Malam itu, kamar Ziva terasa sunyi. Hanya ada suara putaran kipas angin dan detak jam dinding yang menemani kesendiriannya. Di luar, hujan rintik kembali membasahi Jakarta, menambah kesan melankolis. Ziva merebahkan tubuhnya di kasur empuk, menatap langit-langit kamar sampai getaran di ponselnya membuyarkan lamunannya. Incoming Video Call: Mas Dokter Ziva refleks membetulkan tatanan rambutnya dan posisi kaos oblongnya sebelum menggeser tombol hijau. Layar ponselnya langsung menampilkan wajah Damar yang tampak lelah namun tetap terlihat tampan dengan kemeja putih yang lengan bajunya digulung hingga siku. Latar belakangnya menunjukkan sebuah kamar hotel mewah. "Belum tidur, Ziv?" tanya Damar. Suara baritonnya terdengar sedikit serak, efek seharian mengisi materi di simposium. "Belum, Mas

