2 - Will You Marry Me

1268 Words
"Ayo masuk dulu." Flora menarik-narik lengan Gera agar masuk ke dalam rumahnya yang tengah sepi itu. Bukankah seharusnya Flora yang takut jika Gera masuk ke rumahnya saat sepi? Kok ini Gera ya yang merasa terancam. Padahal niatnya hanya mengantar Flora sampai ke depan pagar saja, lalu segera pulang cepat-cepat. Nyatanya gadis gila ini tidak membiarkannya pergi begitu saja. "Udahlah, gue mau balik!" "Ih, rumah lagi gak ada orang kok! Tenang aja." Flora tersenyum semanis mungkin. Tangannya masih memegang tangan Gera agar tidak kemana-mana. Pokoknya yang pakai baju hitam jangan sampai lolos. "Ya tapi gue gak mau!" "Kenapa?!" "Lo serem tau gak?!" Flora mendengus kesal dan menghempaskan tangan Gera kasar. "Nah gitu dong." Flora melipat tangannya di d**a dan memasang wajah cemberutnya. Berharap Gera membujuk dirinya yang bernotabene sebagai calon istrinya. Memang sudah menjadi tugas laki-laki untuk membujuk perempuan yang sedang marah. Bukan malah ditinggal seperti yang Gera baru saja lakukan sekarang. "Ih, calon suami mau kemana sih?!" Flora menghentakkan kakinya sebal. "Kan dibilangin mau pulang, mau kemana lagi sih?" Gera mengacak rambutnya frustasi. Apa gadis ini benar-benar harus menjadi istrinya? Menyebalkan. Mending pelihara orang utan kalo gini mah. "Ayo masuk dulu," rengek sang gadis sembari menggoyang-goyangkan bahunya manja. Bibirnya Flora majukan berapa senti berharap Gera luluh. Setelah menyusun rencana untuk kabur jika dirinya dilecehkan, Gera pun mengngguk setuju. Dia berjalan masuk ke dalam rumah Flora takut-takut. Pikiran gadis 17 tahun ini sulit sekali ditebak. Gera hanya berharap senja cepat berlalu agar malam menjadi alasannya untuk pulang. "Mau duduk di sini atau kamar? Bol-" "Sini aja." Gera segera duduk di sofa nyaman yang ada di ruang tengah. Flora tersenyum gemas lalu ikut duduk di sebelah Gera. Tidak main-main, Flora menipis jarak yang ada diantara mereka. Walau hanya 1 senti. "Gak bisa jauhan?" sindir Gera melirik sofa yang luasnya bisa diduduki 3 orang lagi. "Bukannya cowok suka kalo duduknya deketan gini? Kan romantis." Flora mengerjapkan mata berserinya. Dia memuaskan matanya dengan lekuk-lekuk tajam wajah Gera. Seperti alis, mata, hidung, dan rahang. Tidak lupa jakunnya yang menggoda Flora untuk dijamah. "Bisa stop gak? Risih gue." "Siapa suruh ganteng?" "Tanya nyokap bokap guelah! Mereka yang bikin!" "Bener ya? Entar gue tanya beneran loh, sekalian minta tipsnya biar anak kita cakep-cakep." "Gini ya bocah 17 taon, lo masih kecil, gak mungkin gue hamilin. Jadi jangan ngeres itu pikiran." Gera menunjuk kening Flora dan mendorongnya mundur. Tubuhnya sudah terhimpit antara Flora dan sandaran sofa. "Siapa yang ngeres?! Itu kan tujuan rumah tangga, punya keturunan!" "Iya kalo lo udah umur 20." "Ih, lama banget! Gak mau ah!" Flora merajuk sebal. Tetapi Gera tidak peduli. Lebih baik gadis itu merajuk daripada bertingkah m***m tidak jelas. Gera dan Flora sama-sama terdiam sibuk menonton layar televisi yang menyala. Flora juga sudah memberi jarak antara mereka. Walau hanya 5 senti saja mungkin. Mereka menonton sinetron berepisode puluhan yang sebelumnya belum pernah mereka tonton. Tidak tahu jalan ceritanya ataupun peran-perannya, tetapi cukup membantu disaat suasana canggung seperti ini terjadi. Flora memilih untuk diam dan berjaga jarak bukan karena marah. Dia hanya ingin mengetes reaksi Gera saja. Apakah pria itu menyadari diamnya? Dan merasa kehilangan? Jika iya, Flora akan tumpengan bersama teman-temannya. Namun sudah setengah jam Flora tunggu-tunggu, Gera tetap pada posisinya. Menopang kepala di sandaran sofa dan menonton sinetron dengan serius. "Suka sinetron?" Flora kembali ngalah dan membuka topik. "Nggak." "Terus kenapa nonton?" "Seru juga." Flora menggeleng heran. Mungkin itulah tipikal para laki-laki, awalnya tidak suka dan setelah dicoba, ternyata seru. "Lo gak ada niatan lamar gue?" Gera tertegun sekilas lalu menoleh cepat ke arah Flora. "Buat apa?" "Ya biar romantis gitulah, masa gue nikah tapi gak ada lamar-lamaran! Bilang dong 'will you marry me?' gitu!" "Ogah!" "Ayo dong calon suami... abis itu gue diem deh." Flora membujuk Gera dengan manisnya sembari menggoyangkan sisi baju Gera seperti anak kecil yang minta dibelikan permen oleh orang tuanya. Seperti wanita-wanita pada umunya, pasti dia ingin dilamar secara romantis oleh calon suaminya. Apalagi jika ditambah kata-kata manis yang menunjukkan betapa cintanya sang lelaki kepada kekasihnya. Ya walaupun Gera bukan kekasih Flora. "Gak." "Please sekali aja, gue kan pengen tau rasanya." "Kita ini dijodohin, jadi gak usah lamar-lamaran!" "Tapi kan gue cewek! Gue mau tau rasanya dilamar!" "Sekali nggak, ya nggak!" Flora menekuk alisnya sedih, menatap Gera sendu, dan mengerucutkan bibirnya beberapa senti. Wajahnya benar-benar ia buat seperti anak bayi yang akan menangis. Agar Gera terbujuk untuk melakukannya. Lagipula apa susahnya sih mengatakan will you marry me kepada calon istrinya? Kan sudah pasti diterima. "Loh, ada Gera di sini?" Sapaan Farah menggema saat dirinya melihat Gera dan sang putri duduk bersama di sofa. "Malam, tante, om." Gera bangkit dari duduknya dan bernafas lega. Akhirnya dia dapat bebas dari perangkap Flora. "Kalian dari kapan sampai di sini?" Paul ikut duduk di sofa menghadap Gera untuk berbicara. Sementara Farah memanggil Flora untuk membantunya di dapur. Menyiapkan minuman kepada Gera. "Kamu ini loh, masa calon suami daritadi gak dikasih minum," tegur Farah menggelengkan kepalanya. "Dia gak minta." "Ya masa tamu yang minta minum duluan?" Flora masih menekuk wajahnya kesal akibat perdebatan konyolnya dengan Gera tadi. Namun, dia tetap bahagia karena calon suaminya setampan Gera. Mungkin inilah waktu yang tepat untuk berterima kasih kepada orang tuanya. Flora tersenyum manis menatap Farah yang sibuk menuangkan jus jeruk ke gelas.  "Ma, terima kasih ya," ucap Flora manja sembari menghampiri Farah dan memeluknya dari samping. "Tumben, ada apa nih?" Farah terkikik geli melihat perubahan sikap sang putri. Jarang sekali Flora selembut ini. Biasanya memasang wajah masam dan terkadang menjahili orang tuanya. "Calon suami aku ganteng banget." "Tuh, apa kata Mama, Gera itu ganteng, baik, sopan juga. Keluarganya juga kenal sama kita, jadi cocok sama kamu." Untuk alasan yang pertama, Flora setuju. Namun alasan kedua dan ketiga Flora masih tidak yakin. Gera selalu jutek dan galak padanya. Tidak terlihat sisi baik dan sopan pria itu. "Nanti Mama mau cucu berapa?" Tuk! Farah menyentil pelan kening Flora membuat senyum lebarnya memudar. "Kamu masih sekolah, gak ada anak-anakkan!" "Ih! Masa nikah gak boleh ada anak?" keluh Flora lalu kembali duduk di sisi meja. "Boleh kalau kamu umur 20, kamu masih 17, jangan macem-macem deh." "Kalo gitu ngapain dinikahin sekarang? Nanti aja umur 20!" "Bener ya? Nikah umur 20 aja nih?" "Ih, Mama, ya jangan dong." Jangan sampai pernikahannya gagal. Apalagi menunggu sampai 3 tahun, bisa-bisa Flora merasa tidak tenang. Takut kalau calon suami tampannya direbut oleh wanita ganjen lainnya di luar sana. Tidak akan Flora biarkan. "Kata Gera, dulu dia pernah tinggal di Indonesia. Kok aku gak inget ya?" "Kamu masih kecil banget waktu itu, pas Mama nikah sama papa, kan Gera yang jaga kamu." Flora menahan nafasnya seketika. Fakta baru yang dia ketahui hari ini. Paul memang bukanlah ayah kandung Flora. Farah menikah dengan Paul saat dirinya berumur 4 tahun. Dan jangan bertanya dimana ayah kandung Flora, dia saja tidak tahu. Lebih tepatnya tidak mau tahu. Kembali ke pernikahan Paul dan Farah, jika Gera menjaganya saat dia berusia 4 tahun, berarti pria itu berusia 12 tahun. Masa iya dia lupa dengan Flora? Apa benar Gera orang yang pikun? Duh, masa ganteng-ganteng pikun. "Terus abis itu apa?" "Ya gak ada apa-apa, Gera langsung pindah ke Aussie gak lama setelah itu. Terus dia baru balik lagi deh sekitar sebulan yang lalu." Flora mengangguk mengerti. Jika begitu ceritanya, Flora tidak heran sih kenapa dirinya tidak pernah ingat Gera. Padahal akan menyenangkan jika ada memori tersendiri atas dirinya dan Gera saat masih kecil. Seketika Flora merasa bangga. Memang benar ya kata orang, jodoh itu tidak kemana. Berpisah 13 tahun, eh tetap saja kembali bergabung. Suami istri pula. Ah.. Flora jadi tidak sabar saat hari-H nanti. "Jangan senyum-senyum aja, anter minuman ini ke Gera sana." "Oke, Mamaku sayang!"
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD