Rasa malu yang tadi sempat menghinggapi Ziva perlahan menguap, berganti dengan keberanian yang didorong oleh rasa cinta yang meluap. Dengan gerakan perlahan namun pasti, Ziva bangkit dan berpindah posisi untuk duduk di atas pangkuan Damar. Damar sedikit terkejut, namun ia segera menyandarkan punggungnya di kepala tempat tidur, memberikan kendali sepenuhnya kepada sang istri. "Mas... biarkan aku yang melakukannya sekarang," bisik Ziva dengan napas yang hangat di telinga Damar. Damar hanya mengerang rendah, tangannya bertumpu pada pinggul Ziva, membiarkan istrinya itu memimpin permainan. Ziva memulai dengan ciuman panas yang menuntut, bibirnya menjajajahi rahang tegas Damar sebelum turun ke d**a bidang suaminya. Di sana, ia meninggalkan beberapa jejak merah sebagai tanda kepemilikan yang m

