Bab 4

1062 Words
Erina hanya bisa duduk lemas saat Pak Bimo memarahinya di ruang kerjanya. Setelah dua hari kehidupannya yang tenang, Pak Bimo akhirnya kembali ke restoran dan langsung memanggil Erina ke ruangannya. Hampir satu jam Erina berada di ruangan Pak Bimo. Telinganya cukup panas mendengar semua rentetan kata kemarahan dari atasannya yang merembet pada kesalahan Erina yang telah lalu. Padahal jika dipikir, atasannya hanya perlu memarahinya tentang sikapnya yang tidak sopan pada rekan kerjanya saja, bukan mengungkit kesalahannya yang telah lalu. Tapi dia tidak bisa protes, karena yang mempunyai jabatan tinggilah yang selalu benar dan menang. Akhirnya Erina bisa bernafas lega setelah Pak Bimo menyuruhnya keluar dari ruangannya. Erina lalu berjalan ke arah ruang kerjanya dengan tidak semangat. Ia sudah menduga bahwa semakin tinggi jabatan semakin tinggi pula tanggung jawabnya. Dulu ketika Erina masih menjadi kasir masalah yang di hadapinya hanya perkara salah hitung yang berakibat dirinya kadang harus mengganti rugi. Ketika menjadi waiter, ia hanya memiliki waktu istirahat yang sedikit. Masalah yang di hadapinya pun pasti adalah kemarahan pengunjung restoran. Tapi kini setelah jabatannya naik, semua masalah pasti harus di hadapinya. Terlebih jika Rika sedang tidak ada, maka sudah pasti Erina yang harus menggantikannya. Namun Erina tetap bersyukur, karena diluar sana masih banyak orang yang tidak seberuntung dirinya. Beberapa langkah lagi sampai ke ruangannya, Erina melihat Sani yang sedang menunggunya dengan tatapan serba salah di depan pintu ruang kerjanya. Erina tersenyum samar dan melanjutkan kembali langkahnya. "Sedang apa kamu disini?" tanya Erina ketika ia berada di hadapan Sani. Sani terlihat ragu lalu menundukkan kepalanya cukup dalam. "Saya mau..." "Ayo masuk. Sepertinya banyak yang ingin kamu katakan." Ucap Erina. Erina lalu membuka pintu kerjanya dan menyuruh Sani untuk masuk. Mendengar suara pintu di buka Rika lalu mendongakkan wajahnya dan melihat Erina dan Sani bergantian. "Oh kamu sudah kembali? Maaf aku tidak bisa membantu. Lihat laporan ini yang tiba-tiba Pak Bimo kasih, sepertinya dia sudah tau jika aku akan membantu kamu." cerocos Rika. Erina terkekeh geli melihat sahabatnya. "Santai aja. Lagian Pak Bimo cuma marahin aja." Rika mengerutkan kening. "Nggak ada potong gaji?" Erina mengangkat bahu acuh. "Ada dong." Melihat Rika yang sepertinya merasa bersalah Erina langsung menambahkan. "Udah tenang aja. Potongannya nggak terlalu besar kok kali ini." Rika membuka mulutnya kembali untuk mengatakan sesuatu, namun Erina langsung mengangkat tangan memberikan tanda agar Rika tidak usah berkata lagi. Rika mengangguk pasrah lalu kembali fokus untuk menyelesaikan pekerjaannya. Perhatian Erina langsung kembali pada Sani. Erina memberikan tanda pada Sani agar duduk di depan meja kerjanya. Sani mengangguk patuh dan mengatur posisi duduknya senyaman mungkin. "Saya mau minta maaf." Sani berhenti beberapa detik sebelum melanjutkan perkataannya. "gara-gara saya Ibu jadi di marahi Pak Bimo. Nanti pas gajian, saya akan kasih sebagian gaji saya buat ganti rugi ke Ibu." Erina mengangguk-anggukan kepalanya. "Kamu yakin? Nominalnya cukup besar loh." Erina melirik sekilas ke arah Rika yang kini sedang mengulum senyum mendengarkan pembicaraannya dengan Sani. Rika sangat mengetahui bahwa saat ini Erina sedang berbohong pada Sani, agar ia tidak memberikan sebagian gajinya pada Erina. "Memangnya berapa kalo saya boleh tau?" tanya Sani takut. Erina mengusap-ngusap dagunya agar terlihat meyakinkan. "Kalo saya itung kira-kira tiga bulan gaji kamu atau lebih?" Sani membelalakan matanya tidak percaya. Sejujurnya potongan gaji yang di berikan oleh Pak Bimo tidak terlalu besar. Namun Erina kini terpaksa harus berbohong pada Sani, agar ia mengurungkan niatnya untuk mengganti rugi. Karena Erina rasa kesalahan kemarin bukan sepenuhnya salah Sani. Ia pun ikut terlibat dan juga sampai membuat rekan Pak Bimo marah, jadi sudah seharusnya Erina yang bertanggung jawab sepenuhnya tentang masalah ini. "Kalo gitu saya cicil aja tiap bulan selama setahun." cicit Sani dengan suara yang sangat pelan. Erina mengulum senyum. "Saya butuh uangnya langsung tanpa cicil, apa kamu bisa?" Erina tidak bisa melihat ekpresi Sani yang sedang terdiam dan menunduk. Namun yang jelas, Sani pasti terkejut dan juga bingung. "Dan saya juga butuh sekarang uangnya, apa kamu sanggup?" goda Erina. Sani mengangkat kepalanya, terlihat wajahnya yang sedikit ketakutan. Erina sangat mengetahui jika gaji di restoran tidak terlalu besar, apalagi Sani hanya seorang waiter. "Saya..." "Udah kamu kembali kerja aja, nggak usah pikirin masalah ini. Soalnya masalah ini juga salah saya juga." potong Erina cepat. Sani masih terdiam di tempatnya menatap wajah Erina dengan ragu. Rika yang sejak tadi mendengar pembicaraan pun angkat suara. "Sudah kamu nurut aja, kalo nggak nurut nanti kamu malah di manfaatin Erina." gurau Rika. Erina melirik ke arah Rika sambil tersenyum simpul. Rika memajukan badannya dan berbisik pada Sani. "Dia lagi butuh pendonor ginjal. Apa kamu sanggup?" Sani langsung menggelengkan kepalanya. "Sepertinya saya nggak bisa kalo begitu." Sani langsung bangkit berdiri dari kursinya. "Kalo begitu saya permisi dulu." Tawa Erina dan Rika langsung pecah melihat Sani yang percaya pada perkataan bohong Rika. Sani yang tidak mengerti menatap bergantian pada kedua atasannya yang kini sedang tertawa terbahak-bahak. "Maaf.." "Kamu liat nggak mukanya langsung ketakutan?" kata Erina di sela tawanya. Rika memegangi perutnya sambil mengusap air mata yang keluar dari ujung matanya dengan punggung tangannya. "Udah kamu kembali kerja sana. Kalo kamu masih disini nanti Rika terus godain kamu." kata Erina setelah tawanya reda. Sani yang kebingungan dengan tingkah kedua atasannya hanya bisa mengangguk kecil dan berjalan cepat meninggalkan ruang kerja atasannya. "Padahal biarkan Sani tetap disini biar aku bisa menggoda dia." kata Rika setelah ia berhenti tertawa. "Gara-gara ini aku jadi butuh hiburan." sambung Rika sambil menunjuk tumpukan kertas yang cukup banyak di hadapannya. "Gimana kalo hari ini aku traktir makan malam?" tawar Erina. Rika mengangguk dengan semangat. "Oke, di tempat biasa." Erina bangkit berdiri lalu menghampiri meja Rika dan mengambil sebagian tumpukan pekerjaan yang di berikan Pak Bimo pada Rika. "Gila ngasih kerjaan kayak yang ngajak berantem gini." Gerutu Erina dan berjalan kembali ke mejanya sambil membawa tumpukan kertas. Rika mengangguk setuju. "Ini sih bukan kerjaan, tapi ngerjain." Erina hanya terkekeh. Erina dan Rika lalu fokus pada setumpuk laporan kerjanya. Tidak ada di antara mereka yang membuka suara sampai dua puluh menit ke depan. Namun Erina yang tidak terbiasa seperti ini langsung mendesah dan membuat Rika meliriknya sekilas. "Oh iya ibuku mengajakmu makan malam besok. Mereka baru pulang liburan, sepertinya akan memberikan oleh-oleh." Kata Rika sambil menghentikan aktivitasnya. Senyum Erina mengembang, karena sudah lama ia tidak bertemu dengan ibu Rika dan mendengar kata oleh-oleh, Erina semakin bersemangat. "Wah aku sudah lama tidak bertemu dengan ibumu. Besok aku akan kesana." Rika menggeleng-gelengkan kepalanya. "Sudah semangat bukan? Cepat selesaikan pekerjaannya." Erina mengangguk lalu kembali menyelesaikan pekerjaannya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD