Pagi itu Alina tergesa-gesa pergi ke sekolah karena sudah akan terlambat, tanpa sengaja saat merapikan buku yang akan dibawanya ke sekolah Alina memasukkan buku Diary nya kedalam tas ( Yups benar Diary!! Alina masih setia kepada buku itu sampai-sampai apapun yang dia alami selalu saja ditulis di tiap lembar buku Diary nya ).
Karena sudah sangat terlambat Alina bahkan melewatkan sarapan paginya dan bergegas pergi dengan perut kosong. Seperti hari-hari biasanya Alina tidak pernah pamit kepada Ibunya, dia melewati Ibunya yang sedang duduk di meja makan dan hanya pergi melewainya begitu saja.
Sangat tidak sopan memang perlakuan Alina terhadap Ibunya sendiri itu, dan bisa dibilang sangat tidak pantas untuk di tiru tentunya. Tapi hubungan Alina dengan Ibunya memang tidak pernah baik semenjak kepergian Ayah tercintanya, karena Alina menganggap Ibunya tidak pernah menyayangi dirinya lagi semenjak Ayah tiada.
Nansih (Ibunya Alina) tidak pernah memperhatikan Alina dan bahkan terkesan mengabaikannya tanpa ingin tahu keadaan Alina saat ini bagaimana, tapi jika ada hal yang Nansih ingin Alina lakukan maka dia akan memaksakannya kepada Alina tanpa ingin dibantah ( dan menurut Alina itu sangat menyebalkan dan membuatnya sedih tentunya ).
Jika kamu bertanya apakah Alina anak kandungnya??
Tentu saja itu juga sebenarnya yang selalu menjadi pertanyaan Alina saat ini, dan sampai sekarang yang Alina tau dia memanglah anak kandung dari Ayah dan Ibunya.
~•••~
Akhirnya Alina sampai di sekolah, dia berangkat dengan menaiki kendaraan umum. Setelah turun Alina segera berlari menuju ke gerbang sebelum di tutup oleh pak satpam yang sudah siap siaga di sana. Untung saja Alina tidak terlalu terlambat karena dia sampai lima menit sebelum bel sekolah berbunyi dan pintu gerbang pun masih sedikit terbuka, sehingga Alina masih bisa masuk ke kelas walaupun dengan keadaan yang ngos-ngos an karena berlari agar bisa tiba di kelas sebelum ada guru yang datang. Untungnya saja pengorbanan Alina ini tidak sia-sia, walaupun bel masuk sudah berbunyi tadi saat dia sudah masuk area sekolah tapi beruntungnya belum ada guru mata pelajaran yang masuk kedalam kelasnya.
"Gila kamu Lin, telat lagi?!" Tanya Yulisa yang duduk di depan Alina saat dia baru saja duduk di kursinya.
"Hemh~ Iya nih." Jawab Alina sambil mengatur nafasnya yang masih tersengal-sengal.
Teman sekelasnya yang lain hanya bisa menggeleng-geleng kan kepalanya melihat kelakuan Alina, pasalnya ini bukan pertama kalinya bagi Alina masuk ke kelas dalam kondisi seperti ini. Bagaimana tidak dalam satu minggu ini saja sudah lebih dari empat hari Alina datang hampir terlambat seperti saat ini.
Ya mau bagaimana lagi??
Alina hanya bisa mengandalkan alarm di handphone miliknya itu, dia tidak akan pernah berharap Ibunya akan membangunkan nya seperti orang tua lainnya. Jika pun Ibunya mau membangunkan Alina saat dia telat bangun tidur, Ibunya hanya akan datang dengan segayung air di tangannya dan tanpa basa-basi dia akan langsung menyiramkan nya kepada Alina tanpa merasa kasihan apalagi rasa bersalah. Setelah itu Nansih akan pergi begitu saja tanpa sepatah katapun tanpa melihat atau menghiraukan ekspresi Alina, yah sudahlah mungkin Ibunya Alina memang sedang banyak pikiran sehingga menjadi seperti itu.
~•••~
Saat Alina sedang mengeluarkan buku-buku pelajarannya, Yulisa meminjam buku pelajaran matematika kepada Alina. Lebih tepatnya sih buku PR Matematika, Alina memang bukan anak populer dikelasnya tapi nilai pelajaran Alina cukup lumayan setidaknya dia selalu masuk ranking lima besar. Begitupun juga saat Alina masih SMP, dia tidak pernah kurang dari peringkat ranking 5 teratas di kelasnya. Bahkan Alina sempat mendapat ranking 3 kala itu, sangat membanggakan karena sekolah menengah pertama Alina merupakan sekolah Negri Favorit di kotanya.
Setelah mengambil apa yang Alina perlukan, dia lalu menyerahkan tas miliknya kepada Yulisa agar dia bisa mencarinya sendiri. Hal itu sudah biasa bagi Alina dan juga Yulisa, mereka berdua ditambah dengan Phujia begitu saling mempercayai sehingga hal itu sudah dianggap sepele. Di semester akhir kelas satu ini, Alina sedang ingin fokus pada pelajaran agar saat kenaikan nanti nilainya tidak jatuh menurun.
Karena akan ada yang mengomel tanpa henti saat rangking Alina tidak masuk di lima besar, dan itu menjadi masalah untuk Alina. Karena belakangan ini dia mengalami kurang minat belajar di sebabkan masalahnya dengan sang Ibu semakin melebar.
Tanpa banyak berkata lagi Yulisa membuka tas Alina seperti biasanya untuk mencari buku PR matematika milik Alina agar bisa menyalinnya saat pelajaran pertama ini, ketika sedang fokus mencari buku PR. Mata Yulisa sedikit menyipit saat melihat sesuatu yang sangat menarik menurutnya, dia sangat tidak menyangka jika sahabatnya yang satu itu masih menggunakan sebuah buku Diary yang menurutnya sudah ketinggalan zaman.
*Gila si Alina, hari gini masih aja nulis di buku ginian?! 'haha' Ada-ada aja tuh anak tingkahnya.* Pikir Yulisa sambil tertawa pada kelakuan temannya itu.
Bagaimana tidak?!
Di zaman yang kata orang modern ini, Alina masih menggunakan barang yang di nilai kuno bagi Yulisa. Sempat terbesit dipikiran Yulisa dia ingin membacanya, tapi sebagai teman dia juga harus menghargai privasi sahabatnya sendiri bukan? Maka Yulisa pun mengurungkan niatnya untuk membaca. Yulisa kembali fokus mencari buku PR yang dia inginkan, setelah menemukannya Yulisa menyerahkan kembali tas Alina kepada pemiliknya tanpa menggangu hal lainnya.
Sementara itu ada seseorang yang dari tadi ikut melirik ke tas Alina dan mengetahui ada hal menarik yang ada di dalam tas itu, akan tetapi dia hanya diam saja dan berpura-pura tidak tau mengenai apa yang dilihatnya tadi. Tanpa diketahui oleh orang lain terbesit senyum licik di bibir perempuan itu, siapa lagi jika bukan teman sebangku Yulisa dan sahabat Alina juga. Dia adalah Phujia, entah apa arti dari senyuman itu hanya dia sendirilah yang mengetahuinya.
Tanpa banyak yang mengetahui termasuk Yulisa dan Alina sendiri, sebenarnya Phujia menyimpan rasa ketidaksukaan kepada Alina. Phujia merasa Alina sangat mudah disukai banyak orang, sedangkan dirinya hanya seperti bayang-bayang dari Alina dan juga Yulisa.
Bukan hanya pada Alina sebenarnya pada Yulisa pun Phujia tidak begitu suka, hanya saja rasa bencinya pada Alina lebih besar daripada rasa bencinya kepada Yulisa. Tanpa banyak basa-basi saat semua orang sedang sibuk masing-masing, Phujia mengambil secara diam-diam buku Diary milik Alina, tidak ada seorangpun yang menyadarinya hingga buku Diary itu sudah berpindah tangan ke Phujia.
Dia menyimpan dengan rapi buku Diary milik Alina itu sehingga sang pemilik pun tidak tau dan tidak menyadari buku Diary itu telah hilang, terlebih bahkan Alina belum sadar jika buku Diary nya terbawa sampai ke sekolah.
Hal itu membuat Alina tidak waspada dan dia pun tetap pada fokusnya untuk tetap belajar, sedangkan sahabatnya yang licik sedang mencari cara terburuk untuk membuat hidup Alina menjadi lebih menyedihkan seperti kehilangan segala yang dimilikinya.