2 | Istri Pilihan Anakku

1528 Words
Selamat membaca~ - “Selamat pagi, Pak Angkasa.” Suasana kantor cukup ramai saat pagi hari. Beberapa dari mereka mentaati peraturan kantor untuk tidak terlambat masuk kerja, namun beberapa juga masih memilih untuk berangkat mepet dengan masuk jam kantor. Angkasa berjalan dengan setelan jas berwarna hitam dan dasi panjang berwarna senada membuatnya terlihat sangat berkharisma. Langkah kaki lebarnya mengantarkannya menuju ruangan Direktur Utama yang digunakannya untuk menghabiskan waktu selama di kantor. Baru saja Angkasa tiba di dalam ruangannya, kini sudah ada orang yang mengetuk pintunya. “Masuk.” Perintah Angkasa dari dalam. Wanita berparas menawan dengan berambut panjang masuk ke dalam ruangan Angkasa, sikap tegap dan sorot mata tegasnya menghantarkannya untuk berjalan menghadap ke Angkasa yang kini sudah duduk di kursi kekuasaannya. “Selamat pagi, Pak Angkasa. Saya mau mengingatkan jika pukul sembilan pagi ini akan dilaksanakan rapat bersama tim dan para direktur untuk membahas strategi pemasaran pada produk yang akan launching.” Ujar Tiara dengan tegas namun masih terdengar sopan. “Seluruh direktur bisa dipastikan untuk hadir?” tanya Angkasa menyelidik. “Pak Fahmi Febriansyah akan digantikan oleh sekretarisnya karena tidak bisa hadir pada rapat kali ini.” Jawab Tiara dengan sigap. “Baik. Saya titip ini untuk Departemen Pemasaran dan Departemen Produksi. Jangan lupa untuk menyiapkan ruang rapat.” Balas Angkasa seraya memberikan dua map tebal berisi proposal Departemen dan segera menyuruh Tiara untuk keluar dari ruangannya. Tiara Prameswari merupakan sekretaris Angkasa yang sudah bertahan selama dua tahun di bawah kekuasaan Angkasa. Sejauh ini Tiara sudah memenangkan penghargaan dari Nathan karena bisa bertahan untuk waktu yang cukup lama di bawah tekanan Angkasa. “Apa lagi yang mau Fahmi rencanakan?” gumam Angkasa setelah mendapatkan laporan jika Fahmi tidak mengikuti rapat kali ini. Angkasa tidak terlalu memikirkannya. Ini sudah menjadi makanan pokoknya untuk dihadapinya setiap hari. Kini Angkasa memilih untuk kembali fokus pada proposal yang belum sempat dia baca. - Tiara menjalankan perintah Angkasa untuk memberikan map tersebut pada dua Departemen yang hari ini akan mempresentasikan hasil diskusi dari masing-masing Departemen. Suara mesin tik maupun sorak sorai setiap kepala yang mengisi ruangan bercampur aduk menjadi satu kesatuan yang tak padu. Tiara bisa melihat riwehnya setiap orang dengan tugas yang sudah dibebankan pada setiap pundak pegawai Sandhaya Sea Company. “Ada yang bisa saya bantu?” tanya seorang Wanita dengan rambut pendek yang tergerai lurus. “Ah… ini ada titipan map dari Pak Angkasa untuk Departemen Pemasaran.” Ujar Tiara seraya menyerahkan map tersebut pada salah satu pegawai yang berada di bagian Pemasaran. Tiara dengan percaya diri meyakini bahwa pegawai yang saat ini sedang berhadapan dengannya ialah salah satu dari anggota tim pemasaran. Karena sangat tertera dengan jelas nama dan jabatan di id card yang sedang digunakan oleh pegawai tersebut. “Baik, akan saya bantu sampaikan ke Bu Rina.” Ujar Wanita tersebut seraya tersenyum amat sangat manis. “Terima kasih atas bantuannya, Bu Asya.” Balas Tiara dengan segan. Setelah kepergian Tiara dari ruang Departemen Pemasaran, kini tugasnya Asya untuk segera menyampaikan hasil revisi proposal Departemennya kepada Ketua Departemen yaitu Rina. Asya mencari keberadaan Rina di tengah banyaknya kepala yang berlalu lalang dihadapannya. “Mbak Rina, ini hasil revisi proposal dari Pak Angkasa.” Ujar Asya seraya memberikan map tersebut dengan sopan. “Kamu sendiri yang ambil?” tanya Rina. Asya menggeleng, “Tadi sekretaris Pak Angkasa yang kasih,” jawab Asya. “Makasih ya, Cha.” Balas Rina. Ashallina El Carissa atau biasa di sapa dengan Asya maupun Acha, merupakan pegawai baru yang bergabung ke Departemen Pemasaran. Meskipun begitu, Asya sangat pandai membawa diri untuk bisa akrab dengan teman satu Departemennya. Tentu saja hal itu bukan dia sendiri yang menjalani, ada campur tangan Rina selaku Ketua Departemen yang selalu mengayomi anggotanya agar merasa nyaman saat bekerja. “Iya, Mbak sama-sama.” Balas Asya seraya tersenyum ikhlas. “Cha?” panggil Rina. “Iya, Mbak?” “Sebentar lagi ada rapat Departemen. Kamu ikut ya. Jangan takut untuk kasih pemikiran kamu dalam hal apapun selagi itu baik.” Ujar Rina dengan tegas namun masih terdengar sangat sopan saat di dengar. Asya mengangguk seraya tersenyum, “Iya, Mbak. Nanti saya ikut.” Balas Asya. Seperti kata Rina, sebentar lagi tidak membutuhkan waktu yang lama. Setelah mendapatkan hasil revisi dari Angkasa selaku Direktur Utama, kini Rina dan tim melakukan rapat sebentar sebelum akhirnya dia harus mengikuti rapat bersama petinggi perusahaan. Rapat kali ini semi formal. Tidak ada meja bundar, hanya kursi berjajar yang mereka tata untuk menghadap papan yang ada di samping Rina. Semua sorot mata dan fokus setiap orang saat ini ada pada Rina sang pemeran utama. “Baik, terima kasih untuk teman-teman yang sudah meluangkan waktunya pada pagi hari ini. Setelah mendapatkan hasil revisi dari Pak Angkasa yang hasilnya sangat tidak memuaskan, akhirnya harus membuat kita putar otak untuk bisa menyusun rencana awal sebelum rapat perusahaan di mulai. Ada yang ingin berpendapat?” ujar Rina seraya memberikan waktu untuk anggotanya agar bisa dengan mudah masuk ke dalam pembicaraan kali ini. Namun semuanya diam. Rina tahu jika hal ini akan terjadi, karena jarak waktu rapat Departemen dan rapat perusahaan sangatlah sebentar. Sedangkan tim membutuhkan waktu yang cukup panjang untuk mendiskusikan rencana baru yang lebih bagus. “Gak perlu rencana matang guys. Hanya bagannya aja biar bisa kasih laporan ke Pak Angkasa.” Ujar Rina kembali untuk menarik atensi anggota timnya. “Andi? Lisa? Yura? atau yang lain barang kali ada yang mau memberikan idenya?” lanjut Rina dengan mengeluarkan segala cara agar anggotanya mau untuk membuka suara. “Kita masih butuh waktu untuk buat plan B. Karena kita dari awal sudah sangat percaya diri dengan hasil yang ada, tapi berbeda dengan keinginan Pak Angkasa.” Sahut Andi menanggapi Rina dan menyalurkan pemikiran rekan kerjanya yang lain. Benar saja, semuanya mengangguk karena menyetujui ujaran Andi. “Tapi kita butuh hari ini. Saat ini juga.” Tegas Rina yang terlihat sangat khawatir tidak menemukan titik tengah. Asya yang duduk di bangku pojok paling belakang hanya diam memperhatikan situasi yang makin perlahan semakin memanas. Tukaran pikiran yang sama-sama bingung untuk mencari jalan keluar, membuat ruangan yang semula dingin kini menjadi panas. “Terus apa yang harus gue sampaikan nanti? Minta waktu lagi?” ujar Rina dengan menatap Andi tajam. “Tentu saja. Karena tidak ada pilihan lain.” Balas Andi dengan tegas. Ruangan berubah menjadi diam. Tak terkecuali Asya. Rina masih bingung dengan posisinya yang hari ini akan dihajar habis-habisan oleh Angkasa dan petinggi perusahaan karena belum mendapatkan hasil apapun, sedangkan tanggal peluncuran semakin dekat. Asya yang sedari tadi ragu, kini mengangkat tangannya untuk bisa menarik atensi Rina. Asya memiliki pemikarnnya, namun dia sedikit takut untuk mendahului seniornya yang lebih lama bekerja di perusahaan. Rina mengalihkan pandangannya saat melihat dari sudut matanya ada yang mengangkat tangan. Wajah masamnya kini berubah menjadi sumringah saat Asya berdiri dan menatapnya dengan tatapan penuh harapan. “Iya, Cha?” tanya Rina. “Sebelumnya saya mohon izin untuk sedikit memberikan ide pribadi yang saya punya. Tapi di sini saya tidak bermaksud untuk menjelekkan siapapun terkait ide ini.” Ujar Asya tak enak hati. “Santai aja Cha.” Balas Rina seraya tersenyum. “Jadi, menurut apa yang sudah saya tangkap selama beberapa tahun ini. Persentase penggunaan gadget di Indonesia sangat lah tinggi. Banyak anak kecil hingga orang dewasa yang menggunakan gadget untuk melakukan apapun. Seperti yang kita tahu, bahwa penggemar produk Sandhaya ini sudah sangat banyak, jadi point pertama yang harus di lakukan adalah membuat konten menarik untuk konsumen sosial media agar bisa dengan mudah di jangkau oleh mereka.” Jelas Asya. “Lalu yang kedua, kita pakai Brand Ambassador baru yang sangat digandrungi oleh anak muda. Selain itu dia juga ahli dalam bidangnya. Saya yakin para penggemarnya akan beramai-ramai membeli produk kita nantinya.” Lanjut Asya. Semua perhatian kini terarah pada penjelas Asya yang sangat padat dan singkat. Hal itu Asya lakukan sesuai dengan perintah Rina yang hanya membutuhkan bagan dasar untuk presentasi di rapat perusahaan hari ini. “Terus apa pembaharuan dari itu semua? Di dalam proposal kita sudah mencantumkan hampir seluruh pemikiran kamu.” Sahut Andi menyahuti penuturan Asya. “Setahu saya di dalam proposal tidak disebutkan perihal pergantian Brand Ambassador dengan beberapa ketentuan yang baru saja saya jelaskan,” jawab Asya dengan sependek pengetahuannya. “Tapi kita sudah punya BA lama dan kontraknya masih panjang,” ujar Andi yang berusaha untuk menyudutkan Asya dengan pemikirannya sendiri. “Kita pakai system kolaborasi dengan beberapa BA baru nantinya. Jika hal ini bisa mendapatkan persetujuan dari Pak Angkasa, saya yang akan bertanggung jawab untuk mencari BA yang cocok untuk tema dan produk baru perusahaan.” Jelas Asya dengan tegas. “Ya, semoga beruntung.” Balas Andi dengan raut wajah yang terlihat seperti meremehkan pemikiran Asya. Jiwa kompetitif Asya membuncah Ketika berhadapan dengan Andi yang terlihat sangat meragukannya. Padahal Rina tampak puas dengan hasil pemikiran Asya saat ini. “Okay, sementara itu dulu yang akan gue pakai untuk presentasi ke Pak Angkasa hari ini. Untuk kelanjutannya akan gue kabari lagi setelah rapat berakhir.” Jelas Rina. Rapat Departemen dibubarkan. Semuanya kembali untuk melakukan pekerjaannya masing-masing. Sama halnya dengan Asya yang lebih memilih untuk duduk di kursinya sembari mencari nama seseorang yang cocok digunakan sebagai calon BA meskipun dia belum mendapat keputusan yang pasti dari hasil pemikirannya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD