"Kurang ajar! Siapa sih yang ngasih itu kodok ke gue?! Awas kalo ketemu, gue sikat abis tuh orang!" Meta menggerutu sambil berjalan menuju pintu keluar gedung kantornya. Begitu dilihatnya seorang cowok berkepala botak sedang berdiri di samping pintu kaca, cepat-cepat Meta menghampirinya.
"Gus! Agus!" panggil Meta tak sabar.
Agus menoleh, kemudian tersenyum. "Iya, Mbak?"
"Itu tadi si Monik bilang, kamu yang suruh ngasih kotak ke saya, bukan?"
Agus tampak berpikir sejenak. "Oh, yang ituuuu. Iya, Mbak. Memangnya kenapa ya, Mbak?"
"Kenapa, kenapa? Tau nggak isinya apa? Kodok, tau nggak! Siapa sih yang ngasih? Kamu tau orangnya, kan?"
Agus menggeleng pasrah. "Saya cuma tau orangnya, Mbak. Tapi, kalo namanya saya nggak tau."
"Cowok apa cewek?"
"Cowok, Mbak."
"Ganteng?"
"Kelewatan, Mbak."
Meta memelotot, sumringah. “Serius kamu, Gus? Gantengan mana sama Chanyeol?”
“Chanyeol itu...apa ya, Mbak?”
“Cogan Korea, gewlaaa. Dedek tamvan-nya akoh!”
“Mbak Meta keselek? Kok ngomongnya kayak begitu?”
Meta mendengus, bete. “Pokoknya gini ya, Gus, ya. Kalau ada yang suruh kamu ngasih sesuatu ke saya kecuali seperangkat alat sholat dibayar tunai, kamu jangan mau. Oke?”
“Siap, Mbak!”
“Sip!” Meta manggut-manggut kemudian kembali ke ruangan.
****
Tolong pap kelasnya Aby.
Jingga mendelik sebal begitu membaca pesan baru yang masuk ke ponselnya. Dari kakaknya yang paling nyebelin itulah, siapa lagi.
Jingga : Org lg bljr. Ntr.
Nomor tak dikenal : Janji, yaaaaa
Jingga : y
Nomor tak dikenal : ☺️
Apaan sih? Masa harus foto kelasnya Aby segala. Mesti, gitu? Buat apaan coba? Kakaknya itu memang benar-benar bikin hidup Jingga jadi ribet deh.
Tak lama kemudian, suara bel tanda istirahat berbunyi. Jingga mendengus sebal, mengingat permintaan Meta yang nggak berfaedah sama sekali itu. Tapi, meskipun kesalnya nggak ketulungan, Jingga tetap mengikuti kemauannya. Jadi, setelah koridor kelas Aby sepi, Jingga pun mengambil beberapa potret kelas Aby, lengkap dengan tempat di mana cowok itu duduk lalu mengirimnya pada Meta.
Nomor tak dikenal : Aby mana
Jingga : Kantin.
Nomor tak dikenal : mau lihat.
Jingga : Sumpah ya aku udah ambil foto kelasnya, tempat duduknya, sekarang mbak mau aku foto dia juga??? Mbak tu maunya apa sih? Kalau mau lihat ya datang aja langsung ke sini. Gausah suruh-suruh aku fotoin dia. Aku tu males berurusan sama dia tau gak.
Nomor tak dikenal : Mbak barusan dapat nomor wasap Biru
Anjirrrrr.
Kok bisa?
Jingga : Iya, ini lagi otw kantin
Dengan langkah lebar, Jingga berjalan menuju kantin. Dia memesan satu teh es lalu duduk di pojokan sambil mengamati Aby dan geng-nya. Sebisa mungkin Jingga mengambil beberapa foto Aby yang sedang makan sambil ngobrol dengan Cantika, dan mengirimnya pada Meta.
Beberapa detik kemudian, Meta membalas pesannya tersebut.
Ya ampun, lagi mangap gitu tetap bikin gemeees yaa dia☺️
Jingga : Mana nomor Biru?
Nomor Tak dikenal : Hehe, kena tipu wkkwkwwk
“HAAAH?!” teriak Jingga sambil mengebrak meja, sehingga seisi kantin langsung menoleh menatapnya, keheranan. Bahkan, Aby dan teman-temannya pun ikut melihatnya, penuh tanya.
Jingga meringis, sambil sesekali mencuri pandang ke arah Biru. Cowok itu seperti sedang tersenyum geli. Meski menyebalkan, tapi Jingga tetap suka.
“Awas aja ya tuh Mak Lampir! Licik banget sih jadi orang!” gerutu Jingga setibanya di dalam kelas.
“Kenapa, sih? Datang-datang langsung marah-marah?” tanya Tiara.
Jingga diam sejenak. Bingung harus cerita apa enggak. Tapi, beneran deh, Jingga tidak bisa menyimpan masalah ini sendirian. Dia butuh teman untuk curhat. Lagipula, di muka bumi ini, jika ada satu orang yang mau mendengarkan curahan hatinya, orang itu adalah Tiara, sahabatnya sejak di bangku SD.
“Aku tuh lagi sebel sama mbak Meta!”
“Lah? Bukannya emang selalu ya lo sebel sama dia?” tanya Tiara lagi, tak begitu heran. Soalnya, dari dulu Jingga selalu aja curhat tentang kakaknya yang super menyebalkan itu.
Jingga duduk, cemberut, lalu mulai cerita, “Jadi gini...”
Sesaat kemudian ...
“Hah?! Serius lo? Mbak Meta minta dicomblangi sama Abhmmmpp—”
Sebelum Tiara sempat menyebut nama Aby, cepat-cepat Jingga menutup mulutnya dengan tangan.
“Ih, nggak usah ngegas! Entar ada yang denger!” kata Jingga, gemas.
Tiara mengangguk cepat. Setelah Jingga menarik tangannya, cewek berponi itu bertanya lagi, “Masa sih Mbak Meta mau sama dia? Dia kan sombong, nggak punya hati, pinter juga enggak, males ngerjain tugas sekolah, sok paling berkuasa, sok paling cakep, semuanya deh!”
Jingga mengangkat bahu. “Kelebihan tuh cowok cuma satu, kelewatan cakep doang.”
Tiara setuju untuk yang satu itu. Alby Okta Keanu memang gantengnya keterlaluan. Aby punya fans yang bejibun. Setiap pagi, tak jarang mereka melihat cewek-cewek pergi ke kelas Aby untuk menaruh cokelat di atas mejanya.
Bahkan, ketika Aby melintasi koridor kelas, beberapa cewek bakal menegurnya, mencari-cari perhatian.
Tapi, dasar tuh cowok emang sok cakep, nggak pernah mau senyum kalau disenyumin. Buang muka malah! Nyebelin kan?
Nyebelin dong! Tiara salah satu mantan fans-nya, by the way.
“Lagian nih ya, nggak mungkin cowok kayak Aby mau pacaran sama cewek yang lebih tua dari dia. Ya, meskipun, kakak lo itu masih masuk dalam kategori baby face, menurut gue Aby nggak bakalan mau. Gengsinya itu kan setinggi langit ketujuh,” kata Tiara mulai mengada-ada.
“Iya, sih. Tapi, masalahnya ... Mbak Meta ngancem aku!”
“Ngancem gimana?”
“Dia tau aku suka sama Biru.”
Tiara mengebrak meja dan menjetikkan jarinya. “Mati! Kalau udah gitu urusannya, mau nggak mau lo harus ikutin kemauannya dia! Lo tau sendirilah kakak lo itu siapa, Mother Alien. Bukan enggak mungkin dia dateng ke sini terus bilang sama semua penduduk bumi kalo lo naksir Biru.”
Mungkin Tiara berlebihan, tapi itu bisa saja terjadi. Meta kan orangnya nekad dan nggak tahu malu.
“Tapi, aku tuh nggak mau berurusan sama dia! Kamu juga tau kan siapa Aby? Baby Alien!”
“Hahahaha!”
“Kok malah ketawa? Kamu nggak kasihan apa lihat aku kayak makan buah Simalakama gini?”
“Enggak sih, lucu aja. Kayaknya mereka bakal cocok deh. Sama-sama nyebelin gitu. Hahaha!”
Jingga kembali cemberut. Cerita sama Tiara ternyata bukannya mengurangi bebannya, malah bertambah lantaran ditakut-takuti sama dia. Masa iya, Jingga harus melanjutkan misi PDKT unfaedah ini?
“Tapi, nih ya, Ngga. Bukannya bagus ya kalo mbak Meta jadian sama Aby. Lo kan jadi auto deket gitu sama Biru?”
“Mau ditaruh di mana coba nih muka kalo sampe Biru tau aku punya sodara kayak mbak Meta? Yang ada, aku tuh malu, tauk!”
“Iya juga sih, ya. Kalo gue jadi elo, pasti bingung juga. Ya udah deh, gue cuma bisa bilang, sabar ya, ini cobaan. Orang jomblo cobaannya emang banyak,” seru Tiara sambil menepuk-nepuk pundak Jingga.
Jingga memberengut. Sepertinya, dia memang nggak punya pilihan lain. Mau tak mau, dia harus bantuin kakaknya itu untuk dekat sama cowok paling songong semuka bumi bernama Aby itu. Ih, nyebelin banget deh.
Gimana caranya coba?
“Caranya gini aja, kita curi HP-nya Aby. Terus, kita ambil nomernya. Gimana?” usul Tiara, sambil mereka berjalan menuju gerbang sekolah. Saat itu, jam sekolah sudah berakhir.
“Hah? Gila apa? Entar kalo kita digebukin gimana? Kamu tahu kan kalau Aby itu milik negara?”
“Yeee, lebay banget sih lo. Lagian, mau minta sama siapa coba nomernya dia? Sama temen-temennya? Mereka kenal kita aja, enggak. Ngelihat gue aja nih, kayak ngelihat spesies baru lahir.”
“Hmmm, auk ah, gelap!”
Sesaat Jingga menyelesaikan ucapannya, tiba-tiba, sebuah mobil berwarna merah yang amat sangat familier berhenti di seberang jalan.
“Perasaanku kok nggak enak, ya?” kata Jingga, apalagi sewaktu melihat si pemilik mobil turun dari sana.
“Anjir! Itu Mbak Meta, kan?!” seru Tiara, kaget bukan main.
Bagaimana tidak? Meta saat itu muncul mengenakan seragam putih abu-abu, tas sekolah, dengan rambut tergerai, yang kalau boleh jujur tapi jangan sampai orangnya tahu, membuatnya seperti cewek populer di sekolahan.
“Ya Allah, Ngga! Kakak lo emang bener-bener niat deketin Aby? Anjir, nekad banget tuh orang!”
Selagi Tiara masih terkejut dan terheran-heran, Jingga justru speechless.
***
Hai, gaes, aku minta tolong, jangan lupa tekan bintangnya, ya. Dan juga komentarnya, yeeey. Makasih.