14. Balut Bukan Belut

605 Words

Clarissa menahan malu yang kian menggunung, ketika Calvin memegangi daun pintu agar tetap terbuka. Sikap baik Calvin, justru membuat nya semakin terperosok ke dalam kubangan malu tiada akhir. Di dalam cafe, Calvin diam dan bersikap dingin pada Clarissa.. "Kak … Kakak …. " Berkali kali Jasmin memanggil manggil kakaknya. Suara itu terdengar khawatir, karena tadi mendengar jeritan kecil dari bibir Clarissa. "Iya Jasmin, ada apa?" Clarissa mengikuti jalan Calvin, menuju salah satu meja. Ia tidak sempat protes, mengapa mereka tidak makan di warteg sederhana saja, menu di sana juga tidak kalah enak. "Kakak tadi kenapa?" Tanya Jasmin sedikit khawatir, karena sepertinya kakaknya baik baik saja. "Aku lagi keluar cari makan malam, gara gara kamu nelpon terus, kepalaku sampai kejedot pintu kaca"

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD