Raungan mesin motor sport Raka membelah kemacetan Jakarta Selatan dengan lincah. Pikirannya tidak lagi di rumah mewah sang kakak, melainkan pada sebuah alamat di kawasan pemukiman padat yang kontras dengan kemegahan Jakarta. Raka mengerem mendadak di depan sebuah rumah petak sederhana bercat kusam. Di teras rumah, seorang anak laki-laki berusia sekitar sepuluh tahun tampak gelisah sambil terus mengintip ke jalanan. Begitu melihat Raka, wajah anak itu langsung cerah sekaligus cemas. "Kak Raka!" seru anak itu, namanya Barra. "Barra, gimana keadaan Kak Aruna?" Raka turun dari motor tanpa melepas helmnya secara sempurna, langsung menghampiri Barra. "Tadi sempat sadar sebentar, terus pingsan lagi, Kak. Panas banget badannya," lapor Barra dengan suara bergetar menahan tangis. Raka langsung

