Cahaya fajar menyelinap malu-malu di balik tirai tipis Presidential Suite, menyinari wajah dua insan yang baru saja menyelesaikan kewajiban spiritual mereka. Di atas sajadah yang masih terhampar, Davendra menatap Alya yang tampak sangat tenang dan bercahaya dalam balutan mukena putihnya. Davendra menarik tangan Alya agar duduk lebih dekat, lalu ia mulai melancarkan aksi jahilnya. "Dek, kamu tahu nggak bedanya kamu sama penjahat yang sering Abang tangkap?" tanya Davendra sambil memainkan ujung mukena Alya. Alya tersenyum simpul, sudah paham tabiat suaminya yang satu ini. "Apa, Bang?" "Kalau penjahat itu ditangkap karena melanggar hukum, kalau kamu ditangkap karena sudah mencuri seluruh isi hati seorang Ajun Kompol tanpa sisa," bisik Davendra sambil mencolek hidung Alya. Alya tertawa

