"Damar, jangan coba-coba bohongi Mama. Mama mencium bau parfum wanita. Manis, lembut... ini bukan parfum kamu!" Helena mendorong bahu Damar dan melangkah masuk ke ruang tengah dengan gaya detektif. Ziva, yang berada di dapur, tidak punya pilihan lain. Dengan gerakan secepat kilat dan tanpa suara, ia berlari masuk ke kamar utama Damar. Ia tidak sempat masuk ke bawah tempat tidur karena tumpukan bantal yang terlalu rendah, jadi ia memilih masuk ke dalam lemari pakaian walk-in closet yang besar dan gelap. Di sana, ia bersembunyi di balik barisan jas-jas formal Damar, menahan napas sampai dadanya sakit. "Ma, stop! Mama sudah keterlaluan," suara Damar terdengar mendekat ke arah kamar. "Itu mungkin bau pengharum ruangan baru. Mama tahu kan saya suka ganti-ganti aroma?" "Pengharum ruangan tida

