Sesampainya di dalam mobil hitam mewahnya, Dean tidak langsung menyalakan mobilnya. Matanya tertuju lurus pada restoran tempat kerja Erina. Ia berdecak kesal karena Erina belum juga mau menerima tawarannya untuk menikah kontrak selama satu tahun dengannya. Mungkin jika Dean berada di posisi Erina ia pun tidak mau menerima tawaran gila dari orang yang di bencinya. Namun jika tidak memiliki pilihan dan juga uang, Dean mungkin akan terpaksa menerimanya dari pada mempertahankan egonya.
Dean memejamkan kedua matanya sambil memijit-mijit pelipisnya. Pikirannya melayang pada dua minggu yang lalu saat papa tirinya, Hardi, memintanya untuk datang ke ruang kerjanya. Karena seingat Dean jika papa ingin membicarakan suatu hal yang penting pasti akan menyuruhnya kesana.
Ketika Dean memasuki ruang kerja, Papa sedang duduk di kursi hitam besar, kedua matanya memperhatikan Dean yang melangkah mendekati meja kerja.
"Ada apa?" tanya Dean langsung setelah sampai di depan meja kerja papa.
Papa menautkan jari-jarinya di atas meja dan memasang raut wajah yang serius. "Aku akan memberi waktu satu bulan, menikahlah dengan seorang wanita atau mininal kamu bawakan calon istri yang akan di nikahi."
Jika Dean sedang minum, mungkin saja dia akan menyemburkan minuman itu ke hadapan papa tirinya. Namun sayangnya dia hanya bisa berdiri mematung dan menatap tak percaya pada papanya.
"Jangan bicara yang tidak masuk akal. Papa tau sendiri bahwa saya tidak mempunyai pacar." Jawab Dean sedikit kesal. "lagipula saya tidak berniat untuk menikah."
Papa menyenderkan punggung di kursi kerjanya. "Kalau begitu kamu jangan pernah bermimpi untuk mendapatkan warisan." ucap papa santai.
"Apa?" seru Dean tak percaya bahwa pembicaraannya ini menyangkut pautkan pada warisan.
"Aku akan menarik semua fasilitas yang telah di berikan padamu dalam waktu satu bulan lagi." ancam papa.
"Anda melakukan ini mentang-mentang saya bukan anak kandung da..."
"Kamu membalas kebaikanku yang sudah membesarkanmu dengan menjadi musuhku?" sela papa sambil menatap tajam pada Dean.
"Bukan seperti it..."
"Nenekmu," lirihnya. "kata dokter hanya bisa bertahan selama beberapa bulan lagi." lanjut papa dengan nada sedih.
Dean terdiam dan tak bisa menjawab. Jika sudah menyangkut soal neneknya, Lusi. Dean memilih mengalah, karena meskipun bukan nenek kandungnya, Dean sangat menyayangi dan menghormati beliau.
Dari seluruh keluarganya hanya neneknya yang paling mengerti dan sangat menyayangi dirinya. Bahkan Melisa, ibu kandungnya pun tidak pernah mengerti dan menyayangi Dean seperti neneknya.
"Jika kamu menyayangi nenekmu, lakukan apa yang aku katakan. Meskipun kamu harus berpura-pura menikah."
Deringan pada ponselnya yang cukup keras membawanya kembali pada kehidupan kini. Dean membuka kedua matanya lalu merogoh saku celana hitamnya untuk mengambil ponselnya.
"Halo." jawab Dean. "saya akan segera kesana. Tunggu sepuluh menit lagi." Dean mematikan sambungan telepon dan menyalakan mobilnya. Ia pun langsung tancap gas menuju kantornya.
***
Erina menatap pantulan wajahnya pada cermin, dress berwarna merah tua yang di pakainya hari ini melekat sempurna di badan ramping Erina. Make-up pada wajahnya masih cukup bagus meskipun keringat membasahi dahinya. Sudah tak terhitung berapa banyak hari ini ia mendesah, Erina sudah menduga bahwa dirinya tidak akan memiliki hari yang damai jika Sani dan Lala membuat gosip yang aneh tentang dirinya pada Rika.
Gara-gara dua hari yang lalu Dean mengajaknya makan malam di restoran membuat Rika yang tidak mengetahui Dean terus mengintrogasinya. Pasalnya Rika sangat mengetahui bahwa Erina tidak memiliki kekasih, bahkan Rika pun mengetahui jika Erina tidak sedang dekat dengan seorang lelaki. Karena terakhir pertemuan dengan Riza yang berakhir memarahinya pun Erina menceritakannya pada Rika.
Sejak ia menginjakan kakinya di ballroom hotel tempat pernikahan anak pertama Pak Bimo, tak henti-hentinya Rika mengikuti dan menanyakan soal Dean padanya. Beruntung Doni yang mengerti ketidaknyamannya langsung membawa Rika untuk berkenalan dengan beberapa temannya yang datang. Mendapatkan kesempatan untuk bebas, akhirnya Erina memilih untuk bersembunyi di toilet untuk menghindari Rika sementara.
Erina melirik jam di ponselnya lalu menarik nafas perlahan, tanpa sadar sudah cukup lama ia bersembunyi di toilet dengan berat hati Erina pun melangkahkan kaki keluar menuju ballroom.
"Erina."
Erina membalikkan badannya ketika mendengar seseorang memanggil namanya. Ia mendapati Rika sedang berjalan dengan cepat menghampiri dirinya. Erina hanya bisa mengulum senyum melihat kegigihan Rika yang sangat ingin mengetahui tentang Dean. Yah, sepertinya sekarang ia harus menceritakan tentang Dean, pikirnya.
"Kamu tidak mengangkat teleponku!!" Geram Rika.
Erina hanya terkekeh geli lalu mengangkat kedua tanganya tanda ia menyerah. "Baiklah nanti aku akan ceritakan. Ayo masuk sebentar lagi acaranya di mulai." Erina menggandeng lengan Rika masuk ke dalam. Doni hanya mengikuti kami berdua di belakang sambil mengobrol dengan salah satu kenalannya.
Suasana ballroom seketika hening ketika kedua mempelai telah duduk di hadapan penghulu. Mempelai pria lalu menjabat lengan penghulu dan mulai mengucapkan ijab kabul.
Erina hanya bisa tersenyum pahit melihat semua proses itu. Dua tahun lalu ia memimpikan hal seperti ini. Bersanding bersama dengan seorang pria yang sangat di cintainya dan juga rasa bahagia karena akan hidup bersama selamanya. Namun semua itu hanya sebuah kenangan yang tidak akan terjadi. Karena setelah kejadian dua tahun yang lalu, Erina sudah memutuskan untuk tidak ingin menikah selamanya.
Tangan Rika menggenggam lengan Erina seakan mengetahui perasaannya yang saat ini sedang sedih. Rika membisikan kata 'semangat' dengan senyuman yang tulus.
"Makasih." Bisik Erina.
"Your welcome, Honey."
Kami sama-sama terkekeh lalu memfokuskan kembali pada pengantin pria yang kini sedang memakaikan cincin di jari manis sang pengantin wanita.
Erina yang sedang berjalan untuk mengambil makanan karena perutnya sudah keroncongan harus mendesah kecewa ketika Rika menarik lengannya dengan paksa. Bukannya ia tidak ingin berfoto dengan pengantin dan juga Pak Bimo, namun rasa lapar tidak bisa di tahannya. Erina hanya bisa pasrah saat Rika kini menggandeng lengannya dengan erat.
"Eh liat lelaki itu. Di arah jam dua belas." Bisik Rika ketika mereka sedang mengantre untuk berfoto dan besalaman dengan pengantin.
Erina lalu melihat lelaki yang di maksud oleh Rika. Dan betapa terkejutnya ketika melihat lelaki itu adalah Dean. Ia langsung memalingkan wajahnya.
"Ah hari yang sial." Gerutunya pelan. "Rika lebih baik kita makan dulu aja." Pinta Erina. Namun pandangan Rika yang masih tertuju pada Dean sepertinya tidak mendengar ucapannya.
"Dia liat kesini. Gila cakep banget." Seru Rika yang seketika membuat beberapa orang melirik ke arahnya.
Erina menutup wajah dengan kedua tangannya, Rika memang sahabat yang baik dan pengertian namun jika sudah menyangkut hal seperti ini ia kadang bisa membuat orang yang berada di sampingnya merasa malu.
"Aduh sumpah ya. Aku bilang juga loh ke Doni." Ancam Erina sambil menggenggam lengan Rika dengan erat. Ia khawatir jika ada kemungkinan Rika akan menghampiri Dean.
Namun mendengar nama Doni di sebut Rika langsung menatap wajah Erina dengan kesal. Meskipun sudah tidak melihat Dean seintens tadi Rika sesekali mencuri pandang melihat Dean.
"Udah punya pacar ngga usah genit-genit liat cowo lain." Kata Erina dan menarik tangan Rika keluar dari antrean.
"Iya bawel." Gerutu Rika. "Terus kenapa kita keluar antrean? Nggak jadi dong foto sama Pak Bimo dan pengantinnya."
Erina berdecak pelan, sepenting apakah berfoto dengan Pak Bimo dan pengantin? Urusan perut lebih utama dan juga menghindari Dean, pikir Erina.
"Nanti kita foto kalo udah sedikit orangnya, kita makan dulu aja." Bujuk Erina. Rika hanya mengangguk pasrah dan tidak banyak komentar.
"Eh tunggu." Rika menghentikan langkahnya otomatis membuat Erina yang sedang memegang tangannya berhenti juga. "Kamu duluan aja, aku mau cari Doni dulu."
Erina melepas genggaman tangannya pada Rika. Ia lalu berjalan ke arah sekumpulan orang di pintu masuk ballroom. Dengan perlahan Erina melirik ke arah Dean yang ternyata masih berada di tempat semula. Erina bisa bernafas lega, ia lalu berjalan cepat untuk mengisi perutnya.
Banyaknya makanan lezat dan terlihat sangat menggiurkan membuat Erina mengambil semua menu yang ingin di cobanya. Kesempatan seperti sekarang ini tidak bisa di sia-siakan Erina, karena kapan lagi bisa makan enak dan juga gratis.
"Ternyata makanmu masih banyak."
Erina yang sedang mengambil makanan langsung menengok ke belakang dan mendapati Dean yang sedang tersenyum sinis. Erina memilih tak menghiraukan dan tetap menyusun makanan di atas piring putihnya.
"Tidak akan ada lelaki yang mau pada wanita yang banyak makan sepertimu." Lanjutnya.
Erina mendengus. "Lalu kenapa kamu mengajakku menikah?"
"Kontrak. Bukan menikah asli."
"Apalagi yang sekarang kamu rencanakan?" Tanya Erina waspada.
Dean mengangkat bahu acuh dan mulai mengambil makanan. "Tidak ada. Aku rekan bisnis menantu Pak Bimo, tentu saja aku di undang."
"Yang benar saja. kamu pikir itu mungkin? Cari alasan yang lebih masuk akal lagi." Erina lalu melirik sekilas pada piring Dean yang begitu rapi menata isi makanannya. Berbeda jauh dengan isi piringnya yang sangat penuh dan tidak tertata rapi.
Dean mengerutkan keningnya. "Terserah kau mau percaya atau tidak itu bukan urusanku."
"Jangan bilang kamu mengikutiku?" Tanya Erina curiga.
"Bukannya kau yang mengikutiku?" jawab Dean balik bertanya.
Erina melotot marah. "Kamu gila? Buat apa juga aku mengikuti kamu." Seru Erina keras membuat beberapa tamu undangan lain melihat ke arahnya. Tidak ingin menjadi pusat perhatian ia lalu berbisik pada Dean. "Baiklah pura-pura tidak mengenalku disini."
Setelah itu Erina lalu pergi meninggalkan Dean dan mencari meja kosong untuk makan. Meja yang di tempati Erina terdapat di dekat live musik dan meja bundar berisikan kursi enam orang ini masih kosong. Erina lalu mengedarkan pandangannya mencari Rika, namun karena terlalu banyaknya tamu ia pun menyerah dan memutuskan untuk mengirim pesan.
Menunggu Rika yang tak kunjung datang, ia pun mulai mencoba makanan yang baru saja di bawanya untuk mengisi perutnya yang terus berbunyi. Tak lama Rika datang bersama Sani. Rika memilih duduk di samping kiri Erina sedangkan Sani duduk di sebelah Rika. Erina melirik sekilas ke arah Sani yang tidak memilih duduk di sebelahnya, ia sangat mengetahui alasannya. Sani dan Lala-lah yang telah membuat gosip dirinya dengan Dean, mereka juga tak segan untuk menceritakan gosip tersebut pada semua pegawai di restoran. Jadi wajar saja jika saat ini ia takut berdekatan dengan Erina, karena setelah gosip itu beredar keesokan harinya Sani dan Lala libur dan hari berikutnya bagian Erina yang libur bekerja. Hari ini bisa bertemu dengan salah satu penyebar gosipnya membuat Erina ingin memarahinya. Namun karena ia tidak mau mempermalukan dirinya untuk yang kedua kali Erina pun memilih diam dan tetap fokus pada makanannya.
"Doni mana?" tanya Erina.
"Oh dia lagi ngobrol sama temennya, katanya nanti nyusul." jawab Rika dengan mulut yang penuh.
Ketika mereka bertiga sedang mengobrol tiba-tiba Rika memberikan isyarat dengan matanya pada Erina untuk melihat ke samping kanannya. Erina yang tidak mengerti hanya menurut dan menengok ke samping kanannya.
"Kenapa kamu duduk disini?" seru Erina.
"Tanya saja pada sekertarisku." Erina lalu melirik seorang laki-laki memakai kacamata yang duduk di sebelah Dean tersenyum ramah ke arahnya. "Dia menyuruhku duduk disini karena mejanya masih kosong." jawab Dean acuh.
Erina membalas dengan senyuman kecil ke arah sekertaris Dean. Ia melirik sekilas pada Rika dan Sani yang kini terlihat penasaran. Namun Erina tidak ambil pusing dan melanjutkan acara makannya.
"Kamu kenal dia? Bukannya dia cowok ganteng yang kita lihat tadi?" tanya Rika.
"Ah itu."
"Pak CEO anda mengenalnya?" tanya sekertaris Dean.
Dean mengangguk dan menjawab. "Saya mengenalnya, dia teman sekolah saya dari SMP sampai SMA."
"Wah keren, kenapa kamu nggak bilang dari tadi sih Erina kalo kenal?" Rika terlihat pura-pura marah namun Erina tahu jika dalam hati ia sangat kegirangan. "Maaf, tapi omong-omong pekerjaannya di bidang apa?"
"Pak Dean ini adalah CEO di perusahaan properti yang cukup terkenal di kota ini."sekertaris Dean lalu memberikan kartu nama pada Rika.
Rika dan Sani lalu membaca kartu nama tersebut dan tersenyum cukup, ah maksudnya sangat lebar sampai Erina bisa melihat mereka pasti akan bertanya-tanya lagi pada Dean.
"Hebat ya masih muda udah jadi CEO." kata Rika kagum. Erina hanya memilih diam, karena saat ini ia hanya ingin mengumpat ke arah Dean yang kini sedang tersenyum puas.
"Anda terlalu memuji." jawab Dean.
"Tapi..."
"Wah siapa ini? Bukankah kamu Rika?"
Tiba-tiba muncul suara yang sangat di kenal Erina. Ia berdiri di belakang Rika dan terus berbicara tanpa henti membuat Rika tidak nyaman.
"Erina juga datang? Kamu jadi tambah cantik." Kata Andre, pegawai yang dulu pernah bekerja dengan Pak Bimo hanya hitungan bulan. Entah apa yang membuatnya keluar, namun banyak gosip buruk tentang dirinya yang beredar di restoran kala itu.
Erina melirik sekilas pada Andre yang kini sedang membujuk Rika agar mengizinkannya duduk di sebelah Erina.
Rika menghembuskan nafas kasar, sepertinya ia tidak ingin berurusan lebih lama dengan Andre dan memilih untuk duduk di sebelah kiri Sani.
"Terima kasih. Aku tau kamu memang sangat pengertian." Ucap Andre girang.
Andre memperhatikan semua orang yang satu meja dengannya, lalu pandangannya berhenti kembali pada Erina.
"Bagaimana kabar Erina-ku?" Andre menyentuh lengan Erina yang berada di atas meja.
"Sejak kapan aku menjadi milikmu?" Erina lalu menarik lengannya dari atas meja.
Andre berdehem dan menggaruk belakang kepalanya yang sepertinya tidak gatal. Ia hanya merasa malu karena ulah Erina yang menarik lengannya tadi.
"Oh omong-omong aku sekarang sudah sukses setelah tidak bekerja dengan Pak Bimo." Ucapnya dengan nada yang terdengar sombong.
Sifat sombongnya sudah keluar, batin Erina.
"Kalian tau sekarang aku bekerja di perusahaan properti yang sangat besar dan aku baru saja di angkat menjadi manajer. Luar biasa bukan? Di umurku yang masih muda aku sudah menjadi seorang manajer." Andre tertawa cukup keras dan membuat semua yang berada satu meja mengernyit.
"Aku ingin melihat kartu namamu." kata Rika.
"Oh tunggu," Andre lalu merogoh saku belakangnya dan memberikan kartu namanya pada Rika, Sani lalu ikut melihat kartu nama tersebut.
"Bukannya ini perusahaan temannya Ibu Erina?" bisik Sani pelan, Rika hanya mengangguk kecil.
"Erina kamu mendengarkan aku bukan? Sekarang aku bukan Andre yang dulu."
"Ya aku mendengarkan." jawab Erina cuek sambil menjauhkan badannya dari Andre yang kini berusaha mendekatkan badannya.
Andre yang tidak puas dengan jawaban Erina membuatnya sedikit kesal. " Bagaimana hubunganmu dengan dokter itu?"
Erina lalu menengok ke arah Andre yang kini memundurkan badannya dari Erina sambil menyeringai.
"Aku dengar dia selingkuh dengan seorang anak pengusaha. Hahaha harusnya sejak awal kamu tidak menjalin hubungan dengan dia jika pada akhirnya kamu hanya di campakan."
"Kau." geram Erina.
Andre tertawa mengejek. "Berarti benar bukan? Kamu sendiri yang bilang akan menikah dengannya. Yah kamu memang terlalu sombong dengan latar belakang keluargamu yang di bawah rata-rata. Padahal semua orang tau setiap malam kamu selalu pergi ke rumahnya."
Erina menatap tajam pada Andre yang terus bicara sembarangan tentang dirinya. Tangan Erina menggenggam garpu dengan kuat dan rasanya ia ingin menusukan garpu tersebut pada wajah Andre terlebih pada mulutnya.
"Kalau begitu kamu seperti barang bekas bukan sih?" Andre bertanya pada Sani yang duduk di sebelahnya, namun Sani tidak menjawabnya.
Sani dan Rika terlihat panik karena semua yang dekat dengannya sangat mengetahui jika membahas mantan adalah hal tabu untuk Erina. Terakhir saat masalah ini tidak sengaja di bahas, Erina langsung marah besar dan memilih mogok berbicara untuk beberapa hari. Kini saat masalah ini di bahas kembali entah apa yang akan Erina lakukan pada Andre yang notabennya orang yang di benci Erina.
"Jika kamu sudah menjadi barang bekas, siapa yang akan menikahimu? Jangan membersihkan dirimu dengan menggoda pria kaya lainnnya, dasar tidak tahu malu."
"Mulutmu itu nggak bisa di jaga ya?" Erina bersiap dengan garpu yang berada di tangannya untuk menusuk wajah Andre. Namun tiba-tiba tangannya di tahan oleh Dean.
"Jangan terprovokasi. Nanti kamu yang akan cape sendiri."