8

691 Words
Meta tengah asik ber-chatting ria dengan ketiga teman sialannya ketika Monika, rekan kerjanya yang lain datang menghampiri biliknya. "Eh, Monik, apaan nih, Nik?" tanya Meta begitu Monik mengangsurkan sebuah kotak berukuran cukup besar kepadanya. Kotak itu diberi sampul berwarna biru bermotif bunga. "Nggak tahu, tuh. Tadi, si Agus yang bawa ke sini, bilangnya suruh kasih ke kamu," jawab Monik. "Cieee, sejak kapan si Agus naksir si Meta?" seru Maudy. Suaranya yang cempreng, cukup menarik perhatian orang-orang, termasuk Manda yang diam-diam mencuri pandang ke arah mereka. "Agus mana, nih? Security kita?" tambah Lani. "Masa iya, si Agus naksir Meta? Bukannya istrinya udah  dua?" Maudy merespons lagi. "Kok, dua sih, tiga tauuu," ralat Monika. "Titipan kali, Nik. Lu kasih info yang bener, dong." "Ya udah tanya aja sendiri. Orang dia cuma bilang itu, kok. Pada bawel lo pada, kayak emak gue." "Pantes lu juga bawel, Nik. Emak lu bawel. Hahahaha." Monik menunjukkan muka sewotnya pada Lani, namun Lani tahu perempuan itu hanya bercanda. "Buka kali, Bu. Jangan dilihatin aja, kita kepo, tau," ucap Fei karena melihat Meta hanya melihat kotak itu saja, bukan langsung membukanya. Meta mengangguk, lalu dirobeknya kertas kado tersebut dengan rasa penasaran. Namun, tiba-tiba saja... "AAAAH! KODOOOK!" Meta refleks melempar kotak itu ke sembarang arah hingga mengenai Lani. Dan, tentu saja, perempuan itu juga ikut berteriak begitu tahu kalau isi kotak tersebut bukan sepatu maupun baju yang diperkirakannya, melainkan lima ekor katak dewasa yang jorok dan menjijikan. "Ih, asiiiik... ada cokelat!" Cantika dan Tirani berlari kecil menghampiri meja Aby yang penuh dengan tumpukan bingkisan kecil warna-warni. Kedua cewek itu langsung berebut mengambilnya, tanpa perlu repot-repot meminta izin pada Aby yang baru saja masuk ke dalam ruang kelas bersama Adera. "By, cokelat!" kata Tirani sambil mengangkat sebelah tangannya yang sedang memegang sebuah kotak berwarna merah muda, bermaksud menawarkannya pada Aby, meski sebenarnya dia tahu kalau Aby pasti menolak. Aby kan nggak suka coklat. Benar saja, Aby langsung menggeleng, sama sekali tidak berminat. "Hari ini kayaknya ada fans baru deh," seru Cantika. Adera melepas sebelah headset-nya dan mendekati Cantika. "Masa? Taunya?" Cantika meraih kotak kecil berwarna hitam dan menunjukkannya pada Adera. Keduanya meneliti kotak tersebut dengan penuh tanda tanya. "Soalnya, kemarin-kemarin yang ini nggak ada." "Cewe b**o mana lagi sih nih?" komentar Adera, lalu menoleh menatap Aby. Cowok itu masih tampak cuek bebek. "Sebentar, biar gue buka. Siapa tau ada tulisannya." Cantika membuka kotak hitam itu dengan semangat. "Tadaaa! Ada suratnya nih! Aby, dengerin baik-baik ya!" Mendengar Cantika terlalu banyak omong, Tirani buka suara. "Buruan deh Inces, kepo  nih!" "Untuk Abyku tayang, dede unyu- unyu. Dimakan ya cokelatnyaaaa. Jangan dikasih ke temen-temennya.  Sampai ketemu di waktu yang tepat, hihihi?" Baik Aby, Adera maupun Tirani, semuanya sama-sama memandang Cantika dengan ekspresi jijik yang kentara. Sadar dilihat seperti itu, Cantika segera mengangsurkan secarik kertas yang barusan dibacanya kepada Aby. "Siapa sih? Kok serem gitu isinya?" kata Cantika, ikutan mengernyit geli. "Dede unyu-unyu? Pada najis nggak sih? Hahahaha!" ucap Adera, seolah tidak setuju kalau Aby dibilang unyu. Aby membaca tulisan tangan di kertas itu dengan kening berkerut, kemudian diusapnya tengkuknya yang merinding. "Hiiii, jangan bilang itu Tante Girang yang lagi nyari jajan," ucapnya dan melempar kertas itu ke arah Adera. "Hahaha,  yang bener aja lo. Enggak mungkin. Pasti juga cewek-cewek sini." Mendengar perkataan Adera, Aby hanya mengangkat bahu. "Cokelatnya mahal nih. Kalo menurut gueeee, anak sekolahan nggak mungkin bisa beli ini, kecuali dia nabung berbulan-bulan, atau... dia anak orang kaya?" "Taunya ini cokelat mahal dari mana?" "Ya taulah, kan ini tuh cemilan nyokap. Lagian, rasanya beda, lebih enak. Nih, coba kalo nggak percaya!" Cantika langsung menjejalkan sepotong coklat ke mulut Adera. Mau tak mau, cowok itu terpaksa menelannya. "Biasa aja. Tetap rasa coklat!" "Terserah lo deh." Cantika menjambak rambut Adera dengan gemas. "Jadi, By, lo penasaran nggak?" Pertanyaan Tirani, otomatis membuat semua pandangan tertuju pada Aby. Soalnya, selama ini kan, banyak tuh yang memberikan Aby coklat, dan selama itu pula cowok yang dikenal sombong itu nggak pernah penasaran sama cewek-cewek pengagum rahasianya itu. Tetapi, pengirim cokelat yang satu ini lain dari yang lain. Kalau selama ini di dalam kotak-kotak cokelat itu hanya ada nama, tapi untuk kali ini bahkan ada suratnya. "Enggak!" jawabnya, lugas. ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD