Beberapa kali Mentari menengadahkan kepala. Di depan klinik bersalin yang dindingnya berwarna putih, Mentari mencoba memantapkan hatinya. Dia tidak siap, tetapi apa salah dari janin ini. Wanita itu langsung berjongkok memeluk kedua lututnya. Perbuatan dosanya akan semakin bertambah jika dia menghentikan kehamilannya.
Dimas tidak ingin Mentari melakukan hal terjahat dalam hidupnya. Dia merasa harus menyelamatkan wanita lemah ini. Dimas ke luar dari mobil dan berlari mengejar Mentari.
Mentari kembali berdiri dan meneguhkan hatinya untuk pergi ke depan pintu gerbang klinik bersalin itu. Tanpa didampingi siapapun, rasanya ingin mati saja. Dia mulai melangkah menuju klinik tersebut.
Tiba-tiba ada yang meraih jemari Mentari dengan erat.
“Apa-apaan yang kamu lakukan ini? Kamu sudah gila!” tegur Dimas dengan mata membulat sempurna.
Mentari menoleh ke arah Dimas. Kakinya gemetar, ada rasa sedih dan juga bahagia. Ternyata masih ada yang menahan tindakannya.
“Lepasin aku!” tepis Mentari.
“Kamu mau apa? Apa kamu sudah memikirkan baik-baik konsekuensinya? Kalau kamu mati bagaimana?” tanya Dimas.
“Jangan ikut campur! Kamu juga tidak memberikan solusinya. Sudah pergi sana!” usir Mentari.
“Jangan bodoh! Apa kamu tidak kasihan pada kedua orang tuamu? Mereka akan semakin kecewa jika kamu melakukannya,” ucap Dimas.
“Kamu siapa, larang-larang aku seperti ini? Orang tuaku itu sudah mati!” balas Mentari kesal.
“Aku memang bukan siapa-siapa kamu, tapi aku yang bertanggung jawab jika kamu sampai kenapa karena aku tahu alasannya.” Dimas memegang kedua bahu Mentari.
“Jangan baik kepadaku, biarkan aku ambil jalanku sendiri,” ucap Mentari sambil melepaskan tangan Dimas.
Nurani Dimas tidak bisa membiarkan wanita ini sendirian. Dia harus menemani gadis ini sampai tenang. Dimas langsung merengkuh Mentari yang terus memberontak. Isak tangis Mentari terdengar jelas. Suaranya parau dan terdengar bergetar.
“Aku akan membantumu mencari keberadaan lelaki itu. Asal kamu janji tidak akan menghilangkan janin ini,” pinta Dimas.
“Aku … bagaimana jika lelaki itu tidak mau bertanggung jawab?” Mentari mengepal tangannya kuat.
“Kita lihat nanti saja.” Dimas mengusap punggung Mentari lembut.
Mereka berdua akhirnya terdiam sejenak. Mentari masih berada dalam rengkuhan Dimas. Beginikah rasanya jika memiliki seorang kekasih? Dia merasa lebih tenang saat ada yang menenangkannya. Akan tetapi lelaki ini bukanlah kekasihnya. Mentari langsung mendorong Dimas kuat-kuat.
“Hentikan. Jangan sok baik sama aku. Kamu juga sama tidak jelasnya. Nama pun aku enggak tahu,” ucap Mentari.
Dimas terdiam sejenak, tidak lama lalu tersenyum. Dia mengulurkan tangan dan memperkenalkan diri.
“Namaku Dimas Jaya Kusuma,”
Mentari membalas uluran tangan Dimas seraya berkata, “Mentari Cipta Pesona,”
Terukir sedikit senyuman di wajah Mentari. Dia tidak memungkiri jika lelaki ini baik hati. Bahkan dia rela membuntuti Mentari sampai ke sini hanya untuk memastikan dirinya tidak melakukan hal bodoh.
“Terima kasih. Sebaiknya kamu pergi saja duluan. Maaf sudah menyita waktumu,” ucap Mentari.
“Aku akan mengantarmu pulang,”
“Tidak usah, aku bisa pesan ojek online,” tolak Mentari.
“Aku tidak percaya dan tidak akan tenang jika kamu tidak kuantar pulang. Bisa saja kamu meneruskan niat burukmu itu,” tegas Dimas.
“Rese!” umpat Mentari sambil mendelik ke arah Dimas.
Dimas tidak ingin membuang waktunya semakin lama hanya untuk berdebat dengan wanita ini. Dia meraih jemari Mentari, menggenggamnya dengan erat. Satu tangannya melambai kepada Ujang untuk menjemputnya saat ini.
“Ada apa nih?” Mentari mencoba melepaskan genggaman erat itu.
Tidak lama mobil itu datang, Dimas membuka pintu mobil lalu meminta Mentari untuk masuk terlebih dahulu. Mentari terpaksa menuruti kemauan Dimas. Dia masuk di kursi belakang berdampingan dengan Dimas. Lelaki itu masih tidak melepaskan genggaman tangan Mentari. Dia tidak percaya pada wanita itu sebelum mobilnya melaju.
Di dalam perjalanan, Mentari merasa jantungnya berdebar dengan kencang. Dimas masih menggenggam erat jemarinya. Wajah Mentari sudah seperti udang rebus. Dia tidak tahu lagi harus bagaimana. Belum pernah dia merasakan pacaran. Kalaupun dia jatuh cinta, ujungnya berakhir dengan cinta bertepuk sebelah tangan.
Dimas merasa ada yang memperhatikan dirinya. Matanya langsung melirik kepada Mentari dengan tajam.
“Ngapain kamu lihat-lihat?” tegur Dimas dingin.
“Karena kamu ganteng,” celoteh Mentari.
Ujang langsung menahan tawanya. Belum pernah ada wanita yang berani menjawab ucapan Dimas seperti itu. Lagipula bosnya itu selalu menghindari urusan dengan wanita.
“Apa kamu? Ikut tertawa, mau saya pecat!” ancam Dimas pada Ujang.
“Jangan, Pak,” rengek Ujang.
“Galak ih, enggak jadi gantengnya, ah,” sahut Mentari sambil memalingkan wajahnya.
Mata Dimas langsung terbelalak sempurna. Dia tidak menyangka gadis ini bisa bicara seperti itu kepadanya. Dia pikir Mentari adalah wanita pendiam dan tidak banyak bicara. Namun, Mentari memiliki wajah yang cantik. Hal normal jika seseorang melihat sesuatu dari wajahnya dulu. Akan tetapi Dimas tetap akan melakukan hal yang sama meskipun wanita itu tidak cantik.
“Rumah kamu di mana?” tanya Dimas.
“Kafe Kenangan Mantan yang ada di Jalan Pahlawan,” jawab Mentari.
“Rumah, bukan kafe. Saya harus antar kamu ke sana, bukan malah nongkrong,” kesal Dimas.
“Rumahku ya di kafe itu. Aku tinggal di sana,” jawab Mentari.
Sesampainya di depan kafe, Mentari ke luar dari mobil Dia melambaikan tangan pada Dimas seraya berkata, “Semoga kamu merindukanku.”
Dimas tersenyum sambil melambaikan tangannya pada Mentari. Kaca mobil perlahan naik dan mobil itu berlalu meninggalkan Mentari. Di dalam mobil, Dimas merasakan jantungnya berdebar tidak biasa. Dia mengepalkan tangannya berharap perasaan aneh ini mereda.
Terlintas tanya dalam pikiran Dimas, siapa lelaki yang melakukan itu dengan Mentari. Mengapa Mentari menuduhnya sebagai lelaki itu?
Sementara itu, Mentari masih tidak percaya jika dirinya tidak menderita penyakit mematikan tersebut. Beban pikirannya semakin bertambah saat dia mengetahui kalau dia tengah mengandung.
“Mentari, kenapa kamu bodoh sekali.” Mentari memukul kepalanya sendiri.
Salah satu karyawan Mentari mendekati bosnya lalu menepuk bahu.
“Bos, kenapa diam di sini?” tanyanya.
“Aku tidak apa. Kamu bekerja saja,” jawab Mentari sambil masuk ke restoran. “Hari ini kalian yang mengerjakan semua, saya tidak enak badan,” lanjutnya.
Mentari masuk ke kamar dengan berat hati. Dia lempar tas seenaknya lalu berbaring di atas tempat tidurnya. Wanita itu mengusap perutnya perlahan. Harusnya aku tidak mengandung. Aku belum siap untuk itu.
Mentari beranjak dari tempat tidurnya lalu mengambil kembali tasnya. Dia berjalan dengan cepat ke lantai satu. Mana mungkin ada lelaki yang mau bertanggung jawab atas kehamilannya. Lelaki tadi hanya menahannya untuk tidak melakukan hal bodoh itu.
Pada saat dia sampai di lantai satu, Mentari melihat ada sosok lelaki yang berdiri di depan pintu masuk. Lelaki itu membalikkan tubuhnya menghadap Mentari. Seketika Mentari terdiam karena Dimas kembali datang ke tempatnya.