BAB 5

1126 Words
Dinda berlarian menuju paviliunnya dengan nafas terengah-engah. Dia begitu terkejut dengan kejadian yang menimpanya bersama Tuan Evan. "Mati aku, jangan sampai Kak Jia tahu kelancanganku." Dinda memutuskan untuk berganti pakaian dan meringkuk di bawah selimut. "Nyonya sudah pulang? Saya mencari-cari Nyonya tadi. Nyonya kenapa membungkus tubuh Nyonya di bawah selimut? Apa Nyonya tak enak badan? tanya Tiur. "Tiur diamlah, aku sedang menenangkan diri. Kau pergilah, aku tak ingin di ganggu." "Tapi ini bahkan masih terlalu awal untuk tidur siang Nyonya." Dinda menyingkap selimut tebalnya, bukan hanya karena marah tetapi dia juga cukup gerah di dalam sana. "Bisa tidak kau jangan cerewet begitu, kuping ku panas mendengar ocehan mu. Baru dua hari Tiur, tapi kau..... Ah sudahlah." "Nyonya memerlukan sesuatu?" Dinda menarik nafas panjang " Kemarilah?" Tiur dengan patuh mendekat ke arah Dinda. Dinda menarik tangan Tiur hingga ia terjerembab di pangkuannya. "Gadis baik dengarkan aku, stop panggil aku Nyonya. Namanya Dinda. D I N D dan A..... Paham!!" "Tapi Nyonya." "Astaga, apa kau tak lulus sekolah sehingga tak paham ucapan ku. Kalau kau tak enak hati dengan yang lain. Cukup panggil Dinda saja ketika kita sedang berdua. Atau....." "Atau apa Nyonya?" "Atau aku akan meminta Kak Jia memindahkan mu ke tempatnya. Bagaimana?" "Tidak, ku mohon Nyonya. Jangan buang Tiur, apalagi ke tempat Nyonya Jia." "Kau takut? Jadi turuti saja perintah ku." "Baik Nyo....." "Eh apa yang mau kau bilang?" "Baiklah Dinda." ucap Tiur ragu. "Nah gitukan enak di dengar. Lagi pula aku tak tertarik menjadi Nyonya di sini seperti mereka bertiga. Aku ini gadis yang suka kebebasan." "Tapi....." "Husst, ceritakan saja padaku. Bagaimana caranya agar aku bisa keluar dari sini." "Sudah Tiur beritahu, tak akan ada yang bisa keluar dari sini kecuali jika kita mati." "Oh iya aku lupa. Sorry, tapi apa benar tak ada yang pernah keluar dari sini." "Sebenarnya jika Nyonya eh maksud saya Dinda keluar bersama Tuan tentu itu tak akan apa-apa." "Sama Tuan Evan itu?" "Iya, dulu Nyonya Jia pernah keluar dari sini ketika Tuan mengajaknya pergi ke sebuah acara. Tapi itu sudah lama sekali." "Beri tahu aku, berapa lama Tuan Evan dan Kak Jia menikah?" "Sekitar delapan tahunan sih setahuku." Dinda tersenyum saat Tiur lambat laun tak bersikap formal padanya. "Bagus pertahankan. Anggap aku teman mu." Dinda menepuk pundak Tiur kemudian beranjak pergi. "Mau kemana?" tanya Tiur. "Jalan-jalan." Dinda melenggang tanpa penuh dosa pergi meninggalkan Tiur seorang diri. "Tunggu, kau tak bisa pergi sendirian, setidaknya kau harus membawa salah satu dayang mu bersama mu." "Kau bersama ku sekarang kan?" Dinda dan Tiur berjalan berdampingan mengelilingi komplek tempat tinggal yang lebih tepat dikatakan penjara itu. Sampai Dinda tertegun saat melihat Jia menangis keluar dari mansion milik Tuan Evan. "Kenapa dia? Apa Tuan Evan menyakitinya?" Tiur menarik Dinda untuk bersembunyi "Husst, jangan sampai Nyonya Jia melihat kita. Atau Kita akan di hukum." "Kenapa kita di hukum? Aku hanya penasaran saja kenapa dia menangis begitu?" "Mungkin karena penolakan Tuan Evan." "Apa pria tua itu memang suka menyakiti istrinya?" "Tuan Evan emamg bersikap dingin pada semua istrinya. Dia tak pernah sekalipun memanggil istrinya ke kamar pribadinya. Nyonya Jia slalu berusaha menarik perhatian Tuan untuk mendapatkan kasih sayangnya. Namun semua itu sia-sia." "Apa selama menikah dengannya baik Kak Jia maupun istri yang lain belum pernah di sentuhnya?" "Gosip yang beredar memang seperti itu, entah mengapa. Tapi dari gelagat para istri, hal itu memungkinkan terjadi." "Pria itu lebih tepat di sebut Beruang Kutub bukan?" "Kau jangan bicara seperti itu. Atau akan ada yang mendengar mu." "Ups, maaf. Hehehe. Ayo kita pergi." Dinda kembali menarik tangan Tiur untuk segera pergi dari sana. ********** Jia menghapus riasannya dengan kesal, dia begitu marah saat ini. "Haaarrggghhh....." semua alat riasannya berserakan karena amarah Jia. "Mengapa? Mengapa kau tak pernah melihat ku Evan? Aku istrimu bukan boneka mu. Aku istri yang juga butuh perhatian mu, untuk apa aku bergelimang harta di sini jika kasih sayang mu tak bisa ku dapatkan. Kenapa?" Jia menangis meratapi nasibnya, bisa di katakan dia di nikahi hanya sebatas status saja. Haknya sebagai istri tak pernah ia dapatkan. Bahkan selain wajah dan telapak tangannya Jia belum pernah melihat bagia tubuh Tuan Evan yang lain. ********** Dinda terbangun di tengah malam karena hasrat alaminya. "Duhh pengen pipis." Dinda berjalan dengan mata sedikit terpejam. Rasa kantuknya begitu membuatnya malas untuk beranjak dari tempat tidur. Ketika hasratnya telah tersalurkan, matanya menangkap sebuah pemandangan yang cukup membuatnya penasaran. Dinda berjalan ke arah jendela, menyingkap sedikit tirai itu "Kenapa di sana lampunya masih menyala? Bukankah di sana itu perpustakaan? Siapa orang iseng yang membaca tengah malam begini?" Dinda duduk di tepian ranjang "Ngomong-ngomong apa kabar mangga yang aku petik tadi pagi? Aku bahkan belum sempat mencicipinya?" Diam-diam Dinda keluar dari paviliun menuju ke tempat pohon mangga itu berada. "Hah?? Gila?!" Dinda begitu terkejut saat pohon itu telah tak berada di tempatnya. "Beruang kutub itu menebang pohonnya. Aa argh...." Dinda tentu kesal, perutnya belum terpuaskan. Tapi pohon itu telah di lenyapkan. Dinda melirik ke arah perpustakaan. Berjalan mengendap-endap, dia penasaran tentang siapa yang berada di dalamnya. Krriiieeeettt..... Hati-hati Dinda menutup kembali pintu perpustakaan itu setelah ia buka. "Ehh, tak ada siapapun di sini. Kenapa lampunya menyala?" Dinda tak menjumpai siapapun di sana, memutuskan untuk melihat-lihat sebentar sebelum kembali ke paviliunnya. "Eeeeuuuhh..... Buku apa ini? Tak ada novel atau apalah. Majalah dewasa misalnya yang hot-hot gitulah. Hehehe." senyum Dinda terlihat begitu m***m. Dug.... Dinda menoleh saat terdengar suara benda terbentur. "Hantu?" bulu kuduk Dinda seketika merinding di buatnya. Beringsut mundur ke sebuah pojokan. "Siapapun itu? Tolong maafkan aku, aku tak bermaksud mengganggu mu wahai hantu. A-aku hanya membantu mu mematikan lampu saja oke. Pliss jangan menampakan diri." Dinda membuka sedikit sebelah matanya yang sedari tadi terpejam karena takut. Memicingkan sebalh alisnya. "Eh, apa itu?" Dinda begitu penasaran dengan majalah yang terbuka di atas sebuah meja dengan lampu belajar. "Wah, apa ini?" mata Dinda membola saat ia melihat gambar-gambar yang terpampang di sana. "Siapa yang membaca majalah dewasa di sini? Tapi gambar ini.... Astaga." Mulut Dinda ternganga saat melihat gambar-gambar wanita dengan pakaian seksi yang menggoda itu. "Pasti dia seorang pria. Hahaha dia sepertinya kabur saat melihat ku datang. Dasar pria mesum." celoteh Dinda tanpa tahu asa sepasang mata yang terus mengawasi semua gerak-geriknya. "Apa kau menikmtati juga gambar-gambar itu?" ternyata Tuan Evan yang ada di sana. Dinda menengadahkan wajahnya ke atas, kini wajahnya dan wajah Tuan Evan begitu dekat jaraknya. Tuan Evan terpaku saat melihat wajah Dinda itu, ini pertama kalinya ia bertatapan dengan wanita sedekat itu. Deg..... Deg..... Deg..... Dengan jelas Dinda bisa mendengar detak jantung Tuan Evan yang berdetak dengan cukup kencang. Dinda kesulitan untuk menekan ludahnya sendiri. Wajah rupawan di hadapannya itu begitu menggodanya. Mata Dinda kebetulan berhadapan langsung dengan bibir Tuan Evan yang terlihat yang begitu lembab dan basah itu. Gleeeekkk..... Susah payah Dinda menelan ludahnya. "T---Tuan sedang apa di sini?"
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD