Pagi itu rumah besar keluarga Cintia masih tenang. Embun masih menempel di dedaunan, sementara bibi sibuk di dapur menyiapkan sarapan. Tiba-tiba—bel rumah berbunyi panjang, berkali-kali, seakan tamu di luar tak sabar menunggu. “Siapa pagi-pagi begini…” gumam bibi sambil bergegas menuju pintu depan. Ia membuka, dan seketika matanya terbelalak. Seorang wanita muda, berpenampilan rapi namun wajahnya menyimpan sorot misteri, berdiri di sana. “Selamat pagi, Non. Mau cari siapa?” tanya bibi sopan. Wanita itu tersenyum tipis. Suaranya tenang, namun penuh beban. “Saya mencari Ibu Cintia.” Sementara di dalam rumah, Cintia sedang menuruni tangga, masih dengan piyama sederhana. “Bu, ada tamu…” serunya ringan. Tapi langkahnya terhenti ketika matanya menangkap sosok di depan pintu. Nafasnya tercek

