Selamat membaca~
-
Hari ini Angkasa memutuskan untuk pulang lebih awal. Namun jam pulang Angkasa lebih awal tidak lah berbeda jauh dengan jam pulang biasanya, yaitu pukul delapan malam. Syukurnya semua pekerjaannya sudah dia selesaikan saat di kantor, jadi Angkasa bisa merehatkan diri sejenak saat di rumah nanti.
Perjalanan dari kantor ke rumah tidak lah jauh, hanya sekitar 20 menit jika itu tidak macet. Malam hari ini jalanan kota begitu lenggang, entah apakah orang-orang malas keluar karena cuaca dingin dan sering hujan? Tapi hal itu sangat menguntungkan bagi Angkasa.
Setelah memasukkan mobilnya ke dalam garasi mobil. Angkasa segera melenggang pergi untuk masuk ke dalam rumah dan menemui sang anak. “Jefrey?” panggil Angkasa dengan suara yang menggema di dalam rumah.
Suara langkah kaki terdengar begitu Angkasa selesai memanggil nama sang anak. Anak lelaki bernama Danial Jefrey Pradipta itu berjalan menghampiri Angkasa dengan membawa amplop putih yang ada di tangan mungilnya.
“Apa ini?” tanya Angkasa heran begitu menerima surat tersebut dari tangan Jefrey.
“Class meet,” jawab Jefrey dengan nada dan suara yang terdengar sangat dingin.
“Kamu tampil?” tanya Angkasa lagi seraya membaca surat undangan untuk orang tua.
“Ya.”
“Jef, tapi Papa sedang sibuk di kantor jadi tidak bisa datang.” Ujar Angkasa dengan perasaan yang sangat bersalah.
Jefrey mengangguk tanpa wajah yang menunjukkan ekspresi, “Gak masalah.” Balasnya seraya pergi meninggalkan Angkasa begitu saja.
Hati Angkasa serasa tergores melihat sikap Jefrey yang semakin hari semakin dingin padanya saat sedang di rumah. Ya meskipun Angkasa tahu jika Jefrey terlahir seperti itu, dingin dan pendiam. Tapi kepergian Jefrey membuatnya merasa sangat bersalah karena tidak bisa menghadiri undangan tersebut.
Saat Angkasa sedang merenung tentang kesalahannya pada Jefrey, Tari muncul dan berencana untuk pulang karena pekerjaannya hari ini sudah selesai. “Pak, saya izin pamit untuk pulang.” Ujar Tari pada Angkasa yang masih berdiam diri.
“Iya, Bi.”
“Saya hanya mengingatkan apabila Bapak lupa, besok adalah jadwal Jefrey untuk kunjungan ke psikiater.” Lanjut Tari.
“Oh iya… kalau begitu saya coba cari waktu luang supaya bisa mengantar Jef ke dokternya.” Jawab Angkasa dengan wajah yang kehilangan semangat.
“Besok Pak, Jef main pukul 9 pagi dan jadwal ke dokter pukul 11 siang.” Jelas Tari yang dengan sengaja memberitahukan jam permainan Jefrey di sekolah.
Setelahnya Tari pergi untuk pulang ke rumahnya sendiri dan meninggalkan Angkasa yang bergelut dengan perasaan bersalahnya terhadap Jef. Angkasa pun beranjak untuk pergi ke kamarnya agar bisa membersihkan badan terlebih dahulu sebelum menemani Jefrey untuk tidur.
Setelah membersihkan diri, kini Angkasa beralih untuk pergi ke kamar Jefrey. Saat Angkasa membuka kamar sang anak, ternyata ruangan sudah redup. Angkasa juga mendekat untuk bisa melihat Jefrey yang kini telah berbaring di atas ranjang.
“Sudah tidur,” lirihnya saat melihat sang anak tertidur sendirian.
Angkasa mencium kening anaknya sebentar hanya untuk melakukan rutinitasnya seperti biasa. Meskipun dia tidak memiliki waktu luang yang banyak untuk Jef, tapi setidaknya Angkasa bisa memberikannya melalui kasih sayang yang tidak seberapa nilainya ini.
-
Pagi ini Angkasa sudah sampai di kantor, bahkan lebih pagi dari hari biasanya. Hal ini dilakukannya karena ada meeting untuk membahas proyek baru yang akan segera rilis. Setiap kali terdapat proyek baru, waktu istirahat Angkasa semakin terkuras habis.
“Apa ini? Siapa yang membuat proposal kosong seperti ini? Isinya hanya sekadar biografi yang gak bermutu.” tanya Angkasa dengan melemparkan map berisi selebaran kertas hasil kerja Departemen Pemasaran.
Rina menelan ludah, saat ini hanya keringat dingin yang dirasakannya karena terkena amarah Angkasa di pagi hari. Bahkan ruangan dingin kini terasa sangat panas untuknya setelah dipermalukan dihadapan seluruh kepala Departemen dan jajaran perusahaan.
“Jawab saya, Rina.” Sentak Angkasa saat Rina tak kunjung membuka mulut.
“Acha, Pak. Tapi ini salah saya karena tidak mengecek ulang sebelum Bapak lihat untuk ditinjau ulang.” Balas Rina yang masih berusaha untuk terlihat santai dan baik-baik saja.
“Saya yang akan berikan langsung padanya. Kerja gak becus.” Ujar Angkasa yang dibarengi dengan omelan karena merasa kesal dengan kinerja pegawainya yang tidak bagus.
Bahkan forum yang awalnya berjalan dengan damai kini berubah menjadi panas dan penuh akan ketegangan. Hanya saja keuntungan hari ini berupa tidak adanya petinggi perusahaan yang bergabung seperti enam orang Direktur dalam rapat kali ini. Jika mereka ikut bergabung, rapat kali ini akan bertambah semakin panas dan panjang.
Waktu yang sangat berharga itu tanpa disadari berputar dengan sangat cepat. Angkasa melihat jam yang melingkar pada pergelangan tangan kirinya, ternyata sudah pukul sepuluh siang. Rapat telah selesai dan Angkasa segera bergegas untuk pergi menjemput Jefrey.
“Pak Angkasa, jangan lupa nanti jam tiga sore ada meeting dengan klien dengan tujuan untuk bergabung menjadi sponsor.” Tiara mencegah Angkasa yang terlihat sangat terburu-buru meninggalkan ruang rapat.
Angkasa mengangguk, “Untuk saat ini kosongkan jadwal saya sampai jam dua siang. Saya akan kembali ke kantor sebelum jam tiga sore untuk meeting.” Balas Angkasa.
“Baik, Pak.”
Angkasa berlalu pergi meninggalkan Tiara yang masih ada di dalam ruang rapat sendirian. Pikiran Angkasa kini beralih pada Jefrey yang sedang menunggu kedatangannya untuk melihatnya bermain basket. Namun Angkasa ternyata tidak bisa meluangkan waktunya seperti yang sudah dibilangnya semalam.
Dengan kecepatan penuh, Angkasa membawa mobilnya membelah jalanan kota yang lenggang. Angkasa bersyukur jika jalanan saat ini tidak macet seperti biasanya.
-
Angkasa melangkahkan kakinya untuk mencari Jefrey dikelasnya karena saat Angkasa bertanya pada salah satu guru di sana, mereka bilang jika kelas Jefrey sudah selesai bermain.
“Pak Angkasa,”
Angkasa mengenali suara tersebut, ia langsung pergi untuk mendekatinya. Tari berdiri dengan membawa tas milik Jefrey di depan ruang kelas.
“Mana Jefrey?” tanya Angkasa.
“Masih ke toilet Pak,”
“Oh itu dia.” Lanjut Tari saat melihat Jefrey yang ada di balik Angkasa.
Angkasa berbalik untuk melihat Jefrey yang kedatangannya bahkan tidak ia mengerti. Angkasa berjongkok untuk mensejajarkan tubuhnya dengan tinggi badan Jefrey.
“Gimana tadi basketnya?” tanya Angkasa.
Jefrey hanya mengangguk seraya beranjak mendekati Tari untuk mengambil tasnya.
“Jef maafin Papa karena belum bisa lihat kamu main basket hari ini,” Angkasa menatap Jefrey yang bahkan tidak menatap matanya sama sekali.
“Gak masalah.”
“Kalau begitu kita langsung ke Dokter kamu ya,” ajak Angkasa.
“Gak bisa nolak juga kan?” balas Jefrey yang membuat Angkasa diam membisu.
Anak dengan model gaya rambut curtains itu berjalan berlalu melewati Angkasa dengan langkah kaki yang gamblang. Sebenarnya ada rasa sedih melihat perlakuan Jefrey yang sangat dingin saat berhadapan dengan Angkasa, namun Angkasa memaklumi hal tersebut.
Selama di perjalan Jefrey hanya diam dan memalingkan pandangannya ke luar untuk melihat pemandangan kota yang terik. Tari tidak ikut karena harus pulang bersama Widji, sopir Jefrey.
“Sekolahnya gimana?” tanya Angkasa yang berusaha untuk memecahkan keheningan.
“Biasa aja.”
“Papa dengar mau ada study wisata? Jef mau ikut?”
“Gak.”
“Kenapa? Kan enak bisa pergi sama teman-teman.”
“Jef gak ada teman.” Balas Jefrey tanpa mengalihkan pandangannya sedikit pun.