Bab 3

1272 Words
"Kebiasaanmu mencampuri urusan orang lain ternyata belum berubah, Erina" ucap seorang lelaki tak di kenal Erina yang menggunakan payung hitam di samping halte. Wajah lelaki itu tidak terlihat jelas karena cahaya lampu yang temaram dan juga payung hitamnya yang sedikit menutupi bagian depan wajahnya. Erina menghentikan langkah kakinya, dia lalu menyipitkan matanya mencoba mengingat siapa lelaki yang berada di hadapannya. "Ternyata kamu tetap bodoh seperti zaman sekolah dulu." ejek lelaki itu. Erina langsung memutar kedua matanya dengan kesal. Dia lalu melanjutkan langkah kakinya ke halte yang hanya tinggal beberapa langkah lagi. Dia tidak menyangka akan bertemu kembali dengan Dean, teman sekolahnya saat di SMP dulu yang memiliki sifat sombong dan juga arogan. Mulut pedasnya ternyata sejak dulu tidak berubah. "Ternyata kamu masih hidup." kata Dean sambil berjalan mendekat ke arah Erina. "Bagaimana kabar keluargamu?" Erina berdecak pelan. "Baik, berkatmu." "Bisnis keluargamu?" Erina mengangkat kedua bahu acuh. Dean hanya mengangguk-anggukan kepalanya. Karena Erina yakin Dean pasti mengetahui bahwa bisnis keluarganya tidak ada yang berjalan dengan baik. Hari yang sial, batin Erina. Dia sudah menduga suatu saat Dean akan datang menemuinya untuk menagih hutang. Namun tak di sangkanya bahwa Dean akan datang hari ini. Tepat di saat Erina sedang mengalami hari yang berat. Dan seingat Erina jangka waktu sepuluh tahun pembayaran hutang tepat satu bulan lagi. Tapi mengapa Dean sudah datang untuk menagih sekarang? "Sepertinya kamu mengalami hari yang berat hari ini." tebak Dean. "Kalo kamu tau, lain kali saja kita ngobrol masalah hutangnya." jawab Erina. Tak jauh dari tempatnya berdiri Erina telah melihat bis yang akan di tumpanginya sudah hampir dekat. "Aku orang sibuk jadi mari bicara sebentar denganku di restoran tadi tempat kamu bertemu dengan seorang lelaki." Dean lalu berjalan di tengah hujan yang kini sudah besar ke arah restoran tempat Erina dan Riza bertemu. Erina tersentak kaget karena ternyata Dean mengetahui bahwa ia baru saja bertemu dengan seorang lelaki. Merasa kesal dan tidak memiliki pilihan karena dirinyalah yang memiliki hutang yang sangat besar pada Dean. Ia lalu berjalan cepat menyusul Dean yang kini telah meninggalkannya. "Hei!! Padahal di belakangmu ada wanita yang sedang kehujanan tapi kamu malah menggunakan payung sendirian?" Sungut Erina kesal ketika dia telah menyamakan langkah kakinya dengan Dean. Dean hanya mengedikan bahunya acuh dan tidak menjawab. "Kamu masih kurang ajar, ya?" geram Erina. "Kamu juga masih bermuka tebal." jawab Dean santai. "memangnya sejak kapan kita bisa sedekat itu sampai harus saling berbagi payung?" Erina menganga tak percaya dengan jawaban Dean. Ia tak ingin berlama-lama bersama dengan orang yang menyebalkan seperti Dean. Tanpa pikir panjang Erina lalu berjalan cepat meninggalkan Dean menuju restoran tadi. "Jadi apa yang mau kamu bicarakan?" tanya Erina setelah mereka berdua sampai di restoran dan memilih duduk di paling ujung. "Menikahlah denganku." "Ngga mau." jawab Erina langsung tanpa pikir panjang. Dean mengembuskan nafas, ia sudah menduga akan langsung di tolak. Mana ada wanita yang mau menerima tawaran menikah dari orang yang di bencinya sejak dulu? "Aku akan bicara yang kedua kalinya, Ayo kita menikah." "Kamu sedang mempermainkan aku?" tanya Erina kesal. "Kamu pikir aku orang yang mempunyai banyak waktu luang?" "Oh berarti kamu sudah gila." ucap Erina. "Aku serius dan tidak sedang bercanda." jawab Dean yakin. "Tapi kamu juga tau kalo pernikahan bukan permainan da..." "Kalo kamu bisa bertahan selama satu tahun, aku akan anggap semua hutangmu lunas." sela Dean. Erina terdiam dan menatap mata Dean, mencari kebohongan dari perkataannya. Namun gagal, yang dilihatnya hanya kesungguhan. "Oh, kamu tidak mau melakukannya kalo segini? Sesuai perkataan kamu, pernikahan bukan permaina..." "Jangan mentang-mentang punya uang, kamu bisa seenaknya." geram Erina. Ada apa dengan hari ini? Kenapa semua lelaki yang di temui Erina berbicara seenaknya tanpa memikirkan perasaannya. "Jangan terbawa perasaan." Erina menatap tajam pada Dean. "lagi pula kamu tidak ada keinginan untuk menikah, bukan?" Erina membelalakan matanya. "Bagaimana kamu ta.." "Karena jika kamu ada niat untuk menikah, pasti selama ini kamu tidak akan gagal sampai belasan kali di jodohkan oleh ibumu." jawab Dean sambil menyesap kopinya dengan santai. "Kamu menyelidiki aku?" tanya Erina ragu. Dean mengangkat bahu. "Kamu pikir aku orang yang tidak ada kerjaan yang akan datang tiba-tiba tanpa persiapan?" Erina bangkit berdiri. "Sepertinya bertahun-tahun kita tidak bertemu, kamu menjadi tambah gila." Dean menatap Erina sambil mengerutkan alis. "Bagaimanapun caranya aku akan membayar hutangku. Jadi kamu tidak usah bicara yang tidak masuk akal lagi." "Dengan apa kamu akan membayar hutangmu?" tanya Dean tajam. "menjual ginjal?" Sialan, batin Erina. Dia memang miskin, tapi jika sampai harus menjual ginjal. Bagaimana nasib kedua orangtuanya ke depan? Ingin rasanya ia melempar gelas kopi yang masih penuh dan panas ini pada muka Dean yang kini sedang tersenyum simpul ke arahnya. "Pikirkan kembali. Aku bukan orang yang akan memintamu kembali dengan baik-baik." Dean menyimpan kopinya di atas meja dan bangkit berdiri. Setelah itu ia lalu merogoh saku belakang dan mengeluarkan uang berwarna merah satu lembar dan menyimpannya di atas meja. Tanpa berkata lagi Dean berlalu meninggalkan Erina yang kini memberengut kesal. *** Keesokan paginya Erina sedang duduk di ruang kerjanya sambil menatap kosong pada layar komputer yang berwarna hitam. Semalaman ia susah tidur, karena memikirkan bagaimana caranya membayar hutang pada Dean. Uang yang Erina kumpulkan selama bertahun-tahun untuk membayar hutang, terpaksa di pakainya untuk membayar hutang pada rentenir dan juga biaya terapi ayahnya yang tidak sedikit. Apakah Erina harus menjual ginjal seperti yang di katakan oleh Dean agar bisa membayar hutang? Tapi jika ia melakukan hal itu, Erina tidak bisa bekerja berat dan juga kelelahan seperti sekarang. Erina menggelengkan kepalanya dengan kuat. Mengusir semua pikiran buruk, ia harus mencari cara untuk mendapatkan uang 200 juta dalam waktu kurang dari satu bulan. "Hayoloh pagi-pagi udah ngelamun." Erina langsung mendongak dan melihat Rika kini sedang mengulum senyum dan berjalan ke arah mejanya. Rika lalu menaruh tas tangannya di atas meja dan memperhatikan sahabatnya sambil melipat kedua tangannya di depan d**a. "Kenapa?" tanya Rika khawatir. Tau dirinya akan ketahuan jika berbohong pada Rika, Erina pun menghembuskan nafas berat dan bertanya. "Gimana caranya dapet uang 200 juta kurang dari sebulan?" "Jual ginjal?" Erina berdecak. "Jadi wanita malam? Oh gimana kalo ikut pesugihan gitu," Erina memutar kedua bola matanya, kesal karena sahabatnya malah menanggapi pertanyaannya dengan tidak serius. Rika terkekeh geli lalu duduk di kursinya dan menatap Erina yang kini memberengut kesal. "Lagian pertanyaannya kayak gitu. Kalo kamu butuh uang pinjem aja ke Bank." "Kamu kan tau aku udah ngga punya jaminan kalo pinjem uang ke Bank." kata Erina murung. "Oh aku lupa." Rika menyalakan komputernya dan mengeluarkan ponselnya di dalam tas tangannya. "Emang buat apa uang sebesar gitu? Lagian bukannya hutang kamu di rentenir bentar lagi mau lunas?" Erina menyalakan komputernya dan tidak langsung menjawab. Dia memilih diam untuk memikirkan alasan yang pas untuk menjawab pertanyaan Rika. Bukannya sengaja ingin berbohong. Namun Erina sudah sangat malu pada Rika yang selalu menjadi pendengar cerita kesusahannya. Bahkan Rika juga meminjamkan uang tabungannya untuk membantu Erina membayar sebagian cicilannya pada rentenir yang menaikan bunganya sampai selangit. "Erina." ucap Rika pelan. "Lupakan yang aku katakan tadi." "Erina." ulang Rika tidak sabar. "Baiklah-baiklah." jawab Erina mengalah. "Aku mau membayar hutang pada temanku." "Teman yang mana?" tanya Rika penasaran. Meskipun sudah berteman lama dengan Rika, ada satu hal yang Erina sembunyikan pada Rika. Yaitu tentang Dean, tidak pernah sekalipun Erina menceritakan atau menyebut nama itu di hadapan Rika. Tentang pinjaman uang yang Dean berikan padanya pun, Erina tidak pernah menceritakannya. Karena bukan sesuatu hal yang penting dan juga itu hanya menjadi rahasia keluarganya saja. "Temanku dulu." jawab Erina asal. Rika mengerutkan kening. "Kamu bohong. Mana mungkin..." "Tunggu ada telepon." sela Erina. Dalam hati ia merasa bisa bernafas lega karena terselamatkan dari kecurigaan Rika oleh getaran HP-nya di atas meja. Tinggal memikirkan kembali jawaban yang membuat Rika percaya setelah panggilan telepon ini berakhir.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD