Selamat membaca~
-
“Jefrey.”
Asya menoleh saat ada yang memanggil nama asing yang tidak pernah ia dengar sekalipun. Asya menengadah saat anak kecil dihadapannya merespon akan panggilan tersebut. Ia pun mengikuti arah pandang anak tersebut yang mengarah tepat di belakang punggung Asya.
“Itu Papa kamu?” tanya Asya pada anak yang dipanggil Jefrey itu.
Jefrey diam. Tidak memberikan respon untuk Asya sekalipun.
“Kenapa kamu di sini sendirian, Jefrey?”
Asya bangkit saat orang yang ia kenal di kantor mendatanginya dan anak kecil yang sedang berdiri dengan tatapan tajam.
“Pak Nathan orang tuanya? Saya saranin aja ya Pak, jangan ninggalin anak sendirian meskipun Bapak lagi sibuk. Kan bisa juga dititipin sama rekan kantor yang waktunya senggang. Kalau kayak gini kasihan anaknya.” Asya berdiri seraya memandang tegas Nathan yang sudah menelantarkan anaknya untuk bermain sendirian di area kantor.
Nathan bingung dengan perkataan Asya yang tidak masuk akal untuknya. “Anak? Orang tua?” tanya Nathan memastikan perkataan Asya.
“Iya lah, kan ini anak Bapak. Kasian Pak sendirian gak ada teman main atau ngobrol.” Lanjut Asya dengan emosi yang ia tahan saat berhadapan dengan Nathan.
Asya yang dikenal memiliki jiwa sosial tinggi akan merasa marah jika melihat ada anak kecil ataupun orang tua yang ditelantarkan sendirian. Hal ini karena semasa kuliahnya dulu Asya sering kali mengikuti bakti sosial dengan mengajar anak kurang mampu yang hidup sebatang kara.
“Bukan gue Bapaknya,” jawab Nathan yang saat ini telah paham akan arah bahasan Asya.
“Bapak gak perlu bohong. Kasihan anaknya kalau kayak gitu.” Sahut Asya.
“Lah memang bukan gue,”
“Lalu siapa?” tanya Asya menantang.
“Bentar lagi Bapaknya turun. Tungguin aja.” Jawab Nathan sembari melihat pesan pada ponselnya.
-
Angkasa menemui Ajil dan Daffa yang sudah menunggunya di ruang rapat untuk membahas sedikit mengenai kemajuan proyek karena mereka harus memastikan jumlah investasi saham yang akan ia tanam untuk perusahaan Sandhaya Sea Company.
Rapat itu berjalan normal mulai dari presentasi Angkasa yang menyampaikan tujuan, kegunaan, hingga strategi dari pemasaran produk pada Ajil dan Daffa, lalu dilanjut dengan beragam pertanyaan kedua Direktur yang paling pendiam saat rapat bersama Direksi berlangsung.
“Bagaimana?” tanya Angkasa setelah selesai melakukan presentasi panjangnya.
Ajil mengangguk, “Saya kira produk ini akan laku dipasaran seperti produk lainnya,”
“Model dan juga bahannya sangat spesifik dan berkualitas untuk produk dengan harga affordable seperti ini. Jadi yang bisa menjangkau tidak hanya kaum atas saja,” sahut Daffa.
“Memang itu tujuan saya. Mematok harga yang ramah dikantong untuk sejenis baju renang yang memiliki kualitas terbaik. Saya kira banyak dari mereka yang akan memilih produk kita untuk dibeli kembali nantinya.” Ujar Angkasa dengan percaya diri.
“Kalau begitu saya investasi saham 25% untuk menunjang produk kali ini.” Sahut Ajil.
“Saya juga, biar nanti bendahara saya menghubungi sekretaris anda.” Balas Daffa.
Hampir satu jam pembicaraan itu berlangsung hingga ponsel Angkasa berdering dan menunjukkan sebuah notifikasi dari Nathan. Angkasa membuka ponselnya saat Ajil dan Daffa berpamitan untuk kembali ke melakukan kerjaannya masing-masing.
‘Lo bawa anak? Nih ada di lobby sama Acha.’
Angkasa baru menyadari jika Jefrey tidak ada disampingnya sejak tadi. Ia langsung bergegas untuk turun ke lobby, tidak mengindahkan teriakan Tiara yang memanggil namanya karena ia harus segera bertemu dengan klien yang lain.
Angksa berlari dengan tergesa menuju pintu lift yang tertutup. Berulang kali ia memencet tombol lift agar pintu segera terbuka, namun hasilnya nihil karena lift sedang beroperasi di lantai 3 sedangkan Angkasa berada di lantai 5.
“Sial. Kenapa lama banget.” Gerutu Angkasa dengan wajah panik yang tidak dapat ia sembunyikan lagi.
Tanpa pikir panjang, Angkasa segera berlari menuju tangga darurat untuk bisa menghampiri Jefrey yang berada di lantai 1. Pikirnya saat ini Jefrey ketakutan karena tidak ada orang yang ia kenali atau dekat dengannya kecuali Nathan. Itu pun Jefrey enggan berbicara dengan Nathan.
“Tunggu Papa, Jef.” Angkasa takut dan panik karena meninggalkan anaknya sendirian di lantai paling bawah. Meskipun Jefrey anak yang pintar, tapi diamnya Jefrey bisa membuat dirinya sendiri celaka karena enggan bertanya pada orang lain.
Napas Angkasa tersenggal karena harus berlari menuruni banyaknya anak tangga yang ia lewati. Namun hal itu tidak menjadikannya menyerah karena memikirkan keadaan Jefrey saat ini. Pikirannya keruh karena merasa bersalah telah meninggalkan Jefrey sendirian. Ini adalah hal yang paling ceroboh yang pernah Angkasa lakukan. Hampir sepuluh menit Angkasa telah berhasil menuruni seluruh anak tangga dengan mengerahkan seluruh tenaganya yang tersisa hari ini.
“Jefrey?” panggil Angkasa saat tidak melihat keberadaan Jefrey selepas keluar dari ruang tangga darurat.
Angkasa tampak menyusuri ruang lobby yang sepi, matanya menangkap adanya Jefrey yang sedang berdiri disamping gadis yang notabenenya adalah pegawai kantornya dan ada Nathan juga di sana.
“Jefrey.” Panggil Angkasa dengan suara tegas.
Angkasa bisa melihat jika semua tatapan kini beralih kepadanya yang datang dengan wajah tegas dan tatapan tajam.
“Sini kamu,” tarik Angkasa pada lengan tangan Jefrey yang melenggang bebas.
“Papa sudah bilang jangan nakal dan berkeliaran sendiri di kantor. Ikuti Papa, Jefrey.” Tegas Angkasa dengan raut wajah garang yang terlihat sangat marah.
Asya yang melihat langsung bangkit dan menatap heran Angkasa, “Jadi Bapak ini orang tua dari anak ini?” tanya Asya yang tidak mengurangi rasa hormatnya pada Angkasa.
“Iya. Lalu kenapa anda di sini dan bukannya bekerja?” tanya Angkasa balik.
“Ya saya jagain anak Bapak yang sendirian dan kebingungan tanpa orang tua,”
“Saya yang paling tahu anak saya,” balas Angkasa.
“Paling tahu bukan berarti harus meninggalkannya sendirian di sini Pak. Usianya masih sangat belia untuk berpisah dengan orang tuanya.” Asya menatap Angkasa dengan sangat berani pun juga tatapan matanya yang tajam karena menahan amarah.
“Tahu apa kamu soal anak kecil? Sudah menjadi orang tua?” tanya Angkasa dengan raut menantang.
Asya menghela, ia tersenyum kecut ke arah Angkasa yang menatapnya dengan napsu yang dipenuhi akan amarah. “Saya memang belum pernah memiliki anak karena saya belum menikah. Tapi bukan berarti saya buta akan pengetahuan untuk mengasuh anak dengan baik dan benar.” Tegas Asya.
“Nyatanya praktek dan teori jauh berbeda,”
“Sama, jika diterapkannya benar.” Koreksi Asya yang tidak mau kalah dari Angkasa.
Angkasa terus menatap Asya dengan matanya yang mematikan karena ketajaman yang dimilikinya. Bahkan tidak banyak orang yang mampu menatap mata Angkasa saat ia sedang marah, namun berbeda dengan Asya yang justru menantang balik mata tersebut dengan penuh keberanian.
“Siapa namamu?” tanya Angkasa.
“Udah Sa,” pungkas Nathan pada Angkasa yang akhirnya memilih untuk angkat bicara.
“Ashalina El Carissa dari Departemen Pemasaran.” Balas Asya dengan tegas.
Nathan memandang Asya dengan kagum karena keberaniannya untuk menghadapi Angkasa yang terkenal arogan dan keras kepala di tempat kerja. Bahkan ia sendiri yang memiliki kuasa sebagai Wakil Direktur 3 serta sahabat karib Angkasa tidak berani untuk membantah ataupun melawan Angkasa yang sangat keras ini.
“Oh anda yang kerjanya gak becus dengan membuat proposal kosong untuk diserahkan saat rapat tadi. Pantas saja berantakan, terlalu ikut campur masalah orang.” Sarkas Angkasa bagaikan pisau yang menohok relung hati.
Asya mengernyit, ia tidak paham jika Angkasa serendah ini memandang seseorang. “Saya tidak tahu jika anda serendah ini memandang kinerja seseorang dengan mengaitkan hal di luar pekerjaan. Saya rasa ini cukup keterlaluan.”
Angkasa tertawa seraya menatap Nathan yang memilih untuk diam. “Rupanya pegawai baru tidak belajar tata krama perusahaan yang sudah saya tetap kan,”
“Salah satunya adalah untuk tidak ikut campur masalah pribadi saya.” lanjut Angkasa dengan menatap tajam Asya.
“Angkasa udah lah, Acha juga yang udah bantu jagain Jefrey di sini.” Sahut Nathan yang berharap jika suaranya di dengar oleh Angkasa yang kalut akan perasaan emosi.
“Saya tunggu proposal hingga esok malam. Selesaikan tanggung jawab anda, baru anda boleh keluar.” Angkasa terus mengunci pandangan Asya yang bahkan tidak geser sekalipun saat sedang bertatap dengan Angkasa.
Nathan yang ada di sana hanya menghela napas frustasi karena suaranya yang tidak akan di dengar oleh Angkasa saat dalam keadaan emosi. Pun begitu dengan Angkasa yang gegabah mengambil keputusan saat berada di tengah perasaan yang tidak karuan.
“Baik, tapi saya meminta gaji dan uang lembur saya dibayarkan ketika saya keluar dan telah menyelesaikan proposal dengan baik.” Tantang Asya balik yang tidak mengindahkan rasa takutnya.
Angkasa mengangguk, “Tentu, untuk anda yang tidak tahu malu.”
Ponsel Angkasa terus berdering dan menampilkan nama Tiara di sana. Saat Angkasa melihat jam yang ada di tangannya, ia tersadar jika ini adalah waktu untuk bertemu dengan klien.
“Jefrey sama Om Nathan ya? Papa ada ketemu sama klien.” Angkasa memohon pada Jefrey.
Jefrey diam. Ia kini beralih untuk berdiri di samping Asya. “Jef mau sama Kakak ini.” Balasnya.
Asya terkejut mendengar Jefrey yang akhirnya buka suara. Ia kira Jefrey memiliki gangguan berbicara karena sedari tadi hanya diam saat Asya ajak bicara. Rupanya Asya sedang berhadapan dengan anak introvert yang tidak bisa bergaul dengan sembarang orang.
“Jaga anak saya dan jangan buat kesalahan lain.” Tegas Angkasa sembari berlalu pergi.
Asya berdecih melihat punggung tegap Angkasa yang kini sudah menjauh dari mereka. “Gak tahu malu. Habis marah kok malah nitip anak.” Olok Asya yang mengeluarkan kekesalannya pada Angkasa.
Nathan tertawa, “Lo sabar aja. Nanti gue bantuin buat ngomong ke Angkasa.” Balas Nathan.
“Gak perlu Pak kalau itu memang sudah keputusan. Saya juga jengkel melihat anak yang mendapatkan perlakuan tidak adil dari orang tuanya. Jadi saya tidak masalah jika harus keluar perusahaan karena membela Jefrey.” Ujar Asya seraya tersenyum simpul yang terlihat sangat tulus.