"Jangan terprovokasi. Nanti kamu yang akan cape sendiri."
Dean menahan tangan Erina yang sepertinya akan berusaha menusukan garpu pada wajah lelaki yang sejak tadi berbicara sembarangan tentangnya. Yah, jika Dean berada di posisinya pun ia pasti sudah menghajarnya hingga pingsan atau mati?
"Jangan meladeni anjing yang sedang menggonggong." Ucap Dean santai sambil melepaskan pegangannya pada tangan Erina.
"Apa anjing menggonggong? Kau tidak tau siapa aku?" Seru Andre kesal.
"Apakah aku harus mengetahuinya?" balas Dean cuek.
Dean lalu menggenggam tangan Erina dengan lembut. "Jangan di pikirkan."
"Ternyata kamu sudah melupakan masa lalumu?" Andre tersenyum mengejek. "jadi dia pacarmu? Kau jangan tertipu dengan wajah cantiknya. Yang aku katakan tadi semuanya adalah benar."
Dean mengangkat bahunya acuh. "Aku tidak masalah dengan itu. Kenapa kau yang banyak omong?"
Lelaki yang sejak tadi menghina Erina kini terdiam, entah berpikir atau sedang memikirkan hinaan apalagi yang akan keluar dari mulut kotornya. Erina yang sepertinya sedang tidak sadar dengan genggaman tangan Dean membuatnya mengulum senyum dan terpikirkan satu ide yang dapat menguntungkan dirinya.
Dean mengusap lembut lengan Erina dan berkata. "Erina pasti kamu sakit hati, bukan? Katakan saja apa yang kamu inginkan, pasti akan aku berikan."
Erina yang berada di sebelahnya terlihat syok dengan perkataan Dean. Dalam hati ia tertawa puas, karena kapan lagi bisa mempermainkan Erina di depan teman-temannya. Erina yang kini sadar lalu mencoba melepaskan genggaman tangannya dari Dean, namun Dean dengan senyum licik yang tersungging di bibirnya malah menggenggam tangan Erina semakin erat.
"Sepertinya kamu makan tidak benar karena terganggu oleh lelaki ini." Dean melirik isi piring Erina yang hampir tersisa setengahnya lagi. "setelah ini kita pergi makan ke tempat kesukaanmu." lanjutnya tak lupa dengan menyunggingkan senyuman yang hangat. Erina hanya memutar bola matanya dengan kesal sambil mencoba kembali menarik tangannya.
"Kalian berdua tidak menganggapku? geram Andre.
Sepertinya diamnya itu untuk mengeluarkan amarahnya. Kini Andre yang duduk di sebelah Erina bangkit berdiri dan mengangkat tangannya seperti akan memukul Erina. Dengan sigap Dean lalu menarik Erina ke dalam pelukannya dan mengambil gelas yang berada di atas meja dan menyiramkannya pada wajah Andre.
Andre terlonjak kaget sambil mengusap wajahnya yang kini sudah basah. "Dasar b******k, siapa kau sampai berani seperti ini?"
Sebelum Andre akan menyerang Dean, datang dua orang pria yang badannya cukup besar dan memakai baju serba hitam yang memegang kedua tangan Andre.
"Lepaskan aku." teriak Andre.
"Maaf pak anda tidak boleh membuat keributan disini, mari ikut kami keluar." kata salah satu pria berbaju serba hitam.
Andre mencoba melepaskan dirinya dari dua pria tersebut, namun karena perbandingan yang sangat jauh antara badannya yang kurus dengan kedua orang yang sedang menahannya tentunya Andre kalah telak.
Ia berhenti mencoba melepaskan diri dan berteriak. "Dia yang menyiramku, kenapa aku yang di seret keluar dari sini?"
"Mohon tenang pak. Jika bapak tidak bisa tenang kami bisa saja berbuat kasar."
"Ah baiklah bengsek aku akan keluar. Dasar kalian b******k, tidak tahu malu."
"Jangan pernah ganggu kami lagi." kata Dean sambil menatap tajam pada Andre.
Setelah itu Andre di bawa keluar sambil terus mengeluarkan kata-k********r dan sumpah serapah.
***
"Kamu tidak apa-apa, Erina?" Tanya Rika yang kini telah berada di samping Erina kembali.
Erina mengangguk pelan. "Ya, aku tidak apa-apa hanya sedikit kaget."
Dean melepaskan pelukannya dan Erina pun sepertinya baru sadar bahwa dirinya di peluk oleh Dean karena kejadian tadi yang membuatnya sangat kaget.
Sani ikut berdiri di sebelah Rika dan wajah mereka terlihat sangat panik dan ketakutan. Yah, siapapun yang melihat kejadian tadi pastilah menjadi takut. Erina pun tidak menyangka bahwa Andre akan berbuat nekat seperti tadi. Meskipun tidak mau mengakuinya namun Erina merasa terselamatkan oleh Dean yang melindunginya.
"Tidak tahu malu, datang-datang sudah membuat keributan." Gerutu Sani.
"Tapi lihat ini." Kata Rika dan menyodorkan kartu nama yang di berikan Andre pada Dean. "Dia bekerja di perusahaanmu."
Dean membaca sekilas kartu nama tersebut dan memberikan kartu nama pada sekertarisnya. Mereka berdua saling pandang lalu menatap Erina kembali.
"Sepertinya ada kesalahan. Karena seingat saya, di perusahaan tidak ada karyawan tadi." Kata sekertaris Dean.
"Kesalahan gimana?" Kata Sani penasaran.
"Kami sering mendapatkan orang-orang yang mengaku bekerja di perusahaan. Sangat banyak orang yang membuat kartu nama seperti itu." Jelas sekertaris Dean.
Rika dan Sani hanya mengangguk-anggukan kepalanya.
"Oh omong-omong sejak kapan kalian dekat?" Tanya Rika curiga.
"Kami sama sekali tidak dekat." Jawab Erina cepat.
Erina memutar bola matanya, ia lupa pada Rika yang melihat dari awal kejadian tadi. Mungkin yang baru saja melihat perlakuan Dean pada Erina akan menganggapnya kami memang memiliki hubungan spesial. Namun kenyataannya salah besar, kerjaan mereka setiap bertemu adalah bertengkar. Dean merupakan manusia yang sangat menyebalkan dan juga memiliki banyak topeng di wajahnya.
"Tapi wajah Pak Dean menunjukan hal yang berbeda." Ucap Sani.
Erina lalu melirik pada Dean yang kini terlihat tersenyum malu. Jijik, sejak kapan dia bisa berekspresi seperti itu?
"Kenapa wajahmu berekspresi seperti itu? Cepat hilangkan senyuman jelek itu." Kata Erina sambil mengguncang-guncang bahu Dean.
Dean berdehem pelan. "Sebenarnya saya sedang mencoba mendekati Erina."
Erina berhenti mengguncang bahu Dean dan seketika meja yang berisikan lima orang tersebut langsung hening. Pandangan mereka semua kini tertuju pada Dean. Erina melirik sekilas ke arah Rika dan Sani yang membuka lebar mulutnya. Sedangkan saat Erina melirik sekertaris Dean ia hanya menyunggingkan senyuman lebar.
Erina langsung melihat ke arah Rika dan Sani. "Jangan percaya dengan apa yang di katakannya. Dia berbohong." Kata Erina panik.
"Aku tidak percaya, akhirnya Erina-ku mendapatkan pria yang benar-benar mencintainya." Ucap Rika terharu.
"Untuk apa aku berbohong? Dua hari yang lalu pun aku mengejarmu untuk mengajak menikah." Kata Dean dengan senyum yang di buat setulus mungkin, membuat Erina merasa mual dengan sandiwaranya.
Dean memegang tangan Erina dengan lembut. "Aku berjanji akan menjagamu dengan baik. Jadi mulai sekarang jangan menghindar lagi." Dean mencium punggung tangan Erina dan mendapat tepuk tangan yang sangat keras dari Rika dan Sani.
"Jadi makan malam kemarin adalah lamaran? Tuh kan Bu Rika saya bukan sekedar gosip. Mereka beneran pacaran." Cerocos Sani.
Erina membuka mulut mencoba untuk menjelaskan kebohongan yang telah Dean katakan. Namun Dean langsung menarik lengan Erina sampai berdiri.
"Jadi kami permisi dulu. Saya mau meyakinkan Erina agar mau menikah dengan saya."
Erina hanya bisa pasrah saat Dean membawanya keluar dari ballroom. Ia pun belum sempat pamitan pada Pak Bimo dan teman-temannya yang lain. Ahh, Dean sangat keterlaluan membuat Erina menjadi orang yang b**o dengan kebohongan yang di katakannya. Belum sempat ia menjelaskan, dirinya malah sudah di tarik keluar oleh Dean. Pasti teman-temannya akan berpikiran yang bukan-bukan.
"Kamu mau membawaku kemana, hah?" Geram Erina lalu menarik lengannya dengan kasar. "Dasar gila, kenapa berbicara bohong seperti itu di depan teman-temanku?"
Dean berdecak kesal. "Harusnya kau berterima kasih karena aku sudah menolongmu dari lelaki gila dan pertanyaan teman-temanmu."
"Aku tidak minta bantuanmu." Seru Erina.
"Tapi kelihatannya kamu butuh bantuanku, tuh?" Ejek Dean. "Coba bayangkan jika kamu jadi menusuk wajahnya dengan garpu, yang ada kamu akan masuk penjara. Memangnya kamu siap jika masuk penjara?"
Erina terdiam dalam hati ia membenarkan perkataan Dean. Jika Erina benar menusuk Andre mungkin saja di akan masuk penjara dan bagaimana dengan nasib kedua orangtuanya? Erina tidak menyangka bahwa Dean memikirkannya sampai kesana.
"Jika kamu masuk penjara, sudah pasti kamu akan terlambat membayar hutang."
Erina berdecak kesal. "Dasar lelaki kurang ajar." Dean hanya mengangkat bahunya acuh. "Kalau bicara yang jelas." Gumam Erina.
"Apa?"
"Aku tau tadi kamu tidak membantuku." Kata Erina. "Kamu hanya membuat aku menjadi umpan. Sebenarnya kamu ingin membujang seumur hidup makanya ingin berpura-pura menikah dan berkata seperti tadi di depan teman-temanku. Memangnya aku tidak tau?"
Dean mengangguk-anggukan kepalanya. "Ah kamu jadi semakin pintar. Baguslah jadi aku tidak perlu susah payah menjelaskan lagi padamu."
"Dari tadi omonganmu sangat menyebalkan."
Erina mencoba memukul-mukul bahu Dean yang lebih tinggi darinya. Dean hanya pura-pura menguap dan memundurkan badannya, tidak ada satupun pukulan Erina yang mengenai bahunya. Semakin membuat Erina kesal.
"Sudahlah menyerah saja." Dean memegang kedua tangan Erina yang sedang memukul bahunya. "Lebih baik kita makan."
Erina menarik kedua lengannya dan menyipitkan matanya curiga. Untuk apa juga Dean mengajaknya makan?
"Kamu pikir saat ini aku bisa menelan makanan jika bersamamu?"
Dean memutar kedua bola matanya. "Aku tau makanmu banyak. Gara-gara si b******k tadi makanmu jadi terganggu bukan?" Erina mengangguk kecil. "Kalo tidak mau makan, kita minum kopi saja." Tawar Dean.
Erina masih mematung di tempatnya berdiri sambil memerhatikan punggung Dean yang kini berjalan menjauh darinya. Hari ini Erina merasa berterima kasih pada Dean yang telah menolongnya, meskipun kata-katanya terasa pedas. Ternyata di balik sifatnya yang sombong dan arogan, ia masih memiliki sifat peduli.
Dean membalikkan badannya dan berkata. "Ayo cepat. Aku yang akan membayarnya."
"Iya aku akan pesan makanan mahal." Erina lalu berjalan di belakang Dean.