Mentari kehilangan arah. Urusan dengan penyakit yang ternyata tidak ada sudah selesai, kini datang masalah baru. Dia mengandung buah hati dari perbuatan terbodoh yang dia lakukan. Bagaimana mungkin dia membesarkan anak yang dia tidak tahu ayahnya seperti apa.
Mentari mencoba menenangkan pikirannya dengan pergi ke sebuah taman. Dia duduk sambil merenungkan apa yang seharusnya dia lakukan saat ini. Suasana sangat hening, tidak ada yang duduk di taman saat terik seperti ini di jam kerja pula.
“Arrrrggghhh, bego banget sih kamu, Mentari. Sekarang kamu harus bagaimana?” Mentari memukul kepalanya sendiri.
Tiba-tiba terdengar suara ban mobil meletus dengan kencangnya. Mentari terperanjak dengan mata terbelalak. Tidak lama ada seorang lelaki yang ke luar dari mobil. Lelaki tinggi tampan berpakaian rapi. Sosoknya sangat familiar di mata Mentari. Dia mencoba mengingat apakah dia pernah melihat lelaki itu sebelumnya.
Perlahan lelaki itu mencari tempat duduk di sekitar taman. Matanya langsung tertuju pada sosok Mentari yang tengah memperhatikannya dengan tajam. Aroma parfum yang dikenakan lelaki itu mengingatkan Mentari pada malam panas yang di lakukan kala itu. Mentari meyakini jika lelaki itu adalah orang yang sama dengan lelaki di sampingnya.
“Dasar berengsek! Tanggung jawab sekarang!” pekik Mentari sambil menarik dasi lelaki di sampingnya itu.
“Siapa Anda? Jangan sok kenal seperti itu!” balas Lelaki itu memundurkan tubuhnya.
Lelaki itu bernama Dimas Jaya Kusuma, berusia 28 tahun belum menikah dan juga seorang CEO di PT. Quatonik milik ayahnya. Lelaki yang tidak pernah dekat dengan siapapun itu langsung terkejut saat melihat Mentari tiba-tiba mengatainya berengsek.
“Alah jangan pura-pura. Kamu itu lelaki yang di klub, kan? Kita menghabiskan malam panas bersama, jangan pura-pura lupa!” jelas Mentari berapi-api.
Dimas menggelengkan kepala. Dia tidak pernah menghabiskan malam dengan seorang wanita seumur hidupnya. Dia terlalu sibuk dengan pekerjaannya dan tidak ada waktu untuk bersenang-senang.
“Anda salah orang!” elak Dimas sambil melepaskan tangan Mentari dari dasinya.
“Aku yakin itu kamu. Jangan mengelak lagi, kumohon.” Mentari terisak memukul bagian atas tubuhnya yang terasa sesak.
Dimas membelalakkan matanya. Dia heran, mengapa wanita itu malah menangis di depannya. Dimas melihat sekeliling, tidak ada siapapun yang berada di taman.
“Saya tidak pernah melakukannya. Anda mau memeras saya,ya!” tuding Dimas balik.
“Siapa yang mau memeras. Aroma parfum sama, perawakan sama, ketampanannya sama, apalagi yang membedakan coba? Masa aku salah orang. Kalau kamu tidak mau tanggung jawab, tolong dong pakai pengaman saat melakukan itu. Aku sudah kehilangan kesucian, sekarang aku malah hamil. Sial sekali hidupku!” Mentari terus menangis sesenggukkan.
Dimas mengerutkan keningnya. Dia tidak pernah melakukan hubungan badan dengan wanita manapun. Akan tetapi dia menaruh rasa iba saat melihat Mentari menangis tersedu-sedu.
“Jangan menangis begini, kan bukan aku pelakunya. Kapan memangnya kamu melakukan itu?” tanya Dimas sambil menepuk bahu Mentari.
Mentari mencoba mengingat tanggal kejadiannya.“Sebulan lalu hari Jum’at minggu pertama Oktober di klub Diamond. Masa kamu lupa sih,” jawab Mentari putus asa.
“Bukan lupa, tetapi aku memang tidak melakukannya. Sebentar saya cek dulu di tab.” Dimas mengeluarkan tab dari tasnya.
Dimas mencari agenda kerjanya di hari Jum’at minggu pertama bulan ini. Ternyata dia sedang berada di Singapura untuk menandatangani perjanjian dengan klien. Kebetulan sekali Dimas memiliki bukti foto pada tanggal tersebut, lalu menunjukkannya pada Mentari.
Seketika Mentari lemas, ternyata Dimas bukan lelaki yang dia maksud. Bukti foto menunjukkan dia tidak berada di Jakarta pada jam yang sama, lalu dengan siapa dia melakukan hal itu.
Kepala Mentari langsung terasa sakit dan berdenyut. Pandangannya menguning dan akhirnya kesadarannya menurun. Mentari terkulai lemah di depan Dimas. Sontak Dimas sangat terkejut. Dia seperti tersangka utama yang membuat seorang wanita muda pingsan di hadapannya.
Dimas memutuskan membawa Mentari ke rumah sakit. Dia memanggil Ujang, menanyakan apakah mobilnya sudah siap atau belum. Setelah mobil selesai diperbaiki, Dimas menggendong Mentari menuju rumah sakit terdekat.
Wajah Mentari yang pucat membuat Dimas merasa kasihan. Ujang penasaran, siapa wanita yang sedang berada dalam pangkuan bosnya itu.
“Apa kamu lihat-lihat?” tegur Dimas kepada Ujang yang sesekali mengintip lewat kaca spion.
“Tidak, Tuan.” Ujang kembali fokus melihat ke jalan raya.
Sesampainya di rumah sakit, Dimas kembali menggendong Mentari menuju ruang UGD. Dia menunggu Dokter selesai memeriksa Mentari.
“Apakah Bapak suami dari ibu ini?” tanya Perawat.
“Saya bukan suaminya. Memangnya kenapa ya?” balas Dimas penasaran.
“Kondisinya sangat lemah, dia harus banyak beristirahat. Apa Bapak memiliki kartu identitasnya?” tanya Perawat.
“Sebentar, saya cek tasnya dulu.” Dimas terpaksa membuka tas yang dibawa Mentari. Terlihat ada foto hasil USG yang terselip dalam surat pemeriksaan dokter.
Dimas menemukan kartu identitas Mentari lalu memberikannya pada perawat tersebut. Dia sangat penasaran dengan hasil pemeriksaan dokter milik Mentari. Apalagi ada foto hasil USG di dalamnya.
Tidak lama, Dimas mendapatkan panggilan telepon dari Gio asisten pribadinya. Dia menghubungi karena ada rapat dengan jajaran staf. Dimas membatalkan semua jadwalnya hari ini. Dia penasaran dengan wanita yang terbaring di ruang UGD.
Setelah menunggu satu jam, akhirnya Mentari sadar dari pingsannya. Dia melihat ada selang oksigen berada di hidungnya, sakit kepalanya sudah reda. Dia melihat ada sosok lelaki yang tengah duduk di samping tempat tidurnya. Ternyata lelaki yang ada di taman itu tidak meninggalkannya sendirian.
Mentari menitikkan air mata. Ternyata Tuhan tidak membiarkannya menderita sendirian. Masih ada orang baik hati yang membawanya ke rumah sakit.
“Kamu sudah bangun,” ucap Dimas sambil meletakkan tabnya.
“Terima kasih sudah membawaku ke rumah sakit.” Mentari mencoba untuk duduk.
Dimas membantu Mentari untuk duduk. Dia merasa tidak tega melihat Mentari yang seperti hilang arah.
“Sebenarnya kamu ini kenapa? Apa kamu sepusing itu sampai menuduhkun seperti itu? Coba jelaskan,” tanya Dimas.
Mentari mendengkus, dia tidak punya tempat mengadu saat ini. Dia akhirnya menceritakan semua kejadian dari awal hingga akhir. Dimas mulai mengerti mengapa wanita ini bisa menggila seperti ini.
“Harusnya kamu lapor saja ke polisi,” usul Dimas.
“Lapor apa? Itu kan semua atas kesadaranku sendiri. Arrghh, harusnya aku bilang sama lelaki itu pakai pengaman. Bodoh banget sih,” sesal Mentari sambil memukul kepalanya sendiri.
Dimas menahan tangan Mentari yang terus memukul kepalanya sendiri. Mata keduanya saling beradu. Mentari merasa sangat malu telah menceritakan aib memalukannya ini.
“Sudahlah, anggap saja kamu tidak mendengarnya dariku. Aku akan mengurus jalan hidupku mulai sekarang. Terima kasih sudah membantuku,” pungkas Mentari.
Dia turun dari tempat tidur, berusaha berjalan menuju ruang administrasi dengan tertatih. Hatinya sedih, kecewa tetapi dia bisa apa. Terbersit dalam pikiran Mentari untuk tidak meneruskan kehamilannya saja.
Ternyata Dimas tidak meninggalkan Mentari sendirian. Lelaki itu masih memperhatikan Mentari dari kejauhan. Wanita itu tidak menyadari jika Dimas mengikutinya dari belakang. Mentari duduk di trotar sambil melihat layar ponselnya. Sesekali dia menangis sesenggukkan sambil memukul dadanya sendiri.
Mentari memutuskan untuk pergi ke tempat dukun beranak illegal. Dia mendapatkan alamatnya dari internet. Dia menghubungi dukun tersebut dan membuat janji. Mentari tidak ingin meneruskan kehamilannya. Dia tidak siap menjadi seorang ibu di saat dia masih tidak stabil dan juga belum menikah pula.
Mentari naik ojek online yang sudah dia pesan sebelumnya. Dimas meminta Ujang untuk mengikuti Mentari dari belakang. Mereka bagaikan polisi yang sedang mengincar buronan. Entah mengapa, Dimas merasa cemas dengan kondisi Mentari saat ini.
Setelah beberapa lama, akhirnya Mentari turun di depan klinik bersalin. Alangkah terkejutnya Dimas saat tahu mereka berhenti di depan klinik bersalin. Hatinya sudah tidak tenang. Apa yang akan Mentari lakukan sekarang?