Matahari siang menyeringai jahat. Cahayanya terasa panas menyengat ubun ubun kepala. Jam baru saja menunjukkan pukul 11. Tapi, tanpa ampun, dia menunjukkan kekuatan nya, pada siapa saja, yang berani menantang panas nya.
Siang itu, beberapa wali murid berkumpul di dalam kantor. Bukan karena di undang, atau ada perkumpulan wali murid. Mereka sengaja berjanjian datang, untuk menemui salah satu wali murid di TK itu.
Namun hingga jam sekolah usai, Sang wali murid yang di tunggu tunggu tak kunjung datang. Clarissa sebagai wali kelas murid yang tergugat. Merasa tidak enak dan Risau.
Berkali kali Clarissa dan Dewi, rekan kerja nya dalam satu kelas, menelpon wali murid Vino. Tapi sayang, yang mengangkat selalu saja asistennya.
"Halo pak Adi, berapa lama lagi kami harus menunggu pak Calvin?" Tanya Clarissa tak sabar. Sejak tadi ia menelpon, selalu bilang masih rapat, masih rapat, dan masih rapat.
"Maaf Bu Clarissa, Bos kami baru saja bilang, ia tidak jadi ke sekolah, sore ini dia harus sampai ke Jepang secepatnya. Saya khawatir, kalau datang ke sekolah, nanti dia akan terlambat"
"Apa? Yang benar saja pak Adi, katanya tadi, kami harus menunggu? Dan sekarang anda membatalkan nya? Apa anda tahu tingkah Vino di sekolah? Dia selalu membuat onar di mana mana. Anak anak merasa di terancam ketika ada Vino di sekitarnya. Ku mohon pak, berikan telponnya ke bos kalian, ini sangat penting, para wali murid sudah mulai marah marah tidak terkendali"
Clarissa berbicara di luar kantor, emosi yang sedari tadi ia tahan, pecah ketika ayah Vino tiba tiba membatalkan datang ke sekolah. Padahal ia sedang di tunggu 10 orang wali murid.
Mereka hendak protes dengan orang tua Vino. ingin mengeluh karena, anak nya tidak mau berangkat ke sekolah. Ada juga yang sampai menangis ketika dipaksa harus berangkat ke sekolah. Mereka takut dengan Vino yang kemarin telah membullynya.
"Begini Bu Clarissa. Sebagai ganti ayah Vino, Kami sudah memberitahu pengasuh nya, kalau dia lah yang akan mendengar permasalahan kalian" Sambung Adi.
"Apa? Menggantinya dengan Faris?" Clarissa melihat Faris tengah menggandeng Vino menuju ruang kantor guru. "Tidak bisa pak Adi, selain orang tua mereka, yang ingin protes, saya juga harus menyampaikan beberapa hal pada ayah nya Vino"
"Maafkan saya Bu Clarissa, saya tidak bisa berbuat banyak. Kalau ada apa apa, silahkan hubungi saya lagi"
Tut tut tut ….
Telpon terputus.
"Dasar sok sibuk! Nggak punya perasaan! Di taruh di mana otak nya? Katanya pengusaha? Ngusahain datang ke sekolah aja nggak bisa! Dasar PHP!" Maki Clarissa pada ponselnya sendiri. Ia lalu tersenyum pada Faris, sebelum mereka masuk ke kantor.
Mereka lalu masuk ke kantor. Kantor semakin meriah, ketika anak anak mereka yang selesai sekolah ikut masuk ke kantor, menemani orang tua mereka yang sedang bergosip mengenai kenakalan Vino. Wajah mereka pun tampak emosi, ketika melihat Vino kecil masuk ke kantor.
"Oh kamu Vino? Sini nak" Panggil ibu ibu bertubuh gendut.
Vino menggelengkan kepalanya. Ia tidak Sudi mendekat pada orang orang asing, apalagi wajah mereka terlihat tidak bersahabat.
"Dasar anak bandell, di panggil orang tua malah nggak mau nurut. Siapa ibu mu hah? Ibu mu pasti perempuan nggak bener kan? Kalau anak nya aja kayak gini, apalagi ibu nya?"
"Hai Vino, ngapain kemarin kamu mukulin perut Rafa? Kamu mau hah, aku tinju ganti? Ini perut, kalau di pukul bisa merasakan sakit. Gara gara kamu, dia menangis semalaman di rumah. Nanti kalau ada apa apa sama tubuhnya, kau harus menggantinya Vino. Nyawa di ganti nyawa, jantung di ganti jantung" Perempuan berbaju merah, berkata sepedas baju nya.
"Hei kau pengasuhnya Vino kan? Apa kau tidak bisa mengurus nya dengan benar? Katakan sama orangtua nya. Jangan mentang mentang sok kaya, terus ninggalin anaknya tanpa pengawasan. Dia ini super nakal. Main serang siapa saja yang nyenggol tubuhnya. Apa kau kira anakku penyakitan? Sampai kau menjendul kepalanya berkali kali hanya karena menyenggol tangan mu hah? Tangan mu tuh yang penyakitan dan kotor. Dasar anak sialan, kalau ini tidak di sekolah. Aku pasti sudah membalasmu" Ucap ibu yang berrambut lurus karena di catok penuh emosi.
"Hei Vino, kau itu anak pembawa malapetaka. Masih kecil, tapi tingkahmu mirip preman jalanan, kau kira sekolah ini milik bapak mu hah? Tidak tahu sopan santun, aku yakin, orang tuamu pasti nggak mau mengurus mu kan? Itu karena kamu pembawa sial. Anak nakal kayak kamu memang pantas nggak dapat kasih sayang. Kau itu memang terlahir menjijikan. Dasar anak …,"
"Stop bu! jangan menghakimi Vino, dia ini masih kecil, dia nggak tahu apa apa, dia juga nggak tahu, kalau perbuatan nya ternyata membuat temannya ketakutan. Dan mohon jangan mengungkit ibu, dia ini tidak punya ibu" Ucap Clarissa lantang. Ia harus memotong ucapan ibu ibu dengan suara lantang. Dari tadi ia berusaha mencegah makian ibu ibu itu, tapi suara mereka yang lebih tinggi, membuat suara Clarissa tertelan udara.
"Oh, jadi Vino nggak punya ibu? Pantas kamu liar! Tapi, Ibu mana yang mau punya anak kayak kamu? Kalau aku jadi ibu mu, aku juga akan membuang mu, kamu memang pantas di buang Vino"
"Aku nggak butuh ibu! aku nggak mau ibu!" Teriak Vino.
"Heh berani jawab bocah ini, ayo ibu ibu hajar bocah kurang ajar ini, udah bikin perut anak ku sakit, nggak mau minta maaf, sekarang malah berani nantang kita" Ibu gendut maju, dan hendak menjitak kepala Vino, tapi buru buru di halangi oleh Clarissa.
"Saya mohon Bu, kendalikan emosi anda, dia hanya anak kecil" Mohon Clarissa, dia membentangkan kedua tangan nya, agar ibu gendut tidak semakin merangsek maju.
"Dasar perempuan gila, kalain semua perempuan gila!" Pekik Vino. Ia kemudian lari keluar kantor, Faris yang dari tadi diam, dan tidak berani menjawab ucapan penuh emosi para ibu ibu. Mengejar Vino yang lari keluar. Tubuh tambun nya membuat larinya terseok-seok.
Sejak tadi, ia hanya bisa diam. Ia tahu apa yang akan terjadi, jika ia membantah ucapan mereka. Mereka bisa semakin gila mencaci maki Faris dengan beribu-ribu kata.
Ibu ibu yang melihat Vino melarikan diri, ikut mengejar Vino. Sandal dan sepatu mereka yang berhak tinggi mereka tinggal begitu saja. Tidak peduli dengan kaki mereka yang tanpa alas berlari lari di halaman sekolah. Ada juga yang sudah terjatuh ketika baru beberapa langkah, kakinya yang asam uratan sakit ketika menginjak kerikil kecil. Mereka takut, pria kecil tersebut lolos begitu saja.
Para guru yang tinggal 3 orang di kantor ikut mengejar Vino. Mereka adalah Clarissa, Dewi, dan kepala sekolah. Pikiran Clarissa kalut dan resah, bagaimana jika ibu ibu itu kesetanan dan kalap? Bagaimana jika mereka lupa, jika yang di lawan nya sekarang hanyalah anak kecil tidak berdosa yang mungkin sedang mengalami masalah?
Satu menit kemudian Ibu berbaju kuning, yang bertubuh langsing berhasil menangkap Vino. Larinya lebih cepat dari Faris yang bertumbuh tambun. Mungkin dia mantan atlet lari, sehingga mampu mengejar lari Vino yang gesit.
"Kena kau b******n kecil, mau kemana kau? Kau habis menampar Arka anak ku kan? Aku harus membalasnya, biar kau tau bagaimana rasanya di tampar!" Ibu itu mencengkeram kerah baju Vino. Hingga ujung baju Vino keluar dari celananya. Tangan kanan wanita itu pun melayang.
Plak ….
Tangan itu mendarat di kepala Clarissa. Clarissa merasakan sakit di kepalanya. Untung saja ia cepat datang dan memeluk tubuh kecil Vino. Sehingga tamparan keras hingga membuat telinga nya berdenging tidak mendarat di wajah Vino yang tanpa ekspresi.
"Ngapain kamu di sini Bu Rissa? Aku harus memberi pelajaran bocah tengil ini"
"Jangan begini Bu, ku mohon sadarlah, dia hanya anak kecil yang sedang khilaf" Ucap Clarissa masih memeluk tubuh Vino. Di sembunyikan nya kepala itu di d**a Clarissa yang hangat, agar Vino tidak merasa takut. Sedangkan Faris hanya bisa berdiri membatu di tempatnya.
"Minggir Bu Rissa, kami semua akan memberinya pelajaran sama anak setan ini" Ucap salah satu ibu ibu.
"Stop ibu ibu berhenti main hakim sendiri. Kalian semua mau masuk penjara karena menganiaya anak kecil? Dia ini di lindungi juga oleh negara. Kalau memang kalian keberatan dia ada di sini, saya akan memberi peringatan sama orang tuanya" Sang kepala sekolah menenangkan ibu ibu yang hatinya di liputi oleh amarah yang memuncak.
Para wali murid itu pun berhenti memaki Vino. Mereka tersadar bahwa mereka telah melakukan kesalahan. Emosi sesaat, membuat mata dan hati mereka buta. Kini, mata mereka pun tak lagi berkilat penuh kebencian. Dan akhirnya, mereka saling menyalahkan siapa yang memulai terlebih dahulu.
"Bu Desi, kenapa nggak bilang dari tadi, kalau nih anak mau di keluarin? Tau gitu kita nggak akan emosi, iya kan ibu ibu?"
"Iya"
"Iya"
Mereka saling berbisik dan menganggukkan kepala.
"Rencananya saya mau bilang gini, waktu papanya Vino datang. Jadi sekarang, tolong jangan ribut lagi. Setelah ini, saya akan memberi surat peringatan untuk papanya Vino dulu. Kalau Vino bisa berubah, maka, dia bisa tetap sekolah di sini, tapi, kalau dia nggak bisa berubah, maka sekolah akan mengeluarkan Vino. bagaimana? Sudah puas ibu ibu?"
"Iya, kita sudah puas bu" Ibu ibu itu saling bersahutan, mereka setuju dengan keputusan kepala sekolah. Setelah itu mereka membubarkan diri.
"Mas Faris, silahkan ikut saya ke kantor, ada yang perlu kita bicarakan, nanti tolong sampaikan sama papanya Vino ya?" Ujar Bu Desi, di hadapan Faris.
"Iya bu" Faris mengangguk pelan. Setelah melihat Vino aman bersama Clarissa, Faris mengikuti Bu Desi yang berjalan ke arah kantor.
*****
"Vino, kamu kenapa sayang?" Clarissa khawatir melihat Vino yang hanya diam saja. Matanya menatap ke depan dengan pandangan kosong. Nafasnya pun semakin tak beraturan. Nafasnya tersengal, seperti habis berlari.
"Vino, bicara lah nak!" Clarissa membelai kepala Vino lembut, menyibak poni kecilnya, dan ketika nafas Vino semakin berat, Clarissa meniup niup dahinya. Ia selalu melakukan itu ketika ada anak didiknya yang menangis sampai terbatuk batuk.
Tapi sayang, tiupan Clarissa justru membuat nafas Vino semakin berat. Vino mengalami sesak nafas. Clarissa tahu Vino sedang memendam perasaan emosinya. Ia ingin menangis tapi tidak bisa. Yang keluar justru asma nya yang kambuh.
Clarissa lau mengambil tas yang Vino pakai. Ia acak acak isinya. Tangan nya bahkan sampai gemetar karena gugup. Mata Calrissa berkaca-kaca ketika mendengar suara Vino yang berat. Nafas itu berat, Vino berulang kali menarik nafas nya, tapi yang ia hembuskan, sangat sedikit. Nafas itu membuatnya teringat sosok kecil yang sempat ia gendong beberapa menit saja.
Akhirnya Clarissa menemukan tabung kecil berisi gas obat asma. Tangan gemetar Clarissa, membuatnya kesusahan membuka tutupnya. Berulang kali ia cabut, namun entah mengapa tangan Clarissa yang berkeringat dingin, membuat tutup itu terasa licin dan sulit di buka.
"Ayo cepat hirup ini, sayang" Bibir dan tangan Clarissa gemetar ketika mengarahkan botol yang berhasil ia buka. Dan Clarissa memencet botol itu, ketika Vino sudah membuka bibirnya.
Srot ….
Asap berwarna putih mengebul di sekitar bibir Vino. Hati Clarissa lega ketika Vino sudah menghirup obatnya. Namun ia cemas lagi ketika nafas Vino kembali tersengal. Ia tahu Vino sedang menahan emosi. Dan obat itu tidak bisa membuat Vino sembuh.
Clarissa lalu menarik Vino dalam dekapan hangatnya. Ia kembali menangis saat mendengar nafas Vino yang kembali tersengal. Ia ingat bayi mungilnya yang tak berdaya, harus keluar dari rahimnya yang hangat karena ulah ayahnya yang kejam. Karena marah, ia menendang perut Clarissa yang membuncit karena hamil 8 bulan.
"Tenang lah sayang, ada ibu di sini, jangan sedih, ibu akan selalu menyayangimu. Ibu tidak akan membiarkan orang lain menyakitimu, ibu akan melindungimu nak" Calrissa memeluk tubuh mungil Vino dengan berderai air mata. Ia berkata seolah Vino adalah anaknya.
"Jangan di tahan sayang, menangis lah, tidak apa apa. Ayo menangis sama ibu"
"Hua …. "
Akhirnya Vino menangis, dan clarissa memeluknya erat, membenamkan Vino di pundaknya. Memeluknya dengan hangat dan menenangkannya.
Mata Clarissa menangis, tapi bibirnya tersenyum bahagia, saat Vino bisa menangis dan menumpahkan emosi yang sejak tadi ia pendam. Clarissa tidak mempermasalahkan bajunya yang basah oleh air mata Vino.
Entah mengapa, Vino sekarang seperti anaknya yang telah tiada. Kasih sayang nya tiba tiba terasa tumpah ruah untuk Vino. Dan Clarissa merasa tidak ingin melepas pelukan nya. Vino pasti jelmaan anaknya yang telah pergi meninggalkan dirinya.
Dan Clarissa harus melepas pelukannya ketika tangis Vino sudah tenang. Jika ia memaksa terus memeluk, Vino pasti akan merasa aneh dan takut.
"Udah baikan?" Tanya Clarissa sambil mengelus sayang rambut Vino. Dan Vino mengangguk pelan.
"Anak pintar, mulai sekarang, Vino nggak boleh nakal ya?" Tanya Clarissa dan lagi lagi Vino mengangguk patuh. Clarissa tersenyum senang melihat Vino yang penurut.
"Ayo berdiri, mas Faris udah nungguin kamu sayang" Clarissa membantu Vino berdiri dan memakaikan tasnya. Ia lalu menghapus sisa air mata Vino.
Faris menatap Vino takjub. Selama ini belum pernah, ia melihat Vino menurut begitu saja. Vino bahkan selalu mengomel ngomel ketika Faris menyiapkan seluruh keperluan nya. Tidak ada yang benar, jika semua di hadapkan dengan tuan kecilnya itu. Ia bahkan selalu menolak jika di sentuh tanpa ada kepentingan. Tapi dengan Clarissa, Vino terlihat lain. Vino mau saja di peluk dan di sentuh oleh guru nya yang cantik itu. Untung Faris sempat memotretnya. Ia nanti akan melapor pada tuan nya. Bahwa Vino bersikap lunak pada wanita.
"Mas Faris, besok setelah pulang sekolah. Tolong sampaikan sama papa nya Vino, saya mau mampir ke rumah Vino, saya ingin berbicara langsung sama dia" Ucap Clarissa pada Faris, Ia menyerahkan Vino pada Faris.
"Biasanya, tuan besar pulang sore hari. Sekitar jam 5 sore Bu Clarissa" Ucap Faris sopan.
"Oh gitu ya? Ya sudah, nanti aku telpon langsung sama dia saja" Wajah Clarissa lesu, sepertinya sangat sulit, jika ingin bertemu langsung dengan papanya Vino. Tadi saja, yang ngangkat telpon nya selalu asistennya terus. Rupanya di sekolah, dia meninggalkan nomer asisten nya, dan bukan nomernya sendiri.
Huh dasar sombong, sok penting, memangnya kenapa kalau nomernya di tinggal di sekolah? Apa dia takut kalau guru guru di sini akan menggodanya? Siapa juga yang mau menggodanya? Dasar pria kasar. Gerutu Clarissa dalam hati, ia masih ingat, bagaimana sikap arogan Calvin, ketika berkata kasar pada Clarissa.
"Hati-hati ya Mas Faris, dadah Vino" Ucap Clarissa sambil melambaikan tangan nya. Bibirnya pun tersenyum cantik.
"Bu guru" Vino memanggil Clarissa, dan suara itu terdengar sangat indah di telinga Clarissa.
"Iya sayang?" Clarissa mendekat dan berjongkok di depan Vino. Entah mengapa wajah Vino kini terlihat sangat tampan. Di elusnya pipi gembil Vino.
"Nanti, bu guru tidak menelpon ku?" Tanya Vino, tangan nya meremas remas celananya gugup.
"Bu guru ingin menelpon mu sayang, tapi aku tidak punya nomer telponmu, begini saja, ku beri nomer Bu guru. Nanti Vino telpon Bu guru ya?" Vino mengangguk setuju, senyum kecil tercetak di wajah imutnya.
Clarissa lalu menulis nomer telponnya di secarik kertas, lalu menelusupkan nya di tas Vino. Setelah itu, Clarissa lalu melambai lagi, ketika Vino sudah naik di motor sport milik Faris.
Bersambung ....