1. Cinta Satu Malam

1101 Words
“Hei, tampan! Apa kamu mau bersenang-senang denganku?” tawar Mentari sambil menepuk pipi lelaki yang ada di sampingnya.   Mentari Cipta Pesona, 23 tahun. Wanita muda yang kehilangan orang tuanya setahun lalu karena kecelakaan bersamanya. Di hari kematian orang tuanya, dia divonis menderita kanker rahim stadium lanjut dan tidak akan bisa bertahan lebih dari setahun. Dia tidak ingin menghabiskan seumur hidupnya di rumah sakit. Dia memutuskan untuk tidak menjalani pengobatan. Hidup bersenang-senang, melakukan perjalanan wisata dan melakukan cinta satu malam adalah tujuannya sekarang.   “Memangnya aku cowok murahan!” tolak Damar sambil menghindar.   Damar Adhitya Kusuma, 30 tahun. Lelaki tampan dengan jabatan direktur keuangan di perusahaan Quatonik. Memiliki paras tampan dengan tinggi badan proporsional. Belum pernah menikah dan juga belum pernah melakukan pergaulan bebas.   “Cih … jangan jual mahal, apa jangan-jangan kamu masih suci ya belum disentuh wanita!” tuding Mentari setengah mabuk.   Damar tidak terima dituding masih suci di depan banyak orang di klub. Meskipun itu adalah kenyataan tetapi itu adalah rahasia. Dia menerima tawaran Mentari dan bersenang-senang dengannya malam ini.   Mereka pergi ke hotel Azalea, tempat favorit Damar menginap. Di kamar suite room dengan pemandangan cantik langit ibukota.Berada di lantai dua puluh, Mentari menggandeng Damar dengan mesra. Seperti pasangan yang dimabuk asmara.   Beberapa kali lelaki itu menelan salivanya karena tidak biasa dengan sikap Mentari yang terlalu mesra di tempat ramai. Mereka masuk ke kamar bersama. Mentari masih bersikap manja dan juga terus menggandeng Damar.   “Sekarang kita sudah ada di kamar. Ayo kita lakukan itu,” ajak Damar sambil melepaskan tangan Mentari.   “Tunggu dulu, masa mau melakukannya tanpa mandi dahulu. Bau asem tahu, habis joget di klub,” tahan Mentari.     Langkah wanita itu terlihat tidak stabil. Sesekali dia menabrak dinding menuju kamar mandi. Mentari memang sudah mabuk. Jantungnya terus berdebar tatkala membayangkan dia akan menyerahkan kesucian yang selama ini dia jaga.   Suara gemericik air mulai membasahi lantai kamar mandi. Mentari mulai membersihkan tubuhnya. Perlahan kesadaran Mentari kembali pulih seiring dengan percikan air yang membasahi wajahnya.   Lelaki mana yang bisa tahan dengan situasi seperti ini. Keimanan Damar seketika runtuh saat dia membayangkan sosok Mentari yang tengah membersihkan tubuhnya. Dia merangsek masuk ke kamar mandi, melihat dengan jelas tubuh wanita yang menawarkan dirinya dengan cuma-cuma.   Alangkah terkejutnya Mentari saat melihat sosok Damar ada di belakangnya. Tangan kekar lelaki itu langsung meraba seluruh tubuhnya. Mentari yang ketakutan berusaha untuk santai karena ini adalah keinginan terbodohnya. Melakukan hubungan cinta satu malam dengan pria asing tampan.   Malam terasa begitu panjang bagi keduanya. Hanya ada lenguhan dan erangan dari bibir keduanya yang menjadi melodi indah malam itu. Suasana semakin panas ketika mereka merasakan kenikmatan hakiki yang tidak terelakkan.   Keesokan harinya, Mentari bangun lebih awal. Dia menoleh ke samping dan menemukan sosok pria tampan tengah tertidur pulas. Mentari tidak bisa melihat wajahnya dengan jelas karena matanya minus. Terlebih lagi kadar alkohol di dalam tubuhnya membuat penglihatannya semakin buruk.   Mentari duduk di atas kasur sambil memeluk kedua lututnya. Dia merasakan rasa perih di area sensitifnya. Ingin rasanya dia menyesali perbuatannya kali ini. Akan tetapi, dia sadar ini adalah keinginannya. Lagipula sebentar lagi ajal akan menjemputnya.   Mentari membersihkan diri, dia berpakaian dengan rapi lalu pergi meninggalkan lelaki yang telah memberikannya rasa yang tidak terlupakan. Sungguh ini adalah hal terakhir yang akan dia lakukan.   Satu jam setelah Mentari pergi, Damar membuka matanya. Tidak nampak sosok gadis yang semalam bersamanya. Lelaki itu mengacak rambutnya kasar. Terbayang semua kejadian saat malam itu. Damar teramat malu kala dia bingung harus memulai dari mana. Dia bangkit dari tempat tidur dan melihat ada bercak darah di atas seprai.   Pikiran Damar semakin kacau, bagaimana bisa gadis itu menyerahkan kesuciannya dengan begitu mudah. Damar bertekad untuk mencari keberadaan wanita yang telah menyerahkan kesucian yang berharga itu kepadanya.   Sementara itu, Mentari kembali ke kehidupan normalnya. Menjalankan bisnis yang sudah dibangunnya sendiri. Kafe Kenangan Mantan sengaja dia bangun karena ingin mandiri dan juga tidak ingin bergantung pada harta peninggalan kedua orang tuanya.   Menjadi pemilik dari kafe yang dia punya membuat Mentari cukup bahagia dengan apa yang dia miliki saat ini. Dia tidak mempunyai harapan apa-apa lagi.   Sebulan kemudian, Mentari merasakan tubuhnya sangat fit. Lama dia terdiam dan berpikir keras, kenapa setiap harinya dia merasakan tubuhnya baik-baik saja. Seharusnya kondisi kesehatannya semakin memburuk setiap harinya. Dia segera mengecek kalender. Hari ini adalah tepat setahun setelah dia divonis menderita kanker.   Mentari memutuskan untuk mengecek kondisi kesehatannya. Rumah Sakit Pratama Indah adalah tempat dia dirawat dulu saat kecelakaan. Sebenarnya Mentari enggan menginjakkan kakinya kembali ke tempat ini. Dia tidak ingin teringat kecelakaan yang dialaminya.   “Hasil pemeriksaannya tidak ada sel kanker yang bersarang di rahim Anda,” papar Dokter sambil membaca hasil tes lab.   Mentari membelalakkan matanya. Dia tidak menyangka akan mendengarkan kabar mengejutkan seperti ini. “Dok, jadi sel kanker saya sudah sembuh?” tanya Mentari memastikan.   “Tidak ada kerusakan sel di dalam rahim Anda. Namun, di rahim Anda ada kantung kehamilan. Diperkirakan ini sudah berusia lima minggu,” jelas Dokter.   “Apa! Saya hamil, Dok?” Mata Mentari terbelalak.   “Selamat, ya,” ucap Dokter.   “Dok, coba cek sekali lagi. Tahun lalu saya divonis kanker stadium lanjut. Kenapa sekarang saya jadi hamil?” desak Mentari.   Dokter meminta perawat membawakan rekam medis lengkap Mentari. Tidak lama perawat itu datang sambil mengerutkan kening. Dia membawa dua berkas lalu memberikannya kepada dokter. Setelah membaca kedua rekam medis, wajah dokter tersebut berubah khawatir.   Dokter itu mendesah pelan. Alis matanya menurun, matanya memandang lurus pada Mentari. “Nona Mentari, maafkan kesalahan pihak laboratorium yang salah mendiagnosis hasil MRI,” sesalnya.   “Astaga! Jadi saya tidak menderita kanker? Lalu apa benjolan yang ada di rahim saya waktu itu?”   “Ternyata terjadi kesalahan, saya meminta maaf atas kelalaian pihak rumah sakit ini,” sesal Dokter itu.   “Jadi saya tidak sakit kanker, Dok?”   “Iya.” Angguk Dokter itu perlahan.     Mentari menggebrak meja dengan keras. Dia tidak terima saat mengetahui ada kesalahan saat memasukkan data.   “Dokter, saya tidak terima! Kenapa rumah sakit lalai seperti ini? Vonis kanker itu bukan main-main Dok. Saya sudah frustasi karena mendengar kabar seperti itu. Saya mau menggugat rumah sakit ini sebagai bukti kelalaian fatal ini!” kesal Mentari sambil merebut rekam medis dari tangan dokter.     Dia ke luar dari ruangan pemeriksaan. Hatinya sedih, kacau dan juga ada sedikit kegembiraan. Dokter dan perawat tersebut langsung menyusul Mentari. Pihak rumah sakit tidak mau hal ini menjadi besar dan merusak citra rumah sakit. Mentari diajak untuk membicarakan dengan pihak humas rumah sakit. Mereka membicarakan perihal permintaan maaf dan juga akan memberikan kompensasi kerugian immaterial pada Mentari. Namun, masalah belum berakhir sampai di situ. Ada masalah baru yang menghampiri Mentari saat ini.   Siapa bayi dari anak yang dikandungnya?
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD