"Ini, Gaska. Cogan juga. Orangnya kaleeem banget. Kalau dia, baru temen satu kelasku. Jadi, aku tahulah siapa yang lagi deket sama dia di sekolah," jelas Jingga ketika menunjukkan foto seorang cowok berlesung pipi.
Meta manggut-manggut. "Oke juga nih bocah daripada si Albani. Ya udah deh, besok Mbak ke sekolah kamu, ya!"
Jingga memelotot, kaget. "Ngapain?"
"Udah nggak usah banyak tanya. Pokoknya, besok Mbak ke sekolah kamu!" Setelah berkata begitu, Meta langsung bangkit dan pergi dengan wajah berseri-seri.
"Awas aja kalau sampe bawa-bawa aku buat PDKT!" gerutu Jingga sepeninggal Meta.
***
Keesokan harinya, Jingga kaget bukan main sewaktu melihat mobil Meta parkir di dekat gerbang sekolahnya. Astaga! Jingga tidak mengira kalau Meta serius akan datang ke sekolahnya demi mencari berondong.
Aduh! Bagaimana ini?
"Woi, Jingga! Ngapain lo di situ?" panggil seseorang dari arah belakangnya.
Jingga menoleh ke suara itu, dan mendapati Tiara menatapnya penuh tanya.
"Ngapain lo bengong di pojokan gitu? Bukannya pulang."
Jingga terkekeh. "Iya, ini mau pulang. Kamu udah dijemput emang?"
"Belum. Ke depan, yuk!" Tiara menariknya menuju halaman parkir.
Jingga menurut, agak was-was juga ketika matanya melirik ke mobil berwarna putih di dekat sana. Sepertinya, Meta masih ada di dalam, mungkin sedang menunggunya. Dan, syukurlah, sampai detik ini, kakaknya itu belum melihatnya.
"Eh, gue duluan, ya. Udah dijemput!" Tiara kemudian berlalu, meninggalkannya sendiri di dekat pos satpam.
"Mbak Meta ngapain sih ke sini?!" Jingga mondar-mandir, bingung harus pulang lewat mana.
Masalahnya sih satu : nanti, kalau Meta sampai melihatnya, perempuan itu pasti turun, terus memaksanya memanggil cowok-cowok yang kemarin malam diceritakannya. Kan, runyam kalau sampai mereka tahu Meta itu kakaknya. Maksudnya, Jingga tidak mau kalau cowok-cowok itu menganggap kakaknya ganjen? Gila? Atau lebih parahnya... p*****l?
Tidak mungkin juga sih dibilang p*****l, karena sebenarnya umur mereka hanya beda enam atau tujuh tahunan. Lagipula, tampang kakaknya itu masih imut-imut kok. Oh, ya, soal ini Jingga tidak mau mengakuinya di depan Meta. Plis, nggak bakal.
"Jinggaaaaa!"
Haduh!
Gaswat!
Ragu-ragu, Jingga menoleh ke suara yang baru saja memanggilnya itu. Tuh, benar, kan? Orangnya langsung turun!
Dan lihat caranya berpakaian? Apa-apaan itu, kayak selebritis saja! Mencolok banget, sih? Ngapain juga pakai make up semenor itu?
Katanya mau cari berondong, tapi kenapa bergaya seperti tante-tante? Duh, Jingga benar-benar kesal melihatnya.
"Kamu Jingga, bukan?"
Apaan lagi nih?
Jingga menoleh ke sana kemari, dan sekarang, hampir semua orang melihat ke arahnya. Mungkin, sebenarnya mereka sedang melihat kakaknya yang super modis itu.
"Hah?"
Meta tersenyum. "Kamu Jingga, kan?"
"Mbak Meta kenapa, sih?" tanya Jingga, keheranan.
"Ih, b**o! Kamu malu, kan, Mbak datang ke sini? Kenapa? Gara-gara pakai baju kayak gini?"
Sebenarnya, tidak ada masalah dengan pakaian yang dikenakan Meta. Ehm... hanya saja, di mata Jingga, terlihat berlebihan. Apa mungkin karena Jingga tidak feminim seperti Meta, ya? Jadi, kesannya mengenakan sepatu hak tinggi, tas mahal, aksesoris yang bling-bling, dan bulu mata anti badai, itu nggak banget.
"Mbak dari mana?"
"Dari kantor. Sengaja mau ke sini."
"Mau ngapain?"
"Cari cogan, lah!"
"Kan, aku udah kasih tahu ID LINE mereka. Kenapa nggak PDKT lewat sana aja, sih? Kenapa juga harus ke sini?"
Meta mendengus malas. "Enakan ketemu langsung! Mau lihat aslinya."
Jingga mendecakkan lidah. Harusnya dia ingat, kalau kakaknya itu orang yang nekat dan semua keinginannya harus tercapai.
"Si Albani udah pulang dari tadi," Jingga memberi informasi tanpa diminta. "Gaska kayaknya juga udah."
"Itu... itu... siapa?"
Jingga menoleh ke arah yang ditunjuk Meta dengan dagunya yang lancip. Mendadak, jantung Jingga berdegup kencang begitu dilihatnya lima orang remaja seumurnya berjalan menuju tempat parkir. Sebenarnya, hanya satu yang membuat jantungnya bereaksi demikian, yaitu cowok yang memakai jaket abu-abu.
"Yang mana?" Jingga lega ia bisa mendengar suaranya lagi, meski agak gemetar.
"Itu, yang lagi ketawa. Mirip cowok yang kemarin kamu bilang itu... yang namanya--"
"Iya, itu yang namanya Alby."
Meta tidak bisa menahan diri untuk tidak tersenyum lebar. Dan, tolong, mengapa rasanya... Meta seperti jatuh cinta pada pandangan pertama? Baiklah, mari lupakan sejenak kalau ia adalah seorang perempuan dewasa. Untuk saat ini, anggap saja dia anak ABG yang sedang dalam masa puber.
"Eh, gila dia cakep banget. Lebih cakep aslinya! Panggil dong, panggil, suruh ke sini!"
Jingga memelotot, tidak percaya dengan sikap agresif Meta. "Nggak! Yang bener aja deh, Mbak! Kan, aku udah bilang, jangan sama dia!"
"Tapi, dia keren bangeeeet!"
"Iya, emang. Tapi, nggak mungkin Mbak bisa jadian sama dia. Nggak- mungkin!" Jingga memberi penekanan pada kata terakhirnya.
"Masa? Ya udah, kalau gitu yang pakai jaket aja. Kalau dia gimana?"
Jingga langsung gelagapan. "Enggak. Enggak. Yang itu juga enggak!"
"Kenapa, lagi?"
"Itu... Biru," kata Jingga. Matanya menyiratkan sebuah kekaguman yang begitu dalam sewaktu menyebut nama itu. "Dia, ribet."
"Ribet gimana?"
"Pokoknya, ribet. Yang cowok satu lagi itu juga jangan."
Cowok-satu-lagi, yang dimaksud Jingga adalah cowok yang memakai topi. Namanya Adera, anak basket yang juga jago nyanyi.
"Ck! Apaan, sih? Masa semuanya nggak boleh? Ya udah, sekarang mending kamu pulang sana!"
"Terus, Mbak mau ngapain?"
"Ada, deh. Mau tahu aja!".
Tak disangka-sangka, Meta berjalan ke arah cowok berambut cokelat berantakan yang bernama Alby itu, atau yang akrab dipanggil Aby. Kebetulan, dia baru saja ditinggal empat temannya. Jadi, ini kesempatan Meta untuk apa ya, istilahnya? PDKT?
Mati!
Kalau sudah begini, lebih baik Jingga pergi. Dia tidak mau melihat hal memalukan yang mungkin akan dilakukan kakaknya yang kurang waras itu.
Oke, baiklah! Kabuuur!
Jingga berjalan cepat ke tempat motornya di parkir, menyalakan mesin secepat kilat, kemudian pergi dengan motornya.
Selagi Jingga mengendarai motornya keluar gerbang, Meta melangkah anggun mendekati Aby. Sesekali, ia mengibaskan rambutnya yang indah dengan cara berlebihan. Sayang, cowok itu belum menyadari kedatangannya. Dia terlalu asik dengan ponselnya.
Karena belum juga berhasil mencuri perhatian Aby, dengan nekat, Meta sengaja menabraknya, sampai cowok itu refleks mundur selangkah. Dan, kesempatan itu diambil Meta untuk menjatuhkan tasnya.
Kena lu, bocah!
Bukan hanya tas, Meta juga sengaja mejatuhkan dirinya ke tanah, menunggu Aby mengulurkan tangannya seperti adegan yang sering terjadi di film-film ataupun sinetron.
"Aduh," Meta merintih karena Aby belum melakukan tindakan pertolongan apa pun.
Justru sebaliknya, Aby malah melangkah dan tanpa sengaja menginjak tangan Meta yang telingkup di tanah. Kurang ajar!
Nyuuut!
Rasa nyeri pada lima jarinya yang cantik, membuat Meta kontan menjerit. "Heh!" serunya, tiba-tiba hilang kendali.
Langkah Aby refleks berhenti. Perlahan, tubuhnya yang jangkung itu berbalik untuk mencari tahu dari mana suara tadi berasal. Dan, ia pun menemukan seorang perempuan cantik sedang berjongkok satu meter darinya, seraya menatapnya dengan muka... kesal?
"Ada apa...?" Aby memiringkan wajahnya ke satu sisi, mengamati Meta dengan seksama. "Tante?" lanjutnya, ragu-ragu.
"A-apa? Tan-te?!"
*****