Bab 5

1601 Words
Malam harinya keadaan restoran cukup ramai dan Erina terpaksa harus lembur hari ini karena saat sore Rika harus pulang lebih cepat karena Doni masuk rumah sakit. Janji makan malamnya pun terpaksa harus di batalkan. Erina berdiri di dekat kasir sambil memperhatikan suasana restoran. Biasanya suasana seperti ini dia dapatkan jika menjelang akhir pekan, namun entah mengapa di hari kerja mendadak restoran menjadi ramai. Membuatnya harus pulang larut malam kembali. Pandangan Erina berhenti pada kedua waiter yang terlihat sedang mengobrol di saat restoran sedang sibuk. Erina lalu berjalan ke arah mereka dan berniat untuk menegurnya. Erina berdehem di belakang Sani dan Lala. Keduanya terlonjak kaget dan membalikan badannya. "Bukannya kerja, malah ngegosip disini." kata Erina sambil pura-pura terlihat marah. Sejujurnya Erina bukanlah orang yang mudah marah karena masalah kecil seperti ini. Karena dia pun dulu seorang waiter dan sialnya mendapatkan manajer yang sangat pemarah gara-gara masalah kecil yang dilakukannya. Erina tidak mau menjadi seperti itu, dia ingin di hormati dan bukan di takuti oleh bawahannya. Makanya sebisa mungkin Erina tidak pernah marah, namun beda cerita jika bawahannya tersebut sudah berbuat keterlaluan. Sani dan Lala terlihat salah tingkah, Erina lalu melipat kedua tangan di depan d**a sambil melihat bergantian pada Sani dan Lala. Dia menunggu salah satu dari mereka berdua yang mau menjelaskan mengapa mereka mengobrol disaat restoran sedang ramai. Sani tersenyum kikuk. "Maaf Bu. Kami mau kerja kok." kata Sani. "Terus ngapain disini ngobrol?" tanya Erina heran. Mereka berdua lalu membalikan badan ke arah depan. "Liat Bu lelaki yang duduk sendirian disana." bisik Sani dan menunjuk menggunakan dagunya ke depan. Erina lalu mengikuti arah yang Sani tunjukan. Seorang lelaki sedang duduk sendirian dan terhalang oleh dua meja. Dia memakai kemeja putih dan bagian lengan kemejanya sudah di gulung sampai siku. Erina akui dari samping lelaki itu cukup menarik meskipun wajahnya terlihat tidak terlalu jelas. Apalagi otot lengannya yang terlihat kokoh dan kuat. Erina tersenyum dalam hati, mata Sani dan Lala saat melihat lelaki tampan memang harus di akui jempol. Namun tidak seharusnya mereka berdua mengobrol di saat restoran sedang sibuk. Erina menghembuskan nafas panjang. "Baiklah jadi siapa yang mau kesana untuk menuliskan pesanannya?" tanya Erina. "Saya." "Saya Bu." Sani dan Lala lalu berebut, Erina hanya bisa menggeleng-gelengkan kepalanya. Dia seperti guru TK yang sedang menengahi muridnya yang merebutkan sebuah permen. "Coba kalian tentukan dengan suit jepang?" usul Erina. Sani dan Lala saling pandang lalu mengangguk setuju dengan usulan yang di berikan Erina. Mereka berdua lalu bersiap dengan kepalan tangan di depan d**a. Erina lalu menghitung dari angka satu sampai angka tiga. Sani menjadi pemenang dan melompat kegirangan. Setelah puas mengolok-olok Lala dia lalu berjalan cepat menuju meja lelaki berkemeja putih. "Udah sabar, mungkin bukan jodoh kamu." Erina terkikik geli. "udah kamu ke meja sebelahnya aja. Kali aja masih jomblo." Lala lalu melihat ke arah meja sebelahnya, dan Lala langsung memberengut kesal. Karena meja yang di tunjuk Erina adalah sekumpulan lelaki yang usianya sama dengan usia ayahnya. "Ah masa saya pacaran sama om-om." gerutu Lala. Erina terkekeh lalu mengusap-usap punggung Lala. Setelah puas mengolok Lala, Erina bermaksud untuk pergi ke ruang kerjanya. Namun dari arah belakang Sani memanggilnya. "Ada apa?" tanya Erina ketika Sani sudah sampai di hadapannya. "Anu lelaki tadi ingin di tuliskan pesanannya oleh Bu Erina." kata Sani yang terlihat kecewa. Erina mengerutkan ke alis merasa heran, karena permintaan ini jarang terjadi. Erina lalu melihat ke arah lelaki berkemeja putih yang kini sedang tersenyum simpul ke arahnya. Erina tersentak kaget, karena lelaki tersebut adalah Dean. "Ah sial dia lagi." gumam Erina pelan. "Maaf Bu?" tanya Sani bingung. "Oh bukan apa-apa." jawab Erina. "Liat Bu, dia senyum ke arah sini. Kayanya dia tertarik sama Ibu." ucap Lala, Sani hanya mengangguk setuju. Erina berdecak kesal. Jika dia belum mengetahui sifat asli Dean, mungkin Erina akan luluh seperti Sani dan Lala. Namun karena Erina telah mengetahui sifat aslinya, seratus bahkan seribu persen dia yakin bahwa Dean sedang tersenyum mengejek ke arahnya. "Kamu aja yang tulis pesanannya." gerutu Erina sambil membalikan badannya bersiap untuk pergi ke ruang kerjanya. "Tunggu Bu." Sani menahan lengan Erina. "katanya kalo Ibu ngga mau tulis pesanannya, dia mau lapor ke Pak Bimo." "Biarin aja." Jawab Erina acuh sambil mencoba menarik lengannya, namun tidak berhasil karena Sani memegangnya cukup kuat. "Katanya dia rekan bisnisnya Pak Bimo." Bisik Sani pelan. Erina terdiam dan menghentikan usahanya menarik lengannya. "Bu Erina baru aja di marahin sama Pak Bimo. Kalo sekarang buat masalah lagi, saya takut Ibu di pecat." ucap Sani khawatir. "saya ngga mau kalo Bu Erina sampai di pecat." tambahnya. Erina menghembuskan nafas berat. Perkataan Sani benar, ia tidak ingin di marahi untuk kedua kalinya oleh Pak Bimo dengan kesalahan yang sama. Tapi saat ini Erina benar-benar tidak mau berhadapan dengan Dean. Karena di marahi Pak Bimo saja sudah membuatnya kelelahan, apalagi jika dia harus berhadapan dengan Dean. Mungkin saja bisa membuat tenaganya terkuras habis. Erina lalu memikirkan alasan yang bagus agar dia tidak pergi ke meja Dean. Namun usapan lembut Sani pada lengan Erina membuatnya kembali tersadar dan kembali pada kehidupan nyata. Erina melihat wajah Sani yang khawatir. Akhirnya Erina menyerah dan berkata. "Baiklah saya akan kesana." Sani dan Lala menyunggingkan senyuman lebar. Erina menarik nafas dan menghembuskannya dengan berat. Dia pun lalu berjalan ke meja yang di tempati oleh Dean dengan malas. Dean hanya tersenyum samar saat Erina sampai di hadapannya membawa buku menu. Dean lalu menerima buku menu yang di berikan oleh Erina padanya. "Duduk." Erina memutar kedua bola matanya, karena Dean yang seenaknya memberikan perintah padanya. Erina tetap berdiri dan menantang kedua mata yang kini sedang menatapnya. "Cepat duduk." Dean mengulang kalimatnya, namun Erina tetap tidak bergeming. "baiklah jika kamu tidak mau menggunakan cara baik-baik. Aku bisa menggunakan cara licik." Dean melipat kedua tanganya di depan d**a sambil menyeringai. Ia lalu menaruh buku menu di atas meja dan tangan sebelah kanannya merogoh saku celananya. Erina hanya memperhatikan dan tetap diam. "Aku bisa menghubungi atasamu sekarang jika itu maumu." kata Dean sambil menggoyang-goyangkan ponselnya. "Apa maumu?" geram Erina. Dean mengangkat bahu acuh. "Aku hanya ingin mengobrol sebentar. Jadi cepat duduk, sebelum kesabaranku habis." Erina mendesah pelan lalu duduk di seberang Dean. "Harusnya dari tadi kamu lakukan itu." ucap Dean puas lalu menyimpan ponselnya di atas meja dan meraih buku menu. "Tolong rekomendasikan menu apa yang enak disini." kata Dean sambil melihat-lihat buku menu. "Steak." Dean mengangguk-anggukan kepalanya. "Aku pesan dua," Erina mengernyit. "Kau tidak makan selama dua hari? Kenapa memesan dua steak?" "Hari ini kita akan makan malam bersama." Dean lalu menutup buku menu dan menaruhnya di atas meja. "Kita? Aku ti..." "Jangan menolak." sela Dean cepat. "aku tidak ada maksud lain, hanya mau makan malam." Erina menatap curiga pada Dean karena tidak mungkin orang seperti Dean tidak ada maksud padanya. Terakhir bertemu dengannya pun, Dean meminta Erina untuk menikah dengannya secara tiba-tiba. Jadi wajar saja jika saat ini Erina tidak percaya padanya. "Tidak usah menatapku seperti itu. Aku tidak bertanggung jawab jika kamu jatuh cinta padaku." kata Dean sombong. Erina berdecak kesal, mengalah bukanlah solusi yang tepat untuk menghadapi manusia sombong. Dia harus mengikuti permainan yang akan Dean berikan padanya. "Jangan bicara omong kosong." geram Erina. "aku tidak akan jatuh cinta pada manusia sombong seperti kamu." Dean mengangkat bahu. "Baiklah mari kita buktikan." Erina lalu melambaikan tangan pada Sani untuk datang ke mejanya untuk menulis pesanan mereka berdua. Sani begitu antusias melihat Erina dan Dean yang kini duduk satu meja dan memutuskan untuk makan malam bersama. Karena ini bisa dia jadikan gosip baru dan juga hangat. Setelah Sani pergi, Erina lalu memperhatikan gerak-gerik Dean. Namun Dean hanya duduk santai sambil memainkan ponselnya tanpa berkata sepatah kata pun. Sejujurnya membuat Erina curiga, karena biasanya jika mereka duduk berdua saling berhadapan seperti sekarang pasti selalu saja bertengkar. Namun saat ini tidak ada sepatah kata pun yang ingin Dean ucapkan pada Erina. "Aku sudah bilang, tidak akan bertanggung jawab jika kamu jatuh cinta padaku." ucap Dean sambil tetap menatap layar ponselnya. Erina langsung memalingkan wajahnya ke arah samping sambil mengumpat pelan. Dia tidak menyangka bahwa aksinya yang memperhatikan Dean akan ketahuan. Rasanya Erina ingin menguburkan dirinya saat ini juga. "Tidak usah malu. Aku tahu ketampananku memang membuat semua wanita ingin melihatku, tapi..." Dean menggantung kalimatnya dan menyimpan ponselnya di atas meja. "sayangnya kau bukan tipeku." ejek Dean dan tersenyum simpul. Erina mendengus kesal mendengar ocehan Dean. "Aku tidak menyangka bahwa selama bertahun-tahun tidak bertemu kau berubah menjadi manusia yang terlalu percaya diri." Meskipun pada kenyataannya Dean memang tampan, namun Erina sama sekali tidak mau mengakuinya. Karena bisa saja membuat Dean semakin besar kepala. Tak lama Sani membawa pesanan mereka berdua. Mereka berdua makan dalam keadaan hening. Erina pun memilih fokus pada makanannya dari pada harus memperhatikan Dean seperti sebelumnya. Erina melirik sekilas pada Dean yang telah berhenti makan dan hanya memakan setengah dari steak-nya. Erina lalu melihat steak di piringnya yang tinggal setengah, dia lalu menghentikan makannya dan menyeka sudut bibirnya dengan tisu. "Aku tau makanmu sangat banyak. Jadi habiskan makananmu." ucap Dean. "Aku sudah tidak berselera makan." kilah Erina. Padahal dalam hati Erina masih sangat lapar, tapi karena Dean menghentikan makannya membuat Erina malu jika melanjutkan makanannya sampai habis. "Kalo begitu aku akan bertanya tentang tawaranku tempo hari, apakah kamu sudah memikirkannya?" Tanya Dean. Benar dugaan Erina, tidak mungkin Dean hanya mengajaknya untuk makan malam saja. Pasti ia akan membahas tawarannya tempo hari dan jawabannya tentu saja masih sama yaitu 'Tidak'. "Aku akan tetap membayar hutangku." Dean mengangguk-anggukan kepalanya. "Aku hanya mengingatkan, bahwa waktumu hanya tinggal satu bulan lagi untuk membayar semua hutangmu." Dean tersenyum lalu bangkit berdiri, ia mengeluarkan beberapa lembar uang berwarna merah dan menaruhnya di atas meja. Setelah itu ia berlalu tanpa menghiraukan Erina yang sedang memanggil-manggil namanya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD