Dahlia menutup pintu apartemennya dengan perlahan. Malam itu, langit Jakarta kelabu, hujan baru saja reda, dan aroma tanah basah menyusup ke sela-sela jendela tinggi ruang tamunya. Dengan langkah mantap, ia menuju meja makan yang sudah disulapnya jadi meja rapat pribadi. Di atasnya, tersusun map-map cokelat, salinan akta nikah Valeri–Ronny, sertifikat apartemen, bahkan foto-foto lama Valeri yang masih ia simpan diam-diam. Ketika bel apartemennya berbunyi, Dahlia segera menata wajah. Senyum tipis terukir di bibirnya. Tamu yang ditunggu akhirnya datang. “Silakan masuk, Ronny.” Suaranya dingin namun beraroma madu. Ronny melangkah masuk dengan jas basah di bahu, wajahnya lelah seperti baru saja berlari dari kenangan yang tak ingin ia ingat. Begitu duduk, ia langsung menyalakan rokok. “Aku t

