Bab 1: Secangkir Kopi dan Sebuah Bentakan
Pukul tujuh pagi, dan apartemen mewah bernuansa monokrom itu selalu terasa seperti ruang isolasi yang membeku. Sunyi, kaku, dan penuh dengan jarak tak kasat mata.
Di dapur yang bersih tanpa noda, Aveline Rosé berdiri dengan jemari yang sedikit bergetar. Rambut sebahunya diikat rapi, mengenakan apron sederhana yang warnanya sudah mulai pudar. Di atas meja pantry, sebuah cangkir keramik putih berisi kopi hitam panas mengepulkan uap tipis. Kopi itu diracik persis seperti yang disukai suaminya—tanpa gula, dengan suhu air yang tepat, dan aroma biji kopi impor pilihan.
Bagi wanita lain, menyiapkan kopi mungkin adalah rutinitas rumah tangga yang biasa. Namun bagi Aveline, ini adalah puncak hari yang paling ia nantikan sekaligus paling ia takuti.
Berbicara dengan Rein adalah hal yang paling menyenangkan, batin Aveline, merapikan letak cangkir itu berulang kali untuk memastikan tidak ada cacat sedikit pun. Bibirnya bergerak tanpa suara, berlatih merangkai kata yang tepat agar nanti ia tidak terlihat kaku di hadapan suaminya.
Aveline adalah seorang wanita autis. Dunianya tidak berjalan seperti dunia orang lain. Suara bising sekecil derik jam dinding bisa terdengar seperti palu di kepalanya, dan berkomunikasi dengan orang lain adalah labirin rumit yang sering kali membuatnya kehabisan napas. Namun, segala ketakutan sosial itu mendadak luntur setiap kali bayangan Rein melintas di kepalanya. Di mata Aveline, Rein adalah seluruh dunianya—matahari, bumi, dan tempat ia seharusnya berpulang.
Dengan langkah pelan dan hati-hati, Aveline membawa nampan kecil itu keluar dari dapur.
Di ruang kerja pribadi yang pintunya terbuka setengah, Rein tampak duduk di balik meja kerjanya. Pria itu mengenakan kemeja putih dengan lengan yang digulung sebatas siku, menampilkan otot lengan yang kokoh dan aura dominan yang selalu membuat siapa pun segan. Alis tebalnya bertaut, matanya tajam menatap layar laptop, sementara jemarinya bergerak lincah di atas papan ketik.
Rein sangat sempurna. Terlalu sempurna, pria dari keluarga kaya raya dan terpandang itu hidup di atas panggung kesuksesan yang berkilau.
Sementara Aveline? Wanita itu merasa dirinya hanyalah sebuah noda kotor yang tidak sengaja menempel di hidup pria itu.
Aveline melangkah mendekat, napasnya mulai tercekat di tenggorokan. Jantungnya berdegup kencang, bukan karena jatuh cinta, melainkan karena rasa gugup yang luar biasa. Ia ingin mengatakan sesuatu—menyapa suaminya dengan kalimat yang sudah ia latih sejak subuh.
“P-pagi, Rein... ini... kopinya...”*batin Aveline bergetar.
Namun, baru saja ia berdiri di samping meja kerja, sebuah hantaman kecil terjadi di luar kendalinya. Ujung sandal rumah Aveline tersangkut pada sudut karpet bulu yang sedikit terlipat.
Bruk!
Tubuh kecil Aveline oleng. Nampan di tangannya terlepas, dan cangkir keramik itu melayang di udara sebelum membentur sudut meja kerja Rein.
Prang!
Cangkir itu pecah berkeping-keping. Cairan hitam pekat bergejolak, tumpah ruah dan menciprat ke atas meja kerja, membasahi dokumen-dokumen penting perusahaan serta kemeja putih bersih yang dikenakan Rein.
Waktu seolah berhenti sedetik.
Aveline terjerembab di lantai yang dingin, telapak tangannya tergores pecahan keramik kecil, namun rasa sakit di tangannya sama sekali tidak sebanding dengan hantaman rasa takut yang langsung mencengkeram dadanya.
Rein tersentak kaget. Pria itu langsung berdiri, mendorong kursinya ke belakang dengan suara gesekan yang memekakkan telinga. Wajah tampannya mengeras dalam sepersekian detik,urat-urat di pelipisnya menegang menahan amarah yang meledak-ledak.
"Ah, menyusahkan saja!" bentak Rein penuh kebencian, suaranya menggelegar memenuhi ruangan.
Aveline meringkuk di lantai, bahunya bergetar hebat. Sensorik di tubuhnya langsung bereaksi hebat mendengar bentakan keras itu. Kepalanya terasa berdengung, dunianya berputar, dan air mata langsung menggenang di pelupuk matanya.
Dengan suara terbata-bata, ketakutan, dan napas yang memburu, Aveline mendongak, mencoba meraih ujung celana suaminya sambil mencicit pelan.
"M-maaf... aku... tidak sengaja..." cicit Aveline, air matanya tumpah membasahi pipi pucat nya.
Bukannya iba, Rein justru menepis kasar tangan Aveline yang hendak menyentuhnya. Pria itu menatap istrinya dengan jijik dan amarah yang meluap-luap, seolah makhluk di hadapannya adalah sumber kesialan terbesar dalam hidupnya.
"Kenapa saya harus menjadi suamimu, sih?!" bentak Rein sekali lagi, jauh lebih tajam dan menusuk.
Kalimat itu meluncur begitu saja, menghujam tepat di jantung Aveline, meremukkan sisa-sisa kewarasan dan harapan rapuh yang selama ini ia rawat setiap hari.