Selamat membaca~
-
Ruangan yang berdominasi putih itu tampak senyap meskipun didalamnya terdapat empat orang yang juga membisu tanpa suara. Sesekali suara seorang perempuan bergelar Dokter itu bertanya pada anak kecil dihadapannya yang selalu bungkam.
“Hari ini Jefrey katanya main basket ya?”
Berbagai cara dilakukan oleh Dokter tersebut untuk bisa membuka hati yang sudah terpagar dengan rapat dan tinggi itu. Namun tetap saja, sudah tiga tahun ia belum bisa membukanya dan hanya bisa mengetuk tanpa mendapatkan respon.
“Jefrey makan apa saja hari ini?”
“Ada yang mau diceritain ke Dokter?” tanyanya lagi.
Sama seperti biasanya. Jefrey tetap berpegang teguh pada sikap dingin dan tidak pedulinya. Dokter bernama Danisa Ekavira itu berdiri seraya menghembuskan napas beratnya. Ia menggeleng sembari menatap Angkasa yang terus mengawasi mereka.
“Bisa bicara sebentar?” tanya Danisa pada Angkasa.
Setelah Angkasa mengangguk, asisten Dokter membawa Jefrey untuk bermain dengannya. Angkasa kini duduk di hadapan Danisa.
“Jadi gimana kondisi Jef?” tanya Angkasa langsung.
“Kalau kayak gini terus, kita harus melakukan hipnoterapi untuk Jef.”
“Selain itu gak ada cara lain?” tanya Angkasa lagi yang tidak pernah menyetujui usulan Danisa.
“Hanya ada satu cara,”
“Apa itu?”
Danisa menatap dalam Angkasa, “Temukan seseorang yang bisa membuat Jef nyaman saat ada disampingnya. Dengan sendirinya, nanti dia akan membuka suara dan bercerita. Tapi untuk saat ini, bukan aku ataupun kamu orangnya.” Jawab Danisa.
Angkasa menghela napas berat seraya menunduk. Beban hidup terberatnya adalah membuat Jefrey bisa menjadi anak yang ceria di usianya. Namun hingga saat ini Angkasa belum pernah mewujudkan hal itu.
“Terlalu berat,” balas Angkasa lirih bahkan hampir tidak terdengar.
“Memang berat. Tapi ini juga salah satu cara untuk bisa mendapatkan Mama yang bisa mengurus Jefrey dengan lebih baik. Anak seusia Jefrey rentan kesepian,” lanjut Danisa.
Angkasa diam. Semua perkataan Danisa memang benar adanya. Selama masa tumbuh kembangnya, Jefrey melaluinya sendirian.
“Aku tunggu dua minggu lagi untuk melihat kemajuannya apa saja. Semoga kita bisa segera dapat obat untuk Jef.”
-
Angkasa mengemudikan mobilnya menuju perusahaan dengan tetap membawa Jefrey untuk berada disampingnya. Karena meskipun Angkasa memulangkan Jefrey lebih dulu, ia akan telat dan Jefrey akan sendirian di rumah.
“Nanti di kantor Jef harus nurut sama Papa ya.” tegas Angkasa untuk memperingatkan Jefrey lebih awal.
Sesampainya mereka di kantor, Angkasa turun dan berjalan beriringan dengan Jefrey. Jefrey tidak suka jika tangannya digandeng oleh siapapun, jadi Angkasa membiarkannya untuk berjalan sendiri.
“Gue cariin lo. Tuh ada kunjungan Direktur Ajil sama Direktur Daffa di ruang rapat.” Juno terlihat kelelahan karena harus berlari ke sana dan kemari untuk mencari keberadaan Angkasa.
“Kayak hidup di zaman purba aja lo, ada ponsel ngapain pusing.” Olok Angkasa dengan melangkah masuk ke dalam lift yang sudah terbuka.
“Gak aktif bego. Duit banyak tapi ponsel satu, suka mati pula.”
“Namanya juga batre habis,”
“Ya jangan kebiasaan begitu lah. Lo itu bos di sini, banyak yang cariin. Kalau kejadiannya kayak tad ikan jadi capek sendiri gue.” Omel Juno yang kesal dengan balasan enteng Angkasa.
“Lo gak tanya Tiara? Gue udah bilang kalau gue keluar,” balas Angkasa.
“Ya lo gak bilang mau keluar kemana.”
“Marah mulu kerjaan lo. Gue potong gaji baru tahu rasa lo.” Ancam Angkasa yang langsung mendapatkan pelototan dari mata belok Juno.
Angkasa tersenyum takut, “Bercanda.” Balas Angkasa.
-
Jefrey terlihat fokus pada lemari yang berisi miniature peralatan renang, desain baju renang beserta patungnya yang telah diproduksi oleh perusahaan Sandhaya Sea Company. Daya tarik Jefrey sangat tinggi untuk bisa melihat miniature tersebut dengan lebih jelas. Jefrey melangkah menuju lemari tersebut tanpa memperhatikan langkahnya.
Benar saja, terdengar suara benturan antar tubuh dan barang yang berserakan jatuh bebas di atas putihnya lantai perusahaan. Jefrey jatuh terduduk di lantai, begitupun orang yang tidak sengaja Jefrey tabrak.
“Maaf, adik gapapa?”
Jefrey diam dan kembali berdiri saat melihat gadis tersebut hendak menyentuhnya. “Maafin Kakak ya. Kakak tadi gak lihat kalau ada kamu,”
Jefrey tetap diam meskipun gadis tersebut berulang kali mengucapkan kata maaf. Gadis itu menatap ke sana dan kemari untuk mencari orang tua atau wali dari anak kecil yang telah ia temui saat ini. Namun anak itu hanya sendirian dan tidak ada orang tua yang berdiri di dekatnya.
“Kamu sama siapa di sini? Mana orang tua kamu? Biar Kakak antar ke mereka ya,”
Jefrey mundur saat gadis itu terus berusaha untuk mengajaknya berbicara. Bahkan gadis itu juga berusaha untuk memegang bahu Jefrey. Perilaku aneh Jefrey membuat gadis tersebut mengernyit bingung.
“Oh Kakak pegawai di sini. Kamu gak perlu takut sama Kakak.” Ujar gadis itu seraya tersenyum manis ke arah Jefrey yang masih menatapnya dengan tajam.
Jefrey akhirnya mengeluarkan tablet dari dalam tas sekolahnya. Ia tampak menuliskan sesuatu di atas layar hitam tersebut.
‘Menjauh. Jangan ganggu aku.’
Gadis itu tampak frustasi, tapi ia sadar jika tidak mungkin meninggalkan anak kecil sendirian di dalam kantor yang besar. Pikirnya anak kecil itu akan tersesat dan semakin jauh dari orang tuanya jika ia tidak mengantarnya langsung untuk bisa menemui orang tuanya.
“Adik, Kakak bukan orang jahat. Jadi kamu gak perlu takut ya.”
Jefrey tetap diam dan menatap dalam gadis berambut bob tersebut. Namun diamnya Jefrey ternyata hanyut dalam senyuman gadis itu yang tampak manis dan menenangkan. Serta tatapan lembut yang tidak mengintimidasi Jefrey.
“Kakak janji akan bawa kamu untuk ketemu sama orang tua kamu. Jadi kamu gak perlu takut sama Kakak.” Lanjut gadis itu lagi agar anak dihadapannya ini yakin bahwa ia bukan penculik atau sejenisnya.
Jefrey mengetikkan kembali sesuatu di atas layar hitam tablet yang dipegangnya, membuat gadis itu terus menatapnya untuk menunggu hal apa yang akan diketik oleh anak misterius ini.
‘Aku hanya ingin melihat miniature.’
Gadis itu melihat lemari kaca yang berada di tengah ruangan. Di sana memang terpampang banyak miniature yang sangat mengesankan.
“Mau Kakak temani? Kakak sedikit tahu tentang miniature di sana.” Ajak gadis itu menawarkan diri dengan senang hati.
Jefrey diam. Ia kembali mengetikkan sesuatu, ‘Tidak perlu.’
“Kenapa? Bukannya pergi sama teman lebih menyenangkan?”
‘Tidak.’
Lagi, gadis itu menghela napas saat menyadari ada yang salah dari anak kecil yang berdiri dengan tatapan waspada ini.
“Nama kamu siapa?” tanya gadis itu dengan berbagai macam usaha yang dikerahkannya untuk bisa mendekati anak kecil yang tampan ini.
Jefrey diam dan tidak menulis kembali. Gadis itu pun menjulurkan tangannya untuk bisa berjabat tangan dengan tangan mungil milik anak kecil tampan ini.
“Nama Kakak Asya. Biasanya sih dipanggil Kak Acha.” Lanjut Asya seraya tersenyum tulus untuk Jefrey.
Jefrey tetap diam membisu. Asya kini tampak merogoh kantong cardigan yang dikenakannya sehabis keluar dari kantor. Ia mengambil sebungkus permen rasa buah dan memberikannya pada Jefrey.
“Kalau kamu merasa takut sama orang, makan aja permen ini. Nanti kamu akan berubah jadi superhero yang keren dan bisa lawan orang itu.” Asya tersenyum seraya meyakinkan Jefrey untuk menerima pemberiannya yang tidak seberapa ini.
Asya meraih tangan Jefrey karena anak tersebut tidak memberikan reaksi apapun, namun kali ini Jefrey tidak menolak. Asya pun memberikan permen tersebut pada Jefrey.
“Percaya sama Kakak. Kalau Kakak takut juga suka makan permen biar jadi orang yang kuat.” Lanjut Asya.
Asya menatap anak itu dengan lembut, namun dibaliknya terselip sendu karena melihat anak tampan yang tidak bisa berbicara layaknya anak normal lainnya.
“Jefrey.”
Asya menoleh saat mendengar suara tegas yang menggema di dalam lobby perusahaan. Sorot mata Asya menajam saat melihat orang tersebut datang dengan wajah menahan emosi.
“Lah dia Bapaknya?” lirih Asya saat melihat jika tidak ada lagi orang lain lagi selain ia dan Jefrey alias anak kecil yang belum ia ketahui namanya.