Damar hanya menyeringai lebar, tanpa ada raut penyesalan sedikit pun di wajah tampannya. "Ya habisnya... kalau Mas nggak bohong gitu, kamu pasti udah lari ke kampus. Mas kan masih mau bermesraan kayak semalam, Sayang," bisiknya santai sambil mencoba menarik Ziva kembali ke pelukannya. "Bermesraan palamu peyang! Gue ada ujian susulan tahu nggak!" Ziva memukul d**a bidang Damar dengan gemas sampai terdengar suara bug! yang cukup keras. Ziva langsung meloncat dari ranjang—meski harus meringis sedikit karena daerah sensitifnya masih protes—dan menyambar handuk. Ia berlari menuju kamar mandi. Damar yang tidak mau kehilangan momen, mencoba menyelinap ikut masuk. "Bareng dong, Sayang, biar hemat air—" BRAK! "ADUH!" Damar memegangi hidung mancungnya yang baru saja menabrak pintu kamar mandi y

