Dinda hanya duduk termenung keluar jendela mobil mewah yang tengah berjalan itu. Ia sudah berada di dalam mobil itu kurang lebih satu jam lamanya, namun sepertinya belum ada tanda-tanda mobil itu akan berhenti. Bahkan Dinda sadar jika ini sudah sangat jauh dari kota tempat ia dullu tinggal. Entah mau di bawa kemana Dinda kali ini, namun ia hanya bisa parah dengan hidupnya. Dinda memilih tak berkomentar, bahkan hanya sekedar meminta minum ia belum berani. Tatapan mengintimidasi kaki tangan Pak Revandra begitu mengerikan baginya yang masih terlalu muda.
"Kita sebentar lagi sampai Nyonya." ucap salah seorang asisten Pak Revandra untuk memecah lamunan Dinda.
"Oh....." Dinda ingin berkata lebih sebenarnya, namun yang keluar dari mulutnya hanya kata itu saja.
Dinda seketika tersadar saat laju mobil perlahan lambat. Memasuki kawasan sepi penduduk membuatnya sedikit tertegun. Kawasan yang lebih mirip seperti perkebunan atau semacamnya, dan saat mobil memasuki sebuah gerbang tinggi menjulang Dinda sedikit bergidik ngeri.
"Ada rumah mewah di tengah-tengah tempar terpencil." batin Dinda.
Dinda memperhatikan dengan seksama, jarak dari gerbang utama ke rumah cukup jauh jika di tempuh dengan berjalan kaki. Dinda mengakui jika rumor Pak Revandra yang misterius nyata adanya.
"Silahkan Nyonya." seorang pengawal membukakan pintu mobil untuk Dinda.
Dengan keberanian yang tersisa Dinda melangkahkan kakinya memasuki rumah besar itu.
Dinda di sambut oleh dayang-dayang yang berbaris rapi untuknya.
Canggung memang, namun Dinda berusaha bersikap tenang sekarang.
Mata Dinda terfokus pada tiga perempuan yang menunggu di ujung barisan. Dinda tentu sudah tahu siapa mereka, dan satu lagi fakta yang benar adanya. Pria itu sudah beristri tiga.
Dinda membungkuk memberi hormat, wajah ketiga wanita itu terlihat jelas tak begitu menyukai keberadaannya.
"Jadi kau Dinda." tanya salah seorang dari mereka.
"Iya." jawab Dinda singkat. Ia tak begitu percaya diri sekarang, jika di perhatikan dengan seksama nampak jelas kaki Dinda yang gemetar.
Wanita itu memberi kode pada seseorang, dan salah seorang dayang maju.
"Saya adalah asisten pribadi anda mulai sekarang Nyonya. Ijinkan saya mengenalkan mereka untuk anda." ucap dayang itu dengan sopan dan Dinda hanya mengangguk tanda mempersilahkan.
"Meraka adalah para istri Tuan Evan yang lain. Nyonya Jia, Nyonya Anita, dan Nyonya Nadia. Nyonya Jia adalah istri pertama Tuan Evan sekaligus penanggung jawab rumah tangga. Segala kebutuhan para penghuni kediaman ini akan menjadi tanggung jawab beliau. Para istri Tuan Evan akan tinggal terpisah di paviliun mereka masing-masing, dan untuk Nyonya Dinda akan menempati Paviliun Kenanga. Itu saja penjelasan singkat dari saya, jika ada hal yang ingin Nyonya ketahui jangan sungkan untuk menanyakannya." setelah mengucapkan perkataannya dayang itu langsung undur diri dan bergegas berdiri di belakang Dinda.
"Mereka yang menyambutmu sekarang adalah para dayang yang akan melayanimu mulai sekarang. Taati peraturan maka kau akan tetap hidup." Jia memberi tahu Dinda lalu pergi dengan diikuti kedua istri yang lain.
Dinda bernafas lega saat mereka pergi, merenggangkan pergelangan kakinya yang kaku.
"Apa Nyonya mau langsung menuju ke Paviliun?" tanya dayang pribadi Dinda.
"Iya, aku lelah." tentu saja lelah, hampir dua jam Dinda di perjalanan dengan kebaya dan riasan pengantin yang menyusahkan.
Dengan di pandu dayang, Dinda mengikutinya menuju tempat tinggalnya di sana.
Paviliun Dinda terletak cukup jauh dengan gedung utama tempat pertama ia singgah, namun baginya itu merupakan sebuah keberuntungan. Jadi ia tak perlu sering-sering bertatap muka dengan para madunya.
**********
Dinda merebahkan tubuhnya di sebuah ranjang besar yang sekarang menjadi miliknya. Mengamati dengan kagum interior kelas atas yang tersaji di sekelilingnya.
"Wah pria tua itu memang benar-benar kaya." gumam Dinda.
Belum puas Dinda mengamati pemandangan menakjubkan itu, dayang pribadi yang di tunjuk untuknya datang.
"Nyonya air hangatnya sudah siap. Silahkan anda mandi sebelum airnya dingin."
"Namaku Dinda, bukan Nyonya." ucap Dinda ketus.
"Tentu, tapi anda sekarang adalah Nyonya ku. Anda adalah istri sah Tuan Evan, jadi sudah semestinya saya memanggil anda Nyonya."
"Terserah kau saja, aku sudah lelah dan tak ingin berdebat." Dinda segera menuju ke kamar mandi yang di tunjukan dayang itu.
"Kenapa kau masuk?" Dinda tentu kaget karena dayang itu terus mengikutinya sampai dalam.
"Tentu saja membantu Nyonya mandi."
"Kau mau apa?" Dinda terkejut saat dayang itu mencobat melepaskan pakaiannya.
"Membantu Nyonya melepaskannya."
"Apa?! Aku bisa melepaskannya sendiri dan kau keluar saja. Aku akan mandi sendiri."
"Tidak bisa Nyonya, ini sudah menjadi kewajiban saya sebagai dayang anda."
"Nggak!! Aku tidak akan membiarkan kau melihat milikku." Dinda menyilangkan kedua tangannya di dadanya.
"Apa saya harus memanggil dayang yang lain juga?"
"E-eh nggak nggak nggak. Kamu saja sudah cukup membuat kepala ku pusing." Dinda menahan dayang itu.
"Tapi aku akan melepas pakaian ku sendiri, kau berbalik lah."
"Tapi Nyonya."
"Barbalik saja cepat!" Dinda memaksa dengan memutar tubuh dayang itu.
Dinda masuk ke dalam bathub dan menambahkan sabun agar busanya semakin banyak untuk menutupi bagian sensitifnya dari dayang itu.
Dayang itu segera berbalik dan menghampiri saat ia sadar Dinda sudah berendam di dalam air yang penuh dengan busa itu.
Dengan cekatan dayang itu membantu Dinda menyabuni tubuhnya, memijit kepalanya saat keramas, lambat laun Dinda pun mulai menikmati privilege untuknya.
"Siapa namamu?" Dinda bertanya untuk memecah keheningan.
"Tiur Nyonya."
"Usia?"
"23 tahun Nyonya."
"Benarkan? Kita seumuran tau bahkan kau lebih tua setahun dariku. Jadi kau tak perlu memanggilku Nyonya, oke?"
"Tidak bisa, ini sudah peraturan saya Nyonya."
"Kau ini." Dinda cukup kesal mendengar penolakan itu.
"Pak Revandra itu orang seperti apa sih?"
"Dia orang yang tegas, jadi saya harap Nyonya tak menyinggungnya atau Nyonya akan di hukum."
"Di hukum? Apa termasuk di ceraikan?"
"Hust Nyonya jangan bicara seperti itu. Tuan tidak akan pernah menceraikan istrinya."
"Kenapa begitu?"
"Karena setiap yang datang kesini, jika ingin keluar dia harus dalam keadaan tidak bernyawa."
"Benarkah?"
"Ya Tuhan mulutku." Tiur menampar mulutnya sendiri.
"Kau?!" Dinda mencegah Tiur untuk menampar mulutnya.
"Seharusnya saya tak berkata hal buruk pada Nyonya. Silahkan Nyonya menghukum saya."
"Aku tak sejahat itu."
"Mohon Nyonya untuk tidak memasukkan dalam hati tentang perkataan saya barusan."
"Kau tenang saja, santai saja." Dinda menepuk pundak Tiur.
Layaknya boneka, Dinda dengan pasrah saat Tiur dan para dayang yang lain mendandaninya. Mulai dari memakai baju, make up, mengeringkan rambut dan yang lainnya Dinda tak perlu mengeluarkan tenaga sedikitpun.
"Sebentar lagi makan malam sudah siap, Nyonya akan bergabung dengan Tuan dan para istri yang lain."
Mata Dinda seketika terbelalak. Ia tak bisa membayangkan akan duduk di meja yang sama dengan pria itu dan tentu dengan para madunya juga.