Selamat membaca~
-
Asya duduk di salah satu meja yang ada di kantin perusahaan. Hari ini dia tidak membawa bekal dari rumah dan berencana untuk makan siang bersama sahabatnya yang juga bekerja di perusahaan Sandhaya Sea Company, hanya saja Departemen mereka berbeda.
“Tinggal tunggu Mas Pardjo datang aja buat anterin makanan kita.”
Asya mengangguk sebagai jawaban dari ujaran yang telah dilontarkan oleh sahabatnya tersebut. Kantin siang ini sudah padat dengan pegawai lainnya yang juga kelaparan karena sibuk memikirkan projek baru perusahaan.
“Gila, kacau banget sih Pak Angkasa.”
“Kenapa, Sila?” tanya Asya yang bingung melihat kekesalan temannya.
“Minta revisi bahan lagi dong. Padahal sebelumnya udah ganti beberapa kali. Anggota tim gue sekarang udah frustasi semua.” Ujar Sila yang tidak bisa menyembunyikan kekesalannya.
Memang benar jika wajah Sila saat ini terlihat sangat berat karena menanggung beban di Departemennya yang sedang mengalami masa sulit akibat ulah Angkasa yang sangat perfeksionis dalam hal apapun. Hingga membuat kesalahan sekecil apapun tidak pernah bisa lolos dari arah pandangnya.
“Sama tahu Sila. Departemen gue juga kesusahan karena di suruh buat revisi strategi pemasaran lagi. Sampai tadi pagi sebelum rapat besar perusahaan, Mbak Rina benar-benar chaos banget karena takut kena semprot pas rapat sama petinggi perusahaan.” Sahut Asya yang kini sedang beradu nasib dengan Sila.
Adsila Berly Galina merupakan sahabat Asya yang juga merantau ke kota metropolitan untuk mencari pekerjaan yang lebih baik lagi. Hingga akhirnya takdir mempertemukan mereka dalam satu perusahaan yang sama.
“Memang dari dulu bikin darah tinggi terus ulah Pak Angkasa. Kalau aja gajinya rendah, gue yakin gak akan ada yang bisa bertahan bekerja di bawah naungan Pak Angkasa.” Olok Sila dengan hati yang sangat dongkol mengingat perlakuan Angkasa terhadap kekacauan Departemennya saat ini.
“Ya, tapi beliau kayak gitu pasti alasannya bagus buat perusahaan. Kalau memang gak sesuai ya bakal di ubah kan untuk terus meningkatkan kualitas produk perusahaan.” Balas Asya yang kini lebih menerima perlakuan buruk Angkasa karena melihat dari arah pandang yang berbeda.
Sila menatap Asya bingung, sedangkan Asya juga bingung saat Sila menatapnya seolah sedang menyelidiki dirinya telah berbuat sesuatu.
“Lo kenapa?” tanya Sila yang membuat Asya mengernyitkan dahi.
“Apanya? Gue gak ada masalah apapun.” Balas Asya.
“Aneh lo. Orang gila kayak Pak Angkasa kok di bela.” Ujar Sila dengan wajah masamnya.
“Hati-hati lo kalau ngomong. Di sini kantin, banyak yang bisa dengar Adsila.” Tegas Asya yang memang tidak digubris sama sekali oleh Sila yang sudah kelewat kesal dengan Angkasa.
Mereka berdua menghabiskan waktu istirahat dengan berbincang masalah lain, karena jika terus membahas Angkasa tidak akan ada habisnya. Kini Asya dan Sila harus berpisah untuk kembali ke ruang kerja masing-masing.
Saat Asya hendak duduk di kursinya, dia dikejutkan dengan suara Rina yang memanggil namanya seraya setengah berlari untuk mendekati Asya. Saat ini Asya hanya mengernyit sambil tersenyum bingung melihat tingkah Ketuanya setelah rapat berakhir.
“Ada kabar baik. Ide yang lo kasih udah tembus dan disetujui Pak Angkasa. Sekarang kita harus pikirin dengan matang untuk mewujudkan strategi kita agar bisa berjalan dengan maksimal.” Ujar Rina dengan wajah sumringah.
“Serius, Mbak?” tanya Asya yang masih tidak percaya dengan penuturan Rina saat ini.
Rina mengangguk, “Gue salut sama ide lo. Makasih ya udah selamatin gue dari amukan petinggi perusahaan. Kalau gak, bisa habis gue hari ini.” Ujar Rina seraya menggenggam tangan Asya dengan tulus.
“Kayaknya saya sih yang harus berterima kasih, karena Mbak udah mau tampung ide saya yang gak seberapa ini.” Balas Asya segan.
“Santai aja, Cha. Kita ciptakan ruang kerja ini layaknya keluarga. Jadi lo boleh pakai bahasa informal. Kecuali kalau sedang berhadapan sama Bos dan petinggi lainnya. Itu sama sekali gak boleh.” Tutur Rina yang menyadari bahwa Asya sangat bertindak dengan hati-hati setiap kali bekerja di bawah naungannya.
Sebenarnya itu adalah hal yang baik, karena Asya bisa menghargai dengan baik rekan kerjanya yang ada di sekitarnya. Namun prinsip yang ditanamkan oleh Angkasa pada setiap pegawainya seolah tertanam dalam lubuk hati mereka, bahwa rekan kerja adalah keluarga kedua di lingkungan kerja. Hal ini yang membuat Rina tidak menciptakan batasan apapun saat berhadapan dengan anggota timnya, layaknya ruangan tiap Departemen yang tidak memiliki ruang kerja pribadi.
“Okay, sekarang balik ke topik.” Ujar Rina.
“Lo udah ketemu siapa BA yang sekiranya cocok untuk produk ini?” tanya Rina dengan menatap Asya serius.
“Ada, Mbak. Namanya Gamya Baylor. Dulu dia atlet renang dan sempat beberapa kali memenangkan perlombaan, dan saat ini dia alih profesi jadi actor ternama. Setahu aku, Gamya juga punya profil yang baik dan terlebih lagi dia adalah idolnya anak muda.” Tutur Asya dengan mata berbinar saat menjelaskan siapa sosok Gamya pada Rina.
“Gamya? Gue juga pernah dengar namanya. Boleh deh nanti gue bantu cek lagi.” Balas Rina seraya tersenyum puas.
“Baik, Mbak.”
“Terus siapa lagi?” tanya Rina.
“Saat ini hanya itu, Mbak. Nanti gue akan coba cari lagi.” Balas Asya dengan tegas.
“Okay, makasih ya Cha.” Ujar Rina seraya pergi meninggalkan Asya yang kini fokus dengan pekerjaannya.
-
Angkasa duduk seraya memijat pelipisnya. Kepalanya pusing akibat terlalu lama menatap layer computer yang ada dihadapannya. Ada beberapa salinan berkas yang harus dia baca untuk kemajuan proyek barunya. Memang setiap kali proyek baru akan diluncurkan, Angkasa tidak akan memberikan atensinya setengah-setengah karena itu menyangkut dengan perusahaan.
“Istirahat dulu kali, Bro.”
Angkasa menghela napas kesal saat mengetahui ada tiga pria yang masuk ke dalam ruangannya tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu. “Selalu tanpa minta izin.” Sarkas Angkasa dengan tatapan tajam karena tidak dapat menyembunyikan kekesalannya.
“Kayak sama siapa aja. Lagian kita di sini perhatian sama Direktur Utama perusahaan sekaligus sahabat tercinta.” Sahut Nathan seraya menaruh seporsi gado-gado di atas meja yang digunakan untuk menerima tamu dalam ruangan Angkasa.
“Makan dulu, Sa. Nanti sakit lo.” Ujar Juno seraya duduk di kursi panjang sambil meregangkan kakinya.
“Iya, sibuk banget hidup lo. Santai sedikit bisa kali.” Timpal Rafa yang mengikuti jejak Juno.
“Bau banget kaos kaki lo.” Sindir Nathan terhadap Rafa yang baru saja melepaskan sepatunya.
“Bukan gue bego. Ini masih baru.” Balas Rafa tidak terima karena di tuduh sembarang.
“Ini bau kentut lo, Nathan!” Hardik Juno yang masuk ke dalam perdebatan antara Nathan dan Rafa.
“Enak aja, gue gak kentut ya.” balas Nathan yang tidak terima.
“Gue udah hapal ya akal bulus lo.” Ujar Juno yang membuat Nathan bungkam seribu bahasa karena Juno mengetahui strateginya yang suka mengalihkan topik untuk menyembunyikan bau kentutnya.
“Berisik banget sih.” Tukas Angkasa kesal.
“Makan dulu nih. Darah tinggu mulu hidup lo.” Sahut Rafa yang masih kesal akibat ulah Nathan.
Angkasa beranjak dari kursi kerjanya untuk duduk bersama dengan sahabatnya yang juga menjadi Wakil Direktur 1, 2, dan 3. Dia membuka sebungkus gado-gado yang entah dibelikan siapa, tapi yang pasti Angkasa yakin jika mereka lah yang telah membelikannya makan siang ini.
“Gue salut sih sama pemikiran Acha,” ujar Juno menyambung hasil rapat yang telah diputuskan oleh Angkasa.
“Siapa?” tanya Rafa yang tidak tahu orang di balik nama Acha yang telah disebutkan oleh Juno.
“Anak baru Departemen Pemasaran. Dia yang kasih ide kebaharuan buat rapat pagi ini. Padahal yang tadi gue lihat, semua tim chaos karena bingung buat plan B.” jawab Juno yang sangat mengerti kondisi Departemen yang dia pegang.
“Serius? Tahu dari mana lo?” tanya Nathan bingung.
“Sebelum ke ruang rapat, gue tadi mau samperin Rina buat kasih semangat dan bilang gak usah panik pas rapat besar. Tapi ternyata dia lagi diskusi sama timnya buat bahas perombakan ulang strategi pemasaran produk baru,”
“Awalnya semua orang diam, sampai Rina benar-benar frustasi saat itu. Tapi Acha dengan gaya pahlawannya seolah datang dan kasih idenya yang menurut gue bagus untuk di coba. Dan kalian harus tahu, itu hanya gambaran awal. Bukan penjelasan seutuhnya tentang ide Acha.” Jelas Juno dengan matanya yang berbinar seolah bangga dengan anggota timnya.
“Itu biang kerok diam?” tanya Rafa pada Juno.
“Andi?” tanya Juno balik untuk memastikan siapa yang dimaksud oleh Rafa.
Rafa mengangguk, “Iya, siapa lagi. Laki-laki tapi mulutnya lemes bener.” Olok Rafa.
“Andi kayak sinis pas kasih tanggapan buat ide Acha. Tapi Acha gak merasa tekanan apapun dari Andi.” Balas Juno.
“Keren banget tuh cewek. Berani berhadapan sama Andi.” Sahut Nathan.
“Memangnya Andi sehebat apa? Kalau berhadapan sama gue, dia tunduk.” Balas Angkasa seraya mengunyah gado-gado yang tengah disantapnya.
“Ya karena posisi lo Direktur Utama, bego.” Ujar Nathan kesal.
Angkasa yang lebih kesal karena mendapatkan makian dari Nathan. Kini Nathan terlihat sangat takut saat mendapatkan tatapan tajam dari Angkasa. Hingga membuatnya bersenyumbunyi di balik Rafa.
“Kalau gue tahu dengan mata kepala gue sendiri, gue gak akan biarin orang kayak Andi buat tetap kerja di perusahaan gue.” Titah Angkasa yang terdengar sangat mengerikan untuk siapapun yang mendengarnya.