Daffa menatap Hafsah, dan untuk pertama kalinya, tatapannya tidak sedingin biasanya. Ia seolah ingin menunjukkan pada dunia, terutama pada Aqil, siapa pemenang di sini. Hafsah meraih tangan kanan Daffa, berniat melakukan ritual yang biasanya selalu ditepis: menyalami dan mencium tangan suaminya. Namun kali ini, Daffa tidak menarik tangannya. Ia justru membiarkan tangannya digenggam oleh Hafsah, membiarkan bibir istrinya menyentuh punggung tangannya cukup lama. Belum sempat Hafsah menjauh, tangan kiri Daffa bergerak cepat menarik tengkuk Hafsah. Tanpa peduli pada keramaian di gerbang sekolah, Daffa menunduk dan mengecup kening Hafsah dengan sangat dalam dan lama. Cup. Waktu seolah berhenti. Hafsah memejamkan mata, merasakan hangatnya bibir Daffa di keningnya. Itu bukan sekadar kecupan a

