1 - Rahim Anget

1140 Words
Tidur jam 12 malam, tetapi Flora dipaksa bangun oleh Farah jam 7 pagi demi bertemu Gera yang katanya sudah menunggunya di lobby. Semalam memang Flora tidak pulang ke rumah. Flora dan orang tua tidur di hotel dengan kamar yang terpisah. Berharap dapat bangun siang, Flora justru menguap tidak karuan di meja makan sarapan yang disediakan di hotel tersebut. Mana Gera yang ibunya bangga-banggakan itu? Sudah tua kok masih telat saja. Flora terus mendumel kesal sembari melahap telur omelet di piringnya. Jika tahu si pria telat, lebih baik Flora naik ke atas dan kembali tidur. Sayangnya, seluruh makanan yang tersaji menahan Flora untuk beranjak. Perutnya keroncongan akibat tidak makan malam usai loncat-loncat di depan panggung. Flora tidak tahu kalau bersenang-senang itu melelahkan. Tetapi tidak apa-apa, setidaknya Flora sudah legal sekarang. Ah, Flora tidak sabar menunggu akhir pekan dan pergi ke kelab bersama teman-temannya. Senyumnya memudar saat seseorang menarik kursi di hadapannya dan duduk dengan santai. Pupil mata Flora membesar memperhatikan pria tampan yang kini sibuk melahap nasi gorengnya. Tidak hanya wajah, Flora juga memperhatikan bahu serta lengan kekar pria itu dibalik kaos hitamnya. Sejak kapan warna hitam dapat membuat Flora b*******h? "Ha- hai? Siapa ya?" sapa Flora lebih dulu. Padahal seharusnya pria itulah yang menyapanya lebih dulu. Karena tampan, Flora maafkan. "Gera." Jeng! Kedua mata Flora semakin melotot tidak percaya. Jadi dia calon suaminya? Kalau tahu setampan ini, Flora tidak akan mengeluh semalam. Flora justru bersyukur menyembah Tuhan karena diberi pria tampan nan seksi seperti Gera. "Jadi lo calon suami gue?" Gera mengangguk datar dan menyeruput teh dingin miliknya. Dilihatnya Flora yang tersenyum menggigit bibir bawahnya dengan mata yang tidak lagi memandang matanya. Melainkan tubuhnya. Untuk pertama kalinya Gera merasa dilecehkan. "Kita entar punya anak ya." "Hah?" "Iya, kita punya anak kan entar?" "Kan lo masih sekolah?" "Terus? Emang anak umur 17 tahun gak bisa jadi istri? Gua tuh udah bisa bikin anak tau!" Gera tertegun mendengar kalimat ceplas-ceplos calon istrinya ini. Dari wajah galaknya saja meyakinkan Gera kalau Flora cukup ganas. Kenapa dia menjadi merasa terancam? Sadarlah, Flora hanya gadis umur 17 tahun yang tidak tahu apa-apa. Dibohongi saja mungkin dia tidak sadar. Gera menyandarkan tubuhnya memandangi Flora yanf menatapnya dengan senyuman s*****l. Tetapi sayang, Gera tidak tertarik. Sebagai pria umur 25 tahun, gadis berusia 17 ini bukanlah tandingannya. Hanya Bella yang dapat memuaskannya. Gera bisa menjamin itu. "Gue gak akan bikin anak sama lo." Flora mengernyit tidak setuju. "Kenapa? Kita kan suami istri?" "Lo masih kecil, gue bukan pedo." "Hello! 17 tahun itu udah legal, jangan sok tua gitu deh." Flora jadi tidak yakin dengan sikap asli Gera. Dari wajahnya terlihat sangat tenang dan menarik. Lembut dan sedikit misterius yang membuat penasaran. Tapi kok mulutnya kayak minyak telon ya? Pedes-pedes minta diselepet. "Kita akan cerai nanti karena gue mau balik ke Aussie." "Cerai? Lo bilang cerai? No, no, no, gak segampang itu suamiku." Flora mengoyangkan jari telunjuknya ke kanan dan ke kiri. Senyumnya menyungging sinis seakan meremehkan rencana Gera. "Terus? Lo mau seumur hidup sama gue?" "Maulah, kenapa engga?" "Ya kenapa mau?" Lagi-lagi Flora tersenyum menggoda ke arahnya. Gadis itu memajukan tubuhnya yang secara otomatis diikuti oleh Gera. "Lo bikin rahim gue anget." Gera segera memundurkan tubuhnya lalu berdeham tidak nyaman. Ia memalingkan wajahnya dan kembali menyeruput teh dingin miliknya sampai tak tersisa. "Jadi, jangan harap bisa cerai dari gue. Oke?" Oke fix, gadis ini gila. Gera merasa panas dan gelisah untuk pertama kalinya disebabkan oleh seorang perempuan. Masih umur 17 tahun pula. Biasanya, Gera lah yang jago membuat para gadis gelisah dalam arti lain. Namun, sekarang Gera sadar kalau Flora bukanlah gadis biasa yang dapat ditanganinya. Flora sendiri masih tersenyum sangat bahagia. Menopang dagunya dan menatap seluruh lekuk wajah dan tubuh Gera yang terlihat. Yang tidak terlihat akan dia cek saat malam pertama. Sungguh, habis ini Flora akan memeluk dan mencium kedua orang tuanya. Gera Armanto adalah hadiah terindahnya. º~º "Jadi dulu lo tinggal di Indonesia? Kok gue gak pernah lihat lo? Padahal gue kenal om sama tante loh!" "Kan gue ke Aussie." "Terus lo inget gue gak?" Selama diperjalanan, Flora tidak sedikit pun memalingkan wajahnya dari Gera. Pinggangnya tertekuk seakan hanya dapat mengerah ke calon suaminya itu. Tanggal pernikahan sudah dekat, Flora ingin tahu banyak mengenai Gera. Dan ternyata Gera adalah anak dari teman orang tuanya. Semenjak remaja, Flora sangat jarang menemui orang tua Gera. Seperti anak-anak remaja lainnya, Flora ingin lebih menghabiskan waktu dengan teman-teman. "Nggak." "Kok lo pikun gitu sih? Padahal lo udah umur belasan kan pas ketemu gue?" Gera mendecak kesal atas hinaan halus Flora. Bahkan wajah gadis itu sengaja dipolos-poloskan yang membuat Gera ingin menaboknya. Tenang, Gera tidak akan melakukannya. "Lo gak penting, ngapain gue inget?" "Ya tapi kan sekarang gua penting, gue calon istri lo. Coba inget-" "Turun, udah sampe." Tanpa basa-basi, Gera melepas sabuk pengamannya dan turun lebih dulu.  Flora ikut turun dan berlari menuju Gera yang sudah berjalan cukup jauh di depannya. Tidak meminta ijin atau apapun, lengan Flora melingkar di lengan kekar milik Gera. Ya ampun, hanya merangkulnya saja Flora sudah merasa melayang. Apalagi jika- ah sudahlah, jangan dibayangkan. Gera mendesah pasrah. Lebih baik dia segera masuk ke restoran tempat janjiannya dengan sang WO. Lebih cepat lebih baik. Gera tidak sabar pulang ke rumah untuk tidur dan menelepon Bella. "Selamat siang Gera dan Flora," sapa seorang wanita cantik saat melihat kedua insan itu memasuki restoran. "Halo, Tante." Flora terdiam bingung menatap Gera dan wanita cantik itu berpelukan akrab. Flora yakin wanita itu bukanlah salah satu mantan Gera, manggilnya aja tante. Atau mungkin wanita itu benar-benar tante Gera? "Flora ini tante Tera, adiknya mama." Benar dugaan Flora. Dia maju menyapa Tera dengan sikap manisnya. "Halo, Tante, aku Flora." Tera mendecak kagum menatap Flora dari atas sampai bawah. "Duh, kamu cantik sekali sih? Dulu kamu masih kecil loh, sekarang udah mau jadi istri aja!" Flora menunduk dengan senyuman tersipunya. Gera tidak kuat melihatnya, dia segera minta Tera untuk menjelaskan dengan detail pernikahannya nanti. "Kamu ada dream wedding? Maunya yang seperti apa?" Flora menggulingkan pandangannya ke atas untuk berpikir sekilas. "Aku mau yang kayak istana princess gitu, Tante. Banyak bunga-bunga putih sama pink." "Bagusan kalau di rooftop, bisa lihat pemandangan Jakarta malem-malem." Gera ikut menuangkan pendapatnya. "Ih, dingin dong kalau di rooftop. Gak mau ah!" "Lemah banget," desis Gera menyilangkan tangannya di d**a. Beruntung Flora tidak begitu mendengarnya jelas. Melihat kedua calom pengantin itu berdebat, Tera menjadi tersenyum geli. Apalagi yang dia lihat adalah keponakannya sendiri. "Ya sudah, Gera setuju sama Flora? Indoor dan bertema istana gitu?" "Iya, terserah dia aja, Tante." Flora bertepuk tangan penuh antusias. Dia juga memberikan senyuman kemenangannya pada Gera. Bagaimanapun juga, dalam pernikahan ini Floralah yang diuntungkan. Mendapat suami tampan, wedding dream kesampaian pula. "Baiklah, semoga lancar sampai hari-H ya. Tante gak sabar lihat kalian resmi jadi pasangan suami istri." "Sama, Tante, aku juga gak sabar." Flora menyenggol pelan tubuh Gera yang hanya dibalas decakan tidak suka.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD