengapa ia tidak mau Biru salah sangka. "Bukan!" kata Jingga, agak ketus. Setelahnya Jingga menyesal karena sudah bicara seperti itu pada Biru. Harusnya, ia bisa menjawab pertanyaan itu baik-baik, kan? Nanti, Biru pikir dia tipikal cewek jutek, lagi. "Oh?" Entah itu maksudnya apa, yang jelas, Jingga harus angkat kaki dari sini sebelum Aby datang. Walaupun sebenarnya ia agak- agak tidak rela juga sih. Tanpa bicara, Jingga bergerak melewati Biru. Langkahnya pelan, dan gugup. Biru bisa merasakannya, maka dari itu ia tersenyum, meski sedikit. "O, iya, " katanya tiba-tiba, sehingga membuat langkah Jingga berhenti. "Ini rahasia. Aby nggak suka cokelat." Oh, ya? Jingga baru tahu! Tapi, tidak ada waktu lagi untuk bilang apa pun, karena Jingga melihat beberapa orang sedang menuju ke ruang kelas. Jingga kemudian angkat kaki secepat mungkin, menghilang dari pandangan Biru. "Ayo, cepat, cepat, Aby belum datang!" "Iya, eh, ada Biru tuh!" "Udah nggak apa-apa, santai aja!" Tiga orang cewek berwajah imut-imut masuk ke kelas sambil berseru heboh. Biru sempat memperhatikan mereka. Masing-masing, membawa sebuah kotak berwarna merah muda yang Biru sudah tahu isinya : cokelat. Biru memang tidak mengenali mereka, baik itu namanya ataupun mereka kelas berapa, yang jelas, Biru tahu kalau ketiganya merupakan fans berat Aby. "Biru, Aby mana? Belum datang, kan?" tanya satu di antaranya. Cewek itu berambut ikal sebatas bahu, dan memiliki kulit yang sedikit gelap. "On the way," sahut Biru, tanpa menoleh. Sekarang cowok itu fokus dengan ponselnya. "Oh. Ya udah. Tolong jagain ini, ya. Buat Aby," ucap cewek itu lagi seraya menunjuk-nunjuk tumpukan kotak di atas meja Aby. Biru menengok sebentar dan mengangguk. "Sekalian, titip salam buat Aby, hihihi," kata yang lainnya, sebelum berlarian keluar kelas. Satu menit kemudian, sekelompok cewek memasuki kelas sambil bercakap-cakap. Sama seperti ketiga cewek tadi, para remaja itu juga membawa kotak-kotak bersampul di masing-masing tangan mereka. "Biru, Biru, boleh minta nomer HP Aby, nggak?" "Iya, nih, bagi kita-kita dong?" "Iya, bagi dong, Biru. Setiap kita chat Aby di sosmed, kita diblokir terus, soalnya." Seruan cewek- cewek itu, membuat Biru sedikit merasa terganggu. Maka dari itu, ia langsung bergegas pergi tanpa mau repot-repot menanggapi permintaan para fans Aby tersebut. Lagi pula, ia tahu betul kalau Aby tidak suka orang lain, selain keluarga dan teman dekatnya, tahu nomor HP-nya. Apalagi kalau sampai cewek-cewek itu tahu, kelar hidup Aby. *** Halo, pembaca lama dan baru. Jangan lupa feedback-nya ya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD