0 - 17th Birthday Gift
Flora ikut tersenyum memperhatikan seluruh teman sekolahnya tertawa dan menikmati acara malam ini. Acara yang menjadi saksi bahwa hidupnya telah legal. Membayangkan bagaimana bebasnya dia nanti setelah mendapat KTP dan SIM, membuat Flora sangat tidak sabar. Selama ini dia hanya bisa menggigit jari melihat story i********: teman-temannya yang memamerkan tengah berjoget ria di dalam sebuah kelab.
Sehingga malam ini, Flora tidak akan menahan diri lagi. Tidak ada lagi lampu terang yang sengaja menerangi ballroom hotel bintang lima tersebut. Sebagai gadis legal berumur 17 tahun, Flora meminta untuk meredupkan lampu dan menggantinya dengan lampu kelap-kelip seperti yang ada di kelab. Musik yang diputar juga sudah berganti dengan genre EDM dengan seorang DJ di atas panggung.
Seluruh temannya berkumpul di depan panggung untuk berloncat-loncat menikmati musik tersebut. Begitu juga dengan Flora yang sudah berada di tengah-tengah para kerumunan tersebut. Walaupun semua temannya bahagia, mereka masih mengeluh agar Flora menyiapkan alkohol rendah agar terasa benar-benar seperti di kelab. Namun Flora masih memiliki akal sehat, dia masih ingin nama Prasaja sebagai marganya.
"Once again! Happy birthday Flora!" Seruan sang MC bersama teman-temannya diikuti dengan suara ledakan confetti sebagai tanda usainya acara tersebut.
"Thankyou ya semuanya!"
Sebelum para tamu keluar dari ballroom tersebut, seorang wanita paruh baya bersama sang suami menaiki panggung. Farah menepuk mic sekilas lalu menyuruh teman-teman Flora untuk tinggal sebentar saja. Tidak hanya teman-temannya, Flora sendiri mengernyit heran atas kelakuan mamanya tersebut. Sebelum acara dimulai, seorang EO hanya memberi tahu bahwa semua dapat pulang setelah acara DJ selesai.
"Minta waktunya sebentara ya, Tante mau membagikan sesuatu pada kalian. Dan untuk Flora, ini adalah hadiah dari Mama papa!" Flora tersenyum kikuk sembari menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Entah kenapa, senyuman ceria sang orang tua membuat perasaan Flora tidak enak.
Beberapa pelayan berpakaian putih menenteng sesuatu yang tipis berwarna krem di tangannya. Mereka juga membaginya kepada teman-teman Flora yang telah menyebar kemana-mana. Namun yang menarik perhatian Flora adalah reaksi para teman-temannya. Semuanya melotot terkejut setelah melihat sejenak apa yang tertulis dalam benda tipis tersebut.
"Ada apa sih? Kok gue makin penasaran?" tanya Emi, sahabat Flora yang menunggu gilirannya untuk dibagi.
"Tapi bentuknya kayak undangan pernikahan gak sih?" Jimmy yang juga salah satu sahabat Flora memperhatikan benda tersebut.
"Gak mungkinlah! Masa emak gue nikah lagi? Ada-ada aja!" elak Flora mendengus geli akan ucapan konyol sahabatnya itu.
"Ih, tapi kenapa kita bertiga kayak jadi orang terakhir yang dapat benda itu ya?" Seperti biasa, Emi mulai membuat skenario sendiri dalam kepalanya. Segala kemungkinan yang normal sampai abnormal juga dapat dia jadikan prasangkanya.
"Nah! Akhirnya!"
Jimmy, Flora, dan Emi menerima benda tipis krem tersebut dan mulai membacanya. Flora pikir benda ini bukanlah hal yang penting, sehingga dia terus mengejek teman-temannya yang melotot ke arahnya dengan kata lebay. Tetapi usai membaca kata demi kata yang ada dari benda tersebut, Flora juga melakukan reaksi lebay seperti yang lainnya.
"Flo... ini... beneran?" Emi menoleh ke arah Flora tidak percaya.
"Gu- gue gak tau."
"Invitation to our wedding Gera Armanto & Flora Prasaja." Jimmy mengulang kalimat yang tertera itu berkali-kali. "Ini beneran elo?"
"Apa ini mimpi? Bukan, pasti bukan mimpi! Kenapa gue diundang ke pernikahan gue sendiri?" seru Flora sangat panik lalu membalikkan tubuhnya menghadap kedua orang tuanya di atas panggung. Berbeda dengan wajah penuh keringat Flora yang cemas, kedua orang tuanya justru mengangguk antusias.
"Semua teman-teman Flora, jangan lupa datang ya!"
"MAMA!" pekik Flora tidak terima.
"Ada apa sayang? Kurang bagus ya design nya? Kita bis-"
"Aku gak bercanda, Ma!" Paul dan Flora saling menatap lalu menuruni panggung setelah memperbolehkan teman-teman Flora untuk pulang. Kecuali Jimmy dan Emi yang setia menemani sahabatnya di tempat.
Kedua sahabatnya itu tidak tega melihat Flora gemetaran membaca ulang undangan pernikahan yang tertulis namanya sendiri sebagai pengantin. Mereka tahu sekali apa yang ingin Flora lakukan setelah menginjak umur 17 tahun. Jika Flora menikah sekarang, berarti dia akan menjadi ibu rumah tangga. Membayangkan dirinya terus berdiam diri di rumah menunggu sang suami pulang membuat Flora mual. Ditambah, Flora tidak tahu siapa dan seperti apa wujud dari Gera Armanto itu.
"Sayang, pernikahan ini adalah hadiah untuk kamu. Papa dan mama gak mau lihat kamu sulit mencari-cari jodoh lagi. Jadi kami siapkan yang paling sempurna untuk kamu," ucap Paul mencoba menenangkan amarah sang putri.
"Siapa bilang aku kesulitan? Aku bisa kok cari jodoh tanpa dijodohin kayak gini! Kalian ragu sama aku?"
"Bukan gitu sayang, Gera ini anaknya baik, kamu pasti suka deh." Gantian Farah yang meyakinkan putri satu-satunya itu. Lalu beralih menatap kedua sahabat Flora. "Kalian setuju juga, kan? Nanti Emi bisa jadi bridesmaidnya Flora."
Flora mendesah frutasi sembari meringis menahan pening di kepalanya. Ia bertolak pingging dan memijat pelan pelipisnya. Undangan sialan ini benar-benar menyusahkan hidupnya. Siapa yang mau jadi ibu rumah tangga di umur 17 tahun? Jangankan 17, umur 25 saja Flora masih ogah menjalin rumah tangga.
Dia belum merasakan menjadi anak-anak eksis yang biasa berkumpul di kelab sampai subuh. Belum juga jalan-jalan ke luar negeri bersama dua sahabatnya ini. Tetapi dia sudah harus mengurus suami yang tak dia kenali? Lebih baik Flora menjadi janda sebelum nikah nanti.
"Aku mau cerai."
"Hush!" seru Paul dan Farah bersamaan. Farah menggeleng tidak percaya ke arah putrinya ini. "Nikah aja belum udah mau cerai."
"Ya abis nikahnya begini! Udahlah, aku gak mau dateng!"
"Gimana ceritanya lo gak dateng? Lo kan pengantinnya!" Emi mendorong pelan bahu sahabatnya itu dengan jari telunjuknya.
"Tapi kan gue diundang, bukan dilamar."
"Gak salah sih," gumam Jimmy mengangguk setuju.
"Udah! Pokoknya kamu akan sibuk ngurusin pernikahan sama Gera besok!"
"Ih! Apa-apaan?! Gak mau ah, Ma! Kenal aja nggak!"
"Ya kenalan makanya, kalian kan calon suami istri."
Flora menatap kesal ke arah Paul dan Farah yang kini pergi menuju sekumpulan keluarga di pojok ballroom. Dia yakin para keluarga juga mendapat undangan yang sama. Namun tidak ada raut cemas atau keluh kesah pada orang tuanya karena telah menikahkan gadis berumur 17 tahun itu pada pria asing. Flora menjadi ragu, apa dia benar-benar anggota keluarganya atau bukan.
"Satu-satunya cara biar lo bisa bebas ya ngomong sama laki lo nanti, kalau lo masih mau main-main." Emi mencoba mengurangi kecemasan sang sahabatnya.
"Please deh bahasa lo, jangan panggil dia 'laki' gue. Geli dengernya."
"Atau lo mau kita temenin besok? Biar nggak canggung banget." Flora berbinar mendengar ide brilian dari Jimmy. Jarang sekali temannya ini dapat diandalkan dalam keadaan serius. Tentu saja Flora mengangguk antusias menyetujuinya. "Eh gue lupa, besok kan sekolah. Gak bisa deh."
"Iya bener, kalau guru tau kita bolos bertiga, pasti dibilang kita rencanain."
Bahu Flora kembali merosot lemah. Sepertinya alam semesta memang mendukung rencana pernikahan konyol yang dibuat oleh orang tuanya. Mau bagaimanapun, Flora harus menghadapinya sendirian. Menemui dan bernegosiasi dengan Gera-Gera itu. Setidaknya agar pria itu tahu kalau dirinya sangat enggan menjadi istrinya. Jadi tidak ada tuh, Flora yang harus patuh akan perintah sang suami nanti. Kalau sampai terjadi, Flora jamin tidak akan memberi jatah padanya. Eh tunggu, perjodohan tetap ada jatah-jatahan, kan?
º~º
Di sisi lain, suasana yang begitu tenang nan damai itu tidak dapat menutup aura gelap yang terpancar dari seorang pria bernama Gera Armanto. Jemarinya meremas undangan krem yang juga didapati oleh Flora. Baru saja pulang dari Australia setelah 13 tahun dia habiskan di negeri kanguru, dia harus menerima fakta bahwa dirinya akan menjadi seorang suami dari gadis berusia 17 tahun.
Siapa yang dapat menerima hal tersebut dengan lapang d**a? Terlebih, Gera memiliki seorang kekasih di Australia yang sudah berjalan 2 tahun bersamanya. Memang sih Gera ingin cepat menikah. Tetapi bukan dengan gadis ingusan yang belum tentu mengerti apa yang dia sukai di atas ranjang. Gera ingin memiliki istri yang juga sama dewasanya seperti dia. Bella contohnya.
Jika sudah seperti ini, Gera tidak dapat melakukan apa-apa kecuali bercerai usai menikah. Padahal Gera anti sekali dengan kata 'cerai' di dalam sebuah rumah tangga. Namun untuk masalah ini berbeda, kata 'cerai' justru sangat dibutuhkannya. Besok Gera akan menemui Flora Prasaja untuk memberi tahu semua rencanya.
"Gera, kamu ke hotel Faesta sekarang ya, biar besok habis Flora bangun, kamu bisa langsung jalan ketemu WO kalian."
Gera menatap Gina, ibunya, sekilas lalu mengangguk nurut. Percuma kalau ditolak, pasti Gina akan terus membujuknya seperti saat membujuk Gera untuk menerima undangan pernikahannya sendiri.
"Ya sudah, Mama sama papa kapan ke sana?"
Gera beranjak dari sofa ruang tengah berniat untuk pergi. Namun pertanyaannya tidak juga dijawab oleh kedua orang tuanya. Justru hanya tatapan tersipu-sipu Gina sembari merangkul erat pria paruh baya yang tersenyum khas. Iya, senyuman khas para pria saat akan melakukan hal yang diinginkan.
Gera memutar matanya malas. Dia seorang pria, tinggal di Aussie pula. Mana mungkin masih polos akan hal-hal seperti ini. Tidak ingin berdebat, Gera segera melangkah meninggalkan kedua orang tuanya.
"Gak tau umur dasar."