7 - Date Pertama

1206 Words
"Masih bisa bangun? Baru aja gue mau telepon mobil jenazah." Flora mendecak kesal. Baru saja dia bangun dari lelapnya yang nyenyak, Gera sudah menyindirnya seperti itu. Ya bukan tanpa alasan sih, pasalnya Flora tidak melihat matahari sejak dia terlelap kemarin. Flora juga merasa apartemen Gera begitu hening. Hanya ada Gera yang duduk di sofa sembari menonton televisi. "Lo gak bikinin gue sarapan? Gue kan capek banget gara-gara kemarin," rengek Flora usai mendaratkan bokongnya di sebelah Gera dan bergelendotan manja dengan calon suaminya itu. "Sarapan? Ini aja udah jam 7 malam, Flo." "Terus? Masa gue gak makan seharian?" "Salah sendiri kayak kebo." "Ih calon suami! Jahat banget sih!" Flora berdiri dari duduknya lalu menghentakkan kakinya kembali ke kamar Gera. Flora benar-benar kesal dengan Gera. Padahal bukan salah dirinya yang bangun setelah 12 jam lebih terlelap nyenyak. Jika Gera tidak suka dirinya tidur lama seperti ini, kenapa tidak dibangunkan saja? Malah menyindirnya seperti itu. Ditambah dengan dapur Gera yang kosong. Tidak ada makanan sama sekali. Kenapa orang tuanya begitu percaya kepada Gera? Ceklek! Flora menyembunyikan seluruh tubuhnya di bawah selimut. Dia tahu kalau Gera tengah menatapnya dari ambang pintu. Apapun yang pria itu lakukan, Flora tidak akan goyah. "Ayo cari makan." Jujur saja, bibir Flora berkedut ingin tersenyum. Ini pertama kalinya Gera mengajak dirinya pergi. Tetapi Flora gengsi. Dia juga ingin tahu usaha Gera untuk meluluhkannya. "Gak usah diem gitu, cepetan kalo mau makan!" "Bodo! Gak usah!" "Terserah!" Brak! Ehm, gitu doang? Flora pikir Gera akan membuka selimutnya, menarik tubuhnya, atau bahkan menggendongnya secara paksa. Bukankah itu yang biasanya pria lakukan saat sang wanita merajuk? Flora membuka selimutnya dan menghembuskan nafasnya kasar. Gera memang benar-benar menjengkelkan. Tetapi sialnya, Flora sudah terlanjur cinta. Akhirnya Flora bangkit dari tidurnya kemudian mengganti pakaiannya dengan baju pergi yang sepertinya dikirim oleh keluarganya. Karena sudah malam, Flora jadi malas mandi. Hanya cuci muka dan sikat gigi saja. Lagian dia juga sudah cantik. Flora keluar dari kamar dan melihat Gera sedang di balkon apartemen membelakanginya. Memegang ponselnya ke telinga. "Iya sayang, kamu tolong ngertiin aku ya." "Iya boleh kok boleh, aku cintanya sama kamu bukan sama dia." Darah Flora serasa terus meningkat sampai ke ubun-ubun. Sudah tidak dikasih makan, sekarang ditinggal telepon dengan kekasihnya. "Sayang, katanya mau makan! Ayo dong, aku udah laper ini!" Gera melotot kesal saat Flora dengan sengaja meninggikan suaranya agar Bella dengar. "Bocah itu lagi sama kamu?! Katanya gak ada!" Flora menahan tawanya ketika wajah Gera terserang panik. Karena suara Bella terlalu keras, Flora jadi bisa mendengarnya juga. "Nggak sayang, ini dia tiba-tiba dateng." "Aku kan daritadi di kamar, kecapean gara-gara kamu loh ya!" Gera kembali mendecak kesal dan melototinya agar diam. Telinganya sudah panas mendengar ocehan demi ocehan Bella yang tiada hentinya. Flora mundur sekilas lalu menyandarkan tubuhnya di pintu balkon. Menyilangkan tangannya dan menatap Gera yang sibuk menjelaskan kepada Bella. Flora tidak mengerti, kenapa Gera harus berusaha menjelaskan seperti itu kepada orang yang sudah tidak memepercayainya. Jika Flora berada di posisinya, sudah pasti Flora matikan teleponnya. Tidak sampai lima menit, Gera akhirnya menurunkan ponselnya dari telinganya. Tubuhnya membungkuk lemah lalu berbalik menatap Flora dengan tatapan tajamnya. "Lo sebenernya kenapa sih?! Mau banget gue sama Bella putus!" Gera bertolak pinggang menatap Flora. "Ya iyalah gue mau lo berdua putus! Kan lo calon suami gue!" "Kan gue udah bilang, kita bakal ce-" "Ah udah cepetan! Gue laper!" Daripada mendengar kata keramat tersebut, lebih baik Flora menarik lengan Gera secara paksa menuju luar apartemen. Gera menghempas kasar tarikan Flora lalu berjalan lebih dulu ke arah lift. Flora tahu kalau Gera marah padanya. Tetapi bukankah seharusnya Flora yang marah di sini? Melihat calon suaminya menelepon kekasihnya yang ada Aussie secara terang-terangan. Sudah bagus Flora tidak melempar ponselnya dari balkon apartemen. º~º "Kita mau makan apa nih?" tanya Flora begitu mendaratkan bokongnya di kursi sebelah pengemudi. "Gak usah rewel, ikut aja." "Ih! Biasanya tuh cowok tanya dulu 'mau makan apa', baru ceweknya jawab 'terserah', baru-" "Nah lo mau jawab terserah, kan?" Flora mengangguk polos. "Ya udah ikut aja." Flora menghela jengkel. Benar-benar tidak ada romantisnya pria di sebelahnya ini. Berbeda sekali saat Gera berbicara dengan Bella. Begitu lembut dan penyayang. Jika dengan Flora, kalau tidak dibentak... ya disinisin. Malam yang biasanya Flora habiskan untuk pergi dengan teman, kini sibuk menghabiskan waktu dengan Gera. Tidak ada canda tawa yang biasa dia lakukan dengan dua sahabatnya, tetapi bersama Gera tetap jauh lebih menyenangkan baginya. Walaupun Gera tidak menoleh padanya selama di perjalanan, Flora tetap betah menatap wajah tampan pria itu dari samping. "Ayo turun." Flora menatap sekeliling dengan seksama. Kenapa Gera membawanya ke sini? Tempat yang sangat familiar sampai membuat Flora ingin mencekik Gera saat itu juga. "Ngapain ke sini?!" "Kan lo mau makan." "Terus?" "Minta sama bokap nyokap lo, gue mau istirahat di rumah." Flora menatap jengkel tempat tinggal yang menjadi tujuan Gera mengantarnya. Padahal dia sudah membayangkan kencan bersama Gera di sebuah rumah makan dengan tema candle light dinner. Kalau berujung ke rumahnya sih bukan candle light dinner namanya, tapi gak jadi dinner. "Lo turun kalo gitu!" pinta Flora sedikit memaksa Gera usai dirinya turun dari mobil. Dengan jengkel Gera mengikuti permintaan Flora. "Ayo makan bareng, lo pasti belom makan juga, kan?" Flora melembutkan nada suaranya sembari merangkul manja Gera. Menggiringnya masuk ke dalam rumahnya. Jika sudah seperti ini, mana bisa Gera menolak? Begitu sampai di dalam, Farah dan Paul yang tengah bermesraan di ruang nonton langsung bangkit menghampiri keduanya. "Flora bangunnya kelamaan ya, Ger? Duh, emang suka repotin nih dia," ucap Farah sembari menepuk pelan pundak putrinya itu. Gera terkekeh sekilas. Dia sangat menyetujui keluhan sang ibu dari Flora. "Gak apa-apa, Tante, Flora juga capek gara-gara kemarin." "Kalau gitu kamu nginep aja di sini gantian, kan mau pulang ke apartemen juga jauh. Ke rumah mama papa juga mungkin udah pada tidur." Flora tersenyum sangat lebar mendengar ide dari ayahnya itu. Dua hari berturut-turut tidur dengan Gera di bawah atap yang sama membuat Flora merasa antusias. Apapun yang terjadi Gera harus menginap di rumahnya malam ini. Dan juga harus tidur di kamarnya. Lagipula bentar lagi akan nikah, jadi apa salahnya? "Bener! Udah nginep sini aja, calon suami!" "Kamu ini, Gera jadi gak nyaman itu," ucap Farah menggeleng heran ke arah putrinya itu. Selalu centil dan manja pada Gera. "Gimana Gera? Mau ya?" desak Paul penuh harap. Gera masih berdiri diam bingung harus menjawab apa. Kalau harus jujur, lebih baik dia menyetir beberapa jam lagi daripada tidur di bawah atap yang sama dengan Flora. Selain jengkel dengan tingkah gadis itu, masih ada masalah dengan Bella yang harus dia selesaikan. Tidak mungkin dia menelepon Bella disaat dia di rumah Flora. Bisa-bisa berujung maut oleh bapaknya jika tahu dirinya punya pacar. "Udah gak apa-apa, nginep aja," bujuk Flora sembari menggoyang-goyangkan jemari Gera. "Ya udah, Om, aku nginep aja." "YES! Ayo ke kamar gue!" Baru saja Flora berniat menarik tangan Gera, tarikan dari belakang kaosnya menghentikan niatnya. "Apa sih, Ma?" "Itu Gera tidur di kamar tamu," ucap Farah. "Ih jangan, dia sendirian dong? Dia penakut tau." Flora mencoba berdusta agar orang tuanya mengijinkan Gera tidur di kamarnya. "Gera itu pemberani, gak mungkin takut kok. Ya kan, Gera?" "Iya, Om! Aku udah biasa tidur sendiri," jawab Gera penuh semangat. Dia melepas genggaman erat Flora pelan-pelan. "Kalian udah makan?" tanya Farah. "Belom," jawab Farah. "Makan dulu yuk sebelum tidur."
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD