Ziva mengatur napasnya yang masih memburu. Dengan gerakan cepat, ia menggerai rambut panjangnya ke depan untuk menutupi jejak panas yang ditinggalkan Damar di lehernya. Ia melangkah keluar dari balik pilar dengan kepala tegak, berjalan anggun melewati Clarissa seolah tidak terjadi apa-apa. Clarissa mematung di ambang pintu balkon. Matanya yang tajam sempat menangkap sosok Ziva yang melintas cepat, lalu beralih pada Damar yang berdiri tenang sambil merapikan tuksedonya. Ada aroma parfum wanita yang tertinggal di udara, parfum yang sama dengan yang dipakai gadis muda tadi. "Damar... kamu sama siapa di sini?" tanya Clarissa dengan nada curiga yang kental. Damar berbalik, menatap Clarissa dengan tatapan sedingin es. Tidak ada lagi keramahan basa-basi seperti saat di depan ibunya tadi. "Buka

