BAB 4

1367 Words
"Hapus make upnya. Ini terlalu berlebihan." perintah Dinda pada dayangnya. *Nyonya suka dandanan seperti apa?" tanya Tiur. "Tipis saja, aku tak biasa dengan riasan." "Baik Nyonya." Dinda berusaha tampil sesederhana mungkin. Ia sama sekali tak berminat untuk menarik perhatian pria tua itu. Memikirkannya saja sudah membuat bulu kuduk merinding, apa lagi jika harus melayaninya. Dengan di pandu Tiur, Dinda pergi ke ruang makan di gedung utama. Hanya di balut gaun malam tipis dan mantel yang tak begitu tebal, Dinda merasa angin malam ini menembus sampai ke tulangnya. ********** Dinda sampai saat ketiga madunya sudah sampai terlebih dahulu. Ketiga wanita itu memandangi Dinda dengan tatapan aneh sekarang. "Kau duduklah di samping Anita." perintah Jia mengatur tempat duduk Dinda. "Baik." bak gadis baik yang penurut. Dinda dengan cepat menuruti perintah istri tua Pak Revandra. Berbeda dengan Jia dan Nadia yang sangat sinis. Anita terlihat lebih bersahabat bagi Dinda. Dia tersenyum saat Dinda menduduki bangku kosong di sebelahnya. "Kita duduk berdasarkan status, istri pertama dan kedua duduk di samping Tuan Evan. Sementara istri ketiga dan keempat mengikuti saja." Jia nampak menekankan perbedaan status mereka. "Baik.* ucap Dinda patuh. "Dinda, kau sepertinya tak suka menarik perhatian ya?" Anita memulai percakapan. "Iya kak, Dinda nggak terbiasa dengan riasan." "Apa kau tak ingin mendapatkan kasih sayang Tuan Evan? Kami bahkan merias diri semenarik mungkin untuk mendapatkan perhatian Tuan. Tapi kau?" Nadia menyela. "Baguslah kalau kau masih sadar diri. Setidaknya aku hanya bersaing dengan dua orang." ucap Jia angkuh. Percakapan mereka terhenti saat salah seorang pengawal datang. Ketiga istri bergegas berdiri untuk menyambut kedatangan suami mereka. Sementara Dinda hanya mengikuti saja, karena ia belum sepenuhnya mengerti. Klotak..... Klotak..... Klotak..... Terdengar suara sepatu yang beradu dengan marmer yang mengkilat itu. Seorang pria yang gagah dan tampan datang dengan angkuh. Dinda seolah tak percaya dengan apa yang sedang ia lihat. Bukan pria tua seperti yang ia kira. Dia terlihat seperti seorang yang sempurna. Dinda menelan ludahnya sendiri. Belum pernah ia melihat pria semenarik itu. "Selamat malam Tuan." ucap ketiga istri dengan kompak. Dinda hanya menunduk saat Tuan Evan melirik ke arah Dinda yang tak menyambutnya. "Duduklah." ucap Tuan Evan. Dan dengan patuh semuanya langsung mengambil posisi duduk. Dinda merasa kikuk, dia sangat frustasi sekarang. Dinda takut melakukan kesalahan lagi, namun sejauh ini sepertinya Tuan Evam masih memaklumi kelbarungan Dinda yang masih baru. Suasana santap malam berlangsung singkat dan sepi. Tuan Evam segera pergi meninggalkan mereka berempat setelah selesai dengan hidangannya. Dan semua istri akhirnya juga kembali ke paviliun mereka masing-masing. Tak terkecuali dengan Dinda. ********** Dinda menatap ke langit merenungi kejadian yang telah menimpanya. Belum satu hari ia berada di sana, namun ia sudah ingin pergi saja. "Nyonya tidurlah. Ini sudah larut malam." ucap Tiur. "Kemari kau!" Tiur mendekati Dinda. "Apa ini malam pertamaku?" Dinda bertanya karena bingung. "Benar Nyonya." "Maksudku, aku adalah pengantin baru, apa Tuan Evam tidak akan kemari?" "Mungkin tidak Nyonya." "Banarkah?" "Tuan Evam jarang mengunjungi istrinya Nyonya." "Hah? Hahaha ternyata aku mengkhawatirkan hal yang tak perlu." Tiur hanya bisa diam mendengar gelak tawa Dinda. Dinda menyeret Tiur untuk duduk bersamanya, menuangkan teh yang Tiur bawa tadi. "Cepat minumlah. Anggap sebagai tanda perkenalan." "Saya tak berani Nyonya." "Sudah minumlah." Dinda memaksa dengan meletakkan secangkir teh di tangan Tiur. "Sebaiknya Nyonya menjaga jarak dengan saya. Tiur hanya pelayan pribadi Nyonya." "Aku tak berpikir demikian. Bagiku kau teman pertamaku di sini, jadi kau jangan terlalu sungkan begitu." "Tapi Nyonya." "Kau kenapa terjebak di sini? Apa kau juga di jadikan jaminan oleh orang tuamu?" bisik Dinda. "Hah anu." Tiur nampak kaget dengan pertanyaan Dinda. "Jadi aku benar? Kita senasib kok." "Tidak Nyonya, Tiur emamg datang sendiri kesini." "Apa? Kenapa?" Dinda nampak tak percaya. "Tentu untuk bekerja." "Itu saja?" "Maaf Nyonya, saya harus undur diri. Sebaiknya Nyonya segera pergi tidur." "Tapi aku belum ngantuk." Tiur bergegas pergi dari hadapan Dinda. Sepertinya ia enggan untuk menjawab lagi segala pertanyaan di benak Dinda. ********** Tirai jendela telah di buka sehingga sinar matahari berhasil masuk untuk menerangi kamar Dinda. Dinda yang baru bisa tidur menjelang pagi tentu sangat kesal dengan ulah dayang-dayangnya itu. "Argh aku masih mengantuk, tutup kembali tirai itu cepat!" pinta Dinda. "Nyonya sudah harus bangun untuk beraktivitas. Jika Nyonya Jia tahu anda bermalas-malasan mungkin beliau akan menghukum Nyonya." "Tiur!! Cukup dengan celotehan mu itu. Kepala ku pening mendengar tentang seluk beluk keluarga ini." "Nyonya harus mandi." Bukannya bangkit dan bergegas untuk mandi. Dinda justru menarik kembali selimutnya. Tiur dan yang lain hanya bisa sabar menghadapi sifat Dinda yang seenaknya itu. "Argh apa-apaan ini, lepaskan!! Aku harus kembali ke kasur ku." Dinda meronta saat para dayang memaksa dengan menyeret tubuh Dinda ke pemandian. Byuuurrrrr..... Dinda seketika menggigil. "Argh dingin sekali." pekik Dinda. "Maaf Nyonya, memang seperti ini. Nyonya hsrus terbiasa dengan air kediaman yang dingin." Tiur mencoba menjelaskan. "Tapi kemarin kau memberi air hangat." protes Dinda. "Itu untuk awal saja Nyonya." Dinda tak habis pikir, kenapa aturan kediaman ini semua sangat menjengkelkan baginya. Apa Dinda bisa selamanya untuk tetap tinggal di sana?. Dinda tengah berjalan santai kali ini. Rambut panjang terikat, kaos dan celana leging membuat aura muda Dinda begitu kuat. Dinda berlari-lari kecil setelahnya. Menikmati suasana kediaman yang asri penuh tumbuhan hijau. "Eh Dinda." sapa Anita saat melihat Dinda berolahraga. "Hai kak Anita. Kkakak sudah cantik sekali pagi ini, mau kemana kak?" "Kemana lagi, kita tak bisa pergi kemanapun bukan?" "Hehehe oh iya." "Semangat olahraganya dong. Tubuh kamu sudah bagus." "Makasih kak." ********** "Tehnya silahkan." Anita menawarkan secangkir teh saat Dinda bertamu di paviliun cemara tempat tinggalnya. "Paviliun Kakak indah sekali." puji Dinda. "Terimakasih, ini semua bagian dari ide ku loh." "Benarkah? Mungkin Dinda harus berguru pada Kakak." "Every time dear." Dinda dan Anita menikmati secangkir teh tanpa kendala. Dinda sangat senang berada di kediaman Anita. Bertukar kisah kehidupan membuat Dinda seolah melupakan waktunya. "Jadi kesibukan Kakak adalah berkebun? Pantaslah paviliun ini sangat asri dan segar." "Tentu saja, semua istri memiliki kesibukannya sendiri untuk meredam kebosanan. Kau sepertinya juga harus memiliki kesibukanmu sendiri." "Baiklah Kak." Syukurlah, setidaknya masih ada yang mau melihat keberadaan Dinda di sana. Anita begitu baik padanya, seperti Kakak yang menyayangi Adiknya. ********** Dinda sedang berjalan untuk kembali ke paviliunnya. Namun pandangan matanya terhenti pada sebuah pohon mangga di halaman belakang gedung utama. "Itu mangga?" tunjuk Dinda. "Benar Nyonya tapi itu..... ah Nyonya tunggu." Tour begitu panik saat Dinda berlari ke arah pohon mangga itu. "Nyonya tunggu....." nafas Tiur terengah-engah mengejar Dinda. "Lihat." mata Dinda begitu berbinar melihat mangga segar yang bergelantungan bebas itu. "Nyonya mau mangga itu?" "Boleh." "Tentu saja. Saya akan carikan orang untuk memetiknya. Nyonya tunggu sebentar." Tiur bergegas berlari untuk meminta bantuan. Dinda memandangi buah mangga itu dengan gembira, mungkin air liurnya sudah menetes deras kali ini. Dia sudah tidak sabar ingin mencicipi mangga itu. Dinda melihat ada beberapa buah yang sudah matang di atas. "Ahh kelamaan." Dinda tak mendengarkan Tiur, ia memanjat sendiri pohon mangga itu. Dalam sekejap Dinda sudah berada di atas, memetik beberapa yang sudah matang dan perlahan menjatuhkannya ke tanah. "Sedang apa kau?" "Tentu saja memetik mangga, kau pikir aku sedang membaca?" Dinda menjawab tanpa menoleh siapa yang bertanya. "Apa perlu aku carikan tangga?" "Boleh juga ide mu. Nanti kau akan ku beri beberapa mangga untuk mu." "Hemm aku tak perlu mangga mu itu." "Benarkah.....?" pupil mata Dinda seketika membesar saat menoleh ke bawah, ia sangat terkejut saat melihat Tuan Evan yang berdiri di bawah sana. "Tuan....." ucap Dinda lirih. "Cepat turun, kau tak pantas melakukan ini." "Baik Tuan." Dengan gemetar Dinda menuruni pohon itu, dia tak berani menatap ke bawah. Nyalinya hilang untuk menghadapi pria itu. "Argh..... Aaaaa....." Dinda terjun dari ketinggian, menimpa tubuh Tuan Evan yang sedari tadi berdiri di bawahnya. Buuugghhh..... Dinda mendarat di d**a Tuan Evan. Semerbak bau parfum mahal menghampiri hidung Dinda. Dinda memejamkan kedua matanya karena takut. Tuan Evan tak berkomentar apapun, dia hanya diam saat Dinda berada tepat di atas tubuhnya. Dinda mengintip dengan sebelah matanya. Ia melihat jika Tuan Evan tengah memandanginya sekarang. Ctaakkk..... Jitakan keras mendarat di kening Dinda. "Awww sakit." Dinda memekik mengelus keningnya. "Apa kau sangat betah di atas istriku?" Kata-kata itu membuat Dinda tersadar. Dia bergegas berdiri dan merapikan pakaiannya. Tuan Evan juga sibuk membersihkan tanah yang menempel di pakaiannya. Menatap Dinda dengan begitu dingin, dan tanpa sepatah katapun pergi meninggalkan Dinda seorang diri.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD